TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#48


__ADS_3

Gia terus menangis. Maksud hati ingin menolong, ia malah jadi menyusahkan. Bahkan sekarang ia juga yang menyebabkan Lexy tertembak.


"Jangan menangis," itulah yang terus Lexy katakan pada Gia sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Lexy langsung dibawa ke ruang emergency. Dokter langsung mengisyaratkan untuk melakukan operasi.


Kini, Gia sedang bersama Jack duduk di depan ruang operasi. Gia masih merutuki kesalahannya ini.


"Kak, Uncle tidak akan apa-apa kan?"


"Ia akan baik-baik saja," jawab Jack menguatkan Gia. Gia sudah seperti adik bagi Jack. Awalnya memang ia ditugaskan untuk mengawal Gia saat Gia kuliah. Tapi sejak Gia lulus, ia ditugaskan menjadi asisten pribadi dari Gavin.


Gavin datang bersama Dad Chris ke rumah sakit.


"Bagaimana kabar Lexy?" tanya Dad Chris.


"Ia terkena tembakan, saat ini sedang di operasi." jawab Jack. Sementara Gia hanya menunduk dan diam.


"Kamu tidak apa-apa, sayang?" tanya Dad Chris pada Gia.


Gia hanya menganggukkan kepalanya. Sejujurnya ia sangat takut saat ini. Ia takut Dad Chris akan memarahinya, namun ternyata malah Gavin yang memarahinya.


"Apa yang kamu pikirkan Gi sampai kamu melakukan itu? berani sekali kamu pergi mengejar Lexy," ujar Gavin.


"Aku tahu aku salah, tapi kalau tidak, aku tidak tahu kemana Uncle akan pergi."


Gavin menghela nafas kasar. Gia menghambur ke pelukan Dad Chris dan menyembunyikan wajahnya di dada Dad Chris.


Tak lama, Mom Clara pun datang. Ia baru selesai menjenguk Anna. Mom Clara juga sangat mengkuatirkan Lexy, karena Dad Brandon, sudah menganggap Lexy sebagai anaknya. Ia tak ingin terjadi apa-apa pada Lexy, karena Dad Brandon pasti akan shock.


Sudah hampir 3 jam, tapi operasi juga belum selesai. Semakin lama Gia semakin gelisah, ia merasa kacau saat ini. Ia tak ingin kehilangan Lexy.


Pintu ruang operasi akhirnya terbuka, seorang dokter pun keluar,


"Keluarga Lexy Smith?" panggil sang dokter.


Dad Chris bangkit dari duduknya, diikuti Gavin dan Jack. Sementara Mom Clara menemani Gia yang masih gelisah. Ia takut mendengarkan hasil operasi.


"Pasien sudah selamat. Kami berhasil mengeluarkan 2 buah peluru yang bersarang di bagian belakang tubuhnya. Untung saja tidak mengenai bagian vital. Setelah ini kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat. Kalian bisa menunggunya di sana," kata sang dokter.


Dad Chris dan yang lainnya bernafas lega, "Terima kasih, Dok."


Dokter pergi meninggalkan mereka. Gia yang mendengarnya pun bisa bernafas lega. Buliran air mata terjatuh di sudut matanya, ia lega dan bahagia Lexy selamat.

__ADS_1


**


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Dad Chris pada Jack.


Jack yang melihat saat ini Gia sedang berada di samping tempat tidur Lexy pun akhirnya mengajak Dad Chris untuk keluar dari ruangan.


"Saya kurang begitu tahu, tapi dari apa yang saya tangkap, Gia pergi mengikuti Uncle Lexy yang pergi secara diam-diam. Setelah ia sampai di sana, ia melihat Uncle Lexy dan Tuan Joe sedang terlibat baku hantam dengan orang-orang yang menculik Tuan Joe."


"Lalu dimana Tuan Joe sekarang?" tanya Dad Chris.


"Sepertinya mereka membawanya lagi karena saat saya sampai di tempat kejadian, hanya ada Gia dan Uncle Lexy."


Dad Chris menghela nafas kasar, "Apa sebenarnya mau mereka? Jack, kamu hubungi Han, minta dia untuk menghubungi Mr. Ken."


"Baik, Tuan."


Jack pun pergi dari rumah sakit untuk menemui Han. Sementara Dad Chris masuk kembali ke dalam ruangan. Ia melihat Gavin dan Mom Clara sedang duduk di sofa, sementara Gia duduk di samping tempat tidur Lexy.


