TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#87


__ADS_3

"Kak, bagaimana keadaanmu?"


"Maafkan kakak, Peter. Kakak sudah ikut menjerumuskanmu dalam masalah ini. Seharusnya kamu sudah menjadi dokter handal yang dikenal banyak orang, serta memiliki keluarga yang bahagia," Elisa terisak.


"Kak, jangan mengatakan itu. Ini juga kesalahanku. Mungkin ambisiku terlalu besar untuk memiliki Anna. Aku menyesal."


"Kakak mohon padamu, hiduplah dengan baik setelah kamu keluar dari penjara. Maafkan kakak yang tidak bisa menjemputmu nanti dan tidak bisa mendampingimu. Kakak sangat menyayangimu."


"Kakk ...., jangan berkata seperti itu, kakak pasti akan bisa sembuh."


"Kakak sudah tidak berharap apa-apa lagi, Peter. Bahkan Mommy saja sudah meninggalkanku. Ia sudah tidak menganggapku dan hanya melihatku sebagai beban."


"Kakak masih punya aku. Aku akan menjaga kakak. Jadi tolong, bertahanlah untukku."


Elisa memegang pipi Peter, menghapus buliran air mata yang mengalir di pipi adiknya itu.


"Terima kasih karena sudah kuatir pada kakak. Sekali lagi, maafkan kakak. Kakak menyayangimu," seketika tangan Elisa terjatuh dan matanya kini menutup.


Monitor detak jantung kini hanya menampilkan garis lurus.


"Kakakkk!" teriakan Peter seakan menyayat hati. Kini ia hanya sendiri, Mommy meninggalkannya, Kakaknya meninggal, dan ia pun dipenjara. Seperti harapan hidupnya sudah hilang. Tapi ia tidak akan menyerah, ia berjanji akan hidup lebih baik, seperti keinginan terakhir kakaknya.


**


Suara rintik hujan mewarnai pemakaman Elisa. Semua orang berpakaian hitam-hitam. Tak ada tangisan, hanya ada wajah-wajah yang sendu. Meskipun Elisa bukanlah orang yang baik, tapi mereka tetap merasa kehilangan.


Peter menatap makam kakaknya. Didampingi oleh dua orang petugas dan tangan yang diborgol, ia menghampiri nisan tersebut.


"Kak, beristirahatlah. Kamu sudah tidak merasakan sakit lagi. Aku janji akan hidup dengan baik. Aku juga akan mencari Mommy, tak akan menaruh dendam padanya. Aku menyayangi Mommy seperti aku juga menyayangi kakak," Peter mengusap nisan milik Elisa, dan dari belakang sebuah tangan menyentuh bahunya.


"Kamu harus kuat. Kakakmu sudah tenang di sana."


Peter menoleh, "Terima kasih, An. Maafkan aku, maafkan keluargaku."


"Aku sudah memaafkanmu. Aku memang marah padamu, tapi aku tidak akan membencimu. Kamu adalah seorang dokter yang telah membantu Daddyku untuk sembuh."


"Terima kasih, An. Kamu harus bahagia," kata Peter.


Gavin menghampiri Anna dan memeluk bahunya.


"Tenang saja, aku pasti akan membahagiakan Anna."


"Terima kasih dan maafkan kakakku," pinta Peter pada Gavin.


"Aku sudah memaafkannya. Hiduplah dengan baik," pesan Gavin sambil menepuk bahu Peter.


Peter pun akhirnya pergi bersama dengan kedua petugas kepolisian yang tadi mendampinginya. Anna menatap kepergian Peter dengan wajah yang sendu.


"Apa kamu bersedih?" tanya Gavin.


"Dokter Peter sebenarnya adalah orang yang baik, hanya saja ia melangkah ke arah yang salah," jawab Anna.


"Aku yakin ia akan hidup dengan baik setelah keluar dari penjara nanti."


Anna menganggukkan kepala. Gavin pun mengajak Anna untuk pulang karena hujan sudah mulai agak deras.

__ADS_1


**


6 tahun kemudian,


"Mom, lihat aku bisa membuat pesawat terbang," ujar Nixon sambil memperlihatkan pesawat yang ia buat kepada Anna.


"Bagus sekali, sayang. Oya, dimana kakakmu?" tanya Anna.


"Kakak sedang membaca buku di ruang kerja Daddy. Aku bingung, apa kakak tidak bosan seharian hanya melihat tulisan saja."


Anna tersenyum, "Kakakmu sangat suka membaca, sayang. Berbeda denganmu, kamu lebih suka ...,"


"Bermainnnn!!!" teriak Nixon sambil berlari mengelilingi Anna dan memainkan pesawat terbangnya.


"Ayo kita masuk, sayang. Hari sudah mulai gelap," ajak Anna, namun baru saja ia berdiri tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Ia pun pingsan.


