
"Uncle."
"Bisakah kamu memgganti nama panggilanmu padaku?"
"Kamu mau aku mengubahnya?"
"Tentu saja, karena saat ini kamu adalah kekasihku, calon istriku."
"Bagaimana kalau .....,” Gia terus mengurut pangkal hidungnya.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Aku sedang berpikir, mencari nama yang cocok untukmu."
"Sudahlah, tidak usah dipikirkan, panggil saja aku dengan namaku."
"Tidak, aku tidak mau."
"Gift ..."
"Apa, sayang?" mendengar Gia memanggilnya dengan sebutan sayang, hati Lexy seakan melompat keluar.
"Coba kamu ulangi perkataanmu."
"Kata-kata yang mana"
"Yang barusan?"
"Apa?"
"Bukan .....,” kata Lexy sambil menggelengkan kepalanya.
Gia menangkup wajah Lexy dengan kedua tangannya, "Sayang ...."
Senyuman terbit di wajah Lexy. Kemudian dengan kedua tangannya ia mencubit pipi Gia
"Kamu membuat diriku gemas sekali."
"Ahhh, sakit. Bagaimana kalau nanti pipiku lebar karena ditarik seperti itu,” kata Gia sambil memegang kedua pipinya
"Aku tidak peduli, yang pasti, aku menyukaimu ...."
Lexy meraih tengkuk Gia dan melummat perlahan bibir Gia yang berwarna pink dan lembut. Gia pun melingkarkan tangannya di leher Lexy.
"Gift, i love you."
"I love you too .... sayang." Ciuman mereka semakin dalam dan menuntut.
"Gift."
"Hmm ...."
"Menikahlah denganku,” bisik Lexy di telinga Gia.
Sebuah senyuman kini terbit di wajah Gia, ia menatap mata Lexy kemudian ia menganggukkan kepalanya.
**
"An, ada yang ingin Daddy bicarakan denganmu."
"Katakanlah, Dad,” ujar Anna sambil membereskan barang-barang.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam saat itu.
"Apa Nathan dan Nixon sudah tidur?"
"Sudah, Dad. Makanya aku bisa beres-beres,” jawab Anna.
"Duduklah."
__ADS_1
"Daddy, ada apa? sepertinya serius sekali."
"Apakah kamu mau memaafkan Daddy?"
"Memaafkan Daddy? Memang Daddy ada salah apa? Meskipun Daddy ada salah, Anna pasti akan memaafkan Daddy."
"Hmmm .... Daddy ingin menceritakan suatu rahasia padamu."
Flashback On
Malam itu, udara begitu dingin menerpa tubuh Joe. Sudah berhari-hari ini ia mencari keberadaan Cornelia.
Joe merasa sangat bersalah pada Cornelia karena telah merengut kehormatan wanita itu. Sebenarnya itu bukan sepenuhnya kesalahan Joe, karena saat itu Joe sedang dalam pengaruh obat.
"Kemana kamu pergi, Lia?" gumam Joe.
Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel, untuk sekedar menghilangkan rasa dingin yang membuat tangannya kebas.
Joe menggosok-gosokkan tangannya dan sesekali meniupnya dengan mulutnya. Saat hampir sampai di rumahnya, ia mendengar suara.
Oeee .... oeee .... oeee ....
"Itu kan suara bayi,” kata Joe yang mulai melangkahkan kakinya mencari asal suara itu.
Semakin lama suaranya semakin keras terdengar. Joe melihat sebuah kardus dengan seorang bayi mungil di dalamnya.
"Ya ampun, siapa yang membuang bayi di sini? udara begitu dingin, bayi ini bisa mati kedinginan jika terus terusan berada di luar,” kata Joe.
Tanpa pikir panjang, ia membawa kardus itu ke dalam rumahnya. Setidaknya bayi itu tidak merasa kedinginan.
Joe memeriksa kardus tersebut, seorang bayi menggunakan baju tipis dan hanya diselimuti oleh selimut tipis juga. Dan sebuah amplop yang diselip di ujung kardus. Di dalam amplop tersebut ada sebuah surat dan beberapa lembar uang.
Maafkan aku, bukan maksudku membuang bayi ini. Tapi jika anda menemukannya, tolong .... rawatlah dia. Aku tidak bisa memberinya kehidupan yang baik. Sekali lagi maafkan aku.
Aku berjanji tidak akan mencarinya atau memintanya kembali. Yang kuinginkan adalah kehidupan yang bahagia untuknya.
Flashback Off
"Jadi aku ...."
"Maafkan Daddy sayang. Bukan maksud Daddy untuk menyembunyikan ini darimu, hanya saja Daddy tak ingin melihatmu bersedih."
Anna langsung memeluk Joe, "Daddy, aku minta maaf. Daddy pasti kerepotan mengurus diriku."
