TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#62


__ADS_3

"Jadi kamu?"


"Ya, Mom. Aku tidak akan menggunakan cara Mommy lagi. Aku akan melakukannya dengan caraku. Cara yang singkat, tepat, dan tentu saja mematikan,” kata Elisa sambil tertawa.


"Apa yang sudah kamu lakukan?"


"Aku telah menyuruh orang untuk menembak mati Givanie Adelia Neutron, putri kesayangan Tuan Chris Neutron. Bukankah aku luar biasa, Mom?"


"Apa dia benar-benar mati?" tanya Marcella.


"Orangku mengatakan kalau ia menembak tepat di dadda gadis ingusan itu. Menurut Mommy, apa dia masih akan hidup?" Elisa kembali tertawa.


"Elisa, caramu terlalu terbuka, bagaimana kalau mereka menangkapmu?"


"Tenang saja, Mom. Sebelum mereka berhasil menangkapku, aku akan menghabisi seluruh keluarga Neutron dan Ginea, seperti keinginan Mommy."


"Lalu, apa rencanamu setelah ini?"


"Aku akan menghabisi cucu-cucu kesayangan keluarga Neutron. Itu akan sangat menyakiti hati mereka bukan dan ini juga balasanku pada Gavin karena telah menolakku."


"Apa yang akan kamu lakukan pada bayi-bayi kecil itu?"


"Mommy tenanglah. Tak ada yang Elisa tidak mampu lakukan. Kehancuran keluarga Neutron dan Ginea adalah tujuan kita sejak awal. Kita akan melakukan apapun bukan?"


"Mommy tidak menyangka kamu akan nekat melakukan hal seperti ini, tapi Mommy menyukainya,” Mereka berdua pun tertawa dengan bahagia.


"Aku pergi dulu, Mom. Aku berhak mendapatkan hadiah atas kerja kerasku,” kata Elisa.


Elisa segera menuju tempat terfavoritnya saat ini, tempat laki-laki yang bisa memuaskannya.


"Bagaimana hasil kerja anak buahku?"


"Tentu saja itu luar biasa, dan aku akan menghadiahimu dengan pelayanan yang sangat luar biasa."


"Aku pasti akan sangat menyukai pelayananmu kali ini."


"Tentu saja, Boris sayang. Apa kamu tidak pergi bersama wanitamu itu?"

__ADS_1


"Wanita? Wanita yang mana?"


"Arianna."


Seketika Boris tertawa, "Arianna? Nama aslinya adalah Fero. Dia adalah seorang wanita malam yang menerima pekerjaan dariku."


"Maksudmu?"


"Ya, aku membayar dirinya khusus untuk melakukan semua ini, khusus untukmu. Aku meminta dokter bedah untuk membuat wajahnya mirip dengan Brianna Harland."


"Ooo Boris sayang, kamu luar biasa. Kamu melakukan apapun untukku."


"Tentu saja, sayang,” Boris mulai melummat lembut bibir Elisa, semakin lama semakin dalam hingga akhirnya mereka sama-sama tidak mampu menahan hassrat dan gairrah yang ada dalam tubuh mereka.


Boris membawanya masuk ke dalam kamar. Sambil masih berciuman, mereka melepas pakaian pasangan mereka, hingga tubuh mereka sama-sama polos.


Elisa memainkan jari jemarinya di tubuh Boris, kemudian ia tersenyum karena melihat Boris begitu menyukai sentuhannya. Ia suka melihat laki-laki yang begitu puas dengan apa yang ia lakukan.


Walaupun Antonio juga memanjakannya, tapi Boris berbeda. Boris sangat memuaskannya. Bahkan dengan Boris ia yang meminta lebih dan lebih. Kenikmatan yang Boris berikan jauh melebihi apa yang Antonio berikan.


Boris mulai ikut memainkan jari-jemarinya, membuat Elisa mencapai puncak. Boris pun tersenyum.


"Tentu saja, sayang. Aku juga sangat menginginkanmu,” bisik Boris di telinga Elisa dan membuat Elisa semakin panas.


Boris pun melummat bibir Elisa, kemudian dengan perlahan ia menyusuri setiap jengkal tubuh wanita itu. Setelah puas bermain dibawah sana dengan lidahnya, ia memasukkan juniornya.


