TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#10


__ADS_3

Anna menatap keluar jendela kamar tidurnya. Ia duduk bersimpuh sambil salah satu tangannya berada di jendela dan menahan kepalanya.


Ia menghela nafasnya beberapa kali. Ia sedang kebingungan tentang bagaimana ia harus mendapatkan uang untuk membayar hutang Dad Joe yang sangat besar jumlahnya.


Anna tidak berani bertanya kepada Dad Joe. Selain itu akan mempengaruhi psikis Daddynya yang saat ini sedang menjalani terapi, hal tersebut akan membuat dirinya kesulitan mencari uang karena Dad Joe pasti akan memcegahnya keluar rumah.


"Argggghhhh .....," Anna sedikit mengacak rambutnya.


"Anna ..... ada apa dengan kamu, sayang?" tanya Dad Joe.


"Tak ada apa-apa, Dad. Anna hanya sedang meluruskan pinggang."


"Keluarlah, sudah waktunya makan siang."


"Okay, Dad."


**


"Ini Bos," Jack memberikan sebuah amplop berwarna coklat kepada Gavin.


"Apa lagi ini Jack?"


"Ini beberapa foto yang bisa didapat oleh para mata-mata yang kita kirimkan untuk mengawasi Antonio Verero,” jawab Jack.


Gavin membuka amplop tersebut dan mengambil beberapa foto. Membolak-balikkan beberapa foto dan memperhatikannya dengan seksama.


"Siapa ini?" tanya Gavin.


"Itu Boris, salah satu asisten kepercayaan Antonio."


"Wanita ini?"


"Orang yang kita kirimkan tidak mengetahui pasti siapa dia. Tapi melihat bahwa ia diberikan amplop oleh Boris, sepertinya berisi imbalan atas pekerjaannya."


"Jangan-jangan wanita ini .... ," guman Gavin.


"Siapa bos?"


"Tidak, terus awasi dulu untuk sementara ini. Aku tidak ingin kita bertindak gegabah."


"Siap bos."


**


"Senaaaa .....," Gia langsung memeluknya saat sahabatnya itu datang ke rumahnya, "ada angin apa kamu datang kemari?"


"Angin ****** beliung," jawab Sena sambil tersenyum.


"Apa ada yang bisa kubantu sampai kamu datang kemari?" tanya Gia.


"Selamat malam, Nona Sena," sapa Jack yang datang menghampiri .


"Kak Jack, kamu kenal dengan Sena?"


"Tentu saja. Nona Sena adalah partner kerja Tuan Gavin untuk proyek pembangunan resort di Inggris."


"Wahhhh benarkahhh??" tanya Gia dengan wajah sumringah.


"Jadi Tuan Gavin itu .... "


"Kakakku," jawab Gia.


"Ya ampun, aku tak menyangka Tuan Gavin memiliki seorang adik yang menggemaskan seperti ini," kata Sena sambil tertawa dan mencubit kedua pipi Gia.


"Ayo masuklah, kamu tidak perlu sungkan. Jika sampai kakakku itu membatalkan kerja sama denganmu, aku akan meminta pada daddy untuk menghukumnya."


"Kalau tahu seperti ini, aku tidak perlu bersusah-susah membuat proposal untuk meyakinkan Tuan Gavin Adelio," kata Sena tersenyum.


Tak lama, Gavin muncul dari ruang kerjanya bersama dengan Elisa.

__ADS_1


"Selamat malam, Tuan Gavin. Terima kasih sudah mengundang saya untuk makan malam," kata Sena.


"Terima kasih juga Nona Sena sudah menerima undangan saya. Mohon maaf sebelumnya karena saya menolak undangan anda karena ada hal yang harus saya selesaikan. Oya, perkenalkan ini istri saya, Elisa."


"Selamat malam, Nyonya Elisa," Sena menjabat tangan Elisa yang ada di hadapannya.


"Silakan menuju meja makan, Nona Sena. Kami sudah menyiapkan makan malam terbaik untuk anda,” kata Elisa menyambut Sena dengan anggun.


Cihhh ... dasar wanita ular, yang paling kamu bisa adalah berakting. - batin Gia.


"Terima kasih," kata Sena.


Mereka pun menuju meja makan. Kemudian menyantap makan malam mereka sambil sedikit berbincang-bincang mengenai kontrak kerjasama mereka.


"Sena, apa kamu tidak ingin menginap di sini bersamaku?" tanya Gia sambil memegang lengan Sena.


"Lain kali aku pasti akan menginap, tapi di rumahmu, bukan di sini. Kakakmu adalah partner kerjaku, rasanya tidak pantas jika aku menginap di sini."


"Ahhh kamu itu menyebalkan. Kamu tahu, aku kesepian di sini,” bisik Gia.


"Mengapa kamu tidak menghubungi Anna?"


"Anna sedang menjaga Uncle Joe yang sedang melakukan terapi."


