TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#35


__ADS_3

Gia merasakan sakit di kepalanya. Semua itu karena sudah 1 minggu ini dia harus berkutat dengan segala macam dokumen. Meskipun ia dibantu oleh Han, asisten pribadi ayahnya, tetap saja kepalanya serasa mau pecah.


"Aku memang tidak cocok bekerja di belakang meja seperti ini. Sebaiknya aku mulai memikirkan bisnis baru untuk diriku sendiri. Tapi apa ... ," ungkapnya lemas sambil meletakkan kepalanya di atas meja.


Gia melihat jam di pergelangan tangannya, "Sudah jam makan siang, mungkin sebaiknya aku memberikan asupan tenaga untuk kembali bekerja dengan kertas-kertas itu."


"Uncle Han, aku makan siang dulu ya. Aku hanya ke cafe depan saja. Jika ada apa-apa, hubungi saja aku," kata Gia.


"Baik," jawab Han.


Gia berjalan pelan. Terlalu lama duduk membuat kakinya sedikit terasa kaku. Ia berjalan sambil sesekali memijat kakinya.


"Ahhh high heels ini juga membuat kakiku sakit,” gerutu Gia.


Gia terus berjalan sambil meringis, sampai ia tidak sadar bahwa dirinya sudah berada di pinggir jalan. Ada sebuah mobil yang lajunya cukup cepat mendekat ke arahnya.


Untungnya ada seseorang berhasil menarik Gia yang sudah berjalan 2 langkah ke jalan raya.


Bughh .....


"Ahhh .... aduhhh," teriak Gia.


"Kamu mau mati ya?!!"


"Aku .... Uncle!" panggil Gia saat ia melihat siapa yang menolongnya.


Lexy menggendong Gia ala bridal style ke ruang kerjanya. Gia bisa menghirup harum tubuh Lexy, wangi woody. Ia langsung menyembunyikan wajahnya, karena ia merasa bahwa tiba-tiba wajahnya menjadi panas.


Gia didudukkan di sebuah sofa panjang di ruang kerjanya.


"Di mana kamu meletakkan kotak P3K?" tanya Lexy.


"Di lemari itu, rak bagian bawah," jawab Gia.


Lexy kembali menghampiri Gia dengan kotak P3K di tangannya. Ia membuka kotak tersebut dan mulai membersihkan luka yang terdapat di kaki Gia karena terjatuh tadi.


"Lain kali kalau mau menyeberang, lihat kanan kiri dulu. Jangan asal!" Kata Lexy dengan nada sedikit tinggi.


Gia menatap Lexy, ia tidak pernah melihat Uncle-nya begitu marah padanya, tapi tetap saja Uncle-nya terlihat gagah dan tampan.


"Maaf, Uncle," kata Gia pelan.


"Kalau tadi Uncle tidak melihatmu, kamu tahu kan apa yang akan terjadi padamu?"


"Ya Uncle, Gia mengerti. Gia tahu Gia salah."


"Baiklah, sudah. Kamu mau makan apa? biar Uncle yang belikan."


"Tapi tangan Uncle juga terluka, biar Gia obati dulu."


"Tidak usah, tidak apa."


"Uncle! Gia obati dulu, setelah itu baru aku mau makan."

__ADS_1


Akhirnya Lexy mengikuti permintaan Gia. Dengan telaten, Gia membersihkan luka dan mengobati luka tersebut.


Lexy terus menatap wajah Gia saat Gia mengobati lukanya. Lalu ia sedikit menghela nafasnya.


"Apa Uncle masih marah padaku?" tanya Gia.


"Tidak, tapi lain kali jangan kamu ulangi lagi. Itu sangat berbahaya."


Gia mengangguk.


"Baiklah, Uncle keluar dulu. Kamu tunggu di sini."


20 menit kemudian,


"Ini makanlah," kata Lexy sambil mengeluarkan makanan yang ia beli.


"Thank you, Uncle. Maaf, Gia jadi merepotkan Uncle."


"Sudahlah, ayo cepat dimakan, nanti keburu dingin," kata Lexy sambil mengusap pucuk kepala Gia.


"Uncle kenapa ada di sini?" tanya Gia ingin tahu.


"Ada pekerjaan yang harus Uncle selesaikan dan Tuan Nic juga meminta Uncle untuk melihat keadaan Daddy dan Mommy-mu."


"Ouuu .... apa Uncle akan lama di sini?"


"Tidak, ada hal lain yang perlu Uncle selesaikan."


Mendengar jawaban Lexy, tiba-tiba hati Gia menjadi sedih. Ia ingin Lexy lebih lama berada di Switzerland.


"Mommy, aku lelah," keluh Gia sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa.


