TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#57


__ADS_3

1 hari sebelum Anna datang ke Neutron Group,


"Mom, ke mana Antonio membawa anak-anakku?" tanya Elisa


"Bukankah itu juga anak-anaknya?"


"Ya itu memang benar, tapi ...."


"Apa yang sebenarnya kamu lakukan hingga Antonio pergi membawa Griz dan Gaz?"


"Aku tidak melakukan apa-apa Mom,” jawab Elisa.


"Tapi ini membawa keuntungan bagi kita."


"Maksud Mommy?"


"Kamu harus pergi ke Neutron Group."


"Untuk apa, Mom? Gavin pasti akan menendangku keluar, bahkan mungkin saja aku akan dilaporkan ke polisi."


"Kenapa tidak mencobanya dulu?"


"Tapi, Mom??! Itu sama saja membiarkan diriku masuk ke dalam lubang singa dan ditendang masuk ke kolam buaya."


Marcella tertawa, "Tenanglah. Mommy sangat tahu seperti apa sikap Gavin padamu. Dia pasti saat ini masih sangat mencintaimu. Kamu hanya perlu menunjukkan wajah yang memelas dan air matamu itu."


"Lalu apa gunanya?"


"Lihat saja, Gavin pasti akan menolongmu. Kamu harus terus bersikap baik padanya, dan lama kelamaan dia pasti akan kembali padamu,” kata Marcella.


"Dan perlahan aku akan kembali menjadi Nyonya Neutron, dan mengambil semua harta milik keluarga itu,” lanjut Elisa.


"Tepat sekali. Jadi kamu benar-benar harus berakting dengan sangat baik. Jangan sampai ada celah yang membuat kecurigaan baginya."


"Tenang saja Mom, masalah akting aku-lah pakarnya. Tak akan ada yang bisa mengalahkanku. Inilah saatnya aku kembali ke dunia akting dan modelku."


"Bagus, sayang. Mommy tidak bisa berharap pada Peter. Ntah mengapa anak itu menjadi bodoh karena jatuh cinta. Tapi jika dia bisa mengambil hati wanita itu, maka anak-anaknya akan menjadi milik kita bukan, dan itu juga kehancuran bagi keluarga Neutron,” Sekali lagi Marcella tertawa dengan keras, seperti bangga akan rencananya.


**


Gavin sudah berada di ruang tamu Anna saat ini. Ia duduk di sofa seperti biasanya, berbincang-bincang dengan Dad Joe.


Anna keluar dari kamar, membawa Nathan dan Nixon di sebuah stroller.

__ADS_1


"Kamu boleh bermain dengan mereka. Mereka sudah selesai makan dan mandi,” kata Anna sambil mendorong stroller tersebut mendekati Gavin.


"An ... ," panggil Gavin


"Aku harus ke belakang dulu. Daddy, aku akan masak makanan kesukaanmu,” Anna pun meninggalkan Gavin bersama Dad Joe dan anak-anak mereka


Sejak hari itu, sikap Anna memang berubah. Anna memang tidak pernah melarang Gavin untuk bertemu dengan Nathan dan Nixon, tapi Anna akan selalu menghindarinya dengan mengerjakan aktivitas lain.


Gavin menghela nafasnya dan Dad Joe menyadari hal itu.


"Apa kamu memiliki masalah dengan Anna?" tanya Dad Joe.


"Ooo ... tidak Uncle, hanya saja ...."


"Uncle tidak akan mencampuri urusan kalian, tapi sebaiknya kalian menyelesaikan masalah kalian secepatnya."


"Aku mengerti, Uncle. Apa aku boleh bicara dengan Anna?" tanya Gavin


"Silakan. Biar Nathan dan Nixon bersamaku."


Gavin pun bangkit dari duduknya dan melangkah ke belakang. Ternyata Anna sedang menyiapkan bahan-bahan masakan. Ia mengerjakan itu dengan sedikit bersenandung, menikmati pekerjaannya.


Gavin bersandar di ambang pintu, melihat Anna dalam diam. Anna berbalik badan dan kaget melihat Gavin.


"Tidak, tapi bolehkah aku bicara denganmu?"


