TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#70


__ADS_3

Gavin duduk di sofa sambil memandang bunga pengantin yang ia dapat. Bunga itu seperti mengejek dirinya, seperti ia dielu-elukan tamu yang hadir di acara pernikahan Gia dan Lexy tadi.


"Menyebalkan!" teriak Gavin.


"Ada apa, sayang?" tanya Mom Clara yang masuk ke dalam ruang kerja Gavin.


Gavin hanya diam tidak menjawab pertanyaan Mom Clara.


"Apa kamu masih marah karena mereka menyorakimu saat mendapatkan bunga tadi?"


"Mommy sudah tahu, tidak usah bertanya lagi."


Mom Clara tersenyum, "Sudahlah, sayang. Anggap saja bunga ini sebagai doa agar kamu segera mendapatkan pendamping hidup yang terbaik."


"Tapi, Mom. Aku sepertinya masih dibayang-bayangi oleh Elisa."


"Itu karena hati kamu yang belum mau menerima kenyataan yang ada. Jangan terlalu lama terperangkap dalam masalahmu, karena ketika kamu sadar nanti, mungkin saja orang yang kamu cintai sudah pergi meninggalkanmu."


"Mom, apa Anna masih di bawah?"


"Ya, ia akan menginap di sini."


"Benarkah?"


"Tentu saja benar, karena Mommy-lah yang memintanya."


"Kalau begitu, aku cari Anna dulu, Mom."


Mom Clara hanya bisa tersenyum melihat kelakuan putranya. Mom Clara tahu, permasalahan yang dihadapi oleh Gavin bukanlah hal yang mudah baginya. Meskipun ia hebat dalam menjalankan perusahaan, tapi hatinya begitu rapuh ketika cinta mengkhianatinya.


**


Saat ini Lexy dan Gia sudah berada di dalam kamar, kamar pengantin mereka. keluarga Neutron memberikan mereka hadiah menginap di hotel terbaik di Switzerland, sedangkan keluarga Ginea memberikan mereka tiket honeymoon ke Maldives.


Gia sedang berada di depan meja rias, melepaskan semua hiasan yang ada di kepalanya.


Lexy yang baru saja selesai membersihkan diri, keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang dililit di pinggangnya. Gia bisa melihat tubuh Lexy bagian atas, ia langsung menelan salivanya.


"Ya ampun Gi, ini bukan yang pertama kali kamu melihatnya." guman Gia sambil menepuk pipinya berkali kali


"Kamu mau mandi, Gift."


"Ehh .... iya. Tapi bisa bantu aku?" Gia berjalan menghampiri Lexy kemudian berbalik badan, "Bisa kamu bukakan resleting gaunku?"


"Tentu saja,” Lexy menarik resleting gaun Gia dari atas menuju ke bawah. Saat resleting terbuka, ia bisa melihat punggung Gia yang begitu putih dan mulus. Ia langsung menelan salivanya, dan merasakan ada yang mulai menegang di bawah sana.


"Sudah, Gift,” kata Lexy, mengalihkan pandangan.

__ADS_1


"Aku mandi dulu,” ujar Gia.


Lexy duduk di samping tempat tidur tanpa mengganti handuknya dengan piyama.


Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, juga harum sabun dan shampo yang dipakai oleh Gia.


"Tenanglah dulu, apa kamu tidak bisa sabar,” kata Lexy pada sesuatu di bawah sana yang sudah menegang dari tadi.


Tak berselang lama, Gia keluar menggunakan bathrobe dan dengan rambut yang masih agak basah. Kemudian ia duduk di depan meja rias sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, kemudian ia mengambil alat pengering rambut (hair dryer)


"Sini biar aku bantu,” kata Lexy.


Lexy membantu mengeringkan rambut Gia, membuat wajah Gia memerah karena malu. Lexy semakin gemas padanya saat melihat wajah Gia memerah.


Lexy meletakkan alat pengering rambut tersebut, kemudian ia mengangkat sedikit rambut Gia dan mengecup tengkuknya. Gia yang merasa kegelian kemudian menghindar dan membalikkan tubuhnya.


Kini ia membelakangi meja rias dengan tangan menahan di atas mejanya. Lexy mendekatinya, menyatukan kening mereka.


