TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#67


__ADS_3

"Ahhhh, dia belum mati,” kata seorang lelaki saat melihat Gia keluar dari rumah sakit.


Ia pun langsung mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang,


"Bos, wanita itu belum mati."


"Sialan!! Apa wanita itu memiliki 9 nyawa,” ujarnya geram.


"Sekarang apa yang harus saya lakukan, bos?"


"Kamu ikuti mereka dan berikan padaku informasi selanjutnya."


"Siap, bos!"


"Siapa, sayang?"


"Anak buahku."


"Ada apa? sepertinya wajahmu berubah setelah menerima telepon itu."


"Wanita itu belum mati."


"Ooouuu, putri keluarga Neutron?"


"Ya. Ayo sayang, kita lanjutkan,” ujar Boris.


"Dengan senang hati, sayang,” Fero (Arianna) terus menggoyangkan pinggulnya, memberikan kenikmatan pada Boris.


Boris terus mengerang. Wanita adalah hidupnya, itulah prinsip Boris. Ia tak akan mau hidup tanpa sentuhan wanita. Tak ada Elisa, Fero pun jadi. Baginya, tak ada kesetiaan untuk wanita. Mereka hanyalah tempatnya menuntaskan hassrat.


Ia akan memuji wanita manapun yang bisa memuaskannya. Dan satu hal yang akan selalu ia lakukan adalah tidak hanya bergantung atau berpusat pada 1 wanita. Ia akan memiliki wanita manapun.


Anna, meskipun aku belum bisa memilikimu, setidaknya aku sudah membuat replika dirimu di sini. Bercinta dengannya, kubayangkan seperti bercinta denganmu. Aku yakin bersamamu yang sebenarnya, pasti akan jauh lebih menyenangkan. - batin Boris


**


"An, ayolah. Kembalilah. Ini demi keselamatanmu dan anak-anak,” pinta Gavin.


"Sudah kukatakan tidak. Di sini aman."


"Aman bagaimana? kamu sudah hampir celaka."


"Apa maksudmu, bukankah kemarin kamu yang hampir membuatku celaka?" tanya Anna.


"Kamu hampir ditabrak mobil kan?" tanya Gavin, membuat Anna langsung melihat Gavin dengan tatapan tajam


"Dari mana kamu tahu?"


"Tentu saja aku tahu. Aku punya mata di mana-mana,” jawab Gavin.


"Ingat, jangan sampai Daddy tahu,” kata Anna sedikit mengancam.


"Kalau begitu, kamu harus ikut denganku."


"Sudah kukatakan tidak. Aku baru mulai bekerja kembali di coffee shop, masa harus berhenti lagi. Apa nanti kata teman-temanku dan juga Mr. Ken."


"Mr. Ken tidak akan marah, ia akan mengerti. Kalau masalah teman-temanmu, aku tidak ikutan."


Anna melipat kedua tangannya di depan dada.


"Kalau kamu tidak mau ikut denganku, maka .... biar aku saja yang tinggal di sini,” ujar Gavin.


"Heiii .... kenapa kamu jadi tinggal di sini?"

__ADS_1


"Tentu saja untuk menjagamu dan anak-anak. Hmmm .... bagaimana kalau kita menikah saja?"


"Vin, stop. Berhenti membicarakan hal ini. Jika kamu ingin tinggal di sini, silakan, aku tidak akan melarangmu. Tapi jangan minta aku lagi untuk menikah denganmu."


Gavin berdiri mendekati Anna, kemudian ia memeluk Anna dari belakang.


"Apa kamu membenciku? Maafkan aku, bukan maksud hatiku untuk ...."


"Vin, sudah kukatakan, sebaiknya kamu menata hatimu lebih dulu. Jangan dengan mudahnya hatimu berpindah-pindah. Jika kamu seperti ini, percuma saja kamu menikah dengan siapapun, karena hatimu bukan milik istrimu."


Degghhh ....


"An ...."


"Pergilah, jangan paksa dirimu untuk berada di sini hanya karena tanggung jawab kepada anak-anak."


"Tapi An, aku benar-benar men ....."


"Stop,” kata Anna sambil meletakkan jarinya di bibir Gavin, "Jangan pernah mengatakan kalimat itu jika hatimu tidak benar-benar merasakannya."


"Pulanglah, pasti masih banyak pekerjaan yang harus kamu selesaikan selama Gia serta orang tuamu tidak ada. Aku akan menjaga diriku baik-baik. Juga Daddy dan anak-anak."


Dengan langkah gontai, Gavin akhirnya keluar dari kamar. Perasaan? hati? cinta? tanggung jawab? apa yang sebenarnya sedang ia perjuangkan.


Hari ini, Anna tidak pergi bekerja karema memang ia selalu mendapatkan jatah libur 1 hari dalam seminggu.


