
"Tuan Gavin?" panggil salah seorang dokter yang sedang memasuki ruang rawat Elisa.
"Iya, Dok. Apa hasil lab-nya sudah keluar," tanya Gavin.
"Sudah," Dokter itu pun tersenyum, "Selamat Tuan, istri anda saat ini sedang hamil dan usia kehamilannya sudah mencapai 4 minggu. Kehamilannya sangat rentan sehingga ia memerlukan istirahat. Sebaiknya Nyonya juga mengurangi aktivitas yang berlebihan."
"Jadi ia pingsan karena ...."
"Betul Tuan, Nyonya Elisa mengalami kelelahan dan sedikit stres yang membuatnya pingsan."
"Baik, terima kasih dok," kata Gavin.
Ia terduduk di sofa kamar rawat tersebut. Tak ada raut wajah bahagia layaknya seorang suami yang akan menjadi seorang Daddy, justru kini yang nampak hanya raut wajah penuh tanda tanya akan anak siapa lagi yang ada dalam kandungan istrinya itu.
Elisa menggoyangkan kepalanya, tanda bahwa ia akan mulai sadar. Ia membuka matanya perlahan dan melihat keberadaan Gavin di sana.
"Honey, apa yang terjadi padaku?" tanya Elisa sambil memegang pelipis dengan jarinya. Saat ini, kepalanya masih terasa sedikit sakit.
Gavin yang melihatnya pun akhirnya berdiri dari sofa dan berjalan mendekat.
"Kamu pingsan," jawab Gavin sambil meletakkan hasil pemeriksaan laboratorium di atas meja di samping tempat tidur.
Elisa pun bangkit dari tidurnya dan memundurkan tubuhnya untuk bersandar. Ia mengambil kertas yang Gavin letakkan di atas meja tersebut.
Seketika ia tersenyum melihat hasil yang tertera di sana, "Aku hamil .... Aku hamil lagi, honey?"
Gavin meninggalkan Elisa yang terus melihat ke arah kertas hasil pemeriksaan tersebut dan kembali duduk di sofa.
"Anak siapa itu?" tanya Gavin dengan ketus.
"Anak siapa? tentu saja ini anak kita honey,” jawab Elisa dengan sangat yakin.
Untuk saat ini, Gavin tidak ingin berdebat dengan Elisa. Ia akan melakukan pemeriksaan DNA jika waktunya sudah tepat. Saat ini ia akan mengikuti permainan istrinya ini.
**
Anna sangat kesal sekembalinya ia ke ruang rawat Dad Joe dari membeli kopi semalam. Uang di dalam dompetnya lenyap tak bersisa, padahal ia sangat membutuhkan uang itu.
"Ahhh salahku juga kenapa aku gengsi di depan laki-laki itu," Anna melipat tangannya di depan dada saat ia mengingat kejadian semalam.
"Anna …,” panggil Dad Joe.
"Daddy."
"Daddy sudah boleh pulang kan? ayo kita pulang. Daddy tidak mau berlama-lama di rumah sakit."
"Baik Dad, sebentar Anna ke bagian administrasi dulu. Nanti Anna akan kembali setelah meminta resep dari dokter."
"Baiklah."
Anna pun segera berlalu menuju tempat administrasi. Ia menanyakan biaya terapi ayahnya, serta resep yang dititipkan oleh dokter untuk penunjang terapi.
Setelah ia menyelesaikan pembayaran, ia segera berbalik badan, namun lagi-lagi ....
Bughhh ....
"Haduhhh, jalan bisa pakai mata nggak sih?"
"Hei miss, di mana-mana jalan itu pakai kaki, bukan pakai mata. Lagian yang nabrak siapa?" ujar Anna kesal.
Anna merasa tidak asing dengan suara itu pun menoleh. Ia kembali melihat laki-laki yang semalam telah merusak suasana hatinya.
__ADS_1
"Kalau berjalan itu lihat-lihat, nggak bisa lihat apa ada orang di depan," gerutu Anna.
"Silakan, Tuan," kata salah seorang suster bagian administrasi.
"Pembayaran perawatan atas nama istri saya Elisa." Kata Gavin.
"Cihhh .... istri macam apa yang betah punya suami macam begini," gumam Anna yang masih bisa didengar oleh Gavin.
"Maksud kamu apa?"
Tanpa menjawab, Anna meninggalkan Gavin yang masih berdiri di depan konter administrasi untuk menyelesaikan pembayaran.
**
Di dalam taksi menuju ke rumah, ponsel milik Anna berbunyi. Ia tidak mengenali nomor yang tertera sehingga ia malas untuk mengangkat. Namun, karena bunyi ponsel tersebut cukup menganggu dan sudah berbunyi berkali-kali, akhirnya Anna mengangkatnya juga.
