
Lexy menatap layar laptopnya. Sudah beberapa hari ini ia benar-benar tidak fokus bekerja.
Sejak ia mendapatkan ciuman dari seorang gadis. Ya, baginya Gia hanyalah seorang gadis, gadis kecilnya. Ia tak pernah menyangka bahwa ciuman pertamanya adalah dengan seorang gadis kecil, yang adalah putri dari adik atasannya.
Memang seumur hidupnya, ia tidak pernah berurusan dengan wanita apalagi berciuman. Terserah orang mau menganggap apa, tapi memang Lexy memfokuskan hidupnya hanya untuk bekerja.
Sejak ia berpisah dengan sahabat-sahabatnya, ia sulit menerima orang lain karena ia merasa kesepian. Kemudian ia bertemu dengan Nicholas, atasannya saat ini, yang membantunya bangkit dari keterpurukan hidupnya.
Dan kini ia kembali merasa jatuh .... jatuh karena kini ia justru kembali merindukan sentuhan dari bibir berwarna pink yang sangat lembut dan manis.
"Ya Tuhan, apa yang sedang kupikirkan? Gifttt, kenapa kamu terus mengganggu pikiranku!" teriak Lexy di dalam kamarnya, yang berada di paviliun kecil di belakang rumah kediaman Ginea.
Sementara Gia sedang duduk menatap ke arah taman belakang melalui jendela kamarnya. Ia mengunci diri di dalam kamar, tak ingin keluar dan tak ingin bertemu siapapun. Bukan hanya karena malu, tapi juga karena ia merasa bersalah pada Mommynya.
Gia tahu Jeremy bisa membantunya membatalkan perjodohan ini, tapi ada kemungkinan ia akan dijodohkan dengan orang lain lagi.
"Gi, sayang, ayo makan dulu."
Gia yang sudah beberapa hari tidak keluar pun akhirnya membukakan pintu untuk Mom Clara.
"Sayang, maafkan Mommy ya. Apa Mommy dan Daddy terlalu keras padamu?" tanya Mom Clara.
"Tidak Mommy, ini salah Gia. Seharusnya Gia tidak melakukan itu. Gia juga bersalah pada Uncle Lexy. Bagaimana ini Mom, Uncle pasti marah sama Gia," Gia memeluk Mom Clara sambil menangis.
"Jadi, kamu benar-benar melakukan itu karena tidak suka dengan keputusan kami?"
Gia ingin mengangguk, tapi ia juga tidak mengetahui bagaimana perasaannya yang sebenarnya. Ia menyukai Hansen, itu yang selalu ia tanamkan di dalam hati dan pikirannya, dan saat ini ia sedang patah hati.
Patah hati karena Hansen menikah dengan wanita lain. Apa karena itu juga ia berani mencium Uncle Lexy? Ooo tidak, betapa jahat dirinya jika ia melakukan itu karena patah hati.
"Aku tidak tahu Mom, tapi Mommy tahu kan aku menyukai Kak Hansen."
"Iya sayang, Mommy tahu. Tapi Hansen sudah menikah sayang. Kamu harus mengikhlaskan perasaanmu itu."
"Daddy masih marah padaku, Mom?" tanya Gia.
"Tentu saja Daddy marah sayang, bahkan sepertinya ia marah sekali, karena kamu mencium laki-laki lain," kata Mom Clara dan tiba-tiba ia tertawa.
"Kenapa Mommy tertawa?"
__ADS_1
Flashback On
Dad Chris mengajak Mom Clara pulang setelah ia meminta maaf pada Evan dan juga Janet, karena acara makan siang yang menjadi kacau dan berantakan.
Dad Chris menyetir seperti orang kesetanan. Ia memang pergi sendiri tanpa supir, karena ingin menikmati waktu bersama keluarganya.
"Sayang, pelan-pelan," kata Mom Clara sambil memegang tangan Dad Chris.
Dad Chris yang tersadar akhirnya memperlambat laju kendaraannya, "Maafkan aku, sayang."
Sesampainya di rumah, Dad Chris langsung masuk ke dalam kamar tidur. Mom Clara pun mengikutinya.
"Sayang, maafkan Gia, dia masih terlalu muda. Dia masih labil," kata Mom Clara.
"Aku tidak habis pikir, kenapa dia melakukan itu, apa tidak ada laki-laki lain."
"Maksudmu?"
"Bisa-bisanya dia mencium Lexy di hadapan Evan. Kamu tahu kan sepupumu itu, di belakang pasti dia akan mengejekku. Dia pasti akan bilang kalau Lexy masih bisa mendapatkan gadis muda, sementara aku sudah tua."