"Bicaralah, aku mendengarkan,” kata Anna sambil tetap mengerjakan pekerjaannya.


"Aku .... aku ...."


Anna menggelengkan kepalanya, kemudian menghela nafasnya pelan dan tersenyum.


"Pergilah, aku tahu apa yang ingin kamu katakan. Kejarlah apa yang kamu inginkan. Aku tidak marah padamu, dan aku juga tidak akan menghalangimu bertemu dengan anak-anak."


"An ... ," ucap Gavinz


"Aku tahu perasaanmu dan jangan menjadikan diriku penghalang bagi kebahagiaanmu. Aku pun tak ingin menjadi seperti itu. Aku ingin hidup bebas sebebas-bebasnya, tak ingin memikirkan hal-hal yang tak perlu. Pergilah, carilah kebahagiaanmu. Aku akan menjadi temanmu,” Anna menyodorkan tangannya, mengajak Gavin bersalaman.


Gavin tak menyangka bahwa Anna begitu berbesar hati, setelah mengetahui bagaimana perasaannya dan apa yang telah Gavin lakukan padanya. Beberapa hari belakangan ia banyak berpikir bagaimana bicara dengan Anna, tapi ternyata Anna bukan tipe wanita yang akan marah-marah karena itu.


"Terima kasih An, dan maafkan aku,” kata Gavin.


Anna mendekati Gavin dan memberikan sebuah pelukan, pelukan seorang teman. Tapi bagi Gavin pelukan Anna sangatlah hangat, membuatnya tak ingin melepaskan.

__ADS_1


"Sudah sana pergilah, aku mau memasak,” ujar Anna sambil mencoba melepaskan pelukannya dari Gavin.


Gavin tersenyum dan Anna bisa melihat ada sedikit bulir air mata di sudut matanya.


"Aku pergi dulu ya. Maafkan aku karena tidak bermain dengan anak-anak. Aku pasti akan sering ke sini."


Anna mengangguk.


Gavin pun meninggalkan Anna, dan berpamitan dengan Dad Joe.


'Mencintai tidak harus memiliki, karena ternyata memiliki pun belum tentu mencintai'


**


"Gavin, tolong aku ....,” ucap Elisa sambil menangis.


Saat ini Gavin, Jack dan Elisa berada di dalam suatu ruangan VIP sebuah restoran. Elisa sengaja memoles wajahnya sedikit pucat dan memberi riasan dekat matanya agar terlihat sembab.


Selain pandai berakting, Elisa juga terampil dalam urusan makeup.


"Ya, aku akan menolongmu. Ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi."


"Antonio membawa anak-anakku. Saat aku kembali dari membeli obat untuk Mommyku, anak-anak sudah tidak berada di rumah, dan Antonio hanya meninggalkan secarik kertas bertuliskan bahwa aku tidak pantas menjadi Mommy,” Elisa kembali menangis dan semakin mendekatkan dirinya pada Gavin


"Apa kamu tahu kira-kira ia membawa anak-anak ke mana?" tanya Gavin


"Aku tidak tahu, aku sama sekali tidak bisa berpikir. Ia bisa pergi kemana pun, karena Antonio hampir punya rumah di semua negara."


"Jack, kamu cari tahu semua hal tentang Antonio, dan kemana kira-kira ia akan membawa anak-anak Elisa,” perintah Gavin.


"Baik, Bos,” kata Jack.


Tapi dia kan juga Daddynya seharusnya biarkan saja Antonio membawa mereka, dibanding dengan bersama wanita satu ini. - Batin Jack.


Tiba-tiba Elisa memeluk Gavin, "Thank you, thank you, Gavin. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas pertolonganmu ini."


"dan aku minta maaf karena sebelumnya aku mengkhianatimu. Maafkan aku, aku hanya butuh perhatian, sedangkan kamu tidak pernah memberikannya. Maafkan aku ...,” Elisa mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di dada Gavin.


Gavin menepuk-nepuk bahu Elisa dan menenangkannya.


"Dasar wanita iblis, mengambil kesempatan dalam kesempatan,” gumam Jack.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2