Seketika Elisa mengerang nikmat. Boris mulai menghentakk perlahan. Lama kelamaan semakin cepat dan cepat. Namun, mereka berdua ingin menikmati lebih lama, sehingga Boris melambatkan kembali temponya, dan kembali menjelajah setiap tubuh Elisa.


Elisa yang sudah mencapai puncak peleppasan kedua pun akhirnya membalikkan tubuhnya. Kini ia yang berada di atas dan mengambil kuasa atas tubuh Boris. Ia menggerakkan pinggulnya dengan begitu gemulainya, membuat Boris tidak mampu menahan gairrahnya, dan mulai melummat kedua bukit kembar Elisa.


Elisa menghentakkan semakin cepat dan terus bergoyang. Hingga akhirnya kembali mereka mencapai peleppasan bersama-sama.


"Sayang, kamu benar-benar luar biasa,” puji Boris sambil mengecup bibir Elisa.


"Sama denganmu sayang, kamu juga hebat."


Elisa berbaring di samping Boris, dengan tubuh yang polos.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana dengan anak-anakmu?"


"Biarkan saja. Aku lebih membutuhkanmu daripada anak-anak. Antonio bisa membawa mereka, tapi aku tidak rela jika ia membawamu.”


"Tentu saja aku juga akan memilihmu, Elisa, wanitaku."


**


Gia sudah melewati operasinya. Peluru itu memang tepat mengenai daddanya, tapi untungnya tidak terkena organ vital. Saat ini Gia masih dalam pengawasan dokter karena masih dalam kondisi yang cukup kritis.


Setelah menempuh perjalanan panjang, Chris dan Clara akhirnya sampai di Indonesia. Mereka langsung menuju ke rumah sakit.


"Dad, Mom, bagaimana keadaan Gia?" tanya Clara kuatir.


Nyonya Kezia memegang tangan putrinya itu dan mengelusnya, "Saat ini ia masih dalam pengawasan. Kondisinya masih kritis. Ia butuh doa dan support dari kita semua."


"Siapa yang berani berbuat ini?" tanya Chris geram, "Mereka sudah berbuat terlalu jauh."


"Aku rasa ini belum ada apa-apanya bagi mereka. Chris, dengarkan Dad, sepertinya kita harus menyelesaikan masa lalu kita. Membiarkannya sama saja membuat anak cucu kita dalam bahaya,” ujar Dad Brandon.


"Biar aku yang menyelesaikannya, Dad. Saat ini Han sudah meminta pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini,” kata Chris.


"Tapi, mereka akan terus berbuat nekat hingga dendam mereka terbalaskan. Sampai kapan? aku tidak mengira Patra menurunkan dendam yang begitu besar pada putrinya,” kata Dad Brandon heran.


"Sepertinya ini bukan dendam Tuan Patra pada Dad lagi, tapi dendam Marcella padaku. Dulu aku memutuskan hubungan kami, dan aku tidak pernah menerima dia kembali."


"Ya, dan kalian berdua juga tidak menyetujui hubungan Gia dan Lexy. Ini semua akibat keegoisan kalian,” Mom Kezia pun menimpali saat suami dan menantunya berbicara.


"Mom, tenanglah."


"Mana aku bisa tenang, jika mereka berdua tidak menyadari kesalahan mereka. Memang apa yang salah dengan Lexy? Daddy-mu ini hanya bisa menyalahkan Lexy, tapi tidak menyadari kesalahan mereka berdua di masa lalu,” Mom Kezia begitu marah dan akhirnya pergi meninggalkan mereka.


"Aku temani Mommy dulu,” ujar Clara pada Chris.


Dad Brandon masih menunduk, "Benar, ini kesalahanku. Dari awal memang kesalahanku. Justru karena aku begitu takut mengakui ini kesalahanku, maka aku jadi menyalahkan Lexy. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?" ujar Dad Brandon menutup wajahnya.


"Dad tenang dulu. Biar aku yang mencari cara. Dad sebaiknya pulang dulu untuk istirahat, supir sudah menunggu Dad. Biar Mommy nanti Aku yang antar."

__ADS_1


Dad Brandon pun mengangguk setuju. Chris pun mengantar Dad Brandon hingga memasuki mobil dan meminta supir untuk mengantar mertuanya pulang.


🌹🌹🌹


__ADS_2