
"Anna, kamu tidak bekerja hari ini?" tanya Dad Joe.
"Tidak Dad, aku mau pergi ke dokter, mau mengatur jadwal terapi Daddy bulan ini," kata Anna berbohong.
"Apa kamu sudah minta izin pada Ken?"
"Sudah sejak kemarin, Dad,” jawab Anna.
"Baiklah kalau begitu. Kamu hati-hati ya."
"Bye, Dad!"
Menggunakan jaket dan syal yang menutupi lehernya, Anna berusaha menghilangkan rasa dingin yang mulai muncul di akhir tahun ini.
Dengan menaiki bis, ia menuju ke rumah sakit tempat Dad Joe biasa menjalani terapi. Anna tidak sepenuhnya berbohong, ia memang akan mengatur jadwal terapi Dad Joe, tapi ia juga akan memeriksakan dirinya.
Sesampainya di rumah sakit, ia langsung masuk menuju ruang dokter Peter. Setelahnya, ia menuju ke bagian pendaftaran rawat jalan.
Ia mengantri sebelum mendapat panggilan untuk melakukan pemeriksaan.
"Miss Brianna Harland."
Anna pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke ruang pemeriksaan.
"Apa keluhan anda Miss?" tanya sang dokter.
"Belakangan ini saya merasa cepat lelah saja dok."
Dokter meminta Anna merebahkan diri di atas brankar pemeriksaan, dibantu oleh seorang suster.
"Anda sendirian saja Miss?"
"Iya dok, apa ada masalah yang serius?"
Dokter itu tersenyum, membuat Anna menjadi bingung.
"Tidak Miss, tidak ada masalah yang serius."
"Lalu?"
"Selamat, anda sedang hamil."
Hamil? tidak! aku tidak boleh hamil! - batin Anna.
"Setelah ini sebaiknya anda pergi menemui dokter kandungan untuk mengetahui usia kandungan anda."
"Terima kasih, dok."
Dengan langkah gontai, Anna keluar dari ruangan. Ia tak pernah menyangka masalah yg ia hadapi menimbulkan masalah baru, yang bahkan bertambah pelik.
__ADS_1
Dengan menggunakan bus, ia kembali pulang.
"Anna pulang!" teriaknya seperti biasa.
Ia langsung masuk ke dalam kamar tidurnya, meletakkan tas nya dan duduk di pinggir tempat tidur.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya, "Apa aku gugurkan saja kandungan ini, Daddy tidak akan tahu dan tidak akan ada yang tahu."
Ia kembali meraih tas-nya,
"Daddy, Anna keluar sebentar."
Anna berjalan kaki menuju sebuah apotik yang ada di dekat rumahnya.
"Bisa saya bantu, Nona?"
Dengan langkah ragu-ragu Anna bertanya, "Apa ada obat untuk menggugurkan kandungan?"
Penjaga apotik yang merupakan seorang wanita tua tersenyum, ia seakan mengerti. Namun, ia tak ingin menghakimi siapa-pun.
Wanita itu keluar dari balik konter penjualan, kemudian mengajak Anna untuk duduk di sebuah sofa yang disediakan di sana.
"Sayang, siapa namamu?"
"Anna, Brianna."
"Nama yang cantik. Mengapa kamu mau menggugurkan kandunganmu, sayang? apa suamimu memaksamu?"
"Aku ... aku tidak punya suami. Aku dipaksa melakukan itu,” Anna masih menunduk dan menggenggam erat tangannya sendiri.
"Lihat aunty sayang. Aunty pernah mengalami sepertimu, berada di posisi yang sama sepertimu. Memang tidak ada rasa yang nyaman di sana. Tapi, bayimu tidak bersalah."
Anna menatap wanita tua itu dengan mata berkaca-kaca.
"Ia tak pernah minta untuk dilahirkan. Kamu tahu sayang, aunty sangat yakin kamu adalah wanita yang kuat. Ingat, Tuhan tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan kita."