"Kamu iri dengan Lexy?" tanya Mom Clara.
"Kamu tahu, Lexy itu tidak pernah dekat dengan wanita, trus tiba-tiba dia dapat gadis muda, dan itu adalah anak perempuan kesayanganku," lanjut Dad Chris.
"Apa kamu mau juga dapat gadis muda?" Mom Clara terus memberikan pertanyaan dan dijawab Dad Chris tanpa sadar.
"Ya kalau masih ada yang mau ... eh ....," Dad Chrus mulai tersadar akan jawabannya, dan ia langsung menoleh ke arah Mom Clara yang sudah menatapnya dan melipat kedua tangannya di depan dadda.
"Hari ini kamu tidur di kamar lain!" Kata Mom Clara sambil keluar dari kamar meninggalkan Dad Chris.
"Sayanggg, bukan itu maksudku. Aku sedang membicarakan Lexy. Sayanggg, aku tidak mau tidur di tempat lain .... sayanggg ...," Dad Chris pun mengejar Mom Clara keluar dari kamar.
Flashback Off
"Daddy kamu itu sangat menyayangimu, sayang. Ia takut kamu mencintai orang lain selain dirinya."
"Apa karena itu Daddy sengaja menjodohkanku dengan laki-laki yang tidak aku cintai?" tanya Gia.
"Mommy tidak tahu apa alasan sebenarnya Daddy melakukan ini, tapi pasti Daddy sudah memikirkannya masak-masak."
__ADS_1
"Aku tidak mencintai Jeremy dan begitu juga sebaliknya. Ia juga tidak mau dijodohkan. Malah ia bilang tenang saja, ia akan menyelesaikan semuanya."
"Sepertinya kamu sudah akrab dengannya?" tanya Mom Clara.
"Aku baru mengenalnya tadi, ia menemaniku saat aku sedang sendiri. Ia memintaku untuk menelisik perasaanku sendiri. Ternyata Jeremy tidak seburuk yang kupikirkan. Kukira ia anak Mami yang hanya bisa mengikuti keinginan orang tua."
"Nah itulah, kamu tidak boleh memandang sesuatu hanya dari luarnya saja. Uncle Evan dan Aunty Janet adalah orang-orang yang sangat baik."
"Tapi Mommy, apa Uncle Lexy akan marah sama Gia?"
"Mommy tidak tahu, sayang. Itu adalah hak Uncle Lexy. Yang Mommy minta darimu, kamu harus minta maaf pada Uncle Lexy. Mommy lihat ia begitu kaget saat kamu melakukan itu."
"Apa Mommy tidak marah melihatku seperti itu?"
Mom Clara menggelengkan kepalanya,
"Dan apa Mommy tidak marah jika aku benar-benar mencintai dan ingin menikah dengan Uncle Lexy?"
Mom Clara menatap Gia sambil memegang kedua tangannya,
"Sayang, dengarkan Mommy. Mommy tidak berhak menentukan kebahagiaanmu. Tugas Mommy dan Daddy adalah menjagamu sampai kamu mendapatkan seseorang yang akan menggantikan Mommy dan Daddy. Uncle Lexy bukan orang yang jahat, hanya saja Daddy-mu merasa tersaingi," Mom Clara kembali tertawa.
"Semua keputusan ada di tanganmu. Mommy tidak akan melarangmu jika … , ingat jika … kamu dan Lexy benar benar saling mencintai. Tapi, jika tidak, hal itu tidak bisa kamu jadikan alasan untuk Daddy tidak mengenalkanmu pada anak teman-temannya."
Gia mengangguk, "Mommy, terima kasih. Gia sendiri tidak mengetahui bagaimana perasaan Gia. Tapi Gia juga tidak ingin membuat orang lain menderita karena Gia."
"Jadi kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan sayang?" tanya Mom Clara.
"Yes, Mom. Gia akan menemui Daddy, kemudian Gia akan menelepon Uncle."
"Lalu?"
"Gia juga akan mengikhlaskan Kak Hansen. Tidak baik kan Mom mengganggu rumah tangga orang lain, apalagi mereka saling mencintai. Tapi jika wanita itu jahat pada Kak Hansen, aku akan merebutnya!" kata Gia dengan semangat.
"Sayanggg ....," kata Mom Clara lembut.
"Iya Mommy, Gia hanya bercanda," Gia memeluk Mom Clara. Ia senang bisa berbagi cerita dengan Mommy-nya.
🌹🌹🌹
__ADS_1