
"Jack, apa kamu sudah mempersiapkan semuanya?" tanya Gavin.
"Sudah bos, sebuah kamar VIP juga sudah saya siapkan sesuai hotel yang anda pilih bos," kata Jack.
"VIP? Bukankah biasa aku menggunakan VVIP?"
"Maaf, bos. Jumlah kamar VVIP di hotel itu sangat terbatas dan banyak sekali pengusaha yang akan menghadiri acara ini, hampir semuanya menginap di hotel ini. Jadi hanya kamar VIP yang bisa saya dapatkan,” jawab Jack.
"Sudahlah, honey. Setelah acara selesai, kita bisa pindah ke hotel lain, anggap saja kita sedang melakukan honey moon lagi," kata Elisa sambil bermanja-manja di bahu Gavin.
"Tentu saja honey, as you wish," Gavin pun mengecup bibir istrinya.
Hari keberangkatan Gavin dan Elisa ke Paris pun tiba,
Sesampainya mereka di hotel, Gavin melihat Antonio bersama dengan asistennya Boris, dan juga seorang wanita yang dikenalinya sebagai seorang pengantar paket.
"Tuan, saya pergi ke kamar dulu."
"Tunggu sebentar Anna," Antonio datang mendekat ke arah Gavin, sementara Elisa berusaha bersembunyi di belakang Gavin.
Anna juga memposisikan dirinya di belakang Antonio, karena ia mengenali Gavin sebagai laki-laki yang ia temui di rumah sakit. Ia tak menyangka bahwa Gavin memiliki koneksi yang besar, karena ia bisa mengenal Mr. Antonio.
"Halo, Mr. Gavin, how are you?" tanya Antonio sambil menyodorkan tangannya mengajak berjabatan.
"Baik Mr. Antonio, senang bertemu dengan anda di sini."
"Senang bertemu dengan anda juga Mr. Gavin dan Mrs. Elisa," Antonio sedikit membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat dan tersenyum.
"Apa anda tidak bersama dengan istri anda?" tanya Gavin.
"Ouuu ... hahahaha, saya belum menikah Mr. Gavin, tapi tenang saja saya sudah memiliki calonnya," Antonio memegang pinggang Anna dan mendekatkannya ke tubuhnya.
Sabar Anna, sabar .... ingat, hutang Daddy akan berkurang setengahnya jika acara ini selesai. Kamu hanya perlu berpura-pura menjadi pasangan Mr. Antonio sebentar saja. - batin Anna.
"Perkenalkan, ini Anna, calon istri saya," Anna menganggukkan sedikit kepalanya dan tersenyum.
"Sayang, aku kembali ke kamar dulu ya, aku ingin istirahat sebentar," kata Anna, karena ia tak ingin berlama-lama berada dalam pelukan Antonio.
"Baik sayang, as you wish. Boris, temani calon istri kesayanganku ini."
Anna pergi dari sana tanpa mengetahui bahwa ada tatapan tajam padanya, yang sangat tidak menyukai interaksinya dengan Antonio.
**
"Honey, kamu sangat cantik sekali," kata Gavin.
"Thank you, honey. Kamu juga sangat tampan."
"Bagaimana kalau nanti malam kita ... "
"Honey, sebaiknya jangan, aku tidak ingin melukai baby kita. Ingat apa kata dokter, kamu harus puasa dulu, setidaknya sampai trimester pertama," kata Elisa mengingatkan.
"Ahhh, ini sungguh menyiksaku. Kamu seksi sekali honey, aku sudah tidak tahan," Gavin memeluk Elisa dari belakang, melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.
"Sabar honey, demi anak kita," Elisa mengecup bibir Gavin dengan lembut, namun hanya sekilas.
"Baiklah honey, demi anak kita. Lihat saja nanti jika trimester pertama sudah terlewati, aku akan menghajarmu habis-habisan," kata Gavin sambil tertawa.
"Ayo honey, kita sudah terlambat."
"Baiklah."
__ADS_1
Mereka pun membuka pintu kamar, di sana sudah ada Jack yang sedang menunggu mereka. Mereka pun langsung turun menuju tempat acara tersebut digelar.
**
Acara berlangsung dengan sangat meriah, banyak pengusaha yang berasal dari seluruh daratan Eropa menghadirinya.
Acara seperti ini memang hanya dilakukan 3 tahun sekali, karena itu acara ini sangat ditunggu-tunggu oleh para pengusaha di benua tersebut.
Selain untuk mempererat tali persahabatan antar sesama pengusaha, acara tersebut juga mampu menarik perhatian para investor, sehingga akan memperbesar perusahaan dari para pengusaha, bagi siapa yang mampu menarik perhatian akan kerja sama dan proyek-proyek mereka.
"Honey, kamu tidak apa-apa?" tanya Gavin saat melihat Elisa yang sepertinya kelelahan.
"Tidak apa-apa honey, aku hanya sedikit pusing saja, mungkin ini karena bawaan baby kita."
"Aku akan menemanimu kembali ke kamar."
