TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#30


__ADS_3

"Nona Arianna Howard."


"Ya, Tuan Nicholas," jawab Arianna dengan nada manja.


"Saya lihat anda tidak menampik semua pemberitaan mengenai hubungan anda dengan keponakan saya."


Arianna tersenyum, "Tentu saja itu tidak perlu, media akan melihat dengan sendirinya bagaimana sebenarnya kedekatan hubungan kami."


"Apa anda tidak merasa berada di dalam hubungan suatu keluarga?" tanya Nicholas.


"Tentu saja .... Tidak," Arianna tertawa, "Jika ia mencintai istrinya, tentu ia tidak akan menerima tawaran saya untuk makan malam berdua. Bukankah makan malam seperti itu sangatlah romantis ..."


"Nona Arianna."


Arianna bangun dari duduknya, dan menghampiri Nicholas.


"Atau jangan-jangan, anda juga ingin makan malam denganku?" Kata Arianna dengan suara manjanya.


Nicholas yang mendengarnya diam saja, hanya memasang wajah datar. Tiba-tiba saja Arianna duduk di sebelah Nicholas. Saat ini mereka memang sedang duduk di sebuah sofa panjang.


"Tuan Nicholas, apa anda lebih suka aku bersamamu? apa kamu cemburu melihat kedekatanku dengan keponakanmu itu?" tanya Arianna.


"Jaga bicaramu, Nona Arianna," Nicholas mulai memberikan jarak antara dirinya dan Arianna.


Arianna kembali mendekatkan tubuhnya pada Nicholas dan memegang dada Nikolas. Dengan cepat Nicholas langsung menghempaskan tangan Arianna.


"Anda masih sangat tampan dan gagah Tuan Nicholas. Aku tahu kamu pasti laki-laki yang sangat kuat, bukan begitu? dan aku siap menandingi kekuatanmu." Arianna langsung mendudukkan tubuhnya di pangkuan Nicholas dengan wajah mereka yang saling berhadapan.


Nicholas sudah mulai geram dengan sikap Arianna dan ia ingin sekali melemparkan wanita ini langsung keluar dari ruangannya. Tapi ia ingin melihat sampai sejauh mana wanita ini akan bertindak.


Dengan kedua tangannya, Arianna menangkup wajah Nicholas dan mulai berkata,


"Lihatlah, anda begitu tampan. Dengan garis wajah yang sangat tegas. Ahhhh, sepertinya aku sudah tidak tahan lagi. Tuan, puaskanlah aku," ujar Arianna sambil perlahan membuka tali gaunnya.


Namun dengan cepat, Nicholas menghempaskan wanita itu hingga Arianna jatuh terjerembab di hadapannya.


"Ahhh .... ," teriak Arianna.


"Nona Arianna Howard. Dengan ini, saya memutuskan untuk menghentikan kerja sama kita. Untuk masalah kontrak, saya rasa saya tidak perlu membayar denda atau apapun juga, karena anda sendiri yang telah melakukan tindakan tidak senonoh yang akan merusak reputasi perusahaan kami."


"Anda tidak bisa memutuskan kontrak begitu saja, anda tetap harus membayar denda. Anda tidak memiliki bukti apapun yang akan menjatuhkan saya."


Tiba-tiba pintu ruang kerja Nicholas terbuka,


"Uncle, biar aku yang menyelesaikan ini," ujar Gavin.


Nicholas mengangkat tangan ke arah Gavin, "tidak perlu, aku sudah dengan resmi menghentikan kontrak kerja sama kita. Lexy! berikan surat putusan itu."


Lexy yang sedari tadi berdiri di depan pintu, memberikan surat tersebut kepada Arianna. Sementara sang manager pun ditahan oleh Lexy agar tidak memasuki ruangan.


"Anda tidak bisa seenaknya melakukan ini,” kata Arianna.


"Tentu saja bisa, atau .... saya perlu memutar kembali video ini?" Kata Nicholas sambil memperlihatkan rekaman kejadian saat Arianna sedang menggoda Nicholas, dan tentu saja dengan suara yang sangat jelas."


"Sejak kapan ruang CEO menggunakan CCTV?" ujar Arianna.

__ADS_1


"Sejak hari ini," kata Niko sambil tersenyum, "Dan Gavin, masalahmu sudah selesai. Kamu tidak perlu khawatir mengenai cacing betina ini. Aku akan pastikan, karirnya di dunia entertainment tidak akan lama lagi," ujar Nicholas.


Arianna yang kesal langsung bangkit berdiri dan pergi dengan menghentakkan kakinya, "Mam, jalan!"


Sang manager pun mengekor di belakang Arianna.


"Uncle, mengapa Uncle melakukan ini?" tanya Gavin.


