TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#77


__ADS_3

Persiapan pernikahan Gavin dan Anna sudah mencapai 90 persen. Waktu pernikahan pun tinggal 2 minggu lagi. Gavin yang mengetahui progress tersebut pun kalang kabut karena ia ingin pernikahannya berjalan sempurna, tanpa ada kesalahan.


"Jackk!!" panggil Gavin.


Jack bergegas menuju ruang kerja Gavin.


"Ada apa, bos?"


"Coba kamu cek semua ini. Apa yang membuatnya masih banyak yang belum terselesaikan?"


Jack mengambil kertas-kertas yang diberikan oleh Gavin. Ia memperhatikan satu persatu daftar yang diberikan oleh Gavin. Jack sendiri sebenarnya bingung karena bukan dirinya yang menikah, pasangan saja ia belum punya. Niat hatinya mencari pasangan gagal karena waktu yang tidak memungkinkan.


"Apa tidak sebaiknya kita tanyakan pada wedding organizer saja?" tanya Jack agar ia bisa lari dari daftar yang diberikan oleh Gavin.


"Aku tidak mau tahu bagaimana caranya, maksimal 1 minggu lagi semua sudah harus 100 persen," ujar Gavin.


"Siap, Bos," Jack langsung keluar dari ruangan sambil membawa daftar tersebut.


Sementara Jack sedang sibuk dengan wedding organizer, dan sekretaris Gavin juga sedang minta cuti karena keluarganya ada yang sakit, seseorang masuk ke dalam ruangan Gavin tanpa permisi.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Gavin saat melihat siapa yang datang.


"Apakah aku tidak boleh menyapa mantan suamiku?"


"Kamu benar-benar tidak tahu malu. Masih berani kamu menampakkan wajahmu di hadapanku?"


"Tentu saja aku berani karena aku tidak melakukan kesalahan," ujar Elisa dengan senyumnya.


"Tidak melakukan kesalahan?!" tanya Gavin.


"Ya, memang apa yang salah denganku? Apa karena aku terlalu cantik, terlalu seksi atau karena aku terlalu hebat di atas ranjang, hmm ..."


"Kamu benar-benar tidak tahu malu! Keluar! Keluar dari ruanganku, dan aku tidak mau melihat wajahmu lagi," kata Gavin geram hingga mengepalkan tangannya.


"Apa kamu takut akan jatuh cinta lagi padaku jika terlalu sering melihatku?"


"Cihhh ... jangan harap!"


"Kalau begitu, kamu tidak perlu takut kalau aku sering datang kemari. Apa kamu tidak ingin memberiku undangan pernikahanmu?"


"Aku tidak mengundangmu."


Elisa tertawa mengejek.


"Apa kamu yakin tidak mau mengundangku? Ya ampun, apa kamu begitu dendam padaku? Setidaknya hargailah aku sebagai mantan istrimu. Aku juga ingin melihat kamu bahagia, bukan begitu?"


"Apa sebenarnya yang kamu inginkan, huh?!" tanya Gavin.

__ADS_1


"Apa kamu akan memberikan apa yang aku minta"


"Tidak!! Aku tidak akan pernah memberikan apapun padamu," tegas Gavin.


"Kurasa nanti kamu akan menarik kembali semua ucapanmu itu," Elisa tertawa dengan sangat keras.


"Jangan macam-macam kamu!"


"Apa kamu mulai takut, huh?!" Elisa menatap Gavin dan tersenyum sinis.


"Aku tidak takut dan tidak akan pernah takut padamu. Pergi!!"


"Baiklah, aku akan pergi. Tapi ingat, aku akan membalas semua yang telah kamu lakukan padaku. Tidak akan pernah kubiarkan kamu bersenang-senang di atas penderitaanku dan aku akan membuatmu menderita berkali-kali lipat, mengerti??!!" teriak Elisa.


Jack yang mendengar keributan saat hendak ke ruangan Gavin langsung berlari dan membuka pintu.


"Bos!"


"Jack, cepat bawa wanita ini keluar. Aku tidak ingin melihatnya lagi."


Jack memegang lengan Elisa untuk membawanya pergi.


"Lepaskan!! Jangan berani-berani kamu menyentuhku, dasar pegawai rendahan!!"


Elisa keluar sambil sebelumnya mengibaskan rambutnya. Dengan pakaian yang seksi dan menggoda, dipadu dengan sepatu ber-hak tinggi, ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Gavin.


"Apa anda tidak apa-apa, bos?" tanya Jack.


"Baik, Bos."


