TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#13


__ADS_3

"Faster babe, faster ...."


"As you wish sweety."


Peluh dan errangan memenuhi ruangan, seakan sudah lama sekali mereka tidak melakukan adegan panas tersebut.


Sampai pada akhirnya mereka mencapai puncak secara bersamaan.


"Thank you, sweety."


"I love you, babe."


Antonio merebahkan tubuhnya yang polos di samping tubuh Elisa, kemudian ia memiringkan tubuhnya menghadap ke arah wanita itu.


"Apa kamu puas dengan pelayananku, sweety?"


"Selalu .... kamu memang luar biasa, babe," ujar Elisa sambil mencium bibir Antonio.


"Bagaimana keadaan anak kita, sweety?" Antonio mengelus perut Elisa yang masih terlihat rata.


"Tentu saja ia aman di dalam sana, babe. Ia baby yang kuat, seperti Daddy-nya."


"Wah, aku merasa ada yang ingin lebih," Antonio pun tertawa karena sangat tahu bahwa Elisa sedang memberinya kode.


"Babe, bagaimana keadaan mereka?"


"Aku tidak tahu dan aku tidak peduli. Aku sudah meminta Boris untuk berjaga-jaga. Bagaimana keadaan Mommy?"


"Mommy baik. Mungkin minggu depan aku akan pergi menjenguk Mommy."


"Baiklah, aku akan menemanimu."


"Thank you, babe. I love you."


“I love you too, sweety.”


Elisa kembali mencium bibir Antonio, dan kali ini ia memaksa Antonio membuka mulutnya, agar ia bisa menjelajah setiap jengkal ruang dalam mulut Antonio.


Antonio pun membalas setiap lummatan yang diberikan oleh Elisa, membuat mereka masuk kembali dalam adegan panas yang baru saja mereka selesaikan.


Kini, errangan dan dessahan kembali memenuhi ruangan kamar hotel tersebut.

__ADS_1


**


"Anda sudah bangun, Tuan Gavin?" tanya Anna saat ia melihat Gavin mulai mengangkat tubuhnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Gavin sambil memegang kepalanya.


"Anda tadi berkata sedikit pusing, lalu dibawa oleh Boris ke sini. Saya sudah menyiapkan obat pusing dan air jika kepala anda masih terasa sakit,” jawab Anna.


Gavin hanya tertawa sinis mendengar apa yang dikatakan Anna.


"Bisakah anda membantu saya?" tanya Gavin.


Anna yang sedang duduk di sofa berjalan mendekat ke arah Gavin.


"Bisa bantu ambilkan air itu?" pinta Gavin sambil menunjuk ke arah gelas yang ada di atas nakas.


Anna mengangguk dan mengambilkan air yang berada dalam gelas yang ia letakkan di atas nakas tadi.


"Ini minumnya. Jika sudah, saya permisi dulu."


"Maaf Nyonya Antonio, bisakah saya bicara sebentar. Duduklah di sini," Gavin menepuk tempat tidur tepat di sebelahnya.


Anna menuruti permintaan Gavin. Ia tidak ingin proyek yang akan dilakukan oleh Mr. Antonio menjadi gagal hanya karena Gavin kecewa atas pelayanan yang diberikan. Ia tak ingin hutang ayahnya tidak berkurang juga, itu lebih tepatnya alasan utama Anna berada di sini saat ini.


Gavin yang sedang memegang gelas berisi air, tiba-tiba saja menarik rambut Anna dan langsung meminumkan air yang ada dalam gelas itu ke mulut Anna.


Anna yang tidak siap, langsung kaget dan terbatuk-batuk. Kemudian ia menarik rambutnya dari cengkraman tangan Gavin, hingga membuatnya bisa melepaskan diri, meski ada rasa sakit di kulit kepalanya.


Ia menjauh dari Gavin. Ia yakin dengan kemampuan bela dirinya, yang penting saat ini ia bersiap-siap jika Gavin kembali melakukan tindakan kasar padanya.


"Kalian berencana menyekapku di sinj dan memberikan seorang wanita untuk memuaskanku."


"Tuan Gavin, jaga bicaramu!" Anna tak terima jika dianggap sebagai wanita pemmuas naffsu laki-laki.


"Kamu hanya wanita penggoda bukan? wanita simpanan Antonio."


"Hentikan! aku tidak akan segan-segan menamparmu dan merobek mulutmu itu jika kamu mengatakan hal seperti itu lagi."