**


Gia tertidur sambil duduk di sebelah Lexy. Lexy yang mulai tersadar, mengerjapkan matanya. Ia menyadari bahwa Gia sedang tertidur di sampingnya.


Tak ada siapapun di ruangan itu. Perlahan, Lexy mengangkat tangannya dan mengusap kepala Gia.


"Uncle, Uncle sudah sadar?" Gia langsung memegang tangan Lexy.


Lexy tersenyum melihatnya. Lexy bisa melihat kelelahan di mata Gia dan ia tahu bahwa gadis kecilnya itu terus menangis karena matanya terlihat sembab.


"Aku tidak apa-apa Gift. Kenapa kamu menangis terus seperti itu?"


"Aku takut."


Lexy kembali tersenyum.


Gia langsung memeluk Lexy, dengan meletakkan kepalanya di dada Lexy.


"Uncle, maafkan aku. Gara-gara aku Uncle jadi begini. Aku takut, aku tak bisa melihat Uncle lagi."


Lexy merasakan kehangatan merasuk ke hatinya, ia kembali mengusap kepala Gia.


"Uncle tidak menyalahkanmu. Aku tahu Gift, kamu hanya mengkuatirkan Uncle."


Gia mengangkat kepalanya, memandang Lexy, kemudian ia menghapus air mata yang ada di wajahnya.

__ADS_1


"Sudah jangan menangis lagi, kamu kelihatan jelek kalau menangis," kata Lexy sambil memegang pipi Gia.


Gia memegang tangan Lexy yang sedang memegang pipinya, kemudian ia sedikit menunduk.


"Uncle, aku mau minta maaf, soal .... "


"Ciuman?" Lexy pun tertawa.


"Uncle menggodaku?" Kata Gia dengan wajah memerah bercampur malu.


"Tidak, Uncle kan hanya bertanya. Apa kamu menyukai ciuman itu?" tanya Lexy sambil tersenyum.


"Uncleee!!!"


"Mendekatlah," pinta Lexy.


Gia mengira bahwa Lexy ingin membisikkan sesuatu padanya, sehingga Gia mendekatkan telinganya.


Ketika wajah Gia sudah berada di dekat Lexy, perlahan Lexy mendekatkan wajahnya pada wajah Gia. Ntah apa yang terjadi, Gia merasa detak jantungnya bergerak sangat cepat, saat wajahnya bisa merasakan nafas Lexy.


Perlahan, Lexy mencium pipi Gia. Sentuhan bibir Lexy di pipi Gia seketika membuat wajah Gia memerah.


"Uncle?" ucap Gia sambil memegang pipinya yang baru saja dicium oleh Lexy.


"Uncle hanya mengembalikan ciumanmu waktu itu. Kita impas kan," kata Lexy sambil tertawa.


Apa yang Gia rasakan saat ini bukanlah kemarahan, tapi justru kehangatan di dalam hatinya. Gia masih terus memegang pipinya, sambil memandang ke arah Lexy.


Kehangatan di dalam hati Gia semakin penuh, hingga kini memenuhi perasaan dan pikirannya. Tanpa berpikir panjang, Gia menghampiri Lexy dan langsung menyentuhkan bibirnya ke bibir Lexy.


Gia bukanlah wanita yang pandai berciuman karena saat ia mencium Lexy, itu memang ciuman pertamanya. Setelah ia mencium Lexy, ia mengangkat sedikit kepalanya, dengan wajah yang melihat Lexy dan mata mereka saling terkunci.


Perlahan, Lexy memegang kepala Gia dan kembali mendekatkan wajah Gia dengan wajahnya. Ia mendekatkan kemudian menyentuhkan bibirnya pada bibir Gia, dengan sangat lembut.


Kehangatan dan kelembutan memenuhi hati 2 insan tersebut. Gia benar-benar merasakan semuanya di dalam hati, begitu juga dengan Lexy. Ia tak pernah mencium seorang wanita, dan ciuman Gia telah menjadi candu baginya.


Lexy ******* pelan bibir Gia yang berwarna pink dan terasa manis. Gia pun akhirnya membalas ciuman tersebut. Ia terbuai.


"Uncle, aku .... "


"Aku menyayangimu, Gift," kata Lexy dengan lembut.


"Aku menyayangimu juga, Uncle," Gia kembali memeluk Lexy dan merebahkan kepalanya di dada Lexy.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2