Joe langsung mengusap kepala Anna, "Awalnya memang Daddy kerepotan, tapi kamu bukan anak yang rewel sayang. Kamu sangat mengerti Daddy. Saat Daddy meninggalkanmu bersama pengasuh, tak ada satupun pengasuh yang komplain mengenai dirimu. Mereka menyukaimu?"
"Daddy....,” Anna semakin mengeratkan pelukannya.
"Daddy juga ingin menceritakan masa lalu Daddy padamu. Daddy berharap kamu tidak akan kecewa pada Daddy."
"Tidak Daddy. Justru sekarang aku-lah yang takut akan mengecewakan Daddy, setelah semua yang telah Daddy lakukan untukku."
"Yang harus kamu tahu, Daddy akan selalu menyayangimu, sampai kapan pun."
"Tentu saja Daddy, aku tahu itu. Dan aku juga menyayangi Daddy sampai kapanpun."
Setelah berpelukan erat, perlahan Anna melepaskan.
"Lalu, apa yang ingin Daddy ceritakan padaku?"
"Daddy akan menikah."
"Menikah? dengan siapa? aku tidak pernah melihat Daddy dengan wanita manapun, kecuali ..."
"Jika perkiraanmu adalah Cornelia, ya. Daddy akan menikah dengannya. Apakah kamu menyetujuinya, sayang?"
Anna tersenyum, "Apakah Daddy bahagia?"
"Tentu saja, sayang. Daddy sudah mencarinya sejak dulu. Saat Daddy melihatnya kemarin, Daddy seperti menemukan puing-puing hati Daddy yang telah lama terkubur."
__ADS_1
"Kalau Daddy bahagia, maka aku akan menyetujuinya."
"Satu hal lagi, sayang. Daddy .... ternyata memiliki anak dengannya."
Dad Joe mengira bahwa Anna akan kecewa padanya. Selain karena ia tahu bahwa ia adalah anak angkat Dad Joe, ternyata Dad Joe memiliki anak kandung.
"Benarkah? aku punya saudara?" tanya Anna dengan mata berbinar
Joe mengangguk, "dan kamu sudah mengenalnya."
"Aku sudah mengenalnya? Siapa dia Dad?"
"Besok mereka akan ke sini.”
"Jam berapa Dad? aku kan harus bekerja."
"Mereka akan datang jam 8 pagi. Mereka akan sarapan bersama kita."
"Baiklah Dad, aku akan memasak untuk mereka."
"Tidak perlu repot-repot An. Kamu tahu kan seperti apa Cornelia. Ia juga pasti akan membawakan makanan."
"Daddy ...."
"Dengan kamu menerima semuanya, membuat hati Daddy terasa lega. Tak ada lagi rahasia yang perlu kusembunyikan, aku benar-benar lega."
"Terima kasih, Dad, sudah merawatku. Kasih sayangmu tak akan pernah tergantikan oleh apapun. Aku menyayangimu,” Anna sekali lagi memeluk Dad Joe dengan erat.
"An, ingatlah, kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan Daddy juga. Raihlah kebahagiaanmu, makan kamu turut membahagiakan Daddy."
"Aku mengerti, Dad."
Keesokan harinya,
"An, apa yang sedang kamu lakukan?"
"Aku sedang membuat sarapan, Dad."
"Nathan dan Nixon?"
"Mereka masih tidur, Dad. Aku sengaja bangun lebih pagi."
"Kamu mandilah dulu, biar Daddy yang lanjutkan. Sebentar lagi mereka akan datang."
"Okay Dad. Itu tinggal diangkat saja,” Anna beranjak dari dapur, Dad Joe melihatnya dengan tersenyum.
Tak lama, suara ketokan pintu mengusik keheningan di pagi hari. Dad Joe membukakan pintu.
"Lia."
"Selamat pagi,” sapa Cornelia.
"Aunty Lia,” sapa Anna yang sudah selesai mandi, "ini .... Dokter Bella?"
"Iya Anna, Dokter Bella adalah anak aunty."
Anna menutup mulutnya, seakan tak percaya. Kebetulan macam apa ini, pikirnya.
Bella memeluk Anna, "Kamu percaya akan yang namanya kebetulan?" bisik Bella.
Anna benar-benar tak percaya akan apa yang ia lihat dan rasakan saat ini. Jika Daddy dan Aunty Lia menikah, maka ia akan segera memiliki seorang adik. Tentu saja ia sangat senang.
"Kebetulan yang sangat menyenangkan,” kata Anna.
"Tentu saja, Kak Anna,” kata Bella.
Mereka bercengkerama bersama dan mengobrol. Kemudian mengajak Nathan dan Nixon untuk bermain. Sungguh ini adalah kebahagiaan.
🌹🌹🌹
__ADS_1