
Sudah beberapa hari ini Gavin hanya berdiam diri di dalam kamar. Lio dan Poppy sudah berkali-kali bergantian memeriksa keadaan Tuannya itu.
Mereka sangat mengkuatirkan Gavin karena ia jarang makan, bahkan kadang tidak sama sekali walaupun sudah mereka siapkan. Ia hanya diam di dalam kamar, duduk di samping tempat tidur.
"Halo."
"Tuan, saya sangat mengkuatirkan keadaan Tuan Gavin. Sudah beberapa hari ini beliau tidak makan dengan teratur, bahkan kadangkala tidak makan seharian penuh." jelas Lio.
"Apa Jack tidak ke sana?"
"Jack berada di perusahaan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan, dan katanya ia tidak boleh mengganggu Tuan Gavin."
"Ya ampun anak itu. Apalagi yang membuatnya seperti itu?"
"Dan satu lagi Tuan ..."
"Apa?"
"Ia selalu berada di kamar yang dulu ditempati oleh Nona Anna."
"Apa anak itu merindukan anak-anaknya? kenapa dia tidak datang ke sini saja sih?” gerutu Dad Chris, "Baiklah, aku akan ke sana."
Berselang 30 menit, Dad Chris sudah sampai di rumah Gavin. Namun, ia tidak sendirian. Dad Chris datang bersama dengan Anna.
Dad Chris meminta tolong pada Anna agar membujuk Gavin untuk makan. Anna tidak mengerti mengapa harus ia yang melakukannya.
Mereka berjalan menuju salah satu kamar di lantai bawah. Anna tahu itu adalah kamar yang dulu ia tempati, tapi kenapa Uncle Chris membawanya ke sana.
Dad Chris membuka pintu perlahan, ia melihat Gavin sedang berbaring di atas tempat tidur sambil memeluk sebuah bantal. Selain itu, ia sedang meracau yang tidak begitu terdengar dari jauh.
Dad Chris dan Anna pun berjalan mendekat,
"Apa kamu tidak mau menikah denganku, Anna. Apa karena kamu tidak mencintaiku? Aku ingin bersama anak-anakku .... dan .... juga dirimu. "
Lalu Gavin menangis sesengukan sambil masih tetap memejamkan matanya.
Anna bisa melihat Gavin seperti orang yang tidak terurus, rambutnya berantakan, kumis dan jambang tipis mulai tumbuh di wajahnya. Anna seperti tidak mengenalinya.
"An, bisa kamu bantu Uncle?"
__ADS_1
"Apa yang bisa aku bantu, Uncle?"
"Tolong bujuk Gavin agar dia mau makan dan juga ... mandi."
Anna tidak mungkin menolak, ia sangat berhutang budi pada keluarga Neutron, terutama Uncle Chris dan Aunty Clara. Apalagi saat ini mereka juga yang membantunya mencari Dad Joe.
"Baik, Uncle."
"Terima kasih. Uncle sudah pusing melihatnya,” ujar Dad Chris sambil melangkah keluar dari kamar.
Setelah Dad Chris keluar dari kamar, Anna berdiri terpaku melihat Gavin. Ia ingin mendekat, tapi ia sungkan. Tapi kalau ia tak mendekat, tidak akan selesai-selesai.
Akhirnya Anna tak ingin membuang waktunya, ia ingin kembali menjaga anak-anaknya. Tidak enak rasanya menitipkan terlalu lama pada Aunty Clara.
Anna mendekati Gavin yang berbaring di tempat tidur, membelakanginya.
"Tuan Gavin .... Tuan Gavin,” panggil Anna sambil menepuk bahu Gavin
Beberapa kali Anna melakukan itu, akhirnya Gavin membuka matanya dan berbalik badan. Dengan pandangan yang sedikit kabur, ia mulai mengerjapkan matanya.
"Anna, kamu kah itu?" tanya Gavin.
"Anna, maafkan aku. Sungguh, maafkan aku. Maafkan aku karena telah berbuat jahat padamu. Maafkan aku karena lebih mementingkan anak-anak dibanding dirimu. Maafkan aku karena aku memintamu menikah denganku. Maafkan aku karena memaksamu tinggal di rumah ini. Maafkan aku .... maafkan aku,” kata Gavin sambil terus menundukkan kepalanya.
