TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#65


__ADS_3

Gavin memegang perutnya yang terasa sakit setelah mendapat sebuah pukulan dari Anna. Sekarang ia sedang berada di rumah Anna.


"Apa masih sakit?" tanya Anna sambil meletakkan segelas teh hangat di atas meja.


"Tentu saja, kamu memukulnya sekuat tenaga."


"Siapa suruh kamu mengagetkanku dari belakang,” kata Anna kesal.


"Maaf, tapi sebenarnya memang ada orang yang mengikutimu sejak kamu keluar dari coffee shop tadi,” ujar Gavin.


"Benarkah?" tanya Anna penasaran.


"Siapa yang mengikuti Anna?" tanya Dad Joe yang baru saja keluar dari kamar.


Gavin dan Anna terdiam, kemudian Dad Joe duduk di hadapan mereka.


"Ayo cepat katakan, jangan suka menyembunyikan sesuatu dariku."


"Maaf Daddy, seharusnya aku memberitahumu sejak kemarin, tapi aku belum mengatakannya,” kata Anna.


"Begini Uncle, sebenarnya semua ini ada hubungannya dengan keluargaku, keluarga Neutron. Ada sekelompok orang yang menginginkan kehancuran keluarga kami. Target mereka adalah orang-orang yang berhubungan dengan keluargaku,” terang Gavin.


"Mr. Ken juga mengatakan seperti itu dan ia bilang aku harus segera mengatakannya pada Daddy."


"Kamu memang seharusnya mengatakan pada Daddy, An. Hal seperti ini tidak perlu disembunyikan karena ini menyangkut keselamatan cucu-cucuku,” kata Dad Joe.


"Bagaimana kalau aku membawa anak-anakku kembali ke Switzerland?" tanya Gavin.


"Tidakkk!!!"


"An, tapi ini demi keselamatan mereka,” kata Gavin.


"Aku sendiri yang akan menjaga mereka. Kamu tidak perlu kuatir karena ada Daddy bersamaku."


"Tapi kamu kan tidak bisa 24 jam mengawasi mereka."


"Lalu apakah kamu bisa?" tanya Anna.


"Aku akan meminta Mommy membantuku,” jawab Gavin.


"Aku juga bisa meminta bantuan Daddy. Yang pasti aku tidak ingin jauh dari anak-anakku."


"Kamu juga kembali bersamaku,” ujar Gavin.


"Tidak, aku harus bekerja."


"Aku sudah bilang, kamu tidak perlu bekerja. Kamu cukup mengurus Nathan dan Nixon."


"Aku tidak mau seumur hidup harus bergantung padamu,” kata Anna.


"Sudah sudah, kalian berdua terus bertengkar seperti ini, tidak akan menyelesaikan masalah. Kita tidak akan bisa menemukan jalan keluar,” kata Dad Joe.


"Aku ke kamar dulu, Dad. Sudah waktunya Nathan dan Nixon minum susu,” Anna pun meninggalkan Gavin bersama dengan Dad Joe.


Apa dia marah padaku? - batin Gavin.


"Maafkan aku, Uncle. Ini semua kesalahanku. Seharusnya aku tidak pernah membiarkan kalian kembali ke Maastrich."

__ADS_1


"Tapi memang aku-lah yang mengajak Anna kembali ke sini. Dia mengatakan bahwa dia ingin bekerja, dan kurasa tempat Ken adalah yang terbaik. Lagipula, aku bahagia di sini,” kata Dad Joe sambil tersenyum.


"Apa Anna mengatakan sesuatu pada Uncle?" tanya Gavin.


"Mengatakan apa? apa ada masalah lain di antara kalian?"


"Tidak .... tidak Uncle,” kata Gavin, "Tapi sebaiknya Uncle berhati-hati, karena orang-orang ini sangat berbahaya."


"Apakah sama dengan orang orang yang menculikku?" tanya Dad Joe.


Gavin menganggukkan kepalanya. Kini Joe tahu bahwa orang tersebut bukan hanya membenci keluarga Neutron, tapi pasti juga membenci dirinya. Ia harus melindungi Anna, cucu-cucunya, dan juga ... Cornelia.


**


"Gi, pelan-pelan. Kamu masih harus banyak istirahat."


"Sudahlah Mom, aku masih bisa kalau hanya pergi ke kamar mandi."


"Tapi kamu itu belum sembuh benar,” Mom Clara berdecak kesal.


Putrinya ini memang keras kepala. Sejak kecil, Dad Chris selalu menuruti kemauannya, karena itulah dia selalu berbuat sesuai keinginannya.


Mau bagaimanapun sifat putrinya, Mom Clara akan berusaha mentolerir. Ia tetap membantunya berjalan hingga ke kamar mandi.


"Kalau sudah selesai, beritahu Mommy."


"Okay, Mom."


Saat Mom Clara sedang menunggu Gia di depan pintu kamar mandi, Dad Chris masuk ke dalam ruangan.


"Apa yang sedang kamu lakukan, sayang? Lalu mana Gia?" tanya Dad Chris.


