TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#58


__ADS_3

"Daddy, aku ingin mencari pekerjaan."


"Apa kamu yakin, sayang?"


"Tentu saja. Kita tidak bisa selamanya bersandar pada keluarga Neutron. Benar kan, Dad?"


"Hmmm .... Daddy mengerti sayang. Bagaimana kalau kita kembali ke Maastrich? kamu bisa kembali bekerja di tempat Ken."


"Apakah bisa, Dad? aku akan sangat senang sekali bisa bertemu kembali dengan Hanna dan Craig,” kata Anna dengan wajah yang bahagia.


"Tentu saja. Ken adalah sahabat Daddy, sayang. Kemarin saja ia sudah bertanya kapan kita akan kembali ke sana."


"Aku mau, Dad. Aku mau."


"Baiklah, aku akan mengatakan pada Ken agar dia tidak mengambil pegawai lain,” kata Dad Joe tersenyum


"Thank you, Dad,” Anna memeluk Dad Joe dengan erat.


Anna menghubungi Gia dan memberitahukan padanya bahwa ia akan kembali ke Maastrich. Awalnya Gia sedih, tapi demi kebahagiaan Anna, ia menerima keinginan Anna dan menghargai keputusan sahabatnya itu.


Saat ini mereka sudah berada di Stasiun Kereta Api. Anna memilih jalur kereta api karena pemandangan yang indah yang akan mereka lewati. Selain itu, tiket kereta api jauh lebih murah dibanding tiket pesawat. Ia akan menghemat untuk kebutuhan hidup mereka di sana nanti.


"Aku akan sangat merindukanmu,” kata Gia.


"Aku juga. Mampirlah ke sana sesekali. Di sana suasananya sangat menyenangkan."


"Tentu saja aku akan mengunjungimu. Aku ingin Nathan dan Nixon mengakuiku sebagai aunty mereka,” kata Gia yang dibarengi dengan tawa Anna.


"Apa Sena masih sibuk?" tanya Anna.


"Sena sedang kembali ke Indonesia. Ada sesuatu yang harus ia lakukan katanya."


"Baiklah kalau begitu. Jaga dirimu baik-baik. Aku harus segera pergi dan terima kasih atas tempat tinggal yang selama ini keluargamu berikan. Aku titip salam untuk Uncle dan Mommy, aku akan menghubungi mereka saat aku sampai di sana."

__ADS_1


"Baiklah, hati-hati,” Gia memeluk Anna dan Anna membalasnya.


Anna pun memasuki salah satu gerbong kereta api tersebut. Setelah ia duduk di kursinya, ia melambaikan tangan pada Gia yang menunggu di peron.


"Aku yakin kamu akan bahagia, An. Aku pun akan mulai mengejar kebahagiaanku."


**


"Gi?!"


Gia tersenyum melihat sahabatnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan disini?" tanya Sena sambil memegang bahu Gia dan mulai memutar-mutar tubuh sahabatnya itu.


"Tentu saja untuk berlibur. Apa kamu tidak tahu kalau aku ini tidak cocok dengan suasana kantor, jadi aku harus mendapatkan ekstra liburan,” Mereka berdua pun tertawa bersama.


"Kenapa kamu membawa kopermu kemari? Apa kamu tidak ke rumah Grandpa dan Grandma-mu?"


"Aku mau menginap disini saja bersamamu,” kata Gia


Gia menganggukkan kepala dan tersenyum pada Sena.


"Kamu ini ....,” Sena menjitak kepala Gia.


Kini mereka duduk di sebuah gazebo di dekat kolam renang, di belakang rumah Sena.


"Ayo, ceritakan padaku."


"Aku datang ke sini karena aku tidak ingin menyerah dengan cintaku,” kata Gia.


"Apa kamu mau merebut Kak Hansen dari istrinya?" tanya Sena.


Kini giliran Gia yang menjitak kepala Sena.

__ADS_1


"Bukan begitu, kamu kira aku ini pelakor apa? Nggak ada ya di dalam kamus seorang Givanie Adelia Neutron menjadi seorang pelakor."


"Kalau begitu .... pasti ...."


"Tepat sekali, aku akan mendekati Uncle Lexy. Aku tidak peduli bagaimana tanggapan orang lain. Kalau perlu, aku akan membawa Uncle Lexy kabur,” kata Gia dengan bersemangat dan berapi-api.


Seketika Sena pun tertawa terbahak-bahak.


"Kamu gila atau tidak waras?" tanya Sena sambil memegang dahi Gia, dan kembali tertawa


"Ya, aku gila karena aku terlalu mencintainya. Aku tidak bisa tidur, tidak nafsu makan, dan pikiranku ini selalu diisi oleh bayangan tentang Uncle Lexy. Aku harus bagaimana coba?"


"Apakah jatuh cinta membuatmu buta, Gi?"


"Aku tidak buta. Aku bisa melihat mana laki-laki tampan, mana yang tidak. Mana laki-laki baik, mana yang tidak. Dan aku tahu kalau Uncle Lexy itu, tampan, baik, bertanggung jawab, dan aku mencintainya."


"Kalau kamu sudah berpendapat seperti itu, sebaiknya kamu pulang ke rumah Grandpa dan Grandma-mu. Bukankah mereka yang harus kamu bujuk?" tanya Sena


"Justru aku ke sini mau bertanya padamu. Apa kamu punya ide bagaimana melunakkan hati Grandpa dan Grandma-mu.”


"Ya ampun Gi. Pacar saja aku belum punya, bagaimana aku bisa mengajarimu cara melunakkan perasaan orang lain."


"Makanya, kamu harus belajar jatuh cinta. Atau jangan-jangan, kamu sedang menunggu pangeran berkuda putih yang akan menyelamatkanmu dari kejombloan yang hakiki,” kata Gia, dan kembali Sena tertawa.


"Sudah, sudah, aku tidak tahan lagi. Perutku sakit jika harus terus berbicara denganmu. Lebih baik kita ke rumah Grandpa dan Grandma-mu. Bukankan Uncle Lexy tinggal di sana? kamu bisa langsung mendekatinya dan membawanya kabur,” kata Sena tertawa lagi.


"Kenapa semakin lama sepertinya kamu semakin mengejekku?"


"Aku tidak mengejekmu, aku hanya ingin kamu berpikir realistis. Kamu harus mencari tahu dulu, apa alasan Grandpa dan juga Dad-mu menolak hubunganmu dengan Uncle Lexy."


"Kamu benar. Selama ini aku hanya berfokus pada cinta cinta dan cinta. Jangan-jangan justru Uncle Lexy di sini hidup menderita karena memikirkan aku, tapi dilarang menghubungiku, iya kan,” kata Gia dengan wajah memelas


"Oh My God, dia mulai berhalusinasi,” Sena pun menggelengkan kepalanya

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2