TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#83


__ADS_3

"Heiii!!! Bebaskan aku! Aku tidak bersalah!"


"Kalian salah jika menangkapku. Apa kalian tidak tahu kalau keluarga Neutron adalah penjahat. Mereka mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kami."


"Arggghhhh!!! Sialann! Sialann! Sialann!!"


Elisa terus menerus berteriak di dalam jeruji besi di kantor polisi. Peter pun ada di sana, hanya saja berbeda sel.


"Kamu bisa diam tidak?!" ujar salah seorang tahanan di sana.


"Kamu siapa berani memerintahku, huh?!" Elisa menantang balik dengan mata yang nyalang.


"Apa maksudmu? Kamu kira kamu itu siapa? Putri Raja?! Harusnya kau berkaca, lihatlah penampilanmu. Saat ini kau tidak ada bedanya dengan kami," wanita itu pun tertawa.


"Aku ini tidak seperti kalian. Kalian hanya wanita rendahan!"


Tak terima dipanggil seperti itu, wanita itu langsung menarik rambut Elisa dan membuat Elisa terjatuh. Wanita itu duduk di atas tubuh Elisa dan mulai menamparnya. Ada beberapa wanita di sana yang turut membantu, mereka memegang tangan Elisa sehingga Elisa tidak dapat melawan. Mereka baru berhenti setelah polisi datang karena keributan yang mereka buat.


Kini Elisa duduk di pojokan di dalam sel. Wajahnya sudah lebam di sana sini dengan rambut yang acak-acakan. Sesekali ia tertawa dan sesekali ia mulai menangis. Kepalanya sangat pusing sekali. Belakangan ini ia memang sering mengalaminya.


"Elisa, ada tamu," kata salah seorang sipir penjaga.


Elisa bangkit dari duduknya dan mengikuti sipir penjaga itu. Ia duduk di dalam suatu ruangan yang hanya memiliki sebuah meja dan 4 buah bangku. Ia duduk menunggu dengan tangan yang tetap diborgol.


Pintu terbuka,


"Lisa!"


"Mommy!!" teriak Elisa dan menghampiri Mom Marcella kemudian memeluknya.


"Kenapa badan kamu begitu panas, apakah kamu demam?" tanya Mom Marcella.


"Aku tidak tahu, Mom. Aku hanya merasa pusing sekali."


"Mommy akan meminta pada pihak kepolisian untuk menangguhkan penahananmu, kamu harus pergi ke dokter untuk diperiksa."


"Aku akan membalas mereka jika aku bisa keluar dari sini," gumam Lisa yang masih bisa didengar oleh Mom Marcella.


"Saat ini kamu jangan bertindak gegabah. Kamu harus diperiksa dulu oleh Dokter. Kamu tunggulah, Mommy akan meminta izin pada pihak kepolisian. Mommy juga harus bertemu dengan adikmu. Kalian berdua ini malah menyusahkanku," gerutu Mom Marcella.


**


"Kak, ini sarapan untukmu, makanlah dulu," Gia mempersiapkan makanan untuk Gavin.


"Letakkan saja dulu, aku tidak berselera."


"Vin, kamu harus makan. Kamu juga sedang dalam masa pemulihan. Jika kamu sakit, kamu tidak akan bisa menjaga Anna," Lexy menambahkan.


Gavin memikirkan perkataan Lexy dan di dalam hatinya ia membenarkan. Ia tidak boleh sakit, begitu pikirnya. Akhirnya Gavin menghampiri Gia, dan duduk di sofa. Ia menyantap sarapannya. Gia akhirnya bisa merasa sedikit lega.

__ADS_1


Menjelang siang, dokter mengadakan kunjungan rutin untuk memeriksa keadaan Anna.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Gavin.


"Seharusnya setelah efek obat biusnya habis, ia akan sadar."


"Lalu, apa pemeriksaan terhadap rahimnya sudah selesai?" tanya Gavin.


"Rahim?" Gia bertanya keheranan.


Dokter itu mengambil berkas yang berada di tangan seorang perawat. Ia membuka beberapa lembar kertas.


"Hmm ... begini Mr. Gavin ...," Dokter itu ingin mengatakan tapi agak sedikit ragu.


"Peluru yang ditembakkan sedikit mengenai saluran rahimnya. Memang hanya sedikit, namun memberi efek yang cukup besar," Dokter tersebut sedikit menghela nafasnya dan membetulkan posisi kacamatanya.


"Bisa dikatakan kalau untuk bisa hamil, kemungkinan sangat kecil," lanjut sang dokter.


"Anna ...," gumam Gia.


"Tapi tidak akan membahayakan dirinya kan?" tanya Gavin.


"Tidak. Selain itu, tidak ada masalah lain. Kita hanya perlu menunggunya sadar," kata dokter.


