TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#32


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 10 malam, para pembeli juga sudah tidak ada. Di Kota Maastrich ini memang tidak terlalu ramai kalau malam, tapi suasana sangat aman.


Anna yang hari ini mendapatkan shift kedua, merapikan meja-meja dan membersihkan beberapa cangkir terakhir.


Anna sudah diberitahu oleh Hanna bahwa Mr. Ken sudah pulang bersama dengan pria yang tadi datang dan berbicara dengannya. Anna cukup lega mendengar bahwa laki-laki itu sudah pergi.


Setelah membereskan barang-barangnya dan berganti pakaian. Anna segera mematikan lampu, kemudian mengunci pintu coffee shop tersebut.


Setelah Anna mengunci coffee shop tersebut, ia membalikkan tubuhnya. Tapi ia tak menyangka ternyata Gavin sudah berdiri di hadapannya.


Anna langsung berjalan pergi untuk menghindari Gavin. Sebisa mungkin ia akan menjauh dari laki-laki itu.


"Anna .... ," panggil Gavin.


Anna terus berjalan, tanpa menghiraukan Gavin


"Anna ... ," panggil Gavin lagi.


"Pergilah!" kata Anna.


"Aku perlu bicara denganmu."


"Tak ada yang perlu kita bicarakan. Kita tidak saling mengenal dan anggap kita tidak pernah bertemu," tegas Anna.


"Tapi kita harus bicara," Gavin ikut berjalan cepat mengikuti Anna


Anna yang tidak ingin jika Gavin mengikutinya sampai ke rumah, akhirnya menghentikan langkahnya.


"Katakan apa yang mau anda bicarakan Tuan Gavin, setelah itu pergilah."


"Aku ... aku minta maaf," kata Gavin pelan.


"Tak ada yang perlu dimaafkan. Anggap saja itu juga kesalahanku, bukan seratus persen kesalahanmu.”


"Tapi ... "


"Sudah, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Permisi ....," kata Anna, lalu melangkahkan kakinya pergi.


Gavin hanya bisa melihat kepergian Anna. Ia sudah meminta maaf, tapi perasaannya masih tidak tenang, seperti masih ada hal besar yang mengganjal di dalam hati dan pikirannya.


Saat ia melihat kembali ke arah Anna pergi, ia sudah tidak melihat sosok wanita itu.


"Wajah yang sama, namun pribadi yang berbeda. Persis seperti apa yang dikatakan oleh Gia."


Anna berjalan pulang dalam keheningan. Ia tak ingin meneteskan air mata lagi. Ia tak akan menangisi atau mengasihani kehidupannya. Setiap orang pasti memiliki jalan kehidupannya masing-masing dan mungkin inilah jalan kehidupan yang harus ia tempuh.


Sesampainya di rumah,


"Anna pulang!"


"Anna,” panggil Dad Joe


"Daddy belum tidur?" tanya Anna.


Saat ini Dad Joe sudah tidak menggunakan kursi roda lagi, ia sudah bisa berjalan dengan menggunakan tongkat ketiak atau sering disebut dengan Kruk.


"Belum, Daddy ingin bicara denganmu."


"Ada apa Daddy? apa yang ingin Daddy katakan?"


"Anna, kehamilanmu sudah memasuki trimester kedua, sebaiknya kamu jangan terlalu lelah atau pulang terlalu malam."

__ADS_1


"Tapi kan itu memang jam kerja Anna, Dad."


"Apa kamu tidak bisa meminta pada Ken untuk mengubah jam kerjamu menjadi shift pagi saja?" tanya Dad Joe.


"Mereka tidak mengetahui tentang kehamilanku, Dad. Aku juga tidak ingin mereka mengistimewakanku karena hal itu. Aku ingin teman-teman kerjaku mendapatkan shift secara bergantian. Mereka juga memiliki keperluan mereka masing-masing. Jangan karena diriku, mereka tidak bisa menjaga orang-orang yang mereka kasihi," kata Anna.


"Kamu begitu baik Anna. Daddy sangat menyayangimu."


"Anna juga sangat menyayangi Daddy. Daddy tenang saja, Anna pasti akan menjaga kandungan Anna dengan baik."


"Kapan kamu akan memeriksakan kandunganmu lagi?" tanya Dad Joe.


"Akhir minggu ini Dad,” jawab Anna.


"Perutmu sudah lebih besar meskipun belum terlalu terlihat. Kamu harus menjaga kesehatanmu, sayang," Dad Joe mengusap pucuk kepala Anna.


"Pasti Dad," Anna memeluk Dad Joe, "dan sekarang waktunya Daddy untuk istirahat, okay."


"Okay," kata Dad Joe sambil tersenyum.


**


Gavin berdiam di dalam kamar hotelnya. Untuk sementara ini, ia akan tetap berada di Maastrich. Ia juga tidak tahu apa yang dia inginkan dari wanita itu.


Permintaan maaf sudah ia lakukan, tapi kenapa masih ada yang mengganjal. Gavin memegang erat ponselnya, kemudian ia menghubungi Mom Clara.


