
Seminggu kemudian,
"Anna,” sapa Mom Clara.
"Aku datang, katanya Mommy kangen dengan Nathan dan Nixon. Maaf ya Mom kalau belakangan Anna jarang datang, Daddy lagi membutuhkan Anna untuk menjalani kembali terapinya, jadi Anna harus tetap di rumah untuk menemani."
"Tidak apa, yang penting sekarang kamu sudah ada di sini."
"Dimana Gia?" tanya Anna.
"Gia sedang pergi ke perusahaan. Belakangan ia terlihat murung, jadi Dad Chris memintanya untuk menemani Gavin di kantor. Apa kamu sudah makan, An?"
"Sudah, Mom. Aku makan dengan Daddy tadi."
"Kalau begitu, maukah kamu membantuku mengantarkan makanan ini untuk Gavin dan Gia?"
"Tentu saja Mom." jawab Anna.
"Gia belakangan sepertinya kurang nafsu makan. Kalau bisa, kamu lihat dia harus benar-benar makan. Mommy takut dia kenapa-kenapa."
"Aku titip Nathan dan Nixon ya, Mom."
"Tenang saja, Dad Chris akan sangat senang bermain dengan mereka,” kata Mom Clara sambil tersenyum.
Anna pun membawakan makanan untuk Gavin dan Gia, diantar oleh supir pribadi keluarga Neutron.
Anna terlihat bahagia, ini pertama kalinya ia mengunjungi perusahaan Neutron. Sesampainya di sana, Anna mengatakan pada bagian resepsionis kalau ia membawakan makanan dari Mom Clara untuk Gavin dan Gia. Ia pun dipersilakan masuk karena Mom Clara memang sudah menelepon bagian resepsionis sebelumnya.
Ia menaiki lift sendirian menuju lantai tempat ruangan Gavin dan Gia berada.
Di depan ruangan Gavin hanya ada sebuah meja, dan Anna tahu itu pasti meja sekretaris, tapi tidak ada siapa-siapa disana.
Pintu ruangan Gavin agak sedikit terbuka, terdengar suara orang bertengkar di dalam.
"Untuk apa wanita ular itu kemari?!" tanya Gia dengan nada tinggi.
"Elisa hanya meminta bantuanku untuk mencari Antonio, karena Antonio membawa anak-anaknya."
"Kenapa kakak masih menerimanya, apa kakak tidak ingat apa yang telah dia lakukan pada keluarga kita?" tanya Gia.
"Gi, aku hanya merasa kasihan padanya."
Terlihat Jack yang juga berada di ruangan itu pun hanya diam menyaksikan kedua kakak beradik itu bertengkar.
__ADS_1
"Ahhh, kakak tidak usah bohong padaku. Aku tahu kakak pasti masih punya perasaan pada wanita ular itu kan? Katakan saja, tidak usah berbelit-belit."
"Tidak, Gi. Aku hanya kasihan karena dia sampai memohon padaku."
"Terserah apa yang kakak katakan, tapi sungguh aku tidak akan percaya pada setiap ucapan yang keluar dari mulutnya. Kakak saja yang masih bisa ditipu olehnya."
"Dia tidak berbohong, Gi,” kata Gavin.
"Kakak tahu dari mana dia tidak berbohong, huh??! Apa dia mengucapkan kata-kata manis, atau kata-kata cinta?"
"Sudah kaukatakan Gi, dia hanya memintaku menolong anak-anaknya."
"Kalau begitu, kakaklah yang masih mencintainya. Tidak usah berbelit-belit kesana kemari. Bilang saja aku mencintainya karena itu aku menolongnya!!!"
Jack yang mulai jengah, akhirnya memilih keluar dari ruangan. Baru saja ia ingin menutup pintu, ia melihat Anna yang menyuruhnya untuk diam.
Anna dengan perlahan memberikan makanan yang dibawakan oleh Mom Clara pada Jack, "ini makanan untuk mereka berdua, sebaiknya aku pergi."
Baru saja ia melangkahkan kakinya, ia mendengar Gavin berteriak,
"Giaaa!!! hentikan bicaramu! Memang kenapa kalau aku masih mencintainya? apa aku salah? Apa kamu kira mudah melupakan seseorang yang sudah kamu cintai bertahun-tahun!!??" Kata Gavin sambil menatap Gia.
"Ternyata memang seperti dugaanku. Jika kamu memang mencintainya, jangan pernah kamu mendekati sahabatku lagi, mengerti kak?!" Kata Gia sambil mengambil beberapa berkas yang ia perlukan.
Tiba-tiba Jack masuk sambil membawakan sebuah tas.
"Ini ada makan siang dari Nyonya Clara,” kata Jack.
"Apa Mommy di sini?" tanya Gia.
"Tidak .... Nona Anna yang mengantarkannya ke sini,” jawan Jack.
"Anna?!" kata Gia dan Gavin bersamaan.
"Dimana dia sekarang?" tanya Gavin.
"Nona Anna sudah pulang."
"Kak Jack, apa Anna mendengar pembicaraan kami tadi?" tanya Gia.
Dengan berat hati, Jack menganggukkan kepalanya, "Sepertinya iya, karena saat aku keluar, ia sudah berdiri di dekat pintu."
Gavin ingin mengejar Anna, tapi …
__ADS_1
"Berhenti!!!" teriak Gia, "Bukankah sudah kukatakan, jangan dekati Anna lagi."
"Aku senang karena Anna mendengarnya sendiri dari mulutmu, sehingga aku tidak perlu bercerita ulang di depannya,” lanjut Gia sembari keluar dari ruangan itu dan membanting pintu
"Apa aku salah Jack?" tanya Gavin.
Tentu saja anda salah. - batin Jack.
"Tapi memang tidak mudah melupakan perasaan itu."
Mau dua-duanya gitu? - batin Jack lagi.
"Ini makanan dari Nyonya Clara. Saya letakkan di meja."
"Kamu makan saja, Jack. Aku tidak berselera makan."
Tentu saja dengan senang hati Jack akan menghabiskan makanan itu. Ia pun tidak sungkan-sungkan membawanya keluar dari ruangan, dan menikmati makanan tersebut di ruangannya.
Gia berhasil mengejar Anna yang ternyata baru saja mencapai lobby.
"Annn!!" panggil Gia, dan Anna menoleh.
"Ada apa?"
"Maafkan aku,” kata Gia.
"Memang apa salahmu meminta maaf seperti itu."
"Gara-gara aku, kamu mendengar ..."
Anna tersenyum, "Aku tidak marah padamu, tidak sama sekali. Kamu akan selalu dan selamanya menjadi sahabat terbaikku."
"Anna,” Gia langsung memeluk Anna.
"Justru aku yang mengucapkan terima kasih padamu. Kamu membukakan mataku agar aku tidak membuang-buang waktuku untuk mencintai seseorang yang tidak akan pernah mencintaiku,” kata Anna.
"Kalau begitu, kamu mau menemani aku makan?"
"Tentu saja aku mau, meskipun .... aku sudah makan tadi."
Gia tersenyum dan langsung meraih lengan Anna.
🌹🌹🌹
__ADS_1