
"Ada apa Dad?"
"Son, Daddy perlu bicara denganmu,” kata Dad Chris.
"Ada apa? Sepertinya ada sesuatu yang sangat penting,” kata Gavin sambil mengikuti Dad Chris menuju ruang kerja.
"Kamu harus berhati-hati, Son."
"Aku tidak mengerti maksud Daddy."
"Lexy mengatakan bahwa Antonio Verero tergabung dalam sebuah jaringan mafia. Ia adalah salah satu penyokong dana jaringan mafia tersebut."
"Tapi aku tidak bermasalah dengannya Dad," bantah Gavin.
"Bukankah proyek kita di Amsterdam di sabotase oleh mereka, dan juga .... mantan istrimu .... "
"Dari mana Daddy tahu?" tanya Gavin.
"Lexy yang mencari dan mengumpulkan semua informasi itu. Apa kamu tidak tahu bahwa Lexy adalah seseorang yang sangat luar biasa?”
"Bukankah Mr. Ken ...."
"Hmmm, kamu salah, Son. Mr. Ken itu bisa membantu kita secara digital, tapi jika dalam hal informasi, Lexy lah yang seharusnya kamu cari."
"Lalu apa yang akan mereka lakukan denganku, hingga aku harus berhati-hati?" tanya Gavin.
"Saat ini mereka akan kembali mencari cara untuk menjatuhkan reputasimu, dan mengambil perusahaan."
"Tidak! mereka tidak akan bisa. Apa mereka akan membuat aku masuk ke dalam headline dan trending topik lagi?" ujar Gavin kesal.
"Tidak, tapi mereka akan menggunakan seseorang yang sangat berarti bagimu selama ini. Jadi kamu harus cerdik. Jangan mudah percaya dengan apa yang kamu lihat. Dengarkan Daddy, jangan sampai kamu jatuh ke lubang yang sama dua kali."
"Lalu apa hubungannya dengan Elisa?"
"Nanti kamu akan tahu," kata Dad Chris sambil menepuk bahu Gavin.
**
Pagi ini, Gavin kembali memasuki kamarnya. Ia terpaksa tidur di ruang tamu untuk menghindari sekamar dengan Elisa. Ia harus tetap berjaga-jaga dan berhati-hati, mengingat pesan Dad Chris beberapa hari yang lalu.
"Kamu sudah bangun?" tanya Gavin.
"Sudah. Terima kasih sudah mau menerimaku di sini kemarin. Aku akan pergi untuk mencari tempat persembunyian lain," ujar Elisa.
Elisa sudah bangun sedari tadi, mandi dan mengganti pakaiannya.
"Tidak, kamu tetaplah di sini. Akan lebih aman jika kamu berada di sini. Kalau kamu keluar, aku tidak bisa melindungi kamu."
Elisa menatap Gavin dan mengeluarkan buliran air mata, "Maafkan aku karena pergi meninggalkanmu, tapi ini semua demi kamu."
"Lalu dimana Elle?" tanya Gavin.
__ADS_1
"Hmm ... hmmm .... Antonio, Antonio yang menjaganya. Ia sengaja menyandera Elle, agar aku tidak pergi. Tapi aku juga harus melindungi anak kita," kata Elisa sambil mengelus perutnya.
"Aku mengerti. Ayo kita pergi ke dokter kandungan. Kita harus memeriksakan kandunganmu," Gavin membantu Elisa berdiri, kemudian perlahan berjalan untuk pergi.
Di dalam mobil, Gavin tidak banyak berbicara, ia hanya fokus mengendarai mobilnya agar sampai secepatnya di dokter kandungan.
Kemarin Gavin sudah membuat janji dan juga meminta dokter tersebut melakukan sesuatu.
Sesampainya mereka di rumah sakit, Gavin langsung mengajak Elisa menuju ruang periksa. Mereka tak perlu mengantri karena saat itu sedang tidak ramai.
Pemeriksaan berjalan seperti biasanya. Dokter pun melakukan USG pada perut Elisa.
"Lihat, bayi anda sangat sehat sekali Nyonya. Apakah anda sudah tahu jenis kelamin bayi anda," tanya Dokter.
"Belum, Dok, karena saya jarang memeriksakannya," kata Elisa.
Dokter dengan perlahan menggerakkan alat USG di atas perut Elisa, sambil memperhatikan monitor. Memeriksa dengan teliti.
"Lihat Nyonya, bayi anda laki-laki."
"Benarkah? Honey, bayi kita laki-laki," ungkap Elisa tersenyum bahagia.
Dokter berdiri sejenak dan mendekati Gavin.
"Saya sudah mempersiapkan semuanya Tuan, apa masih perlu dilakukan?"
"Ya, lakukan. Tapi ingat, jangan sampai dia curiga."
Doker tersebut berbicara dengan Elisa, kemudian Elisa mengangguk.
