TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#45


__ADS_3

"Aku ... aku .... tidak bermaksud begitu. Maksudku ... ," Gavin seperti menyadari perkataannya, dan ia juga melihat Anna hanya tersenyum saat ia mengatakan itu.


"Kakak egois!" teriak Gia lagi.


Gavin memukul kepalanya, merutuki kebodohannya.


Gia yang terduduk di lantai, akhirnya menjadi sedikit lebih tenang saat Jack memeluknya dan dengan lembut mengusap kepalanya.


Lexy yang melihat pemandangan itu tersenyum, meskipun di dalam hatinya terasa teriris. Ingin ia berada di sana, menggantikan posisi Jack. Memeluk dan menenangkan gadis kecilnya.


Lexy akhirnya pergi keluar untuk menunggu kedatangan Tuan Chris. Sementara Gavin hanya berdiri dan diam membisu.


Waktu seakan berjalan sangat lama. Dokter mengatakan bahwa mereka harus melakukan operasi untuk menyelamatkan bayi yang ada dalam kandungan Anna.


Operasi sudah berjalan selama lebih dari 30 menit, Dad Chris dan Mom Clara sudah datang. Mom Clara memeluk Gia yang masih saja menangis.


"Ini salah Gia, Mom. Seharusnya Gia tidak meminta Anna untuk kabur."


"Tenanglah. Bukankah kamu pernah cerita pada Mommy kalau Anna itu wanita yang kuat. Waktu Mommy bertemu dengannya juga Mommy yakin dia wanita yang luar biasa," kata Mom Clara menenangkan Gia.


"Aku juga berharap seperti itu, Mom," lirih Gia.


Sementara Gavin hanya mondar-mandir sedari tadi. Ia mengkhawatirkan keadaan Anna. Jujur, bukan maksud hatinya untuk memilih anaknya, tapi ....


Pintu ruang operasi terbuka, seorang dokter keluar dari ruangan. Gavin yang sedari tadi mondar-mandir langsung berhenti dan menghampiri, diikuti dengan anggota keluarga yang lain.


"Bagaimana?" tanya Gavin.


"Kami telah berhasil menyelamatkan kedua anak anda, Tuan.”


"Dua?" tanya Gavin.


"Ya, anak kembar, keduanya laki-laki. Tapi saat ini kami sedang meletakkannya di inkubator karena kelahiran mereka termasuk prematur."


Gia menerobos ke depan, "Lalu bagaimana keadaan Anna?" tanya Gia.


"Pasien masih dalam kondisi kritis karena kehilangan banyak darah. Saat ini pasien masih belum sadar. Kami akan memindahkannya ke ruang ICU untuk perawatan dan pengawasan lebih lanjut," sang Dokter pun pamit meninggalkan keluarga Pramana.


"Aku punya anak kembar ...," Gavin terduduk sambil menangis, ia terharu.

__ADS_1


"Lihat Mom, yang ia pikirkan hanya anaknya. Ia tidak pernah memikirkan bagaimana keadaan Anna yang sudah berjuang. Berharap saja Anna mau memaafkan kakak dan mengijinkan kakak bertemu dengan anak-anaknya," Gia menekankan kata terakhirnya di depan wajah Gavin, kemudian ia pergi meninggalkan Gavin.


Dad Chris mendekati putranya dan menepuk pundaknya beberapa kali.


"Han, tolong kamu urus semua administrasinya dan berikan perawatan yang terbaik untuk Anna," ujar Dad Chris


"Baik, Tuan."


Dad Chris melihat Lexy sedari tadi terus berkutat dengan ponselnya. Ia tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Lexy dengan wajah yang sangat serius.


"Lex, ayo kita kembali. Banyak yang harus kita lakukan,” Dad Chris memanggil Lexy.


"Dan Jack, kamu temani Gavin di sini. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi Han," perintah Dad Chris, diikuti anggukan Jack.


**


"Mom, bagaimana kalian tahu dimana aku berada?" tanya Gia di perjalanan.


"Kakakmu."


"Kakak??"


Flashback On


"Aku segera ke sana, Dad."


Sekitar 15 menit, akhirnya Gavin sampai di kediaman orang tuanya. Jarak rumah mereka memang tidak terlalu jauh.


"Apa Gia sudah kembali?" tanya Gavin sesampainya disana.


"Belum, apa jangan-jangan ia ditangkap juga oleh mereka?" tanya Mom Clara.


"Jack, periksa pelacak kita!" perintah Gavin.


"Baik, bos."


"Pelacak? pelacak apa?" tanya Dad Chris.


"Aku meletakkan pelacak di dalam kalung yang digunakan oleh Gia."

__ADS_1


"Kalung?" tanya Mom Clara.


"Yes, Mom. Kalung yang kuberikan saat ulang tahunnya 2 tahun lalu, dan aku juga memaksa Gia untuk selalu memakainya."


"Sudah ketemu bos," kata Jack.


Dad Chris, Han dan Lexy melihat layar laptop tersebut yang menampilkan sebuah titik di sebuah lokasi yang berada di pinggiran Switzerland.


"Ini seperti ..."


"Ya benar Tuan, lokasi tempat dulu Nyonya Clara disekap," sambung Han.


"Kalau begitu, kita segera ke sana," kata Dad Chris.


"Daddy di sini saja. Uncle, tolong jaga Daddy dan Mommy. Biar aku, Jack dan Uncle Lexy yang ke sana."


"Baiklah, Daddy akan menghubungi polisi."


Flashback Off


"Jadi, karena kalung ini aku bisa selamat?"


"Ya sayang, kakakmu itu selalu mengkuatirkanmu," kata Mom Clara.


"Tapi apa yang kakak lakukan juga keterlaluan, Mom. Aku takut Mom, bagaimana kalau Anna ..."


"Sttt .... sttt .... jangan bicara seperti itu. Kita tunggu kabar dari kakakmu nanti," kata Kom Clara sambil memeluk Gia untuk menenangkan.


Lexy yang menyetir mobil melihat dari kaca spion tengah. Ia memandang wajah Gia yang terlihat sedikit lebam dan robek di sudut bibir.


Sesampai di rumah, Mom Clara mengobati luka di wajah Gia, kemudian meminta Gia untuk istirahat.


Dengan cepatnya Gia memejamkan matanya karena semalaman ia tidak bisa tidur, dan baru tertidur menjelang pagi.


Setelah Mom Clara keluar dari kamar, Lexy mengendap perlahan memasuki kamar Gia. Ia sangat mengkuatirkan keadaan Gia meskipun ia terlihat acuh.


Lexy berjalan mendekati tempat tidur Gia dan berlutut di sampingnya. Dengan jari jemarinya ia memainkan rambut Gia, kemudian menyampirkan rambut Gia, agar ia bisa melihat wajah Gia dengan jelas.


"Gift, maafkan Uncle karena datang terlalu lama. Tapi Uncle senang kamu tidak apa-apa. Tenanglah, Uncle pasti akan menghabisi orang-orang yang membuatmu seperti ini," kata Lexy, kemudian ia mengecup kening Gia, "Uncle menyayangimu."

__ADS_1


Lexy pun perlahan keluar dari kamar, dan Gia membuka matanya. Buliran air terjatuh di sudut matanya, "Maafkan Gia, Uncle. Gia juga menyayangimu."


🌹🌹🌹


__ADS_2