"Tidak perlu honey, aku bisa sendiri, atau kamu minta tolong Jack saja untuk mengantarkan aku. Di sini banyak relasi bisnis kamu, tidak baik rasanya jika kamu meninggalkan mereka begitu saja,” kata Elisa.
"Baiklah. Jack, tolong kamu antar istriku kembali ke kamar, ia agak kurang enak badan."
"Baik, bos."
Jack pun menemani Elisa kembali ke kamar.
Sementara itu,
"Anna, kamu ada di sini?" tanya Sena yang ternyata turut menghadiri acara tersebut bersama kakaknya.
"Ya, aku sedang bekerja."
"Bekerja? dengan pakaian seperti ini? dengan siapa kamu bekerja?"
"Baiklah."
Sena melihat kepergian Anna bersama dengan Boris, untuk menghampiri seseorang.
"Kak, apa kakak kenal laki-laki itu?" tanya Sena pada Revan.
"Itu Mr. Antonio, pemilik Verero Coorp, salah satu perusahaan besar di Swiss. Ia juga memiliki beberapa perusahaan di Spanyol dan beberapa negara Eropa lainnya."
"Wow, hebat sekali. Sungguh beruntung Anna bisa bekerja dengan orang sehebat itu,” puji Sena.
**
"Ada apa, Mr. Antonio?" tanya Anna.
"Kemarilah, kamu harus selalu berada di dekatku, agar orang-orang menyangka bahwa kamu adalah benar-benar calon istriku."
"Baik, Tuan.”
Mereka datang menghampiri Gavin, target mereka.
"Mr. Gavin, kita bertemu lagi disini."
"Mr. Antonio."
"Anda sendiri? Di mana istri anda yang sangat cantik itu?" tanya Antonio.
"Maaf, ia sedang beristirahat,” jawab Gavin. Sebenarnya ia tak suka melihat tatapan Antonio pada istrinya tadi, begitu juga perhatiannya saat ini.
"Apa dia sedang sakit?" tanya Antonio.
__ADS_1
"Tidak, ia hanya sedang hamil."
"Wah, congratulation Mr. Gavin."
"Thank you."
"Mari kita bersulang untuk merayakan ini."
Mereka mengambil minuman dari seorang waitress yang sedang lewat.
"Mari ... ," Antonio mengangkat gelasnya mengajak bersulang. Anna yang berdiri di sebelahnya mengikutinya, begitu juga Gavin.
Anna merasa risih dengan tatapan Gavin padanya. Apa salah dirinya? apa laki laki itu masih mengingat kasus kopi saat di rumah sakit?
"Mr. Gavin, bagaimana kalau kita bekerja sama? saya memiliki sebuah proyek besar yang rasanya pas jika kita lakukan bersama-sama."
"Mungkin anda bisa memperlihatkan proposalnya dulu pada saya. Setelah saya pelajari, baru kita bicarakan kelanjutannya," kata Gavin.
"Tentu saja. Saya sudah mempersiapkan proposalnya ... Mr. Gavin, anda tidak apa-apa?" tanya Antonio saat melihat Gavin memijat pelipis kepalanya.
"Tidak apa. Saya hanya sedikit pusing."
"Boris akan membantu anda kembali ke kamar."
Antonio memerintahkan Boris untuk membawa Gavin, sesuai rencana mereka.
"Anna, kamu ambilkan obat di lemari kamar, bawakan untuk Mr. Gavin. Aku tidak ingin proyek besar kita gagal. Kita harus menjamunya dengan baik.”
"Tapi, Tuan. Bukankah sudah ada istrinya?” tanya Anna yang memang tidak nyaman berada di dekat Gavin.
"Istrinya sedang istirahat, bukankah kamu mendengarnya tadi. Sebaiknya kita tidak mengganggunya. Kamu hubungi Boris, mau dibawa kemana obat itu."
"Baik, Tuan,” Anna langsung pergi menuju kamar tempatnya berada. Ia tak menyangka ternyata Gavin dibawa oleh Boris ke sana.
"Boris, mengapa ia dibawa ke kamar ini? Apa Mr. Antonio tidak akan marah? nanti ia tidak bisa istirahat," tanya Anna.
"Justru Mr. Antonio memintaku untuk membawanya ke sini. Setidaknya kita memberikan pelayanan yang terbaik. Kamu, jaga dia sampai ia sadar, itu perintah."
"Ta .... tapi .... "
"Jika kamu membantah, aku akan membunuh Daddymu,” ancam Boris.
"Iya, iya, aku mengerti."
Anna duduk di sofa, menunggu Gavin hingga sadar. Ia sudah menyiapkan obat dan juga air mineral untuknya.
Sementara itu di tempat lain,
"Boris, apa kamu sudah mengatur semuanya?"
"Tentu saja."
"Bagaimana dengan asisten bodohnya itu?"
"Tenang saja, Tuan. Hal itu juga sudah kami atasi."
"Baiklah, pergi dan berjaga-jagalah, aku akan bersenang-senang dengan kucing manisku dulu."
"Baik, Tuan,” kata Boris.
**
__ADS_1