**


Sejak hari dimana Elisa datang, Gavin telah meminta Jack untuk terus memperketat penjagaan, terutama di hari pernikahannya. Ia tak mau jika pernikahannya dikacaukan oleh wanita seperti Elisa.


Memang dulu Gavin begitu mencintainya, tapi kini rasa itu telah hilang, bahkan menjadi rasa benci yang teramat sangat.


Gavin tak pernah menyangka bahwa cinta dan kasih sayangnya yang begitu tulus, dihempaskan begitu saja seperti sampah oleh Elisa. Ia bahkan mempermainkan perasaan Gavin yang begitu mencintainya.


Kini, Gavin menemukan cinta kembali di dalam diri Anna, ibu dari anak-anaknya. Ia tahu kehidupan pernikahan itu bukan hanya sekedar menerima, namun juga harus memberi. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan selalu menjaga Anna, juga melimpahinya dengan cinta.


Besok, adalah hari dimana ia akan menikah. Malam ini perasaannya begitu campur aduk, ada kegelisahan di hatinya, karena ia takut Anna akan berubah pikiran.


Anna sendiri saat ini sedang berada di sebuah hotel bersama kedua putra kembar mereka, juga keluarganya. Gavin pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, memandang ke langit-langit. Kemudian ia mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Anna.


"Halo sayang," sapa Gavin sambil memandangi layar ponselnya.


"Kamu belum tidur?" tanya Anna.

__ADS_1


"Aku sulit tertidur ... kalau saja ada kamu di sini."


"Tidurlah, besok akan sangat melelahkan," kata Anna.


"Tapi bisakah kamu membiarkan ponselmu tersambung? Aku ingin melihat wajahmu," pinta Gavin.


Anna meletakkan ponsel mengarah kepadanya dengan bantal sebagai sandaran.


"Apakah begini cukup?" tanya Anna.


"Ya. Kamu tidurlah. Aku hanya ingin memandangmu, merasakan kamu ada di sampingku," ujar Gavin.


Anna hanya tersenyum melihat tingkah laku Gavin.


"Mengapa kamu tersenyum seperti itu?" tanya Gavin sambil membaringkan tubuhnya.


"Tidak apa. Tidurlah," Anna memandang Gavin, lalu perlahan menutup matanya. Ia tertidur.


Sementara Gavin terus memandang Anna, kemudian ia mencium layar ponselnya sendiri.


"Selamat tidur, sayang," ucap Gavin dan ia pun mulai tertidur.


**


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Anna sudah bangun. Hal itu dikarenakan ia harus dirias untuk acara pengucapan janji pernikahan yang akan diselenggarakan di pagi hari. Kedua anaknya sudah dijaga oleh Dad Joe dan Mom Cornelia.


Dalam suatu ruangan di dalam hotel, Anna duduk di depan sebuah meja rias. Seorang make up artist sudah mulai untuk merias wajah Anna.


Setelah make-up selesai, seorang penata rambut yang kini mengambil alih. Ia mulai menyanggul rambut Anna dan meninggalkan beberapa rambut menjuntai dan sedikit diikal. Sebuah hiasan rambut berbentuk bunga berwarna silver pun ikut ambil bagian dalam acara pernikahan Anna kali ini.


"Anda cantik sekali, Nona," puji sang make-up artis dan penata rambut.


"Terima kasih," balas Anna.


Anna meminta make-up yang natural karena ia tak pernah menggunakan make up yang berlebihan. Ia takut wajahnya akan seperti badut jika dihias berlebihan.


Ia memandangi wajahnya di cermin, kemudian ia tersenyum.


"Kamu cantik sekali, sayang," puji Mom Cornelia.


"Terima kasih, Mom. Bagaimana Nathan dan Nixon?" tanya Anna.


"Tenanglah, mereka bersama Daddymu sedang bermain. Ayo, Mommy bantu memakai gaunmu, sayang."


Cornelia mengambil gaun berwarna putih tersebut. Ia membantu Anna memakainya. Gaun itu tidak terlalu mewah, namun terlihat sangat anggun saat dipakai oleh Anna.


Awalnya Gavin memilihkan gaun yang paling mewah dan mahal, namun ditolak mentah-mentah oleh Anna. Ia tak ingin suaminya menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak terlalu penting. Lebih baik uang itu disumbangkan kepada orang yang membutuhkan.

__ADS_1


Tentu saja mendengar hal itu, Gavin semakin melihat ketulusan dan kebaikan dalam hati Anna. Ia semakin mencintai dan menyayangi wanita itu.


🌹🌹🌹


__ADS_2