"Sayang, bagaimana kabar Dad dan Mom?" tanya Mom Clara.


"Sudah tidak apa-apa. Mereka hanya butuh bicara satu sama lain dari hati ke hati."


"Tapi aku tidak pernah melihat mama semarah itu, sayang."


"Aku juga minta maaf padamu. Ini semua kesalahanku."


"Sudahlah, saat ini yang harus kita pikirkan adalah Gia. Aku tidak ingin ia depresi karena memikirkan Lexy, dan itu akan memperburuk kesehatannya."


"Aku mengerti, sayang. Maafkan aku,” kata Dad Chris sambil memeluk Mom Clara.


"Mommy!"


"Kamu sudah selesai, sayang?" tanya Mom Clara sembari menghampiri Gia.


"Tentu saja sudah, kalau belum pasti aku masih di dalam."


Mom Clara membantu Gia kembali ke tempat tidur, sementara Dad Chris membantu Gia naik ke tempat tidurnya.


"Banyak-banyak istirahat, sayang. Kamu akan cepat pulih dan cepat pulang,” ujar Dad Chris pada Gia.


"Aku tahu, Dad."


Setelah berbicara dengan Dad Chris, Gia menengok pada Mom Clara.

__ADS_1


"Mom, dimana Uncle?"


"Lexy sedang pergi makan siang. Mommy yang menyuruhnya. Kalau tidak, ia akan melupakan bahwa dirinya juga butuh makan."


"Mommy jangan marah pada Uncle ya, ini bukan salah Uncle."


"Mommy tidak marah pada Uncle mu itu, sayang, tenang saja. Sebaiknya pertanyaan itu kamu tanyakan pada Daddy-mu ini,” kara Mom Clara.


"Daddy juga tidak marah, sayang. Daddy berterima kasih pada Lexy karena telah membawamu ke rumah sakit tepat waktu. Kalau sampai terjadi apa-apa padamu, Daddy akan menyalahkan diri Daddy sendiri."


"Benarkah, Daddy tidak marah?" tanya Gia, dan Dad Chris pun mengangguk lalu memeluk putrinya.


Pintu terbuka dan Grandpa Brandon serta Grandma Kezia masuk.


"Grandpa,” sapa Gia.


Grandpa Brandon mendekati Gia dan memegang tangannya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Grandpa Brandon.


"Aku sudah lebih baik, Grandpa."


Grandpa Brandon sedikit menunduk, kemudian kembali menatap ke arah Gia, "Maafkan Grandpa, Gi. Grandpa tidak pernah menyangka bahwa kamu akan mengalami hal seperti ini karena Grandpa."


"Tidak Grandpa, ini bukan salah siapa-siapa dari keluarga kita. Gia yakin, ini pasti perbuatan wanita itu."


"Kamu tenang saja. Grandpa sudah menyerahkan kasus ini ke pihak kepolisian dan mereka berjanji akan segera mencari pelakunya."


"Grandpa .... apa Grandpa tidak mau merestuiku?" tanya Gia terbata.


Grandpa Brandon memandang ke arah Grandma Kezia, kemudian kembali menatap Gia dan tersenyum.


"Maafkan Grandpa tentang masalah itu juga. Grandpa terlalu egois, tidak memikirkan perasaanmu. Grandpa menyerahkan semuanya pada Daddy dan Mommymu, juga kepada dirimu sendiri. Jika kamu bahagia, Grandpa akan ikut bahagia,” kata Grandpa Brandon.


"Benarkah, Grandpa? Ahhh aku senang sekali .... aduhhh,” Gia meringis sakit karena ia terlalu bahagia.


"Sayang, hati-hati,” ujar Mom Clara.


"Terima kasih, aku sayang pada kalian semua,” kata Gia dengan senyuman di wajahnya.


Pintu ruang rawat terbuka kembali, Lexy yang masuk. Ia melihat keluarga Ginea dan Neutron ada di sana, ia pun tidak jadi masuk.


"Chris, tolong panggilkan Lexy,” pinta Grandpa Brandon.


"Baik, Dad."


Lexy masuk ke dalam ruangan, ia melihat senyuman di wajah Gia. Dad Chris memintanya berdiri di sebelah Gia dan tanpa rasa malu, Gia langsung memeluk Lexy.


"Gi, jangan. Ada keluargamu di sini,” bisik Lexy.


"Tenang Uncle, mereka sudah merestui hubungan kita,” Lexy yang mendengarnya menatap Gia keheranan, tapi ia kembali mendapati Gia tersenyum dan mengangguk.


"Benarkah?" Lexy melihat ke sekeliling, menatap seluruh keluarga Neutron dan Ginea. Ia melihat mereka tersenyum.


"Jaga cucuku baik-baik, kamu mengerti?" Kata Grandpa Brandon.


"Kalau kamu sampai membuat Gia menangis, aku akan langsung mengambilnya darimu,” pesan Dad Chris melanjutkan.

__ADS_1


"Ya, terima kasih. Aku pasti akan menjaganya dengan baik."


🌹🌹🌹


__ADS_2