"Jangan melakukan sesuatu yang nantinya akan kamu sesali. Percayalah, akan ada pelangi sehabis hujan."
"Aunty, aku ... bagaimana aku mengatakan ini pada Daddy? ia pasti akan marah dan malu memiliki putri sepertiku," kata Anna.
"Semua orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Aunty yakin Daddy-mu pasti sangat menyayangimu. Ia tidak akan malu memiliki anak yang kuat menghadapi masalah."
"Aunty, terima kasih. Apa aku boleh mampir ke sini lagi?" tanya Anna.
"Tentu saja sayang, tempat ini akan selalu terbuka untukmu. Aunty sangat senang bisa mengenalmu."
"Tapi, aku belum mengetahui namamu aunty."
"Cornelia, panggil aunty Lia saja."
__ADS_1
"Thank you aunty, thank you," Anna memeluk Cornelia dengan erat, seperti memeluk seorang ibu.
**
Anna berjalan pulang, ia tidak jadi membeli obat penggugur kandungan. Ia sebenarnya juga tahu obat seperti itu pasti tidak dijual secara bebas, tapi pikirannya seperti memberontak saat mengetahui dirinya sedang mengandung.
"Anna pulang!"
"Anna, kamu pergi ke mana lagi tiba-tiba seperti itu?" tanya Dad Joe.
"Ke apotik."
"Apa kamu sedang sakit, sayang?" tanya Dad Joe kuatir.
"Tidak Daddy. Anna .... Anna, ingin bicara sesuatu dengan Daddy."
Anna mendorong kursi roda milik ayahnya menuju ke ruang tamu, kemudian ia tiba-tiba berlutut di hadapan Dad Joe.
"Anna, apa yang kamu lakukan?" Dad Joe memegang lengan Anna, berharap putrinya itu segera bangkit dan duduk di sofa yang ada di hadapannya.
"Biarkan Anna seperti ini dulu, Dad," Anna menunduk, mengumpulkan kekuatan dan keberaniannya untuk mengatakan semuanya pada Daddynya.
"Kamu sedang dalam masalah, sayang?" tanya Dad Joe lembut.
Mendengar perkataan Dad Joe, sontak membuat Anna menangis.
"Katakan sayang, Daddy akan mendengarkanmu."
Kemudian Anna menceritakan semuanya, dimulai sejak ia bertemu dengan Boris, dengan Tuan Antonio, dan perjalanannya ke Paris.
Anna menceritakan tragedi yang menimpa dirinya, sambil masih berlinang air mata.
Tiba-tiba tangan Dad Joe terangkat, Anna berusaha menutupi wajahnya dengan lengannya. Tapi tak disangka Dad Joe justru mengusap pucuk kepalanya.
"Maafkan Daddy, maafkan Daddy. Ini semua terjadi karena kesalahan Daddy. Seharusnya Daddy tidak pernah berhutang pada Tuan Antonio. Maafkan Daddy karena membuatmu mengalami semua ini."
"Tidak! ini bukan salah Daddy. Ini salah Anna yang tidak bisa menjaga diri. Seharusnya Anna bisa menggunakan kemampuan bela diri Anna."
Anna meletakkan kepalanya di pangkuan ayahnya dan Joe pun meletakkan tangan dan mengusap kepala putrinya dengan lembut.
"Sayang, Jangan pernah kamu mencoba menggugurkan kandunganmu itu. Bayi itu tidak bersalah, mengerti?"
"Daddy .... "
"Anak itu adalah berkat, tidak setiap orang diberikan kesempatan untuk menjadi orang tua. Kamu adalah wanita yang kuat Anna dan Daddy akan menjagamu, menjaga cucu Daddy."
"Terima kasih Daddy, Anna sayang Daddy."
"Daddy juga menyayangimu sayang, jangan pernah kamu lupakan itu. Kamu adalah segalanya bagi Daddy."
__ADS_1
🌹🌹🌹
Cinta orang tua tidak dapat diukur, kasihnya akan ada selamanya.