"Kamu sangat cantik, Gift,” puji Lexy yang kemudian mencium bibir berwarna pink milik Gia. Perlahan, perlahan, dan semakin lama semakin menuntut. Lexy memeluk pinggang Gia, dan Gia pun melingkarkan tangannya di leher Lexy.


Ciuman mereka begitu memburu dan membuat mereka seperti kehabisan nafas. Lexy menggendong Gia dan dengan perlahan meletakkannya di atas tempat tidur.


Kini Lexy sudah mengungkung Gia di bawahnya. Ia kembali melummat bibir Gia dengan lembut, dan mengabsen setiap rongga mulutnya.


Kemudian Lexy membuka handuk yang melilit di pinggangnya. Gia yang kaget, langsung menutup wajahnya, karena ia tak ingin Lexy melihat wajahnya yang malu dan memerah.


Setelah melemparkan bathrobe ke lantai, Lexy bisa melihat dengan jelas pakaian dallam yang dikenakan oleh Gia juga lekuk tubuhnya, membuat juniornya semakin menegang dan ingin masuk ke dalam tempatnya.


Ia menciumi wajah Gia, kemudian menyusuri leher milik wanitanya, hingga mengabsen setiap jengkal tubuh wanita itu.


"Sayang ....,” kata Gia.


"Hmmm ....,” balas Lexy, "Apa kamu menyukainya?"


Lexy membuka seluruh pakaian dallam milik Gia, hingga kini mereka berdua benar-benar polos.


"Gift, I love you."


"I love you too, my Uncle, my Love,” kata Gia sambil menangkup wajah Lexy.


Gia kembali mencium Lexy dengan lembut dan tentu saja dibalas oleh Lexy. Semakin lama mereka semakin larut, pada akhirnya Lexy pun melakukan penyatuan.


Gia berteriak, "Sakit ...."


Lexy kembali mencium bibir Gia agar Gia menjadi lebih relax. Perlahan Lexy mulai memaju-mundurkan tubuhnya.


Hanya ada suara errangan dan dessahan di kamar itu, membuat mereka semakin panas dan bergairrah.

__ADS_1


Sampai akhirnya mereka berdua mengalami pelepasan secara bersama.


Lexy bahagia karena Gia telah menjaga kehormatannya untuk dirinya, suaminya. Ini adalah yang pertama kali untuk Gia, dan juga pertama kalinya bagi Lexy.


"Terima kasih, Gift. Terima kasih. I love you,” bisik Lexy sambil mengecup kening Gia.


Lexy berbaring di samping Gia, menarik selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya, kemudian merengkuhnya di dalam pelukannya. Mereka berdua pun tertidur.


**


"An ..."


"Hi Vin. Apa masih ingin bermain dengan Nathan dan Nixon? Mereka sudah tertidur,” tanya Anna sambil menunjuk boks bayi di samping tempat tidurnya


"Tidak, aku ingin bicara denganmu."


"Apa yang ingin kamu bicarakan? ini sudah malam, apa tidak sebaiknya kamu membicarakannya besok."


Gavin masuk ke dalam kamar Anna dan menutup pintunya dan mengunci Anna dalam kungkungannya di balik pintu.


"Vin, apa kamu mabuk?"


"Aku tidak mabuk."


Gavin menatap mata Anna, begitu juga sebaliknya. Perlahan tangan Gavin menyampirkan rambut Anna ke belakang telinga.


"Vin ...,” panggil Anna.


Gavin meraih tengkuk Anna, kemudian mendekatkan bibirnya pada bibir Anna, kemudian ia mencium bibir Anna dengan lembut.


Namun, Anna langsung mendorongnya.


"Vin, kamu mabuk ya. Sebaiknya kita bicara besok saja,” Anna keluar dari kungkungan Gavin dan berjalan mendekati tempat tidur.


Gavin meraih pinggang Anna dan memeluknya dari belakang. Menempelkan kepalanya ke kepala Anna.


"An, katakan kamu tidak membenciku."


Anna menghela nafasnya pelan, "Aku tidak membencimu."


"Katakan kamu memaafkanku."


"Aku memaafkanmu."


"dan katakan kamu mencintaiku."


"Aku ...."

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2