
Gavin sedang berkutat dengan beberapa dokumen di dalam ruang kerjanya di Neutron Coorp. Tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka.
"Gavin, apakah kamu sudah mendapatkan informasi?"
"Belum, coba kamu tanya pada Jack."
Elisa berjalan perlahan mendekati Gavin yang sedang duduk di kursinya. Kemudian saat persis di samping Gavin yang sedang menatap ke arah dokumen yang ia baca sambil melihat ke arah laptop, Elisa mendekati wajah Gavin sehingga kini wajah mereka bersebelahan. Dengan cepat, Elisa mencium pipi Gavin, kemudian menangkup wajah Gavin.
Gavin yang sedang serius memeriksa dokumen, meletakkan dokumennya. Ia memandang ke arah Elisa. Mata mereka saling terkunci. Gavin menatap mata Elisa, struktur wajahnya, hidungnya, bibirnya, ntah mengapa tak ada getaran yang timbul dalam dirinya.
Elisa mendekatkan wajahnya pada wajah Gavin, kening mereka bersentuhan. Gavin yang sedang duduk dikursinya kini memegang pinggang Elisa.
Elisa mendudukkan tubuhnya di hadapan Gavin, ia tahu ini posisi yang paling disukai Gavin dan lelaki manapun. Saat mereka bisa menatap wajah sang wanita, juga lekuk tubuhnya. Dengan pakaian yang Elisa kenakan, Gavin bisa melihat bukit kembar yang begitu menyembul. Elisa pun menurunkan salah satu tali pakaian yang ada di bahunya.
Elisa menunggu sesuatu di bawah sana menegang, dan pasti ia akan segera di bawa ke atas tempat tidur, merasakan panasnya kenikmatan. Namun, yang ia tunggu-tunggu tak kunjung muncul.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" pikir Elisa.
Ia pun memandang wajah Gavin kembali, di sana ia melihat Gavin yang hanya tersenyum.
"Maafkan aku. Perasaanku mengatakan aku mencintaimu, tapi tubuhku kini seperti menolakmu. Mungkin yang kurasakan hanyalah obsesi belaka, karena kamu telah memilih laki-laki lain. Aku tidak mau kalah dan ingin kembali memilikimu. Tapi ..."
"Hentikan!!" teriak Elisa sambil mengacak-acak rambutnya, "Jangan katakan kamu sudah tidak mencintaiku. Aku minta maaf atas kesalahanku. Apa itu belum cukup bagimu?"
"Jack, masuklah,” Gavin memanggil Jack melalui intercom.
Tak lama Jack masuk ke dalam ruangan, melihat bagaimana posisi Gavin dan juga Elisa yang acak-acakan, pikiran Jack menyimpulkan sendiri apa yang terjadi di dalam tadi.
"Apa kamu sudah mendapatkan informasinya, Jack?" tanya Gavin.
"Sudah. Ini bos, daftar semua aset milik Mr. Antonio. Kalau posisi Mr. Antonio sekarang tidak bisa dipastikan, tapi yang pasti mereka tidak keluar dari daratan Eropa."
"Kamu sudah mendengar apa yang Jack katakan. Ini aku berikan daftarnya padamu, kamu bisa mulai mencarinya dengan bantuan seorang detektif."
"Jadi kamu tidak akan membantuku?" tanya Elisa kesal.
"Aku tidak bisa, pekerjaanku sangat banyak. Jack juga harus membantuku karena Gia sedang pergi berlibur."
Elisa mengepalkan tangannya, kemudian ia meraih dokumen yang ada di tangan Gavin dan juga tas nya. Dengan menghentakkan kaki, ia meninggalkan ruangan Gavin dengan amat kesal dan penuh amarah, karena rencananya mendekati Gavin kini sudah gagal.
Saat ini yang ia perlukan adalah pelepas amarah, dan ia perlu mencari seseorang.
Sementara Gavin tetap duduk melihat kembali berkas-berkas yang ada di hadapannya. Kemudian ia meletakkan semuanya, menyandarkan tubuhnya pada kursi berwarna hitam miliknya. Ia memejamkan matanya dan mengurut keningnya.
"Bos, berangkat sekarang?" tanya Jack.
"Pukul berapa kita meeting?"
__ADS_1
"Pukul 2 siang, yang artinya 1 jam lagi, Bos."
"Baiklah, siapkan mobil. Aku akan turun sebentar lagi."
"Siap Bos,” kata Jack.
Di dalam mobil, suasana terasa hening. Jack yang berada di kursi samping supir pun akhirnya membuka pembicaraan.
