
Keesokan paginya, Gavin mengalami hal yang sama. Sakit kepala dan mual, hingga ia harus mengeluarkan isi perutnya berkali-kali.
"Aku tidak apa-apa Kak," kata Gavin pada Nisa.
"Bagaimana tidak apa-apa, kamu bisa kekurangan cairan jika seperti ini terus. Makanan juga tidak kamu sentuh."
"Nanti siang juga lebih baik."
"Biar kuperiksa dulu," ujar Nisa.
"Iya, Grandma juga kuatir denganmu, sejak kamu sampai di sini, kamu bahkan belum keluar dari kamar. Apa perlu Grandma memanggil Mommymu untuk datang ke sini?” tanya Grandma Kezia.
"Jangan Grandma, Mommy pasti akan sangat kuatir. Ia pasti akan langsung terbang ke sini jika mendengarnya."
"Karena itu, jangan membantah jika kuperiksa," kata Nisa sekali lagi.
Nisa mulai memasang stetoskop di telinganya, kemudian memeriksa Gavin, mengecek denyut jantungnya. Meminta Gavin membuka mulut untuk memeriksa lebih detail.
"Kak Gavin kenapa Kak?" tanya Gia pada Nisa.
"Apa istrimu sedang hamil?" tanya Nisa.
"Aku sudah bercerai. Ia bukan istriku lagi," kata Gavin kesal.
"Aku bertanya apakah dia sedang hamil?"
"Ya, tapi bukan anakku."
"Apa kamu yakin?" tanya Nisa memastikan.
"Sangat yakin, memangnya kenapa?" tanya Gavin.
"Dari pemeriksaan yang kulakukan, kurasa tak ada yang salah denganmu. Rasa sakit kepala dan mualmu hanya di pagi hari bukan?" jawab Nisa.
"Ya, siang aku sudah merasa lebih baik."
"Sepertinya kamu mengalami yang dinamakan dengan Couvade Syndrome atau sindrom ibu hamil. Biasanya hal ini terjadi karena adanya ikatan perasaan yang kuat terhadap ibu dari anaknya."
"Wah betul itu Kak, Kak Gavin teramat sangat mencintai Kak Lisa, pasti karena hal itu. Jangan-jangan anak dalam kandungan Kak Lisa memang anak kakak," Gia menambahi bahkan terkesan memanasi kakaknya itu.
"Tidak, tidak mungkin, Jack mengatakan bahwa Lisa memiliki kekasih lain dan anak itu pasti milik mereka."
__ADS_1
"Tapi kamu belum melakukan tes DNA bukan? jadi jangan mengambil kesimpulan sendiri," kata Nisa.
"Jika itu memang anakku, kenapa dia mengkhianatiku, kenapa dia pergi dariku?" Gavin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Terdengar sedikit isakan tangis di baliknya.
**
Sementara itu di belahan bumi yang lain, di sebuah pedesaan di Negara Belanda, seorang wanita dengan menggunakan T-shirt berwarna putih yang ditutupi cardigan dan celana panjang menutupi kaki jenjangnya, sedang menaiki bus yang akan membawanya menuju tempatnya bekerja.
Rambutnya yang panjang dikuncir kuda seperti biasanya. Ia bekerja di sebuah coffee shop yang terletak tidak jauh dari pinggiran kota Maastrich di Propinsi Limburg.
Propinsi Limburg merupakan sebuah propinsi di Negara Belanda yang memiliki permukaan tertinggi, yakni 321 m. Suasana di kota ini juga cukup tenang.
Trining .... trining ....
Suara bel di pintu masuk sebuah coffee shop berdenting.
"Bri, kamu sudah datang? bukankah shift mu masih 1 jam lagi?" tanya Hanna.
"Hmm … Aku langsung berangkat setelah selesai mengantar Daddy terapi," jawabnya.
"Oya, kamu dicari Mr. Ken."
"Baiklah, aku akan ke ruangannya, setelah aku mengganti pakaianku."
Tokkk .... Tokkk .... tokkk ....
"Mr. Ken, anda mencari saya?"
