TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#28


__ADS_3

"Uncle Lexyyy!!" Gia yang saat ini sudah berada di sebuah taman hiburan berteriak karena senang.


"Ada apa Gift?" tanya Lexy.


"Uncle, bagaimana kalau kita bermain yang itu, lalu yang itu, kemudian yang itu, itu, dan itu," kata Gia sambil menunjuk semua permainan yang bisa ia lihat dengan mata berbinar dan senyum di wajahnya.


"Terserah padamu, asalkan kamu senang."


"Benarkah? kalau begitu Uncle harus terus mengikutiku," Gia yang terlalu senang, memancarkan rona merah pada pipinya. Lexy yang melihatnya tiba-tiba kembali merasakan getaran di dalam hatinya.


Tidak, ini tidak boleh .... - batin Lexy.


"Uncle, ayo!" Gia meraih lengan Lexy dan menariknya, mengajaknya menaiki sebuah wahana.


Lexy yang ditarik oleh Gia hanya bisa mengikutinya. Mereka bermain dari pagi hingga sore hari. Lexy pun takjub melihat Gia yang sepertinya tidak mengenal rasa lelah sama sekali.


"Gift, apa kamu tidak lelah?" tanya Lexy.


"Tentu saja tidak, Uncle. Ini masih belum ada apa-apanya. Aku malah pernah bermain wahana bersama sahabat-sahabatku dari pagi, sampai malam, lalu kami tidak tidur lagi sampai pagi hanya untuk mengobrol dan bercerita." Tiba-tiba Gia merasa sedih saat membayangkan kenangan itu.


"Kamu kenapa Gift?" tanya Lexy.


"Uncle, apa aku seorang sahabat yang buruk?"


"Mengapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu?"


"Sahabatku pergi meninggalkan aku, tanpa mengirimkan satu pesan pun padaku. Apakah aku seburuk itu?"


"Ia pasti memiliki alasan yang tidak dapat ia ceritakan padamu. Berilah ia waktu, jika ia sudah bisa mengatasi permasalahannya, ia pasti akan menghubungimu."


"Benarkah itu, Uncle?"


"Ya, tentu saja. Tenanglah," Lexy mengusap pucuk kepala Gia dan tanpa sadar Gia melingkarkan tangannya di pinggang Lexy serta menyandarkan kepalanya di dada Lexy.


Ya ampun Gift, apa yang kamu lakukan? - batin Lexy.


"Uncle, mengapa jantung Uncle berdetak dengan cepat?" tanya Gia polos.


"Sepertinya Uncle kelelahan," jawab Lexy sekenanya.


"Uncle, apa Uncle juga lelah menemaniku hari ini?"


"Tidak, bukan itu maksud Uncle. Sepertinya Uncle sudah tua," kata Lexy sambil tertawa.


"Uncle belum tua, lihatlah .... mata yang tajam, alis yang tebal, kulit yang masih kencang, Uncle masih tampan dan gagah," kata Gia sambil memegang wajah Lexy dan menatapnya.

__ADS_1


Sebentar mereka saling menatap, kemudian mereka tersadar dan memalingkan wajah masing-masing.


"Sebaiknya kita pulang sekarang, Gift," ujar Lexy.


"Baiklah, tapi kita makan dulu ya Uncle, aku sudah lapar."


"Baiklah."


**


Lexy berbaring di tempat tidurnya, ia masih tak dapat memejamkan matanya.


Hari ini memang hari yang cukup melelahkan baginya, tapi juga hari yang luar biasa bagi hatinya. Ia merasa senang bisa berjalan bersama Gia.


Setiap ia bersama dengan gadis kecilnya itu, ntah mengapa hatinya terasa nyaman. Hanya dengan memandang wajahnya, serasa semua beban di pundaknya hilang.


Lexy menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berusaha untuk menghilangkan pikiran itu.


"Tidak! sudah kukatakan tidak ... jangan kamu berulah," kata Lexy sambil menunjuk pada dadanya.


Tapi yang juga menyita pikirannya adalah perbincangannya dengan Gia tadi saat mereka makan bersama.


"Joe, Joe Harland .... apakah benar itu dirimu?" gumam Lexy.


Sudah lama mereka tidak saling berjumpa, sejak Joe pergi dan menghilang.


Saat itu Lexy dan Ken tidak dapat menemukan Joe. Itu pasti karena Joe mengetahui bagaimana cara kerja Lexy dan Ken sehingga ia tahu bagaimana caranya menyembunyikan diri.