"Ini bukan ideku, tapi ide Lexy," sambil melirik ke arah Lexy, "Lexy sudah memeriksa bahwa Arianna adalah pribadi yang sangat haus belaian," Nicholas ingin tertawa saat mengucapkannya.


"Orang tuanya sering bepergian, sehingga dia membutuhkan seseorang di sampingnya. Tanpa banyak orang ketahui, bahwa Arianna sering membawa laki-laki ke apartemennya, dan kita mempunyai semua bukti-bukti itu," kata Lexy.


"Ya ampun Uncle Lexy, kamu sangat jenius," puji Gavin.


"Lalu, bagaimana jika sekarang kita merayakannya dengan makan siang?" Kata Nicholas


"Baiklah, aku yang akan mentraktir Uncle berdua, sebagai ucapan terima kasihku."


Mereka pun tertawa bersama.


**


"Uncle Lexy, aku benar-benar tidak mengira ide itu berasal darimu. Aku baru saja ingin mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini, ternyata Uncle sudah action aja," kata Gavin sambil tertawa.


"Uncle Lexy mu ini memang orang hebat Vin, hanya saja ia jarang menunjukkannya."


Mereka pun makan sambil terus mengobrol.


Ponsel Gavin berbunyi,


"Kak ...."


"Ada apa, mengapa kamu menangis?" tanya Gavin kuatir.


"Daddy ... "


"Ada apa dengan Daddy?”


"Daddy masuk rumah sakit. Saat ini Daddy belum sadarkan diri."


"Kenapa tidak mengabariku?"


"Sebenarnya Mommy melarangku memberitahu kakak, tapi aku tak mau kakak tidak tahu apa yang terjadi pada Daddy. Aku takut .... "


"Tenanglah, kakak akan segera kembali,” Gavin mematikan sambungan ponselnya.


"Ada apa, Vin?" tanya Nicholas.


"Daddy masuk rumah sakit, dan belum sadarkan diri."


"Apa yang terjadi?"


"Aku belum tahu pasti, Gia juga mengabariku secara diam-diam karena Mommy tidak ingin menggangguku."


"Clara ... Clara .... seperti biasa, ia ingin menanggung semua sendirian,” gumam Nicholas.

__ADS_1


"Uncle, aku minta izin untuk kembali," pinta Gavin.


"Pulanglah. Mengenai pekerjaanmu di sini, tenang saja, Niel akan mengambil alih."


"Apa Niel mau?"


"Tentu saja, karena dia sudah tidak perlu berurusan dengan wanita karet."


"Wanita karet?" tanya Gavin.


"Ya, itu sebutan Niel untuk Arianna. Wanita yang tidak pernah menghargai orang lain dan tak menghargai waktu," jelas Lexy.


"Dan tidak punya harga diri," sambung Nicholas. Ketiganya pun tertawa.


"Uncle, aku kembali ke rumah dulu, aku harus membereskan barang-barangku."


"Pergilah. Aku akan meminta Lexy untuk menyiapkan penerbanganmu malam ini."


"Baik Uncle, thank you."


Nicholas menepuk pundak Gavin, memberikannya support.


**


Perjalanan panjang kembali ia tempuh. Saat kakinya menyentuh kembali di Switzerland, ia menghirup kembali udara yang sangat ia rindukan, tanah kelahirannya.


Jack menjemputnya dan langsung menuju ke rumah sakit tempat Dad Chris dirawat.


"Bagaimana keadaan Daddy, Jack?" tanya Gavin di perjalanan.


"Tuan Chris sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa, hanya saja beliau masih belum sadarkan diri."


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Dokter berkata bahwa Tuan Chris mengalami kelelahan, juga stres. Selain itu, cedera otak sebelumnya membuatnya menjadi lebih parah."


"Cedera otak? Apa yang sebenarnya terjadi dengan Daddy?"


"Tuan Chris dulu sebelum menikah dengan Nyonya Clara, pernah menjadi korban penusukan. Selain itu, ia juga disuntikkan semacam obat yang membuatnya menjadi koma dan tidak sadarkan diri."


"What? Kenapa aku baru tahu mengenai hal ini?" ujar Gavin.


"Sepertinya Tuan dan Nyonya memang menutup rapat peristiwa ini. Ini berhubungan dengan masa lalu Tuan dan Nyonya."


Gavin tidak mengira bahwa Dad Chris pernah mengalami peristiwa seperti itu.


"Oya Jack, siapkan tiket ke Amsterdam untukku. Aku akan memeriksa sendiri mengenai resort kita yang berada di sana."


"Baik Bos. Apakah saya ...."


"Tentu saja kamu ikut, aku tidak akan membiarkanmu bersantai di sini," ujar Gavin.


Jack hanya bisa menghela nafasnya dan mencebik kesal.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2