
Anna mengerjapkan matanya, sinar matahari masuk melalui celah tirai jendela di kamar tidurnya. Ia masih merasa lelah dan enggan beranjak dari tempat tidurnya saat ini.
Beruntung sekali semalam ada sebuah mobil yang ntah disengaja atau tidak, membunyikan klakson dengan begitu kencang, sehingga mengagetkan laki-laki yang menahan kakinya. Anna pun akhirnya bisa melarikan diri.
"Boris siallan!! Aku sudah membantunya, ia malah melarikan diri sendirian," gumam Anna sambil meletakkan lengannya di atas matanya, untuk menghindari silaunya cahaya matahari.
Anna bangkit dari tidurnya kemudian duduk sambil bersandar di kepala tempat tidur. Ia mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas. Jam menunjukkan pukul 7 pagi, ia harus segera menyiapkan sarapan.
Bunyi peralatan dapur mulai memenuhi ruangan, Anna sedang memasak makanan untuk sarapan Dad Joe. Hari ini ia tidak bekerja karena bukan giliran Anna untuk mengajar bela diri.
Setelah selesai memasak, Anna mengintip ke kamar Dad Joe. Ia melihat Dad Joe masih tertidur. Anna pun bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dulu.
"Dad, Daddy sudah bangun?" Kata Anna saat melihat ke kamar tidur Dad Joe, setelah selesai mandi. Ia berniat membangunkan Dad Joe, tapi termyata Daddynya itu sudah terbangun sendiri lebih dulu.
"Anna, mengapa semalam kamu pulang terlambat?" tanya Dad Joe.
"Semalam Anna ada latihan tambahan, Dad. Ayo Dad, kita sarapan. Kita harus ke dokter untuk memeriksakan kaki Daddy."
"Sudah Daddy bilang, simpanlah uangmu, tidak perlu kamu habiskan untuk mengobati Daddy."
Anna pun berlutut dan memegang tangan Dad Joe, di hadapan kursi roda Daddynya itu.
"Dad, Daddy adalah segalanya buat Anna. Anna akan melakukan apapun yang Anna bisa untuk mengobati kaki Daddy ini. Sejak kecil, Daddy selalu menyayangi Anna dan mengorbankan segala hal untuk kebahagiaan Anna. Sekarang, giliran Anna yang melakukan sesuatu untuk Daddy," kata Anna sambil tersenyum.
"Terima kasih, sayang," Dad Joe mengusap pucuk kepala Anna.
Kalau saja aku bisa memberikan keluarga yang lengkap bagimu. - batin Dad Joe.
Anna pun mendorong kursi roda Dad Joe menuju meja makan. Mereka pun sarapan bersama, menghabiskan waktu pagi mereka.
**
Gavin masih membolak-balikkan kertas di hadapannya. Meja kerjanya penuh dengan kertas yang bertebaran. Tiba-tiba ia meletakkan kertas yang dipegangnya dengan kasar sehingga beberapa kertas terjatuh dari atas mejanya.
Jack yang baru saja masuk ke dalam ruangannya, langsung menghampiri kertas-kertas tersebut dan memungutnya.
"Bos, are you okay?" tanya Jack.
"Kabar apa lagi yang kamu bawa Jack?" tanya Gavin tanpa basa-basi.
"Ini bos, surat perceraiannya sudah saya siapkan. Tinggal ditanda-tangani saja."
"Berikan padaku. Rasanya ingin kulempar surat ini ke wajahnya," ungkap Gavin dengan kesal.
__ADS_1
"Oya bos, Miss Sena mengundang anda makan malam, untuk merayakan kontrak kerjasama kita."
"Kapan?"
"Malam ini bos."
"Katakan padanya bahwa besok aku-lah yang akan mengundangnya makan malam di rumah. Hari ini ... ada hal yang harus kuselesaikan terlebih dahulu."
"Baik, bos," kata Jack, tanda bahwa ia mengerti akan keinginan bos-nya itu.
**
Gia sedang bersantai di sofa ruang duduk kediaman Gavin. Ia tidak tahu harus melakukan apa karena saat ini ia belum menemukan aktivitas yang cocok dengan dirinya selain bela diri.
Ia merebahkan kepalanya di salah satu bantalan tangan sofa, kemudian mengangkat kakinya hingga seluruh tubuhnya berada di atas sofa. Ia memainkan ponselnya, sambil sesekali melihat ke arah televisi yang sedang menyala.
"Ahhhh, membosankan sekali. Apa sebaiknya aku pergi mencari Sena dan Anna?" gumam Gia.
"Yaaa, sebaiknya kamu pergi saja, daripada kamu hanya duduk duduk rebahan dan menghabiskan harta suamiku."
