
Benar saja, 1 jam kemudian, 2 laki-laki bertubuh gempal masuk ke dalam ruangan tersebut, sambil membawa nampan berisi makanan.
Mereka membuka ikatan di tangan kaki Gia dan Anna. Setelah itu mereka langsung pergi ke luar, menjaga di depan pintu, memberi waktu Anna dan Gia untuk makan.
Anna dan Gia mengambil makanan tersebut kemudian memakannya. Mereka harus makan karena mereka butuh tenaga untuk menghajar para penjaga.
"Apa kamu yakin An akan melakukannya? Kamu kan sedang hamil besar," tanya Gia.
"Aku tahu. Tapi masa aku membiarkanmu melakukannya sendiri. Bisa-bisa aku bebas dari sini tapi kena omel Uncle dan aunty karena anak kesayangannya babak belur," kata Anna sambil tersenyum.
"Ya sudah, tapi kamu yang gampang-gampang saja ya."
"Apa tuh maksudnya yang gampang-gampang?"
"Yaaaa jangan yang pakai tenaga terlalu besar atau bergaya terlalu ekstrim."
Anna tidak dapat menahan tawanya. Untung saja ada Gia di sini yang bisa menghiburnya, meskipun saat ini otaknya juga sedang berpikir, bagaimana cara ia kabur dari sini dan bisa menemukan Dad Joe.
"Apa kamu pernah melihat keadaan sekeliling?" tanya Gia sambil mendekat ke arah jendela dan memeriksa bagian luar
"Belum, aku selalu disekap di dalam ruangan, baru kali ini aku berada di ruangan yang memiliki jendela," jawab Anna.
"Kalau kita sudah melumpuhkan para penjaga yang ada di sini, kita harus tahu dimana mereka menyekap Uncle Joe."
Anna menunduk lesu, "Aku malah tidak yakin Daddy berada di sini. Ada kemungkinan mereka menyekapnya di tempat lain. Kalau Daddy disekap di sini, pasti sudah di sini bersama kita. Bukankah akan lebih mudah mengawasi kita dalam 1 tempat ..."
Gia membenarkan pemikiran Anna.
Setelah mereka selesai makan, mereka mengambil sendok yang mereka gunakan. Anna memegang nampan yang digunakan untuk membawa makanan mereka dan bersembunyi di lekukan dinding, sementara Gia tetap duduk.
"Apa kamu siap An?" tanya Gia.
"Ya, aku siap!"
"Heiiii!!!! sudah selesai! apa kalian tidak ada makanan lebih? Aku masih lapar,” teriak Gia dari dalam ruangan.
1 dari 2 orang yang tadi membawakan makanan masuk.
"Bisa tidak jangan berteriak? Atau kamu sudah kelebihan tenaga karena diberi makan?" kata salah satu penjaga yang masuk sambil berkacak pinggang.
Penjaga itu berjalan mendekati Gia, tanpa menyadari bahwa Anna tidak ada di sana. Semakin maju, Anna yang kini berada di belakang penjaga tersebut, dengan kekuatannya melayangkan nampan yang terbuat dari kayu tersebut ke arah kepala penjaga tersebut.
"Arggghhh!!!" teriak penjaga tersebut kesakitan.
Gia langsung mengambil kuda-kuda dan menendang perut penjaga tersebut, sedangkan Anna menendang titik belakang lututnya.
__ADS_1
Penjaga itu terjatuh, dan berteriak pada temannya yang berada di luar ruangan. Kini ada 2 orang yang harus mereka lawan. Anna dan Gia berdiri bersebelahan sambil mengepalkan kedua tangan mereka.
"An, kamu urus yang satu itu, lebih kurus," ujar Gia.
"Kurus-kurus tapi sepertinya lincah," balas Anna.
"Atau kamu mau yang sebelahnya?"
"Tidak ah ... nanti perutnya saingan denganku," ujar Anna sambil tersenyum.
"Kalian jangan banyak bicara! kami akan membuat kalian diam," ujar salah satu penjaga.
Anna mengetahui bahwa kondisinya tidak memungkinkan dia untuk mempraktekkan ilmu bela diri. Tapi saat ini, ia harus berusaha kabur dari sini, ini juga demi keselamatan anak-anaknya, itu yang paling penting.
Dengan kekuatan dan kecepatannya, Anna menendang dagu penjaga tersebut, dan membuatnya langsung sempoyongan dan terjatuh.
"Ya ampun An, ternyata kamu masih luar biasa," puji Gia.
Sementara Gia sedang berhadapan dengan seorang penjaga yang memiliki tubuh paling besar di antara tiga penjaga itu.
Matanya menatap tajam ke arah penjaga itu. Anna mengeluarkan sendok yang tadi ia simpan, kemudian dengan keahliannya, ia melempar sendok tersebut dengan bagian belakang yang memiliki bentuk agak runcing menghadap ke arah penjaga.