"Bos, apa benar anda akan kembali pada Nyonya Elisa?" tanya Jack.
"Siapa yang mengatakannya?"
"Gia. Dan saya sendiri juga melihat sepertinya anda ingin kembali pada Nyonya Elisa, Bos."
"Apa yang tadi kamu lihat itu tidak seperti apa yang kamu bayangkan."
"Aku mengerti bos, tapi Gia sangat marah sekali dan meminta bantuanku."
"Bantuanmu?" tanya Gavin penasaran
"Ya, Gia meminta saya untuk mencari informasi mengenai Nyonya Elisa dari A sampai Z. Tapi ini yang saya temukan,” Jack menyerahkan sebuah amplop pada Gavin.
Dengan rasa penasaran, Gavin pun membukanya.
Kepalanya terasa begitu panas melihat foto-foto mesra Elisa. Bukan hanya dengan 1 orang pria, tapi juga dengan beberapa pria berbeda setiap berjalan-jalan.
"Kapan foto ini diambil?" tanya Gavin.
Jack memeriksanya dan memberitahu Gavin,
"Itu berarti baru seminggu yang lalu, sehari setelah ia meminta bantuanku."
"Benar, bos."
"Dasar wanita jallang!!! ternyata di saat dia mau berbaikan dan kembali padaku, dia masih bisa tidur dengan lelaki lain!" Kata Gavin dengan geram.
Gavin melemparkan foto itu, dan Jack mengambilnya. Foto dimana Nyonya Elisa sedang berada di atas tempat tidur bersama seorang lelaki dan keduanya sama-sama polos.
Kini Gavin merasakan bahwa ia telah salah memilih, apakah mungkin ia bisa mendapatkan kembali apa yang telah hilang?
**
Anna belum memulai pekerjaannya di coffee shop milik Mr. Ken. Ia masih memikirkan untuk mencari pengasuh untuk anak-anaknya. Pengasuh itu akan menjaga selama dia bekerja saja.
Kalau ia menyerahkan pengasuhan pada Dad Joe, ia tidak tega karena tak mungkin Dad Joe harus mengurus 2 bayi sekaligus.
"An, coba ke sini sebentar,” Dad Joe memanggilnya.
__ADS_1
"Ada apa, Dad?"
"Coba kamu cek, sepertinya Nathan agak panas."
Anna langsung mendekati Nathan dan memegang keningnya.
"Anna ambil termometer dulu ya, Dad,” Anna pun berlari mengambil kotak P3K
Ia pun mengukur suhu tubuh Nathan, dan ternyata
"39 derajat,” Anna juga memegang Neil, untung saja Neil tidak demam.
"Kamu ambil handuk kecil dan air, Dad akan membantu mengompresnya. Kamu beli obat penurun panas saja An, di kotak obat sudah tidak ada."
"Apakah tidak apa aku meninggalkan Dad sendiri?"
"Tidak apa, Daddy bisa menjaga mereka."
Anna pun langsung memakai jaketnya, meraih tas nya dan bergegas keluar rumah menuju apotik.
Sesampainya di apotik,
"Aunty Lia."
"Anna, sudah lama aku tidak melihatmu. Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik, Aunty. Apakah ada obat penurun panas untuk bayi?"
"Kamu sudah melahirkan, An?" tanya Cornelia sambil mengambil obat penurun panas
"Sudah, Aunty."
"Aku ingin sekali bertemu dengan anakmu, pasti lucu sekali. Sudah lama aku tidak menggendong bayi."
"Aunty bisa ke rumahku. Aku akan dengan senang hati menerima Aunty. Aku sangat berterima kasih pada Aunty. Untung saja aku bertemu dengan Aunty saat itu, kalau tidak .... mungkin saat ini yang ada hanya penyesalan di dalam diriku,” Anna mencatat alamat rumahnya.
"Ini obatnya. Dosisnya hanya setengah sendok teh ya, bisa dicampur dengan susu,” Aunty Cornelia memberikan sebuah kantong plastik berisi obat, kemudian Anna memberikan kertas yang bertuliskan alamatnya.
"Baiklah, nanti aku akan berkunjung untuk melihat buah hatimu. Siapa namanya?"
"Nathan dan Nixon."
"2, kamu punya 2 orang anak, An?" tanya Aunty Cornelia tak percaya.
"Iya Aunty, aku punya anak kembar,” jawab Anna, "Aku pulang dulu aunty, Daddy pasti sedang menungguku."
"Baiklah, An. Sampai jumpa."
__ADS_1
🌹🌹