Anna bukanlah orang yang tidak punya hati. Melihat seseorang yang saat ini dengan sangat tulus meminta maaf kepadanya, tak mungkin ia tak memaafkan.
Anna mendekati Gavin dan duduk di sebelahnya.
"Aku sudah memaafkanmu. Jika aku menjadi dirimu, aku juga akan memilih keselamatan anak-anakku. Justru aku sangat berterima kasih padamu saat itu karena telah mewakili diriku mengungkapkan keinginanku."
"Dan aku juga tahu, kamu sangat menderita kehilangan istri dan anakmu, membuat dirimu menjadi depresi dan frustasi. Tapi lihatlah ke depan, masa depanmu masih panjang. Seseorang masuk ke dalam hidup kita, tentu mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Apakah orang tersebut akan membawa kebahagiaan atau justru pembelajaran."
"Nathan dan Nixon akan selalu menjadi anak-anak kita, meskipun kita tidak bersama. Kebahagiaan mereka jauh lebih penting dibanding memberikan keluarga yang utuh, tapi tak ada cinta di dalamnya. Sebagai bentuk penerimaan atas permintaan maafmu, aku akan memberikan namamu pada mereka. Nathan Ace Neutron dan Nixon Agler Neutron,” kata Anna sambil tersenyum ke arah Gavin
"Benarkah An? Kamu mengijinkannya?" tanya Gavin dengan senyum yang lebar di wajahnya.
Anna kembali menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Anna sudah memikirkannya, tak ada gunanya menyimpan dendam. Ia justru harus mengisi dirinya dengan hal-hal yang bahagia, agar ia bisa melimpahkan itu pada anak-anaknya.
Secara tiba-tiba Gavin memeluk Anna, meluapkan kebahagiaannya.
__ADS_1
"Terima kasih An, terima kasihh. Aku berjanji aku akan menjadi Daddy yang baik bagi mereka. Terima kasih."
"Terima kasih juga karena telah menerima mereka sebagai anak-anakmu,” tiba-tiba Anna membalas pelukan Gavin
Gavin menghirup harum rambut dan tubuh Anna yang sangat ia sukai. Memang mengingatkannya akan malam itu, tapi seperti yang Anna katakan, biarlah itu menjadi pembelajaran baginya. Ia akan lebih berhati-hati ke depannya.
Gavin melonggarkan pelukannya setelah Anna melepas tangannya. Gavin melihat wajah Anna dari dekat, wajah seorang wanita yang adalah ibu dari anak-anaknya. Wanita yang luar biasa baginya saat ini.
Sekali lagi Gavin mengucapkan, "Terima kasih." kemudian ia mencium kening Anna dengan secepat kilat dan segera berlari ke kamarnya sendiri untuk membersihkan diri.
Anna merasakan jantungnya berdegup kencang saat Gavin mencium keningnya.
"Ya Tuhan, kuatkan aku,” kata Anna sambil memegang dadanya karena jantungnya masih berdegup kencang.
**
"Mom, foto siapa ini?"
"Ooo itu foto teman Mommy, teman lama Mommy."
"Mommy masih menyimpannya. Apa dia laki-laki yang Mommy sukai?"
"Oohhh bukan sayang, itu teman sekolah Mommy. Kamu temukan di mana?"
"Aku melihatnya terjatuh di samping tempat tidur Mommy, dekat nakas."
"Letakkan saja di sini, nanti Mommy gabungkan dengan yang lain."
"Tapi Mom, aku seperti pernah melihat laki-laki ini. Wajahnya sangat tidak asing bagiku."
"Banyak orang yang mirip sayang. Jangan terlalu dipikirkan. Ayo cepat berangkat, bukankah kamu akan ada operasi pagi ini?"
"Ya ampun, aku lupa Mom. Baiklah, aku berangkat sekarang. Bye Mom."
Wanita muda itu pun berangkat, meninggalkan Mommy-nya sendiri.
"Joe, maafkan aku. Aku pergi meninggalkanmu, aku terpaksa. Aku tidak menyalahkanmu atas kejadian itu, karena aku tahu kamu dalam kondisi yang tidak sadar saat itu. Kalau kita bertemu lagi, berarti itu adalah takdir kita untuk bersama."
Wanita itu membawa selembar foto itu kembali ke kamar dan meletakkannya di laci nakas, sebelah tempat tidurnya. Kemudian ia kembali membuka toko miliknya.
__ADS_1
🌹🌹🌹