"Halo."
" ..... "
"Kamu siapa?"
" ..... "
"Tidak, saya tidak akan ke sana."
" ...... "
"Hei, tunggu seb ......,” Belum selesai Anna berbicara, sambungan telepon sudah diputus sebelah pihak
"Siapa Anna?"
"Nggak tahu Dad, sepertinya salah orang."
"Dad, setelah Anna mengantar Dad pulang, Anna pergi sebentar ya, Gia dan Sena ingin bertemu," kata Anna berbohong. Ia tak mungkin mengatakan alasan sebenarnya dari rencana kepergiannya.
"Ya sayang, pergilah. Tapi jangan pulang malam-malam ya. Kamu hati-hati."
"Ya Dad."
**
"Apa maumu?" tanya Anna dengan ketus.
"Aku ingin kamu bertemu dengan seseorang."
"Siapa?"
"Bos-ku."
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Anna.
"Aku tidak tahu apa maunya, aku hanya diminta untuk membawamu kepadanya,” jawab Boris.
"Aku tidak mau. Lagipula aku tidak ada urusan sama sekali dengan bos-mu itu."
"Kamu punya urusan. Apa urusan Daddymu bukan urusanmu?"
"Borisss!!! Jangan sekali-kali kamu mengancamku."
"Aku tidak mengancammu manis, tapi jika kamu merasa itu adalah ancaman dan kamu menurut, itu bukan salahku kan," kata Boris sambil tertawa.
__ADS_1
"Seharusnya aku tidak menolongmu saat itu," kata Anna.
"Ooo .... pertolonganmu saat itu, tentu saja aku tidak akan berterima kasih. Kamu tahu kenapa? karena itu semua hanya sandiwara."
"Maksudnya?" Mata Anna membulat mendengar perkataan Boris.
"Kamu akan mengerti nanti. Sekarang kamu harus ikut untuk menemui bos-ku."
"Kalau aku tidak mau?"
"Berarti kamu sudah siap untuk tidak melihat Daddymu lagi," ancam Boris.
"Jangan pernah sekali-kali kamu menyentuh Daddyku atau ... "
"Atau apa manis?"
"Atau aku akan mematahkan tulang lehermu!" gertak Anna dengan geram.
"Karena itu, ikutlah denganku, jangan kamu menghabiskan waktuku. Aku tidak ada waktu untuk itu, kecuali kamu ingin bermain hal yang lain denganku, maka aku dengan senang hati akan bersedia," kata Boris sambil menyentuhkan jarinya di dagu Anna.
"Jauhkan tangan kotormu itu," Anna segera menepis tangan Boris, "Baiklah, aku akan ikut. Tapi ingat, jangan pernah kamu menyentuh Daddyku."
"Tenang saja manis. Selama kamu menuruti keinginan kami, Daddymu akan aman."
Boris memerintahkan anak buahnya untuk menutup mata Anna dengan sehelai kain. Hal itu dilakukan agar Anna tidak mengetahui akan dibawa kemana dirinya.
**
Gavin akhirnya sampai di rumah, ia diantar oleh Jack. Tubuhnya sangat lelah karena semalaman ia tidak dapat tidur, meski hanya sekedar untuk memejamkan mata.
"Kak, kamu sudah pulang?"
"Ya, aku lelah sekali."
"Apa kakak sudah mengambil keputusan?"
"Keputusan apa?"
"Ahhh, baru berselang semalam aja langsung lupa. Apa kakak jadi menceraikan Kak Lisa?" tanya Gia di telinga Gavin.
"Ntahlah, aku pusing saat ini."
Gavin pun meninggalkan Gia yang masih kebingungan dengan jawaban yang diberikan padanya.
"Kak Jack, kakak kenapa?" tanya Gia.
"Bawaan bayi."
"Hah? siapa yang bawa bayi?" tanya Gia kaget.
Jack menggelengkan kepalanya.
"Nyonya Lisa sedang hamil, jadi sementara ini Tuan Gavin menahan diri untuk tidak melakukan proses perceraian."
"Whattt, she's pregnant?" Gia tak percaya saat mendengarnya.
"Yes, Miss!”
"Aku yakin 1000 persen kalo itu bukan anak Kak Gavin,” Gia melipat tangannya di depan dada, "Lihat saja nanti, aku akan membuktikan kalau wanita itu benar-benar ular dan aku sendiri yang akan membuatnya ditendang keluar dari rumah ini,” kata Gia dengan kesal.
"Semangat miss, aku mendukungmu," sambil mengepalkan tangannya memberi semangat.
__ADS_1
"Ini juga, dasar asisten gila!" Gia pun meninggalkan Jack yang kebingungan.
🌹🌹🌹