"Aku tahu, kamu yang telah mencelakai istriku dulu, hingga membuatnya diperkossa. Lalu kamu juga diperintahkan untuk mengawasinya di rumah sakit bukan?" Kata Gavin menuduh Anna.


"Aku tidak pernah melakukannya," Anna merasa tubuhnya tiba-tiba melemah, ia mencoba berpegangan pada sesuatu.

__ADS_1


"Kamu juga yang selalu meneror istriku dengan paket-paket yang tidak jelas isinya."


"Tidak, aku hanya bekerja, aku .... aku minta maaf jika anda masih marah dan kesal karena kejadian kopi waktu itu ....," Anna kembali berpegangan pada dinding, berusaha untuk tetap berdiri. Ia memegang kepalanya yang terasa sakit, “aku benar-benar minta maaf, tolong .... "


Anna merasakan panas seketika mulai menjalar di tubuhnya. Ia terduduk di lantai, mencoba untuk menetralisir panas yang terjadi dalam tubuhnya.


"Kalian mencoba memasukkan obat di dalam minumanku, aku tahu semua rencana kalian. Tapi sayang sekali, kalian kurang tanggap. Keadaan kini berbalik bukan. Bagaimana rasanya? seperti itulah saat istriku akan kalian ..... ," Gavin tidak melanjutkan perkataannya.


"Tuan Gavin, aku .... aku .... tidak melakukannya, tolong aku, panas .... ohhh, panas .... "


"Apa kamu perlu bantuanku untuk menghilangkan panasmu itu?" Gavin mulai membuka jas yang ia gunakan, juga membuka kancing kemejanya.


Anna masih dalam keadaan setengah sadar, ia tahu obat apa yang sudah masuk ke dalam tubuhnya, ia tidak ingin hal buruk terjadi pada dirinya. Dengan sisa kekuatannya, ia berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.


"Tidak, Tuan Gavin. Terima kasih. Aku akan menyelesaikannya sendiri,” Anna masuk ke dalam kamar mandi, kemudian menyalakan kran shower dan membiarkan tubuhnya tersiram air yang keluar dari shower tersebut.


"Dasar wanita jallang. Dia pikir aku juga mau apa," Gavin melihat ke sekeliling, kemudian ia berjalan menuju pintu, mencoba membukanya, namun sayang pintu tersebut terkunci.


Ia kembali berjalan menuju lemari pendingin yang tersedia di sana, terdapat begitu banyak minuman kemasan dan beberapa botol air mineral.


Ia mengambil salah satu botol air mineral, kemudian meneguknya. Ia duduk di sofa sambil bersandar. Beberapa saat kemudian, ia mulai merasakan panas menjalar di tubuhnya.


"Sialll!!! ternyata mereka juga memasukkan obat itu di sana. Bagaimana bisa? Ternyata mereka memiliki persiapan yang cukup matang."


Panas menjalar ke seluruh tubuh Gavin. Celakanya, ia meminum habis air mineral tersebut.


"Aku tidak tahan lagi, mana dia, mana wanita itu? dia harus bertanggung jawab atas semua ini,” kemarahan Gavin seakan membuatnya lupa bahwa ia telah memiliki seorang istri.


Brakkk


Gavin membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci itu dengan kasar. Namun, Anna yang sedang fokus dengan panas di tubuhnya sendiri tidak menyadarinya.


Gavin yang sudah beberapa lama tidak melakukan hubungan suami istri dengan Elisa, tiba-tiba menjadi teranggsang saat melihat tubuh Anna yang tercetak dengan jelas karena basah akibat guyuran shower.


Ia sudah tidak mampu lagi menahan gejolak yang ada di dalam dirinya. Ia langsung membuka kemejanya juga celananya, hingga tersisa tubuh polosnya saja.


Gavin berjalan mendekati Anna yang masih terduduk lemas di bawah guyuran air shower.


"Biarkan aku menghilangkan rasa sakitmu itu," kata Gavin saat mendekati Anna.


Secara tiba-tiba, Gavin langsung melummat bibir Anna dengan kasar, semakin lama ia semakin berggairah, apalagi tidak ada perlawanan berarti dari Anna yang saat ini tubuhnya sudah sangat lemas karena menahan rasa panas di tubuhnya.

__ADS_1


"Tuan, tolong ... pergilah," pinta Anna sambil mendorong Gavin dengan sisa tenaga yang ia punya.


🌹🌹🌹


__ADS_2