Sendok tersebut melesat dan tepat mengenai sebelah matanya.
"Arggghhh .... kurang ajar!!!" teriak penjaga itu sambil memegang matanya yang masih tertancap sendok.
Tiba-tiba terdengar suara mobil polisi dari luar bangunan, membuyarkan pikiran mereka. Di luar juga terdengar teriakan beberapa orang penjaga yang memerintahkan mereka untuk berlari ke arah belakang, yang ternyata menuju ke sebuah hutan.
Anna yang ingin berjalan menuju Gia tidak sadar kalau ternyata penjaga yang tadi ia tendang sudah mulai sadar dan langsung memegang kakinya. Anna yang tidak dapat mengatur keseimbangan tubuhnya dengan gerakan tangan yang tiba-tiba itu, akhirnya terjatuh.
"Ahhhh ....," teriak Anna.
Gia yang melihatnya langsung kembali menendang penjaga tersebut dan menolong Anna.
"An, kamu tidak apa-apa?" tanya Gia.
Di luar terdengar suara-suara memanggil-manggil mereka.
"Kakkk, aku di sini!" teriak Gia membalas panggilan. Ia mengenali suara kakaknya, kemudian ia kembali melihat Anna yang sepertinya sedang menahan sakit yang amat sangat.
Pintu dibuka dari luar, masuklah Gavin, Jack, dan Lexy.
"Kak, tolong bantu Anna," pinta Gia.
Terlihat darah segar dari celana panjang yang digunakan Anna. Darah tersebut terserap di celana.
__ADS_1
"Tolong .... tolong, perutku sakit. Anakku .... tolong anakku," pinta Anna sambil terbata-bata.
"Anakku!" ujar Gavin yang langsung mengangkat tubuh Anna dan membawanya keluar.
Jack langsung menolong Gia, sedangkan Lexy hanya melihatnya. Gia pun tidak berani menatap mata Lexy. Ia belum meminta maaf soal ciuman itu dan ia sedang bingung caranya meminta maaf.
Lexy menyetir mobil tersebut, di sebelahnya adalah Jack. Sedangkan Gavin masih memegang Anna dengan Gia di sampingnya.
"Bertahanlah, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit," kata Gavin pada Anna.
"An, maafkan aku. Aku tidak lihat kalau penjaga itu ternyata tersadar dari pingsannya," Gia masih merutuki kelalaiannya.
Anna yang lemas, tidak mampu menjawab ataupun membalas perkataan mereka, ia hanya bisa tersenyum, sebagai tanda bahwa ia tidak apa-apa.
"Anakku, Tuhan tolong selamatkan anakku," gumam Gavin yang masih bisa dengan jelas didengar oleh Anna.
Sesampainya mereka di rumah sakit, Gavin langsung menggendong Anna menuju bagian emergency, diikuti oleh Gia dan Jack, sementara Lexy memarkir mobil mereka.
Gavin meletakkan Anna di atas brankar, seorang dokter dan seorang perawat mendatanginya.
"Dok, selamatkan anakku, selamatkan anakku," kata Gavin berulang-ulang.
"Baik, Tuan. Kamu akan berusaha," kata sang Dokter sambil membawa Anna ke dalam suatu ruangan.
Gia yang mendengar semua perkataan Gavin, langsung berdiri mendekati kakaknya, dan tanpa pikir panjang sebuah pukulan mendarat di wajah Gavin.
Jack yang melihatnya langsung menahan tubuh Gia yang hendak kembali memukul Gavin.
"Kakak jahat!!!"
"Gi! kenapa kamu memukulku?" tanya Gavin.
Lexy yang baru saja datang setelah memarkirkan mobil dan menghubungi Dad Chris, kaget melihat pemandangan antara Gavin dengan Gia.
"Kak, apa yang kakak pikirkan? berani sekali kakak mengucapkan itu," teriak Gia sambil menangis.
"Apa .... apa salahku?" ujar Gavin kebingungan.
"Apa benar kakak yang menghamili Anna?" tanya Gia dengan tangan mengepal.
"Ya, kakak yang melakukannya. Tapi itu karena ada yang menjebak kami," jawab Gavin, "Bukan sepenuhnya kesalahanku."
"Yaaa, mungkin itu bukan sepenuhnya kesalahan kakak. Tapi kakak barusan mengatakan untuk menyelamatkan anak kakak, lalu bagaimana dengan Anna? apa kakak akan membiarkannya mati demi anak kakak?" teriak Gia sambil menangis.
"Aku ... aku .... tidak bermaksud begitu. Maksudku ... ," Gavin seperti menyadari perkataannya, dan ia juga melihat Anna hanya tersenyum saat ia mengatakan itu.
__ADS_1
🌹🌹🌹