
"Lebih baik kamu pulang,” ujar Anna pada Gavin.
"Tidak, aku tidak akan pulang. Aku akan menginap di sini."
"Tidak ada tempat untukmu. Lagipula, aku akan mengatakan pada Daddy."
"Daddymu sudah tahu dan ia mengijinkanku."
"Daddy? .... tak mungkin. Kamu berbohong."
"Tanya saja kalau kamu tidak percaya. Aku akan tidur di sini,” ujar Gavin sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Anna.
"Jika kamu tidur di situ, lalu aku tidur dimana?"
"Tentu saja di sebelahku. Apa kamu tidak mau?"
"Tidak!" jawab Anna sambil pergi meninggalkan Gavin.
Ia tak menyangka kalau Gavin bertindak berani dengan meminta pada Dad Joe untuk menginap.
Tookkk .... tookkk .... tokkk ....
Anna membukakan pintu,
"Aunty Lia, aku senang aunty datang ke sini lagi."
"Aku kuatir padamu. Kamu pasti kerepotan mengurus kedua anakmu dan tidak sempat memasak. Ini kubawakan makanan."
"Ya ampun aunty, terima kasih. Aku jadi tidak enak karena merepotkan aunty."
"Tenang saja, Aunty senang melakukannya. Mana Nathan dan Nixon?"
"Sedang di kamar, bersama .... Daddy-nya,” jawab Anna pelan.
"Wah, itu berita bagus, An. Daddy-nya mau datang itu sungguh hal yang gembira, apalagi jika kalian benar-benar bersatu, tentu kebahagiaan terbesar bagi mereka."
"Aunty ....," Anna menjadi malu.
Anna pun sampai lupa mempersilakan Cornelia untuk duduk.
Anna pergi ke dapur untuk mengambilkan air minum dan ia sempat menengok ke kamar Daddynya. Ia melihat Daddy nya sedang beristirahat.
"Aunty kenapa datang malam-malam begini?" tanya Anna.
"Sebenarnya aku ingin bicara pada ...."
"Pada Daddy?"
Cornelia menganggukkan kepala.
"Apakah sangat penting? kalau iya, aku akan membangunkan Daddy."
"Jangan An, tidak perlu. Nanti saja aunty akan kembali. Sampaikan saja salam aunty pada Daddymu."
"Baik aunty, aku akan menyampaikan salam aunty."
__ADS_1
Cornelia akhirnya pulang karena tidak sempat bertemu dengan Dad Joe.
Flashback On
"Bisakah kita bicara?" tanya Joe.
Cornelia mengangguk. Tak ada alasan baginya untuk menolak Joe berbicara.
Mereka berdiri di halaman depan rumah.
"Katakanlah."
"Maafkan aku,” pinta Joe.
"Aku sudah memaafkanmu, Joe. Bagaimanapun kita adalah teman, bukan?"
"Dengan segala hal yang terjadi, kamu masih menganggapku sebagai seorang teman?"
"Lalu aku harus menganggapmu apa? musuhku? tidak Joe. Hidupku terlalu berharga untuk memberikan kesenangan bagi orang yang membenciku. Jika mereka menginginkan kesedihan dalam diriku dan mereka bahagia akan hal itu, tentu saja aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
"Lia ..."
"Aku tidak lagi menyimpan kemarahan, kekesalan, dendam, atau apapun itu namanya. Aku hanya ingin menjalani hidup ini dengan lebih bahagia."
"Tapi sebenarnya ke mana kamu pergi setelah kejadian itu? aku mencarimu, tapi aku tidak menemukanmu."
"Aku di sini. Aku tinggal di Maastrich setelah pergi dari sana. Di sini tenang, kamu juga pasti menyukainya kan?"
Joe mengangguk, "Apa kamu tinggal sendirian?"
"Kamu sudah menikah?"
Cornelia tersenyum, "Menikah? tidak, tidak ada dalam kamusku untuk menikah."
"Lalu, anak itu .... jangan katakan, anak itu ...."
"Ya, dia anakmu, putrimu,” jawab Cornelia.
"Aku punya seorang putri? bolehkah aku bertemu dengannya?"
"Untuk ini, aku harus menanyakan padanya terlebih dahulu. Itu adalah hak-nya, apakah ia ingin bertemu denganmu atau tidak. Jika ia menginginkannya, aku tidak akan melarangnya."
"Benarkah? terima kasih. Tolong beritahu padaku jika ia mau bertemu denganku,” kata Joe.
