
"Gi, sadarlah. Aku ada di sini dan akan selalu ada di sini. Menemanimu dan berada di sisimu,” Lexy memegang tangan Gia yang masih belum sadarkan diri.
Masa kritis sudah Gia lewati, saat ini keluarga hanya menunggu kesadaran Gia kembali.
"Gi ...,” Sena masuk ke dalam kamar rawat Gia, Lexy pun bangkit dari duduknya dan memberikan ruang bagi Sena.
"Jack? kenapa kamu ada di sini?" tanya Lexy.
"Aku ...."
"Aku mengerti,” kata Lexy yang melihat tatapan mata Jack pada Sena.
"Apa benar yang dikatakan oleh Mr. Ken?" tanya Jack pada Lexy.
"Sementara ini kita harus percaya penuh kepadanya. Ken mampu mengecek semua CCTV di manapun yang dia inginkan. Tapi memang Ken itu tidak bisa dipaksa. Ia akan memeriksa jika ia menginginkannya."
"Aku sudah meningkatkan penjagaan pada Tuan Gavin dan seluruh keluarga Neutron, kecuali ...."
"Anak-anak Gavin bukan?" lanjut Lexy.
Jack menganggukkan kepala. Ia bukan melupakannya, tapi ia bingung untuk mengatakannya pada Gavin.
"Gi, kamu dengar aku? kamu sudah sadar?"
Ucapan Sena membuat Lexy langsung mendekat ke tempat tidur Gia dan memegang tangan wanita itu. Gia mengerjapkan matanya, menyesuaikan diri dengan keadaan sekitarnya.
"Gift ...,” panggil Lexy.
"Uncle ... Sena .... Kak Jack, dimana aku?" tanya Gia.
"Kamu sedang di rumah sakit. Apa kamu tidak ingat apa yang terjadi padamu?" tanya Sena.
Gia menggelengkan sedikit kepalanya, "Aku hanya ingat aku sedang makan bersama Uncle,” kata Gia sambil memandang Lexy.
Gia menahan sedikit sakit di dadanya.
"Kamu tidur saja Gift, kamu belum pulih benar,” kata Lexy.
__ADS_1
"Tapi temani aku,” pinta Gia.
"Ya, aku akan menemanimu."
"Kalau begitu aku pulang dulu, Gi. Kamu istirahat dulu ya, besok aku akan ke sini lagi,” kata Sena sambil mengelus punggung tangan Gia.
"Makasih ya, Sen."
"Aku akan mengantar Nona Sena pulang dulu,” ujar Jack.
"Terima kasih, Kak Jack."
Jack menemani Sena keluar dari ruangan, meninggalkan Gia dan Lexy.
"Aku pulang sendiri saja,” kata Sena.
"Tidak, aku akan mengantarmu pulang, Nona Sena."
"Sudah kukatakan panggil aku Sena saja."
"Mengapa wajahmu memerah seperti itu? Apa kamu demam?" Sena tiba-tiba saja meletakkan tangannya di dahi Jack dan membuatnya serasa melayang.
"Tidak, kamu tidak demam,” lanjut Sena sambil memegang dahinya sendiri.
"Aku tidak apa-apa, mungkin hanya karena cuaca yang panas."
"Tapi kita sejak tadi di dalam ruangan ber-AC,” ujar Sena, membuat Jack kembali salah tingkah.
"Ayo, aku antar pulang,” Jack tiba-tiba saja menarik tangan Sena.
**
Anna berangkat lagi menuju coffee shop. Hari ini dia mendapat shift pagi. Sejak ia kembali bekerja ia lebih sering mendapat shift pagi, agar saat sore ia sudah bisa kembali pulang dan mengurus anak-anaknya.
Rekan-rekan sekerjanya pun sangat mengerti akan keadaan Anna, dan mereka tidak ada masalah dengan pembagian shift tersebut.
Anna membuka pintu coffee shop, biasanya Mr. Ken sudah berada di dalam karena memang ia selalu datang pagi hari.
__ADS_1
"Selamat pagi, Mr. Ken,” sapa Anna.
Ken sedang duduk di salah satu kursi coffee shop untuk menikmati kopi buatannya sendiri. Ken memang membuka coffee shop untuk menyalurkan kecintaannya pada kopi. Ia juga sengaja memilih Kota Maastrich karena kota ini begitu tenang, dan dia memerlukan itu.
Sudah bertahun-tahun rasanya hidupnya terasa begitu sesak dan penuh dengan pekerjaan. Ia dibayar oleh pengusaha-pengusaha ataupun orang-orang penting untuk membantu mereka dalam menyelesaikan masalah ataupun membuatkan mereka software untuk perusahaan.
"Anna, apa kamu sudah mengatakan pada Joe mengenai yang aku bilang kemarin?" tanya Ken.
Ken berani berbicara karena memang baru ada Anna saja di sana. Ia juga tak ingin pegawai yang lain mengetahui tentang masalah ini.
"Aku belum mengatakannya. Aku ..."
"Kamu harus mengatakannya. Joe perlu bersiap-siap jika tiba-tiba keadaannya darurat."
Kini Anna benar-benar berpikir. Yaa, ia tidak ingin Dad Joe kuatir, tapi jika apa yang Mr. Ken katakan benar-benar terjadi, maka Dad Joe akan kaget dan tidak mampu bergerak cepat. Itu akan menjadi kesalahan terbesarnya dan ia tidak mau menyesal.
"Aku akan mengatakannya sepulang dari sini. Maafkan aku, Mr. Ken. Aku ...."
"Aku mengerti perasaanmu, tapi ingatlah Joe adalah seorang petarung sejati,” kata Ken sambil tersenyum.
Hari ini pembeli tidak terlalu banyak, waktu pun sudah menunjukkan pukul 5 sore.
"Han, Craig, aku pulang dulu ya."
"Hati-hati An. Sampaikan salam cubitku pada 2 keponakanku,” pesan Hanna.
"Aku akan menyampaikan salam cubit balik dari mereka untukmu,” mereka pun tertawa.
Anna berjalan menyusuri pinggiran trotoar. Sama seperti kemarin, ia masih merasa ada yang mengawasi dirinya. Tapi kali ini ia harus bersikap tenang, yang penting ia harus siap jika orang tersebut tiba-tiba melakukan penyerangan.
Belum jauh Anna berjalan, tiba-tiba dari belakang mulutnya dibekap. Anna dengan kekuatan penuh langsung mengayunkan sikutnya hingga mengenai perut orang tersebut.
"Argghhh...."
Orang itu pun terjatuh karena menahan sakit di perutnya.
🌹🌹🌹
__ADS_1