
Cornelia mengepak beberapa hasil masakannya dan juga dua buah mainan tangan kecil yang akan ia berikan kepada kedua putra kembar Anna.
Hari ini ia berencana untuk pergi mengunjungi Anna dan anak-anaknya. Untuk itu, ia sengaja menutup tokonya.
Dengan berbekal jaket panjang yang menutupi tubuhnya, serta selembar syal yang melingkar di lehernya, ia siap untuk berangkat. Cornelia mengunci tokonya dan mulai berjalan menuju alamat yang diberikan oleh Anna.
Lokasi rumah Anna memang tidak terlalu jauh dari toko miliknya, hanya berbeda beberapa blok saja, karena itu Cornelia hanya perlu berjalan kaki ke sana, sambil menikmati pemandangan.
Jarang sekali ia keluar rumah kalau tidak terlalu perlu. Ia lebih senang berada di tokonya, menunggu pembeli datang, atau sekedar membaca buku untuk menghabiskan waktu senggangnya.
Udara di Maastrich belakangan ini begitu dingin, jaket tebal yang membungkus tubuh Cornelia rasanya tidak begitu berarti. Ia pun mengeratkan jaketnya, agar angin dingin tidak menusuk tubuhnya.
Cornelia sudah berdiri di depan pintu rumah Anna. Ia pun menekan bel. Anna yang saat itu berdiri tidak jauh dari pintu pun membukakan.
"Aunty!!"
"Halo, Anna."
"Ayo masuk, dingin sekali diluar."
Cornelia masuk, kemudian memberikan sup ayam hangat dan beberapa masakan lainnya untuk Anna. Juga mainan untuk putra kembar Anna.
"Aunty, kenapa kamu repot-repot memasak dan membawakan hadiah. Aku sudah sangat senang Aunty datang ke sini.”
Cornelia pun tersenyum.
"Dimana anak-anakmu, An?"
"Ada di kamar, ayo Aunty masuklah,” ajak Anna, "Dad, ini Aunty Lia, temanku."
Dad Joe yang sedang menggendong Nixon di dalam kamar Anna pun berbalik badan. Mata keduanya membulat dan kaget akan pertemuan mereka.
"Lia ...,” panggil Dad Joe.
"Joe?" Aunty Cornelia balas menyapa.
"Kalian saling mengenal?" tanya Anna.
__ADS_1
"Ya, dulu kami adalah teman,” jawab Lia sedikit kaget, "Mana Nathan dan Nixon?"
Dad Joe menyerahkan Nixon pada Anna. Ia masih tak menyangka melihat Cornelia di sana. Wanita yang ingin ia temui sejak dulu, kini ada di hadapannya.
"Daddy keluar dulu ya, An,” kata Dad Joe.
"Ya, Dad."
Dad Joe melangkah keluar, duduk di atas sofa di ruang tamunya. Pikirannya masih melayang, antara sadar dan tidak. Apakah saat ini ia berhalusinasi ataukah memang takdir sudah membawanya pada kenyataan hidup yang sebenarnya?
Setelah 30 menit, Aunty Cornelia dan Anna pun keluar dari kamar.
"An, Aunty pulang dulu ya."
"Terima kasih aunty atas kunjungannya. Apa aunty tidak mau makan bersama kami?" tanya Anna.
"Tidak perlu, An. Aunty harus kembali membuka toko,” kata Aunty Cornelia sambil tersenyum.
Tiba-tiba suara tangisan Nathan pecah di dalam kamar.
"Baik, aunty. Sekali lagi terima kasih,” Anna memeluk Cornelia.
Anna pun kembali masuk ke dalam kamar untuk mengecek keadaan Nathan. Sedangkan Cornelia langsung menuju ke pintu keluar.
"Bisakah kita bicara, Lia?"
**
"Gifttt!!" Tak henti-hentinya Lexy memanggil nama Gia, dan baru kali ini rasanya ia mengeluarkan air matanya.