"Ya. Kamu juga harus mengatakan pada Anna bukan, bahwa ia memiliki seorang saudara."
"Aku akan mengatakan pada Anna, meskipun Anna .... bukan putri kandungku."
Flashback Off
Ketika Anna kembali ke kamar, ia melihat Gavin sudah tertidur. Ia tak menyangka bahwa Gavin akan benar-benar tidur di tempat tidurnya, bersebelahan dengan putra mereka.
Anna keluar dari kamar, membereskan rumah dan mengunci pintu. Setelah selesai semua dan ia pun sudah bersih, Anna kembali masuk ke dalam kamar. Ia mengambil selimut tebal di dalam lemari, kemudian menggelarnya di atas lantai tepat di sebelah tempat tidur.
Anna mengambil bantal miliknya dan meletakkannya di atas selimut. Setelah memastikan anak anaknya tidur dengan nyenyak, ia pun tertidur.
__ADS_1
**
Anna terbangun, sinar mentari di musim dingin ini amat sangat ia nantikan. Matanya mengerjap perlahan. Ia merasa ada yang menimpa tubuhnya, terasa berat.
Anna sadar bahwa ada tangan yang melingkar di pinggangnya, dan
"Kenapa aku ada di atas tempat tidur, semalam aku kan ....," guman Annaz
"Siapa yang menyuruhmu tidur di bawah, huh??!!" kata Gavin di telinga Anna, membuatnya terasa geli.
Anna langsung bangun dan melihat kedua anaknya yang masih tidur dengan nyenyak.
"Sudah, tidurlah lagi. Mereka juga masih tidur."
"Lepaskan aku, Vin,” pinta Anna.
Gavin melekatkan wajahnya ke dekat rambut Anna, dan menghirup wanginya,
"Biarkan seperti ini, sebentar saja. Kamu tahu, aku suka wangimu."
Gavin pun mencium bahu Anna, kemudian ia mencium ceruk leher Anna.
"Vin, lepaskan, atau kamu akan menyesal,” Anna memberontak dan akhirnya ia bisa melepaskan diri. Anna langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Saat Anna keluar, wangi sabun memenuhi ruangan,
"Kalau saja aku bisa mencium wangi ini setiap hari,” kata Gavin yang bisa didengar oleh Anna.
"Kamu mau? bisa."
"Kamu mau tinggal bersamaku? wajah Gavin pun tiba-tiba menjadi sumringah."
"Tentu saja tidak, kamu bisa membawa botol sabunku. Masih banyak isinya. Kamu bisa menggunakannya saat mandi,” Anna tertawa mengejek Gavin.
"Memang 11-12 dengan Gia, pantas saja mereka cocok,” gerutu Gavin.
Sementara Anna berada di dapur, Gavin menemani anak mereka, dan ia melihat bagaimana mereka sedang merentangkan tangannya.
Nathan adalah bayi yang sangat tepat waktu. Ia akan tidur dan bangun di jam yang sama, sementara Nixon .... ia akan tidur lebih dulu, dan tidak mau bangun jika tidak dibangunkan.
"Nathan ..... jagoan Daddy, maukah kamu membujuk Mommymu agar tinggal kembali bersama Daddy?"
Nathan tertawa. Dengan senyum dan mata bulatnya, ia memandang ke arah Gavin sambil meraih apa saja di wajah Gavin.
"Kamu suka kan Daddy ada di dekatmu, ayo bantu Daddy ya. Kamu bekerjasamalah dengan Nixon. Nix ... ayo bangunlah, kamu tidur sudah lama sekali,” kata Gavin sambil mengusap-usap kepala Nixon, yang bukannya bangun malah semakin tertidur.
Gavin terus mengganggu Nixon supaya anak itu bangun, dan pada akhirnya malah membuat Nixon menangis karena ada yang mengganggu tidurnya.
Anna yang mendengarnya pun segera masuk ke dalam kamar. Ia segera menggendong Nixon.
"Ada apa sayang, kenapa kamu menangis? apa kamu bertemu dengan monster?" tanya Anna sambil melirik ke arah Gavin.
"Hei, aku ini bukan monster, masa Daddy yang tampan ini dibilang monster oleh Mommymu. Nathan, ayo kita serang mereka,” Gavin pun malah mengajak anak-anaknya bermain, membuat mereka tertawa, sehingga Anna pun ikut tertawa.
"Aku menyukai senyummu, tapi aku lebih menyukai tawamu,” kata Gavin saat melihat Anna.
__ADS_1
🌹🌹🙏🏻