
"Tuan Gavin, maaf. Nona Arianna ingin berbicara dengan anda," kata Kristin, sang manager.
"Jika ada hal yang diperlukan atau menginginkan perubahan jadwal, bisa langsung dibicarakan dengan bagian marketing,” kata Gavin.
"Tidak Tuan. Nona Arianna ingin berbicara secara pribadi dengan anda. Nona sudah menunggu di ruangan itu," kata sang manager sambil menunjuk suatu ruangan.
Gavin menghampiri Gia.
"Gi, Arianna meminta untuk bertemu dengan kakak. Apa kamu ada suatu hal yang ingin kamu tanyakan padanya? atau kamu ingin berbicara berdua dengannya?"
"Banyak kak, banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya. Begini saja, kakak masuk ke sana dulu, 15 menit lagi aku akan ke sana, setelah menyelesaikan tugas dari Uncle Nic,” kata Gia.
"Baiklah, kakak ke sana dulu."
Gavin menghampiri Kristin yang akan mengantarkan dirinya bertemu dengan Arianna.
Gavin memasuki ruangan, terlihat Arianna sedang duduk di sebuah sofa. Arianna yang melihat kedatangan Gavin langsung menyambutnya dan mengibaskan sebelah tangannya kepada sang manager agar meninggalkan mereka berdua.
"Ada yang ingin anda bicarakan dengan saya, Nona Arianna?" tanya Gavin.
Tanpa berbasa basi, Arianna langsung memegang lengan Gavin dan membawanya untuk duduk di sofa.
"Aku .... aku hanya ingin berdua denganmu," kata Arianna sambil memainkan jarinya di dada Gavin.
Gavin langsung meraih jari tangan Arianna dan menjauhkan dari tubuhnya.
"Maaf Nona, tidak baik jika dilihat orang."
"Tidak akan ada yang melihat kita, kita hanya berdua di ruangan ini."
"Tapi .... "
"Sudahlah, aku tahu kamu pasti juga ingin berdua denganku," Arianna mendekatkan tubuhnya ke tubuh Gavin, sementara Gavin mundur perlahan.
Arianna mendorong tubuh Gavin hingga terbaring di sofa, sementara ia berada di atas Gavin.
"Bukankah ini yang kamu inginkan?" Kata Arianna.
Apa dia mengingat malam itu? apa dia sengaja mengingatkanku akan kejadian itu?- batin Gavin.
"Tidak, sungguh .... aku minta maaf, aku tidak ....," kata Gavin.
Arianna mendekatkan wajahnya ke wajah Gavin, hingga hanya berjarak beberapa cm saja. Mereka saling bisa merasakan hembusan nafas masing masing.
"Kamu tahu, aku menyukaimu, sejak pertama aku melihatmu," kata Arianna to the point.
"Tapi Nona Arianna, sungguh ... aku tidak bermaksud melakukan itu padamu."
__ADS_1
"Aku tahu kamu suka memelukku bukan? Tanganmu yang kekar ini, ahhh ... aku menyukainya, dan dadamu, begitu hangat dan menggoda," Arianna semakin mendekatkan bibirnya pada bibir Gavin.
BRUKK .... BRUKKK....
"Kakakkk!!" teriak Gia.
"Gia .... ," Gavin langsung bangun dari posisinya, sementara Arianna berdecak kesal.
"Apa yang sedang kakak lakukan?"
"Tidak, itu tidak seperti yang kamu bayangkan," kata Gavin.
"Memangnya kakak tahu apa yang sedang aku bayangkan?" tanya Gia sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Baiklah Nona Arianna, saya permisi dulu," kata Gavin, "Silakan kamu lanjutkan," bisik Gavin pada Gia yang masih cemberut.
Setelah Gavin menutup pintu,
"Anna, kamu Anna kak?" Gia langsung menghampiri Arianna dan memegang tangannya.
"Aku Arianna, Nona Arianna Howard."
"Apa benar kamu tidak mengenaliku?" tanya Gia.
"Memang siapa dirimu hingga aku harus mengenalimu?" jawab Arianna ketus.
"Hei, apa yang kamu lakukan! hentikan, kamu merusak penampilanku."
"Aku Gia, Givanie, sahabatmu...."
"Aku tidak mengenalmu, dan aku tidak memerlukan sahabat! Pergi! Sahabat itu tidak ada gunanya! Pergiiiii!!!!" teriak Arianna, yang membuat Kristin, sang manager, masuk dan mempersilakan Gia untuk keluar.