"Istirahatlah kalau begitu."


"Kapan Kak Gavin akan kembali, Mom?" tanya Gia penuh harap.


"Aku sudah di sini," jawab Gavin yang menuruni beberapa anak tangga untuk sampai ke ruang duduk.


"Akhirnya, doaku dikabulkan. Terima kasih, Tuhan,” Gia menangkup kedua tangannya seraya berterima kasih.


Mom Clara tersenyum melihat kelakuan Gia.


"Oya Mom, apa Uncle Lexy sudah ke sini? Tadi aku bertemu dengannya di kantor," tanya Gia.


"Sudah, tadi ia bertemu dengan Daddy. Mommy tidak tahu apa yang mereka bicarakan."


"Kak, aku cuti ya!" ujar Gia.


"Cuti? baru gantiin kerja seminggu aja udah minta cuti," kata Gavin sambil geleng-geleng kepala.


"Gara-gara proyek kakak itu, aku cuma sempat bertemu sebentar dengan Anna. Padahal aku ingin bicara banyak dengannya."


"Oya sayang, sejak kamu pulang dari Maastrich, kamu belum cerita apa-apa. Bagaimana keadaan Anna?" tanya Mom Clara.

__ADS_1


"Anna baik Mom, bahkan sekarang dia sedang hamil."


"Hamil?" tanya Mom Clara, sementara Gavin menjadi tertarik dengan perbincangan ini.


"Yes, Mom. Ia sudah menikah dan saat ini ia sedang mengandung buah cinta mereka berdua. Ahhh ... aku jadi ingin menikah," kata Gia yang langsung mendapat jitakan dari Gavin.


"Nikah aja yang dipikirin, pasangannya aja belum ada."


"Kakakkkk!!"


"Ada apa ini?" tanya Dad Chris yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.


"Anak kesayangan Daddy mau nikah katanya," ujar Gavin.


"Wah benarkah? bawalah ke sini calonnya, biar Daddy dan Mommy bisa mengenalnya."


"Kakak bohong, Daddy. Gia cuma bilang Gia ingin menikah karena Gia melihat Anna sedang hamil saat ini," kata Gia.


"Anna? sahabatmu yang kamu bilang menghilang itu?" tanya Dad Chris.


"Iya Daddy, saat ini kandungannya sudah berjalan sekitar 6 bulan. Sepertinya dia sangat bahagia, karena itu aku bilang aku mau menikah."


"Kalau begitu, kamu tinggal mencari pasangan bukan?" Kata Dad Chris.


"Dia itu nungguin Hansen, sahabatnya Revan, tapi sayang sekali Hansen sudah menikah," kata Gavin.


"What??!! yang benar kak? kakak jangan membohongiku. Tidak mungkin Kak Hansen tiba-tiba menikah. Aku tidak pernah melihatnya bersama wanita manapun."


Gavin tertawa, "Dia memang tidak pernah membawa wanita manapun, karena ia sudah mengunci hatinya untuk seorang wanita."


Gia tertunduk lesu, "Yaaa, gagal deh rencanaku. Kalau Kak Hansen sudah menikah, terus aku sama siapa?"


"Tuh masih ada Jack," kata Gavin sambil bercanda.


"Jack? tidakkkk!! Daddy, Kak Gavin menggodaku."


"Sudahlah, besok kamu temani Daddy bertemu dengan anak teman Daddy ya."


"Maksud Daddy apa? Apa Daddy ingin menjodohkan aku?" tanya Gia penuh curiga.


"Yaaaa, kamu ikut saja dulu."


"Gia tidak mau dijodohkan Daddy, Gia bisa cari pacar sendiri."


Mom Clara tersenyum melihat tingkah Gia yang kekanakan, "Mommy percaya Gia bisa mencari pasangan sendiri. Tapi tidak ada salahnya jika kamu mencoba mengikuti saran Daddy dulu."


"Ahhh, pokoknya aku tidak mau," Gia beranjak dari sofa dan melangkah pergi menuju kamarnya.


Sementara Gavin pamit pada kedua orang tuanya dan langsung menuju ke kamarnya. Ia mengambil ponselnya.


"Jack, kamu cari tahu, siapa suami dari wanita bernama Brianna Harland. Semua hal tentang keluarga itu. Aku mau informasi lengkap!"


Setelah mematikan sambungan telepon, Gavin terduduk di tempat tidurnya.

__ADS_1


"Atau jangan-jangan .... anak itu, anakku!" Secara diam-diam Gavin menghitung sejak ia melakukannya dengan Anna, dibanding dengan usia kandungan yang tadi dikatakan oleh Gia.


🌹🌹🌹


__ADS_2