Anna sedikit bergerak dan itu disadari oleh Gia,


Gavin dan dokter segera menghampiri Anna. Setelah memasang stetoskop, dokter pun mulai memeriksa keadaan Anna.


"Apa anda bisa mendengar suara saya, Nyonya?"


Anna menganggukkan kepalanya. Sebenarnya ia sudah terbangun sejak tadi dan mendengar semua penjelasan dokter mengenai dirinya. Baginya, tak masalah jika ia tak bisa hamil. Namun yang ia pikirkan sekarang adalah Gavin, apakah laki-laki itu akan menerima dirinya yang akan sulit hamil lagi.


Setelah selesai memeriksa, dokter dan perawat itu meninggalkan ruangan.


"An, bagaimana keadaanmu, huh?! Apa kamu ingin makan sesuatu?" tanya Gia bertubi-tubi.


Lexy perlahan memegang lengan Gia, kemudian sedikit menggelengkan kepala. Ia menarik Gia dan membawanya menjauh dari Gavin dan Anna.


"Tapi ...," Gia ingin sekali berbicara dengan Anna.


"Biarkan mereka berdua dulu," kata Lexy sambil merapikan rambut di kening Gia.


"Kak, aku keluar sebentar ya. Apa kamu ingin menitipkan sesuatu?" tanya Gia.


"Tidak," jawab Gavin.


Setelah Lexy dan Gia keluar, Gavin mengeratkan genggamannya pada tangan Anna.


"Terima kasih sayang, kamu sudah bertahan untukku," kata Gavin sambil mencium tangan Anna.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Nathan dan Nixon?" tanya Anna.


"Mereka baik, tidak terluka sedikit pun. Saat ini mereka berada di rumah bersama Mommy dan Daddy."


"Lalu, bagaimana tanganmu?" tanya Anna dengan wajah kuatir.


"Aku tidak apa-apa. Kamu tidak usah kuatir padaku,” Gavin kembali mencium tangan Anna, kemudian meletakkannya di pipinya.


"Aku ... aku mendengar semua yang dokter katakan tadi. Aku merasa ...," Gavin meletakkan jarinya di atas bibir Anna.


"Jangan katakan apapun. Aku hanya ingin kamu sembuh. Aku tidak peduli dengan apa yang dokter katakan. Yang aku tahu, aku mencintaimu dan kita sudah memiliki Nathan dan Nixon. Aku akan selalu berada di sisimu, apapun yang terjadi," kata Gavin, membuat hati Anna kini menghangat.


"Maafkan aku karena pergi sendiri mencari si kembar. Saat itu aku tidak bisa memikirkan apapun."


"Aku mengerti. Kamu sangat menyayangi mereka, dan perasaan seorang ibu-lah yang mendorongmu melakukan itu. Kamu juga telah berhasil melindungi si kembar, sehingga mereka tidak terluka sedikitpun. Justru aku yang merasa tidak berguna karena membuatmu seperti sekarang."


"Sayang ...," kata Anna sambil memegang pipi Gavin, "Aku mencintaimu."


Gavin berdiri kemudian menyentuhkan keningnya ke kening Anna. Perlahan ia mendekatkan bibirnya pada bibir Anna. Ciuman Gavin begitu lembut dan hangat. Tidak ada nafsu di sana, hanya terasa kasih sayang yang begitu besar.


"Aku lebih mencintaimu. Aku sangat takut kehilangan dirimu," kata Gavin kemudian kembali mencium bibir Anna.


**


Setelah 1 minggu, akhirnya Anna diizinkan kembali pulang ke rumah. Untuk sementara mereka akan tinggal di rumah orang tua Gavin. Dad Chris dan Mom Clara sengaja meminta mereka agar mereka bisa terus bersama si kembar.


Gavin mengantarkan Anna ke kamar dan membantunya untuk duduk di atas tempat tidur.


"Aku sudah tidak apa-apa," kata Anna.


Gavin duduk di samping tempat tidur, menatap wajah istrinya. Perlahan ia mendekatkan wajahnya, kemudian mencium bibir Anna.


Anna yang masih merasa malu tiba-tiba wajahnya menjadi kemerahan.


"Apa kamu tidak kembali ke kantor? Bukankah tadi kamu bilang akan ada meeting," tanya Anna mengalihkan perhatian Gavin.


"Aku bisa meminta Jack untuk menundanya, aku hanya ingin bersamamu saat ini."


"Pergilah dulu. Aku tidak ingin kamu menelantarkan pekerjaanmu hanya karena diriku."


Wajah Gavin merengut, ia merasa terusir.


"Aku ingin kamu menyelesaikan pekerjaanmu, dan segeralah pulang," kata Anna, "Aku menunggumu di sini."


Gavin mengecup bibir Anna, "Aku akan segera kembali," Anna pun mengangguk.


**


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2