Anna .... apa yang terjadi padamu, mengapa kamu seperti itu padaku? - batin Gia yang kemudian meninggalkan Arianna.
**
Acara launching produk terbaru berlangsung dengan lancar dan sukses. Banyak selebriti dan public figure yang hadir untuk meramaikan sehingga kosmetik Autumn Leaf menjadi terkenal.
Selain membuat kosmetik Autumn Leaf terkenal, nama Arianna Howard juga semakin melambung. Hal ini dikarenakan ia merupakan brand ambasador dari perusahaan Ginea, perusahaan yang terkenal sebagai perusahaan besar dan memiliki banyak anak perusahaan lain, di dalam negeri maupun di luar negeri.
"Mam, sampai kapan aku harus menjadi brand ambasador dari produk ini?" tanya Arianna.
"Kita sudah menandatangani kontrak untuk 1 tahun ke depan Nona."
"Lalu, apa kegiatanku setelah ini?"
"Minggu ini saya sudah mengosongkan jadwal anda Nona, karena orang tua anda akan datang mengunjungi anda."
__ADS_1
"Mami dan Papi akan datang?" tanya Arianna antusias.
"Ya, Tuan dan Nyonya Howard akan sampai di Indonesia kemungkinan lusa."
"Baiklah, aku tidak mau diganggu jika bersama Mami dan Papi. Oya Mam, bisakah kamu membuat janji dengan Gavin? aku ingin makan malam dengannya, atur jadwalku, ok!"
"Baik, Nona."
**
Gia memasuki kamar Gavin, ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Kak, ini sudah 2 bulan sejak kepergian Anna, mengapa dia belum memberi kabar juga padaku?"
"Kamu bertanya padaku, lalu aku harus bertanya pada siapa?" tanya Gavin.
"Aku mau berhenti bekerja saja. Aku bekerja kan supaya dekat dengan Anna, tapi .... ia malah memakiku, menyuruhku pergi, bahkan dia mengatakan bahwa dia tidak membutuhkan sahabat sepertiku,” Buliran air mata kembali jatuh di pipi Gia.
"Tenanglah .... "
"Aku mau kembali ke Switzerland saja kak. Apa kakak mau ikut bersamaku?" tanya Gia.
"Aku .... ," kata Gavin
Aku masih ingin memastikan bahwa wanita ini tidak memiliki trauma atas diriku. Jika aku sudah meminta maaf padanya, dan dia memaafkanku, aku akan kembali ke Switzerland. - batin Gavin.
"Aku belum bisa, aku masih harus menyelesaikan pekerjaan yang diberikan oleh Uncle Nic. Tidak etis rasanya aku meninggalkan pekerjaan setengah-setengah. Lagipula, Niel sudah bilang bahwa dia tidak mau bekerja sama dengan Arianna."
"Siapa juga yang kuat bekerja dengannya. Sifatnya sangat egois, semaunya saja. Berbanding terbalik dengan Anna yang kukenal. Apa jangan-jangan dia memang bukan Anna?"
"Apa kamu mengenal keluarga Anna?" tanya Gavin sambil duduk di sebelah Gia.
"Setahuku, ia hanya tinggal bersama dengan Daddy nya, Uncle Joe. Anna tidak pernah bercerita mengenai keluarganya yang lain, bahkan aku tidak pernah tahu siapa Mommy-nya, tepatnya aku tidak berani bertanya."
"Sudah lamakah kamu mengenalnya?"
"Tentu saja, aku mengenal Anna sejak di bangku Sekolah Menengah Atas. Ia salah satu murid terbaik, yang berhasil mendapatkan beasiswa. Ia juga jago bela diri," kata Gia mengenang sahabatnya.
"Apa Nona Sena tidak menghubungimu lagi?"
"Panggil saja dia Sena, kak. Dia juga pasti tidak suka dipanggil seperti itu."
"Tapi dia kan partner kerjaku."
"Aku meminta bantuan Sena untuk mencari informasi tentang Anna, dan ia bilang ia akan meminta bantuan kakaknya. Ahhhh, selama aku di Indonesia, sebaiknya aku mampir ke rumah Kak Hansen!" Gia pun tiba-tiba melipir ke luar kamar tidur Gavin, meninggalkan Gavin yang hanya bisa melihatnya dalam diam.
🌹🌹🌹
__ADS_1