TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#85


__ADS_3

"Mom .... apa yang sebenarnya terjadi padaku?" tanya Elisa sambil terus memeluk dirinya sendiri. Ia terus menerus menggigil dan rasanya ia sudah tidak kuat lagi.


Mom Marcella menghela nafasnya kasar.


"Kamu terkena HIV, Mommy tidak tahu dari mana Mommy bisa mendapatkan uang untuk perawatanmu. Maafkan Mommy, sepertinya Mommy harus pergi. Mommy akan menemui Peter dulu," Mom Marcella pun meninggalkan ruang rawat Elisa tanpa banyak berkata-kata lagi.


Elisa menangis. Hatinya begitu sakit ketika Mom Marcella melangkahkan kaki keluar dari ruangan. Tiba-tiba ia teringat akan malam itu, malam dimana ia harus melayani 3 orang laki-laki.


Ia ingat bahwa salah satu dari mereka mengatakan bahwa ia tidak akan bisa menikmati hadiah ataupun uang mereka.


Apakah maksudnya adalah ini? Apakah mereka yang memberikanku penyakit ini? Siapa sebenarnya mereka dan apa mau mereka? - batin Elisa.


Pintu ruang rawat tiba-tiba terbuka, laki-laki yang selama ini berada di sampingnya dan selalu membantunya muncul, tapi dengan tatapan yang berbeda. Tatapan yang ia dapat justru bukan tatapan yang penuh cinta seperti dulu, tapi justru tatapan yang terlihat jijik saat melihatnya.


"Antonio ....," panggil Elisa pelan.


"Bagaimana? Apa kamu menikmati setiap sentuhan laki-laki pada tubuhmu?"


Mata Elisa membulat, ia seakan tidak percaya apa yang telah dikatakan oleh Antonio.


"Jangan-jangan, kamu .... yang telah ...."


"Ya, aku-lah yang melakukannya. Dan kurasa kamu juga menikmatinya bukan?" Antonio tersenyum.

__ADS_1


"Sialannn!!!" teriak Elisa, "Mengapa kamu melakukan itu padaku? Kamu yang pergi meninggalkanku dan membawa anak-anakku."


"Anak-anakmu? tidak! Mereka tidak akan pernah lagi mengenalmu sebagai Mommy mereka. Aku akan segera menikah dengan wanita yang hebat. Hebat dalam segala hal, terutama di atas ranjang."


"Apa salahku padamu? Aku mencintaimu dan kamu juga mencintaiku," teriak Elisa dengan kekuatannya yang kini tidak seberapa.


Antonio tertawa mengejek, "Cinta? padamu? sudah tidak ada dalam kamusku. Kamu bisa menelan cinta itu jika kamu mau. Bukankah kamu hanya ingin menikmati sentuhan laki-laki pada tubuhmu, sampai sampai Boris pun sudah menikmati tubuhmu."


"Boris? Kemana Boris?" tanya Elisa dengan mata yang sudah memerah dan mulai berair. Kepalanya semakin pusing, ia menahan seluruh sakitnya.


"Apa kamu merindukannya, huh?! Tenang saja, tidak lama lagi kamu akan segera bertemu dengannya. Aku tidak akan pernah membiarkan orang yang mengkhianatiku berlama-lama ada di dekatku."


"Apakah Boris ...?"


"Ya, sesuai perkiraanmu. Aku akan melenyapkan siapapun, termasuk dirimu," kata Antonio dengan geram.


"Kini kamu tahu apa yang terjadi pada seorang pengkhianat bukan? Aku harus berterima kasih pada Tuan Gavin, terutama pada asistennya itu. Karena dirinya-lah, aku bisa mengetahui segala kebusukanmu di belakangku."


"Jack ...," gumam Elisa.


"Aku sudah mendukungmu dan membantu orang tuamu untuk membalas dendam pada keluarga Neutron, tapi ternyata kamu menusukku dari belakang, bahkan dengan seseorang yang menjadi tangan kananku. Aku tak habis pikir," Antonio menggelengkan kepalanya.


"Sekarang nikmatilah penyakit yang akan menggerogotimu itu, dan kupastikan hidupmu tak akan lama lagi," Antonio tertawa dan segera meninggalkan ruangan tersebut.

__ADS_1


"Kurang ajar! Sialannn!!! Antonio, Gavin, kalian semua berbahagia di atas penderitaanku. Aku tak akan tinggal diam. Kalian membuat Mommy juga mengacuhkanku dan meninggalkanku. Aku benci!! Aku sangat membenci kalian!!" Elisa terus menerus berteriak di dalam ruangan. Kepalanya langsung terasa sakit bukan main. Ia memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.


Elisa kembali berteriak dengan kencang hingga salah seorang perawat memasuki ruangan bersama beberapa petugas kepolisian. Elisa menghancurkan barang-barang di dalam kamar rawatnya, sehingga tiang infusnya terjatuh dan kini tangannya mulai berdarah. Ia pun terjatuh, tak sadarkan diri.


**


Mom Marcella mendatangi kantor polisi. Ya, Peter masih berada di sana, menunggu jadwal persidangannya dan kemudian ia akan dipindahkan ke penjara.


"Mom, aku ingin keluar dari sini. Aku tidak mau di sini lagi, Mom!" racau Peter.


"Ini semua akibat cara kerjamu yang tidak becus. Kamu sama saja seperti kakakmu, bukan menolong Mommy membalaskan dendam, malah mempersulit hidupku," kata Mom Marcella dengan nada sedikit meninggi.


"Tapi, Mom. Aku berada di sini juga karena membantumu."


"Ya, tapi kamu tidak becus. Seperti kakakmu yang sekarang malah terbaring di rumah sakit. Hanya akan menghabiskan uangku saja, mana penyakitnya tidak bisa disembuhkan."


"Sakit? Kak Lisa sakit apa, Mom?" tanya Peter.


"Kamu ingin tahu kakakmu sakit apa? Kakakmu itu mengidap HIV, dan Mommy rasa hidupnya tak lama lagi."


"Mom, mengapa Mommy mengatakan seperti itu? Kak Lisa adalah anak Mommy, seharusnya Mommy menguatkan Kak Lisa," kata Peter.


"Menguatkan? Apa yang bisa Momny harapkan lagi dari kalian berdua? yang satu sakit, yang satu dipenjara. Dua-duanya menyusahkan bukan? Lebih baik Mommy pergi bersenang-senang tanpa kalian," kata Mom Marcella sambil melangkahkan kakinya pergi.

__ADS_1


"Mommm!!! Kenapa Mommy melakukan ini pada kami? Kenapa Mommy malah meninggalkan kami? Aarrrgghhh ....," Peter berteriak di dalam ruang untuk bertemu tamu itu.


🌹🌹🌹


__ADS_2