
Gavin duduk di pinggir tempat tidur, menatap ke arah istrinya.
"Apa masih terasa sakit?" tanya Gavin.
Anna menggelengkan kepalanya.
"Tidurlah. Kamu harus banyak istirahat agar cepat pulih."
"Ya," Anna merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Namun matanya masih menatap lekat ke manik mata milik Gavin yang juga tak berhenti menatapnya.
Gavin kemudian mengecup kening Anna. Keduanya merasakan gelenyar aneh yang merasuki tubuh mereka, kehangatan dan membuat jantung mereka terasa terpompa begitu cepat.
Gavin menempelkan keningnya pada kening Anna, hingga jarak wajah mereka begitu dekat. Mereka bisa merasakan nafas masing-masing. Kini bibir Gavin perlahan mulai mengecup mata Anna, kemudian ke pipi, hidung, lalu turun ke bibir pink milik Anna.
Dengan perlahan Gavin menciumnya, kemudian melummatnya perlahan. Ia memainkan lidahnya dan berusaha membuka bibir Anna, agar ia dapat mengabsen setiap rongga mulut Anna.
Anna kemudian memalingkan wajahnya, ia mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Menghadapi ciuman Gavin, ia seperti tidak diberi waktu untuk bernafas.
Gavin kembali menghadapkan wajah Anna kepadanya, dengan memegang pipinya.
"Aku mencintaimu, bahkan sepertinya aku sangat mencintaimu," kata Gavin.
Kini bibir Gavin mulai menyusuri leher Anna, dan meninggalkan beberapa kissmark di sana. Tubuh Anna seperti tidak menolak dengan sentuhan yang diberikan oleh Gavin.
Kelembutan yang diberikan Gavin semakin lama semakin membuat Anna terbuai. Tangan Gavin mulai masuk ke dalam piyama yang digunakan Anna. Perlahan namun pasti, ia membuka pakaian Anna bagian atas, wajah Anna langsung bersemu merah.
Ini pertama kalinya ia berhadapan dengan Gavin dalam keadaan sadar.
Gavin mematikan lampu dan menyalakan lampu dinding, membuat suasana kamar menjadi remang remang.
"Aku akan pelan-pelan. Aku tak akan menyakitimu seperti dulu. Maafkan aku," kata Gavin penuh penyesalan.
Dengan kedua tangan kini Anna menangkup wajah Gavin. Ia memberanikan diri mencium bibir Gavin. Gavin yang seperti mendapat lampu hijau untuk melakukan lebih, kini sudah membuka pakaiannya. Ia juga membuka pakaian Anna hingga mereka berdua kini dalam keadaan polos.
Anna yang masih malu, memalingkan wajahnya dan agak menutup sebagian tubuhnya, tapi dengan perlahan Gavin mulai kembali mencummbunya. Ia kembali melummat bibir milik Anna, membuatnya rileks, sampai akhirnya ia melakukan penyatuan.
Sudah lama Gavin tidak menuntaskan hassrat di dalam dirinya. Ia tak pernah lagi menyentuh Elisa sejak malam ia dijebak.
Penyatuan yang ia lakukan dengan Anna saat ini memberikan kenikmatan yang begitu besar pada dirinya, bahkan berkali-kali lipat dibandingkan saat ia menikah dengan Elisa.
__ADS_1
Namun, ia tidak memaksakan hassratnya terus-menerus pada Anna. Saat mereka mencapai pelepasan bersama-sama, Gavin merebahkan diri di samping istrinya. Memeluk tubuh polosnya, kemudian mengecup keningnya. Ia mengambil selimut dan segera menutupi tubuh Anna yang polos.
Sebenarnya saat ia sedang memeluk Anna saat ini, keinginannya untuk kembali melakukan pergulatan begitu besar, namun ia menahannya karena ia tahu bahwa Anna masih dalam masa pemulihan.
"Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu. Terima kasih sudah hadir di dalam hidupku," bisik Gavin kemudian mengecup kening Anna yang mulai terlelap karena efek obat yang dikonsumsinya.
Gavin pun ikut terlelap sambil tetap memeluk Anna, istri yang sangat ia cintai.
**
"Bagaimana Dok? Apa sudah berhasil menghubungi Mommy saya?" tanya Elisa dengan wajah yang sudah pucat.
Dokter menggelengkan kepalanya, "Kami sudah mencoba menghubungi beliau, tapi nomor yang dituju tidak aktif."