Apakah ini waktunya kita bertemu lagi, Joe? - batin Lexy, "Jujur, aku merindukan saat-saat kita berkumpul bersama."


**


Gavin, ditemani oleh Lexy, mengantarkan Gia menuju bandara.


"Aku akan sangat merindukanmu, Uncle," kata Gia sambil memeluk Lexy.


"Aku juga akan merindukanmu."


"Apa kamu tidak merindukanku?" tanya Gavin yang sedari tadi hanya bisa melihat kedua orang tersebut saling mengucapkan kata-kata perpisahan.


"Tidak," kata Gia sambil melambaikan tangannya.


"Hei!" teriak Gavin tak terima dengan jawaban Gia.


"Kak, aku sudah hidup bersamamu selama 25 tahun, apa itu tidak cukup bagimu? Apakah kamu sangat menginginkan aku merindukanmu?" Gia sengaja meledek Gavin.

__ADS_1


"Ishhh, jangan bangga. Aku hanya pura-pura bertanya."


"Yakin kak hanya pura-pura? kamu yakin tidak akan merindukan teriakanku yang aku tahu sudah masuk ke dalam hati dan pikiranmu. Atau kamu masih merindukan wanita ular itu?" dengan tiba-tiba Gia menyinggung tentang Elisa.


"Hentikanlah, aku tidak ingin membicarakannya, aku hanya menginginkan anak itu, jika memang itu adalah anakku,” ungkap Gavin.


"Lebih baik kakak mencarinya dan jangan hanya meminta kebenaran dari mulutnya. Wanita seperti dia sukar untuk dipercaya setiap omongannya. Oya Uncle, apa kamu tahu cara menemukan seseorang?"


"Tentu saja. Siapa?"


"Sahabatku, yang semalam kuceritakan pada Uncle."


Tanpa kamu minta pun aku akan mencarinya, karena Daddy-nya adalah sahabatku. - batin Lexy.


"Tentu saja, kamu hanya perlu memberikan namanya padaku. Aku akan mencarikan dia untukmu."


"Uncleee!!!! kamulah yang terhebat!" secara mendadak Gia melompat dan memeluk Lexy yang tidak siap, hingga tiba-tiba mereka terjatuh dengan posisi Lexy berada di bawah dan Gia di atas.


Mereka kembali saling menatap, mata mereka bertemu, kembali ada kilatan dan getaran dalam hati mereka masing-masing yang tidak mereka sadari.


"Ohhh sorry, Uncle. Aku terlalu senang!"


"Kebiasaan ... ," kata Gavin sambil menggelengkan kepala saat melihat kelakuan Gia.


"Kakakkk!!"


Lexy bangkit berdiri dan memeriksa keadaan Gia, "kamu tidak terluka kan, Gift?" tanya Lexy.


"Tidak Uncle, tenang saja."


"Justru Uncle yang harus memeriksakan diri, ada kemungkinan Uncle memar atau keseleo di beberapa bagian, akibat menahan bobot tubuh yang berada di luar timbangan," kata Gavin sambil tersenyum menggoda Gia.


"Kakakkk!!! kenapa kamu selalu menghinaku. Aku ini langsing, lihat!" Kata Gia sambil bergaya memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya, yang membuat Lexy menelan salivanya.


Ntah mengapa belakangan ini Lexy sulit sekali menahan hassrat di dalam dirinya. Setiap ia berdekatan dengan Gia, semakin lama jiwanya semakin sulit untuk dikendalikan.


TINGGG .....


Terdengar suara pengumuman yang memberitahukan bahwa penerbangan menuju Switzerland akan segera diberangkatkan, sehingga para penumpang sudah bisa menunggu di ruang tunggu yang telah disediakan.


"Kak, aku pulang dulu ya. Segeralah selesaikan masalahmu di sini, dan kembalilah. Daddy pasti memerlukanmu," pesan Gia, diikuti oleh anggukan Gavin.


"Dan Uncle, sekali-sekali, ajukanlah cuti pada Uncle Nic. Datanglah ke Switzerland, aku yang akan menjamumu dan menemanimu berkeliling. Aku pasti akan sangat merindukanmu, Uncle," kata Gia, dan sekali lagi mereka kembali berpelukan. Kali ini pelukan mereka terasa lebih erat satu sama lain.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2