"Halo, Mommy."


"Iya sayang," jawab Mom Clara.


"Bagaimana keadaan Daddy?"


"Apa dokter tidak bisa membangunkan Daddy?"


"Mommy juga kurang tahu. Jika melihat Daddy-mu saat ini, ia seperti sedang berada di alam mimpi. Ia tertidur. Lalu, bagaimana dengan keadaanmu?"


"Aku baik Mom. Aku masih di Maastrich."


"Apa yang kamu lakukan di sana? bukankah kamu ke Amsterdam."


"Aku mencari Mr. Ken, Mom."


"Apakah kamu bertemu dengannya?"


"Ya, dan aku meminta bantuannya untuk mencari Elisa. Aku ingin tahu apakah anak yang ia kandung adalah anakku."


"Tenanglah, Mr. Ken pasti akan segera menemukannya."


"Mom ... "


"Ya."


"Jika seorang wanita marah karena kesalahan kita padanya, dengan cara apa kita harus meminta maaf."


"Apa permintaan maafmu tidak diterima, sayang?"


"Dari mana Mommy tahu?"


"Mommy bisa merasakannya dari suaramu," kata Mom Clara lembut, "Yang diperlukan seorang wanita adalah permintaan maaf yang tulus. Itu bisa mereka rasakan dari perbuatan yang kita lakukan."


"Aku mengerti Mom, thank you."

__ADS_1


“Sama-sama, sayang.”


**


Keesokan harinya, Gavin menyempatkan dirinya untuk datang kembali ke coffee shop, tempat di mana Anna bekerja. Ia ingin minta maaf sekali lagi pada Anna, sebelum ia kembali ke Switzerland.


Tadi pagi, Mom Clara menghubunginya dan mengatakan bahwa Dad Chris sudah sadar. Hal itu sungguh merupakan kabar yang membahagiakan untuk keluarga Neutron.


Gavin harus kembali, karena ia ingin juga menjaga Dad Chris dan mengatakan bahwa Dad Chris tidak perlu kuatir lagi mengenai masalah perusahaan. Ia ingin Daddy-nya lebih banyak beristirahat dan memperhatikan kesehatannya mulai sekarang.


Gavin sudah berada di coffee shop selama 2 jam. Ia sudah menghabiskan 2 cangkir kopi dan belum ada tanda-tanda kedatangan Anna.


Apa hari ini dia shift malam lagi? - batin Gavin.


Dan benar saja, Anna datang untuk bergantian shift dengan Hanna. Hari ini mereka hanya berjaga berdua, karena Craig harus membawa Neneknya check up ke rumah sakit besar di ibukota.


Rencana mereka untuk mengunjungi Nenek Craig pun batal.


Saat ini Hanna sedang menyiapkan kopi untuk customer dan Anna segera berganti pakaian agar bisa membantu Hanna.


"Bri, aku yang salah lihat atau memang kamu terlihat lebih gemuk?" tanya Hanna.


"Kamu saja yang salah lihat," jawab Anna.


"Tapi lihat, perutmu menyembul lebih besar. Apa tadi kamu makan banyak hingga kekenyangan seperti itu."


Anna tersenyum, "Ya, aku makan banyak, soalnya aku kan harus kerja sampai malam, jadi aku perlu asupan makanan yang besar.”


Hanna pun tertawa mendengar jawaban Anna.


"Oya, Bri. Laki-laki yang kemarin, datang lagi," kata Hanna.


"Laki-laki yang kemarin?" Anna menautkan kedua alisnya.


"Iya, yang bertemu dengan Mr. Ken. Tuh, duduk di meja 10, sama seperti kemarin," kata Hanna sambil mengarahkan pandangannya ke meja 10.


Anna yang melihat arah pandangan Hanna pun melihat ke arah meja 10. Ia tak menyangka, ternyata Gavin sedang melihat ke arah dirinya, mata mereka pun beradu.


"Apa dia mau bertemu Mr. Ken lagi?" tanya Hanna.


"Aku mana tahu. Sudah diamkan saja," jawab Anna.


Setelah Hanna pulang, Gavin masih juga berada di sana. Hal itu membuat Anna menjadi semakin risih dengan keberadaannya karena ia seperti diawasi.


Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Gavin masih berada di sana, meskipun ia sudah tidak memesan makanan ataupun minuman lagi.


Gavin bangkit berdiri dan menghampiri konter penerimaan pesanan.


"Anda mau pesan apa, Tuan?" tanya Anna.


"Apa jam kerja kamu seperti kemarin?" tanya Gavin


"Maaf Tuan, anda mau pesan apa?"


"Aku ingin bicara sekali lagi. Bicara baik-baik."


Anna menghela nafasnya. Jujur, ia tak pernah berurusan dengan laki-laki seperti ini, dan ia juga tak ingin membiarkan hal ini jadi semakin berlarut-larut.


Pelanggan tidak terlalu banyak, Anna mengajak Gavin untuk duduk di salah satu meja kosong dekat konter.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2