"Mommy!!"


**


Gavin berlari di koridor rumah sakit saat Lio meneleponnya kalau Anna pingsan. Gavin yang sedang melakukan meeting pun langsung beranjak dan meminta Jack untuk meneruskan meeting tersebut.


"Lio, apa yang terjadi?"


"Nyonya Anna tadi pingsan. Saya tidak tahu persis kejadiannya. Saya menghampiri saat mendengar teriakan Nixon."


Tak lama dokter keluar dari ruangan dengan tersenyum.


"Keluarga pasien."


"Saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya?"


"Kalau tidak apa-apa, kenapa istri saya sampai pingsan?"


"Istri anda hanya kelelahan, dan ..."


Apa karena semalam aku membuatnya tidak tidur? - batin Gavin.


"Ini adalah hal biasa pada trimester pertama kehamilan," lanjut sang dokter.


Gavin yang mendengarnya tidak percaya, "Maksud dokter?"


"Saat ini istri anda sedang hamil. Usia kandungannya baru menginjak 5 minggu. Diusahakan jangan terlalu kelelahan atau stres karena dari data pasien yang saya baca, pasien pernah mengalami masalah pada rahimnya."


"Baik, Dok. Saya pasti akan menjaganya," semburat kebahagiaan memancar dari wajah Gavin. Sejak Anna divonis akan sulit untuk hamil, mereka tidak berharap banyak. Kini, Tuhan seakan menjawab doa mereka selama bertahun-tahun.


"Saya permisi dulu. Anda boleh melihat keadaan pasien."


Gavin langsung menghambur ke dalam ruangan. Ia melihat Anna masih memejamkan matanya. Gavin mengambil kursi dan duduk di samping tenpat tidur Anna sambil menggenggam tangan istrinya itu.


Beberapa kali Gavin mengecup tangan Anna, hingga akhirnya Anna mengerjapkan matanya.


"Kamu sudah sadar, sayang?"


"Dimana aku?" tanya Anna.

__ADS_1


"Kamu di rumah sakit. Tadi kamu pingsan."


"Aku mau pulang, sayang. Aku sudah tidak apa-apa."


"Beristirahatlah sebentar. Aku akan menemanimu," Gavin terus tersenyum memandang Anna.


"Mengapa wajahmu seperti itu?" Anna ingin sekali tertawa memandang suaminya yang dari tadi terus tersenyum tidak jelas.


"Aku bahagia."


"Bahagia? kamu bahagia aku pingsan?"


"Bukan, bukan begitu, sayang."


"Lalu?"


"Aku bahagia karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang Daddy."


"Kamu memang sudah menjadi Daddy, atau jangan jangan kamu punya wanita lain yang sedang hamil?" Anna menatap tajam ke arah Gavin.


"Tentu saja tidak, sayang. Aku hanya mencintaimu, dan selamanya hanya kamulah wanitaku."


"Berarti?"


Gavin menganggukkan kepalanya, ia kembali tersenyum dan memeluk istrinya.


"Aku hamil? aku bisa hamil," Anna menitikkan air matanya. Tak pernah terbayang ia bisa merasakan pengalaman ini lagi.


Anna menghirup dalam-dalam aroma suaminya, ia sangat menyukainya.


"Kita harus memberitahukan ini pada Daddy dan Mommy," kata Gavin.


Dad Chris dan Mom Clara, Dad Joe dan Mom Cornelia pun sangat bahagia mendengar kabar kehamilan Anna. Bahkan si kembar juga sangat menantikan kehadiran adik kecilnya itu.


Lexy dan Gia sudah memiliki 2 orang anak, Axel Ray Smith yang berusia 5 tahun dan Ansel Zeyn Smith 4 tahun.


Keempat anak laki laki itu begitu senang mendengar bahwa mereka akan segera memiliki adik lagi. Itu artinya anggota keluarga mereka akan semakin bertambah.


"Aku mau adik perempuan," kata Nixon sambil tersenyum.


"Aku mau adik laki-laki," Ansel turut berdebat, meskipun ia paling kecil.


"Perempuan!"


"Laki-laki!"


Nixon menatap Ansel sambil menyipitkan matanya, kemudian dengan dua jari ia mengarahkan tangannya dari matanya ke arah Ansel.


Nathan yang melihat tingkah laku adiknya itu merasa jengah.


"Nix, dia masih kecil. Mengalahlah," kata Nathan.


"Inilah mengapa aku tidak mau memiliki adik laki-laki, huh!" gerutu Nixon.


"Sebal!!" teriak Ansel.

__ADS_1


Mereka berdua melipat tangan di depan dada dan saling membelakangi.


🌹🌹🌹


__ADS_2