Gia yang mendengar suara itu langsung bangkit dari tidurnya dan memberikan tatapan sinis.
"Hei, jaga bicaramu! Tak pernah sekali pun aku mengambil atau memakai uang kakakku," terang Gia.
"Lalu, apa bedanya denganmu?" Gia membalas dengan tajam.
"Ooo Tentu saja aku berbeda. Aku ini istrinya, wanita yang paling ia cintai. Apalagi kami sudah memiliki Elle."
"Cihhh ..... " Gia mulai merasa muak dengan semua perkataan Elisa, ingin rasanya ia menjambak dan menampar wanita di hadapannya itu, tapi ia masih bisa menahan diri.
Elisa tertawa melihat wajah Gia yang tidak mampu membalas perkataannya. Ia pun naik ke lantai atas menuju kamar tidurnya.
Kita lihat saja, siapa yang akan tertawa lebih keras pada akhirnya. - batin Gia.
**
"Tidak honey! kamu tidak bisa melakukan itu!” terdengar suara seorang wanita dari dalam kamar tidur sambil menangis.
"Kenapa? aku bisa melakukan apapun!!”
Gia yang mendengar suara ribut-ribut di luar pada akhirnya tidak bisa untuk tidak keluar. Rasa ingin tahu-nya ternyata lebih besar daripada rasa cuek-nya.
Ia pun melangkahkan kaki mengendap perlahan-lahan keluar dari kamar tidurnya dan berjalan menuju asal suara, yang ternyata dari kamar tidur kakaknya yang tidak tertutup rapat.
__ADS_1
"Sudah kukatakan, aku ingin kita berpisah!" kata Gavin tegas.
Woww, sepertinya ini akan menyenangkan. - batin Gia sambil tersenyum.
"Apa? apa alasanmu menceraikan aku? Aku tidak akan menandatangani surat cerai ini, tidak akan pernah!" teriak Elisa sambil membanting surat tersebut ke lantai.
"Alasan? Seharusnya kamu berkaca. Lihatlah dirimu di cermin, apa kamu merasa kamu tidak melakukan sesuatu yang salah?" tanya Gavin.
Deghhh
Elisa merasa sangat kaget. Apa Gavin sudah mengetahui hubungannya dengan Antonio? demikian pikirnya.
"Tidak!!! Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Jangan-jangan kamu menemukan wanita yang lebih muda dariku, sehingga kamu ingin menceraikan aku," kata Elisa mengelak. Ia harus mengalihkan Gavin dari kesalahan dirinya.
"Cihhh!!! apa kamu membicarakan dirimu sendiri?" Gavin tersenyum sinis.
"Ayo kak, ayo! ceraikan dia, ceraikan wanita ular itu. Aku mendukungmu! Semangattt!" gumam Gia yang masih menguping di depan pintu.
"Tidak!! kamu jangan sembarangan," kata Elisa.
Aku tidak bisa bercerai sekarang. Aku harus menjatuhkan reputasimu terlebih dahulu, menghancurkan keluargamu hingga tak bersisa, hingga dirimu berlutut padaku untuk memohon di bawah kaki keluargaku. - batin Elisa.
Tiba-tiba Elisa memegang kepalanya, ia merasa sedikit pusing. Semakin lama ia tidak bisa menahan bobot tubuhnya, sehingga ia sedikit sempoyongan.
"Honey, aku tidak mau bercerai darimu. Apa salahku? maafkan aku ... ," katanya dengan manja agar Gavin yang sejak tadi tidak menghiraukannya, mulai memperhatikan dirinya.
Elisa tahu Gavin mencintainya, bahkan sangat mencintainya. Ia hanya perlu meminta maaf dan mulai bermanja-manja seperti biasanya. Ia mulai mendekati Gavin, memegang bahunya, tapi kemudian ia terjatuh, pingsan.
"Lha, kok pingsan! uppsss...,” Gia secara tidak sadar mengeluarkan suaranya, membuat Gavin menoleh ke arah pintu.
"Gia, sejak kapan kamu di situ?" tanya Gavin yang sedang memegang Elisa
Gia hanya diam, menunduk, ia malu karena ketahuan tengah menguping pembicaraan kakak dan kakak iparnya itu.
Gavin akhirnya menggendong Elisa keluar dari kamar.
"Kak, mau dibawa ke mana?" tanya Gia.
"Ke Rumah Sakit. Tidak pernah ia pingsan seperti ini," ungkap Gavin yang masih menampakkan sisi kuatirnya.
"Aku ikuttt ....," kata Gia yang ikut mengekor di belakang Gavin.
🌹🌹🌹
__ADS_1