
"Apa kamu bahagia, Mr. Gavin?"
"Atau kamu sedih karena berpisah dengan anakmu?"
"Aku baru saja memeriksakan kandunganku yang sudah berusia 7 bulan ini."
"Dokter bilang anakku laki-laki, dan aku bisa melihat betapa tampannya dia."
"Aku tahu kamu pasti meragukan kalau ini anakmu, tapi kalau kamu tidak mau juga tidak apa. Aku akan merawatnya bersama Antonio."
"Aku akan menyiksanya perlahan-lahan, membuatnya hidup segan mati pun tak mau."
"Biar saat nanti ia besar, ia akan menanamkan kebencian padamu, karena telah menelantarkannya."
"Ya, benar. Aku akan mengatakan padanya bahwa Daddy kandungnya telah menelantarkan Mommy nya dan dirinya. Kamu pasti akan tahu dendam seperti apa yang akan ia miliki."
Begitulah isi pesan dari nomor yang tidak Gavin kenal dan ia tahu dari siapa pesan pesan tersebut datang.
Gavin pun tanpa pikir panjang langsung membalas pesan tersebut. Yang ia pikirkan saat ini adalah anaknya, anak yang ada di dalam kandungan Elisa.
"Apa kamu mengancamku?" balas Gavin.
Tak lama balasan pun masuk, "Apa kamu merasa terancam? kalau iya, baguslah!"
"Apa yang kamu inginkan?"
"Aku menginginkanmu."
"Apa maksudmu?"
"Aku ingin kembali bersamamu," jawab Elisa.
"Tapi kita sudah bercerai."
"Aku tahu kamu masih mencintaiku, dan akan selalu seperti itu. Aku ingin kita kembali bersama, demi anak kita."
"Di mana kamu sekarang?"
Itulah pesan terakhir Gavin untuk Elisa, karena selanjutnya tidak nampak balasan lagi. Gavin semakin pusing dibuatnya.
Anaknya, ya anaknya. Dia harus melindungi anaknya. Apapun akan ia lakukan demi anaknya. Apa ia harus menikah lagi dengan Elisa?
Gavin mengambil lagi ponselnya, kali ini ia harus menghubungi Mr. Ken.
"Jack, apa sudah ada kabar dari Mr. Ken?"
"Belum bos, saya mencoba menghubunginya tadi pagi, tapi ponselnya mati."
"Jadi, kita belum punya data apa-apa tentang keberadaan Elisa?"
"Sudah bos. Mr. Ken menyebutkan Spanyol sebagai tempat persembunyian mereka. Hanya saja Mr. Ken belum tahu di kota mana dan titik pasti tempat mereka tinggal, karena sepertinya Mr. Antonio menutup rapat informasi ini."
“Baiklah, aku mengerti.”
__ADS_1
**
Saat ini, Gia dan Sena sudah berada di Kota Maastrich. Seperti informasi yang didapat Gia dari kakaknya, maka disinilah ia berada saat ini.
Perlu waktu 1 bulan agar ia bisa pergi bersama Sena karena padatnya jadwal kerja Sena belakangan ini.
Gia menanyakan semua secara lengkap informasi tentang Anna dari Jack, karena Gavin yang menyuruhnya bertanya pada Jack.
Ia sudah berada di depan sebuah coffee shop, tempat Anna bekerja, kata Jack.
Trinning .... Trinning .....
Suara bel kembali berbunyi,
"Selamat datang!"
"Selamat datang!"
Anna yang mengucapkan selamat datang saat sedang membereskan beberapa cangkir di atas meja, kini tertegun. Ia melihat 2 orang sahabatnya berdiri di depan matanya, memandang ke arahnya.
"Anna ... "
"Gia, Sena ... apa yang kalian lakukan disini?" tanya Anna.
"Tentu saja ingin bertemu denganmu," jawab Gia.
"Anna ... kamu ....," kata Sena sambil memandang perut Anna yang sudah terlihat membesar, karena sudah hampir 6 bulan.
"2 latte dan 2 cake strawberry," jawab mereka bersamaan dan membuat ketiganya tertawa.
"Tunggu sebentar, kalian duduklah dulu."
Anna menyiapkan pesanan mereka, kemudian ia membawakan pada mereka menggunakan nampan.
"Anna, kami ingin bicara denganmu," kata Sena.
"Kalian pasti penasaran kenapa aku ada di sini, ya kan?"