Tak pernah ia bayangkan, ia harus melihat gadis kecilnya berada di atas brankar dalam keadaan tak sadarkan diri. Para dokter dan perawat mendorong brankar itu menuju ruang operasi. Mereka harus segera mengeluarkan peluru yang bersarang di dada Gia.
Lexy tidak dapat berkata-kata, ia hanya diam dengan wajah yang sendu. Tak lama keluarga Ginea datang, Tuan Brandon, Nyonya Kezia, Tuan Nicholas, juga Nyonya Sarah. Nisa yang memang bekerja di rumah sakit itu pun langsung menuju depan ruang operasi setelah menyelesaikan jadwal prakteknya.
Bughhh .....
Sebuah pukulan mendarat di wajah Lexy, membuat Lexy terjatuh. Nicholas langsung menahan Daddynya agar tidak bertindak lebih jauh lagi.
__ADS_1
"Sudah, Dad. Tenang. Saat ini kita harus memikirkan Gia."
Lexy bangkit sendiri, ia berdiri agak menjauh dari keluarga Ginea. Saat ini pikirannya kacau, hatinya hancur. Kini ia semakin yakin bahwa ia benar-benar mencintai Gia, dan tak akan bisa hidup tanpa gadis kecilnya.
Nyonya Kezia datang menghampirinya,
"Apa yang sebenarnya terjadi, Lex? Kenapa Gia ada di Indonesia?" tanya Nyonya Kezia.
Lexy menatap mata Nyonya Kezia. Nyonya Kezia dapat melihat kesedihan Lexy.
"Ini salahku, seharusnya aku yang berjuang untuknya, bukan dia yang berjuang untukku,” jawab Lexy terbata-bata
"Aku mengerti perasaan Gia, begitu juga dengan perasaanmu. Kamu tenanglah, Gia pasti akan baik-baik saja. Aku juga akan membantu kalian untuk bicara dengan suamiku."
"Tapi Gia ....," Lexy sepertinya sudah kacau memikirkan keadaan Gia. Ia melihat sendiri bagaimana Gia tertembak dan memanggil dirinya.
"Lex ...,” Nyonya Kezia mengusap punggung belakang Lexy, "Tenangkan dirimu, tarik nafas, buang .... jangan hal ini membuatmu kacau. Kita harus melaporkan ini ke polisi. Kita harus menangkap siapa penembak itu."
Lexy baru sadar kalau ini bukan saatnya ia tenggelam dalam kesedihan. Ia harus menemukan siapa penembak itu dan apa tujuannya.
Lexy segera mengambil ponselnya. Ia menghubungi seseorang. Tak akan ia biarkan waktu terbuang percuma. Gia sedang berjuang di dalam ruang operasi, ia juga akan berjuang mencari orang yang menyebabkan semua ini.
"Nyonya, bolehkah aku minta tolong?" pinta Lexy.
Nyonya Kezia mengangguk.
"Bisakah Nyonya mengabari saya jika operasi Gift sudah selesai? Saat ini saya harus menemui seseorang untuk mendapatkan informasi."
"Pergilah, dan tenang saja, aku pasti akan mengabarimu. Aku akan menjaga Gia baik-baik dan aku yakin, saat ia sadar nanti, ia ingin melihatmu di sampingnya,” kata Nyonya Kezia sambil tersenyum.
"Terima kasih, Nyonya."
Lexy pun pamit pada Nyonya Kezia dan Tuan Nicholas. Ia tak ingin mengganggu Tuan Brandon dulu. Jika memang dia harus menerima setiap pukulan, ia akan dengan senang hati menerimanya, tapi saat ini ia harus berjuang untuk keadilan bagi Gia.
Gift, berjuanglah. I love you. - batin Lexy dan pergi meninggalkan rumah sakit
🌹🌹🌹
__ADS_1