"Honey, aku harus melakukan pengecekan laboratorium karena sebentar lagi aku akan melahirkan. Apa kamu mau menungguku?"
"Tentu saja aku akan menunggumu dan aku akan menemanimu," ujar Gavin.
"Terima kasih, Honey."
Mereka membawa Elisa ke dalam sebuah ruangan. Dengan melakukan serangkaian tes, kemudian mengambil cairan amnion atau air ketuban melalui prosedur amniosentesis atau dengan chorionic villus sampling yang mengambil sampel jaringan plasenta.
Hal ini agak berbahaya karena dapat membahayakan bayi yang ada dalam kandungan dan menyebabkan keguguran. Oleh karena itu, perlu dilakukan serangkaian tes sebelum melakukannya.
Ya benar, Gavin meminta sang Dokter untuk melakukan tes DNA pada bayi yang saat ini dikandung oleh Elisa. Ia tak ingin dibohongi lagi oleh mantan istrinya itu.
DNA merupakan asam nukleat yang menyimpan semua informasi tentang genetika. DNA inilah yang menentukan jenis rambut, warna kulit, dan sifat-sifat khusus dari manusia. Metode yang digunakan dalam tes DNA adalah dengan mengidentifikasi fragmen-fragmen dari DNA itu sendiri. Atau, secara sederhananya, tes DNA adalah metode untuk mengidentifikasi, menghimpun, dan menginventarisasi file-file khas karakter tubuh.
Untung saja Elisa tidak menyadari apa yang dilakukan oleh Gavin. Ia menuruti semua prosedur yang dilakukan.
"Saya minta hasilnya secepat mungkin, dan asisten pribadi saya, Jack, sendiri yang akan mengambilnya kemari," terang Gavin.
"Baik, Tuan. Saya mengerti."
Seorang perawat membantu Elisa menuju ke tempat Gavin setelah selesai melakukan uji laboratorium.
__ADS_1
"Apa sudah selesai?" tanya Gavin berpura-pura.
"Sudah, honey," Elisa langsung meraih lengan Gavin dan bergelayut.
Gavin merasa tidak nyaman, tapi untuk sementara ini, ia harus berpura-pura, agar Elisa tidak curiga.
**
"Kakak .... ," sapaan Gia terputus saat ia melihat Elisa berada di rumah Gavin.
Dengan perut yang sudah sangat besar, kehamilan Elisa sudah menginjak bulan ke 8. Tinggal beberapa minggu lagi ia akan melahirkan. Elisa duduk di sebuah sofa, mengangkat kakinya, sambil menonton televisi.
"Hai Gi," sapa Elisa sambil memakan sarapannya, "Bagaimana kabarmu?"
Dasar Ular betina, masih berani juga menampakkan wajahmu di sini. - batin Gia.
"Aku baik, apa Kak Gavin ada?" tanya Gia.
"Kakakmu sedang di kamar."
"Oooo baiklah, aku akan menyusulnya," kata Gia.
"Kemarilah, duduk bersamaku. Apa kamu tidak ingin menyapa keponakanmu?"
"Apa benar itu keponakanku?" Gia perlahan mulai tidak tahan dengan Elisa
"Tentu saja, kakakmu selalu mengelus perutku ini. Kamu tahu betapa senang anakku dielus oleh Daddy nya."
"Cihhh .... dasar ular betina kepala dua. Kamu mungkin bisa membohongi kakakku, tapi tidak denganku," gumam Gia.
Tak lama Gavin pun turun dari kamar tidurnya yang berada di lantai atas. Ia tetap harus berganti pakaian di kamar yang ditempati oleh Elisa, karena semua pakaiannya berada di sana.
"Kak, aku perlu bicara denganmu," kata Gia.
"Ada masalah apa?" tanya Gavin.
"Awalnya aku ke sini mau bicara tentang perusahaan, tapi sepertinya ada yang lebih penting bagi kakak."
"Maksudmu?"
"Kenapa kakak membiarkan wanita ini tinggal di sini? dan kakak juga berada di sini. Kalian itu sudah berpisah, kenapa harus tinggal di dalam satu atap. Apa kakak masih belum sadar kalau wanita ini sudah mengkhianati kakak?" Amarah Gia seakan memuncak.
"Gia, hentikan! jaga bicaramu. Elisa berada di sini karena ia membutuhkan perlindungan," kata Gavin.
"Dan aku juga sedang mengandung anak kakakmu, tidak mungkin kakakmu akan mengabaikan anaknya sendiri bukan?" Kata Elisa memelas.
"Aku berangkat dulu," kata Gavin pada Elisa dan Elisa pun membalasnya dengan tersenyum.
Gavin menarik tangan Gia, meninggalkan Elisa yang memperhatikan mereka berdua.
🌹🌹🌹
__ADS_1