"Benarkah? Uncle Joe sudah mau melakukan terapi?" tanya Sena antusias.


"Ya, aku pernah bertemu dengan Anna di rumah sakit saat Uncle Joe melakukan terapi."


"Aku ikut senang mendengarnya."


"Aku jugaaa," Gia memeluk tubuh Sena, seperti tak ingin berpisah, "Temani aku di sini, ya … ya ... "


"Aku tidak bisa. Kakakku juga kemungkinan akan datang ke sini besok untuk melihat hasil kerjaku selama ini."


"Kak Revan akan kesini? apa Kak Hansen ikut bersamanya?" tanya Gia dengan antusias.


"Ahhh kamu jangan menggodaku," Gia tersipu malu. Ia sudah menyukai Hansen sejak lama.


"Nona, hari sudah malam. Izinkan Jack yang mengantarkan anda," kata Gavin saat berada di belakang Gia.


"Tidak perlu, saya akan menghubungi sopir saya."


"Jangan, Nona. Biar Jack saja yang akan mengantarkan anda. Jack, tolong antarkan Nona Sena."


"Baik, siap bos," kata Jack dengan semangat.


"Kak Jack, kenapa sekarang wajahmu yang memerah?" tanya Gia saat memperhatikan Jack.


"Tidakkk .... wajah kamu yang memerah Gi," elak Jack.


"Apa kamu juga menggodaku Kak Jack? Ya sudah, sampai jumpa besok Sena, hati-hati ya dengan asisten gila itu," kata Gia sambil menunjuk ke arah Jack, lalu segera berlari menuju kamarnya sebelum Jack mengumpati dirinya.


"Iya, aku mengerti. Sampai jumpa," pamit Sena pada Gia. Kemudian ia juga berpamitan pada Gavin dan Elisa.


**


"Nona, apa kamu sudah lama berteman dengan Gia?" tanya Jack.


"Hmmm ... sejak kami menempuh pendidikan master."


"Maafkan Gia jika kadang ia bertindak kekanakan, begitulah dirinya, karena ia selalu dimanja oleh kakaknya dan kedua orang tuanya."


"Apa kamu menyukai Gia?" tanya Sena to the point.


"Ehh ... tidak, tentu saja tidak,” jawab Jack tergagap.


"Kenapa anda menjadi gugup Tuan Jack?"


"Tolong panggil saya Jack saja, Nona. Dan saya tidak gugup sama sekali.”

__ADS_1


Sena tersenyum melihat kelakuan Jack.


"Jika kamu butuh bantuan untuk mendekati Gia, katakan saja. Aku akan membantumu. Tapi sekedar informasi, sebenarnya kamu sudah ketinggalan start karena ia menyukai kakak dari kakak iparku," terang Sena.


"Hmmm .... terima kasih, Nona," kata Jack sambil melirik pada wanita di sampingnya.


"Dan panggil aku Sena saja."


"Baiklah .... Sena," senyum Jack.


**


"Halo..."


" ..... "


"Aku sudah katakan bahwa aku tidak akan melakukannya."


" ..... "


"Benarkah?"


" ..... "


"Kalau hanya seperti itu, akan kulakukan. Dia akan mengurangi jumlah hutang Daddyku bukan?"


" ..... "


"Baiklah, aku segera ke sana."


Anna mengganti pakaiannya dan meraih tas ranselnya.


"Dad, aku berangkat kerja dulu. Aku belum tahu pulang jam berapa, tapi makanan sudah kusiapkan di meja makan."


"Baiklah sayang, hati hati."


"Iya, Dad,” Anna mencium pipi ayahnya, lalu segera berangkat.


Sesampainya di depan kantor Verero Coorp, Anna langsung menuju ke resepsionis. Di sana Boris sudah menunggunya dengan sebuah paket di tangannya.


"Kirimkan paket ini ke alamat yang tertera di sana. Hutangmu akan berkurang sesuai biaya kurir. Mudah bukan?" jelas Boris.


"Ya, aku mengerti."


"Kalau sudah selesai, kembalilah kemari, akan ada paket berikutnya."


"Kenapa tidak dibawa bersamaan saja?"


"Tidak, karena paket itu sedang disiapkan."


"Baiklah, aku pergi dulu."


Boris tersenyum memandang Anna.


"Maaf Anna, kami harus mengorbankan seseorang. Salahkan Daddymu karena ia yang pertama berurusan dengan kami,” gumam Boris.


Beberapa saat setelahnya,


Anna sampai di sebuah rumah yang cukup mewah. Ia menekan bel, kemudian ada seorang laki-laki keluar dari dalam rumah.


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya hanya diminta untuk mengantarkan paket ini, untuk Nyonya Elisa," kata Anna sambil melihat nama yang tertera pada paket tersebut.


"Benar. Berikan pada saya, nanti akan saya berikan pada Nyonya."


"Terima kasih dan permisi," pamit Anna sambil mengangguk dan memegang topinya.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2