"Mommy ...," kata Elisa sambil terisak, "Apakah Mommy meninggalkanku?"
"Apa ada kerabat lain yang bisa saya hubungi?" tanya Dokter.
Elisa akhirnya meminta dokter menghubungi adiknya, Peter. Sebelumnya Elisa juga berkata bahwa adiknya sedang ada di penjara. Selain itu, Elisa juga meminta untuk bertemu seseorang.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Gavin yang kini berdiri di depan ruang ICU. Ia dihubungi oleh pihak rumah sakit. Ia datang bersama dengan Anna.
"Apa ia sakit parah?" tanya Gavin.
"Ia terkena HIV," Gavin dan Anna pun tersentak kaget. Tak pernah menyangka Elisa akan mengalami dan menderita penyakit seperti itu.
"Apa kami bisa masuk?" tanya Gavin.
"Karena ini ruang ICU, yang boleh masuk hanya satu orang saja. Jadi sebaiknya anda berdua bisa bergantian."
Anna pun mengijinkan Gavin untuk masuk lebih dulu. Anna mengerti, meskipun Elisa adalah mantan istri suaminya, Gavin bukanlah orang yang menyimpan dendam terlalu lama.
Gavin menggunakan pakaian berwarna hijau dengan masker menutupi sebagian wajahnya. Ia masuk dan melihat keadaan Elisa. Wanita itu terlihat sangat kurus dan begitu pucat. Seorang aktris yang dulunya begitu menjadi favorit banyak orang, kecantikan dan aktingnya yang luar biasa, kini terbaring lemah, tanpa bisa melakukan apa-apa.
Elisa mengerjapkan matanya saat ia mendengar suara langkah kaki menghampirinya.
"Gavin ...," kata Elisa pelan, "Maafkan aku ..."
"Aku sudah memaafkanmu."
__ADS_1
"Terima kasih. Aku merasa bodoh telah menyia-nyiakan dirimu. Mungkin kini kamu akan menertawakanku," kata Elisa.
"Tidak, sudahlah, jangan bicarakan hal itu lagi. Aku sudah melupakannya. Saat ini aku sudah merasa bahagia bersama istri dan anak-anakku."
Elisa tersenyum, meskipun itu tidak menyembunyikan wajahnya yang pucat.
"Aku bahagia kamu telah memiliki keluarga yang menyayangimu. Sejujurnya aku iri akan semua yang dimiliki Anna saat ini, tapi itu juga karena aku yang telah menyia-nyiakan semuanya. Lucu bukan?" Elisa tersenyum pahit.
"Sudahlah. Aku akan membantumu untuk pulih," ujar Gavin.
Elisa menggelengkan kepalanya, "Kamu tidak perlu melakukan itu. Aku tahu umurku tidak lama lagi. Aku bisa merasakan penyakit ini terus menggerogoti diriku. Vin, apa kamu datang bersama dengan Anna? bolehkah aku bicara dengannya?"
Gavin mengangguk, ia keluar dan bergantian dengan Anna yang masuk ke dalam.
"Anna ... Maafkan aku. Banyak hal buruk yang telah kulakukan padamu, maafkan aku," kata Elisa sambil menitikkan air mata.
"Kak, aku memaafkanmu," Anna memegang tangan Elisa dan mengelus punggung tangannya.
"Terima kasih. Kamu memang wanita yang pantas mendampingi Gavin. Kamu berhati mulia, tidak sepertiku."
"Sudah kak, jangan terlalu banyak bicara. Kakak akan kelelahan."
"Aku takut, aku akan membawa kesalahanku ini sampai aku mati," Elisa terbatuk dan tiba-tiba ia merasakan sesak nafas. Anna langsung menekan tombol darurat untuk memanggil dokter.
Anna pun langsung keluar saat dokter dan perawat memasuki ruangan.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Gavin pada Anna.
"Aku tidak apa-apa. Apa ia akan baik-baik saja?" tanya Anna.
"Aku tidak tahu, tapi melihat keadaannya, kita tidak bisa berharap banyak," jawab Gavin.
Kini tampak di hadapan mereka seorang lelaki yang berada di antara petugas polisi. Tangannya masih diborgol dengan kepala sedikit menunduk.
Saat ia berada di depan ruangan ICU, ia mengangkat kepalanya dan matanya bertatapan dengan wanita yang ia cintai.
"Anna ..."
🌹🌹🌹
__ADS_1