"Iya, ini gajimu. Brianna Harland, apa kamu betah bekerja disini?"
"Betah Mr. Ken, thank you. Saya sangat berterima kasih karena anda sudah menolong saya dan Daddy, serta memberikan kami tempat tinggal."
"Saya yang seharusnya berterima kasih, Daddy-mu adalah orang yang luar biasa. Hal seperti ini tidak akan bisa membalas semua kebaikannya," kata Ken, "Apa kamu sakit Bri? wajahmu kelihatan pucat."
"Tidak, saya tidak apa-apa, mungkin hanya kurang istirahat."
"Pergilah ke dokter. Kamu tidak akan bisa menjaga Daddy-mu jika kamu sendiri sakit. Mengerti?"
"Iya Mr. Ken, terima kasih."
"Kalau besok kamu masih kurang sehat, sebaiknya kamu beristirahat dulu. Ini bukan weekend, jadi pengunjung masih bisa diatasi oleh Hanna dan Craig,” kata Mr. Ken.
__ADS_1
"Terima kasih sekali lagi Mr. Ken," Brianna menganggukkan sedikit kepalanya sebagai tanda rasa terima kasih.
**
"Apa Gavin sudah lebih baik?" tanya Grandpa Brandon pada Grandma Kezia.
"Tidak juga, setiap pagi dia mengalami hal itu, seperti wanita hamil saja," jawab Grandma Kezia.
"Apa sebaiknya kita membawanya ke dokter?"
"Gavin sudah diperiksa oleh Nisa, sudah tidak apa-apa. Jangan kuatir.”
"Aku tidak kuatir, hanya saja ia langsung seperti itu sesampainya di sini. Bagaimana nanti kita mengatakannya pada Chris dan Clara?"
"Ia sudah lebih baik. Kita tidak perlu memberitahukan hal ini pada mereka, lagi pula Gavin juga melarang kita melakukannya," jawab Grandma Kezia.
"Oya, nanti malam Nic akan datang ke sini. Minta dia ke ruang kerjaku saja ya. Aku ingin duduk di sana membaca dulu."
"Baiklah."
Sementara itu di kamar Gavin,
"Kak, apa kamu akan terus berada di kamar? dan diam saja seperti ini?" tanya Gia.
"Keluarlah, aku ingin sendiri."
"Untuk apa kakak menemani aku ke sini kalau hanya berdiam di dalam kamar? Sebaiknya aku mencari cara sendiri untuk bertemu dengan Anna."
"Anna?" tiba tiba pikiran Gavin di penuhi oleh kesalahannya terhadap wanita itu.
Gia menghampiri Gavin dan duduk di sampingnya.
"Kak, apa aku memiliki kesalahan pada Anna? hingga ia pergi tanpa bertemu denganku. Bahkan ia tidak mengirimiku pesan seperti ia mengirimkannya pada Sena," Air mata mengalir di pipi Gia.
Bukan salahmu Gia, ini salah kakak. - batin Gavin.
"Anna orang yang baik, sahabat yang sangat baik. Ia selalu mendahulukan kepentingan orang lain. Ia bekerja pun semata-mata untuk kebahagiaan dan kesembuhan Uncle Joe. Tiba-tiba ia pergi, ada sesuatu di sini. Sampai saat ini pun ia tidak memberi kabar sama sekali padaku, bahkan tidak pada Sena."
"Mungkin dia pergi untuk suatu pekerjaan,” jawab Gavin asal.
"Kakak tidak mengenalnya! Anna bukan orang seperti itu, apalagi kepada sahabatnya. Bahkan ia bisa mengorbankan dirinya untuk sahabatnya," Gia menghapus kembali air mata yang mengalir di pipinya.
__ADS_1
Maafkan Kakak Gia. Kakak yakin, ini semua ada hubungannya dengan kakak. Mungkin dia tahu kalau kamu adalah adik kakak, jadi ia tidak mau berhubungan denganmu, karena kesalahanku. - Gavin terus berbicara dalam pikirannya sendiri.
🌹🌹🌹