Anna menghampiri Dad Joe ke kamarnya,


"Dad."


"Iya An."


"Sarapan sudah siap. Ayo makan dulu."


"Baik, An. Daddy akan segera ke sana."


"Mana Gavin? apa dia tidak sarapan?"


"Dia sudah pulang."


"Apa kamu mengusirnya?" tanya Dad Joe.


"Aku hanya mengatakan kalau saat ini keluarganya dan perusahaannya pasti sangat membutuhkan dirinya. Tak ada alasan ia terus berada di sini."


"An, dengarkan Daddy. Kamu jangan terlalu kejam padanya. Gavin pria yang baik."


"Aku tahu Dad kalau ia adalah pria yang baik. Hanya saja aku ingin dia menyadari bagaimana perasaannya sendiri. Aku tidak ingin ia melakukan semua karena keterpaksaan."


"Baiklah, Daddy menyerahkan hal itu padamu, karena itu juga menyangkut hidupmu."


Dad Joe mulai melahap sarapannya, sesekali ia mengambil sayuran dan lauk yang disediakan di atas meja.


"Dad."


"Hmm ..."


"Semalam, Aunty Lia kemari. Katanya ada sesuatu yang ingin ia katakan pada Daddy."


"Benarkah?" Wajah Dad Joe terlihat bahagia.


"Ada apa, Dad? sepertinya Daddy senang sekali."


"Nanti Daddy akan mengatakannya padamu. Tapi, sekarang Daddy harus berbicara dulu pada Lia."

__ADS_1


Dad Joe langsung masuk ke kamarnya, menyambar jaket dan tas kecil miliknya.


"Daddy pergi sebentar ya sayang."


"Okay, Dad. Hati-hati."


**


Gavin pulang ke hotel. Ia memang menyewa sebuah kamar sejak kedatangannya ke Maastrich 2 hari yang lalu.


Bahkan ia tahu kalau ada mobil yang hampir saja menabrak Anna, karena memang dia mengikuti Anna sejak wanita itu keluar dari coffee shop.


Gavin mengeluarkan dompetnya, di sana ia melihat sebuah foto yang didalamnya adalah dirinya, Elisa dan juga Elle. Perlahan Gavin mengeluarkan foto tersebut dari dompetnya.


Sambil terduduk di atas karpet dengan sebelah kaki dilipat, Gavin termenung menatap foto itu.


"Kenapa kamu masih saja membayang-bayangi kehidupanku? Saat aku begitu mencintaimu, kamu justru mengkhianatiku. Ahhhh ..... pergilah dari pikiran dan hatiku. Aku juga ingin hidup bahagia,” ujar Gavin.


"Memang benar kata Anna, aku harus bisa menata hatiku dulu. Kalau tidak, aku akan menyakiti orang lain."


Gavin terus memandangi foto itu, menelisik ke dalam hatinya. Ia bersandar pada pinggir tempat tidur, memandang ke arah langit langit. Tak lama ia pun segera mengambil ponselnya.


"Jack, segeralah kembali."


"Tapi bos, kan baru 3 hari. Saya minta izinnya 1 minggu."


"Kamu mau kembali atau tidak usah bekerja lagi sama sekali?"


"Ya si bos, ngancem. Baiklah, saya segera kembali."


Gavin mematikan ponselnya, kemudian ia mengemasi barang-barangnya dan segera pergi ke bandara.


**


"Lia."


"Joe?! kamu di sini?!"


"Kata Anna, semalam kamu ke rumah dan ingin berbicara denganku."


"Ya, ini mengenai ..."


"Apa dia mau bertemu denganku?" tanya Joe penasaran dan harap-harap cemas


"Duduklah dulu dan minumlah ini. Kamu seperti habis berlari ratusan kilometer,” kata Lia tersenyum.


"Begitu mendengar perkataan Anna, aku langsung berangkat ke sini. Aku sudah tidak sabar mendengar apa yang ingin kamu katakan."


Cornelia kembali tersenyum, Joe memang tidak berubah.


"Sudah, kamu tenang dulu. Aku tidak bisa berbicara jika kamu seperti ini. Bisa-bisa nanti kamu pingsan."


"Apa kamu kira aku selemah itu?" tanya Joe.


"Mungkin saja. Kamu sudah tua sekarang,” kata Cornelia sambil tersenyum dan membuat Joe mengernyit.


"Aku hanya ingin mengatakan bahwa ia ingin bertemu denganmu."


"Benarkah? sungguh?"


Dari lantai atas terdengar derap langkah kaki menuruni tangga. Seorang wanita dengan kacamata berbingkai hitam berjalan mendekat.


"Daddy ...."

__ADS_1


"Kamu ...."


🌹🌹🌹


__ADS_2