"Itu kamu tahu, tapi kamu malah pergi diam-diam," ujar Gia yang menatap Anna tanpa henti.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Anna.
"Aku hanya belum percaya bahwa kamu ada di hadapanku," ujar Gia dengan tatapan penuh kerinduan.
"Apa kamu punya masalah, An?" tanya Sena.
Anna menatap kedua sahabatnya, "Tidak, sudah tidak ada masalah padaku saat ini."
"Jadi kemarin-kemarin itu kamu punya masalah?" tanya Sena lagi.
"Lalu bagaimana dengan Uncle Joe?" tanya Gia.
"Kalian bertanya seperti itu, mana yang akan kujawab ... ," Anna tertawa.
__ADS_1
"Ceritakan pada kami, An. Kami ini sahabatmu. Jika kamu ada masalah, biarkan kami membantumu."
Anna menceritakan kisahnya, tapi ia menutupi bagian saat ia bersama Gavin. Ia tak ingin menyakiti Gia. Ia menceritakan bagaimana ia memiliki hutang, tapi akhirnya ia harus pergi menjauh agar tidak terjadi apa-apa pada Dad Joe.
"Lalu kamu hamil?"
"Ya, aku sudah menikah dengan warganegara Belanda, jadi aku akan menetap di sini.”
"Pantas saja kamu tidak memberi kabar pada kami, ternyata kamu sudah happy dengan seseorang di sini,” canda Gia.
"Di mana suamimu? kami ingin berkenalan dengannya."
"Hmm ... Ia sedang pergi ke luar kota saat ini. Ini kota kecil jadi ia lebih banyak pekerjaan di kota besar. Ia akan kembali beberapa hari lagi," jawab Anna berbohong.
"Tapi kami senang melihatmu bahagia saat ini, An," kata Sena.
"Ya, dan kami lebih senang lagi karena sebentar lagi kami akan menjadi aunty," senyum Gia begitu lebar.
Mereka bercanda dan mengobrol hingga lupa waktu. Untung saja pelanggan di coffee shop sedang tidak ramai karena bukan weekend.
"Sampai kapan kalian ada di sini?" tanya Anna.
"Kami tidak bisa lama, besok pagi kami akan kembali, karena pekerjaanku menuntut kehadiranku," jawab Sena.
"Dan aku sekarang harus membantu di kantor karena Daddy harus istirahat," sambung Gia.
"Ada apa dengan Uncle Chris?" tanya Anna.
"Daddy sempat pingsan dan tidak sadarkan diri, karena kelelahan dan stres yang berlebihan. Untung sekarang Daddy sudah pulih. Jadi sebisa mungkin aku membantu di kantor, agar Daddy bisa istirahat."
"Uncle Chris pasti bangga padamu Gi," kata Anna.
"Jam berapa kamu pulang, An? biarkan kami menemanimu sampai rumah, sekaligus kita ingin menjenguk Uncle Joe."
Anna tidak bisa membawa mereka menemui ayahnya, apalagi jika mereka tahu bahwa ia sebenarnya belum menikah. Ia terpaksa melakukan kebohongan lagi dan lagi.
"Hari ini aku harus 2 shift karena besok aku akan mengantarkan Daddy untuk terapi. Kalian pulang saja dulu, akan aku sampaikan salam kalian untuk Daddy."
"Baiklah, An. Kami pulang dulu kalau begitu. Jaga kesehatanmu. Jika kami ada waktu, kami akan mengunjungimu lagi," kata Sena sambil memeluk Anna.
"Aku menyayangimu An dan aku pasti akan sangat merindukanmu," Gia juga memeluk Anna dan mereka bertiga saling berpelukan.
"Terima kasih. Aku juga menyayangi kalian."
Mereka pun pergi meninggalkan Anna setelah berpamitan. Sebenarnya mereka sudah berencana untuk tinggal beberapa hari, tapi ternyata proyek resort milik Sena yang berada di Inggris mengalami sedikit masalah sehingga ia harus pergi.
Gavin juga harus pergi ke sana, sehingga Gia harus menggantikannya di kantor untuk sementara waktu.
"Terima kasih atas perhatian yang kalian berikan. Aku sungguh beruntung memiliki sahabat seperti kalian. Tapi maafkan aku karena telah membohongi kalian."
Anna menghapus air matanya dan kembali ke dalam coffee shop. Ia harus mengganti pakaiannya dan segera pulang. Ia tak ingin Dad Joe kuatir
🌹🌹🌹
__ADS_1