
Gavin memasuki rumah sakit sambil menggendong Elisa yang pingsan, diikuti oleh Gia.
Setelah meletakkan Elisa ke atas brankar dan membiarkan para perawat mengambil alih, Gavin duduk di area ruang tunggu ditemani oleh Gia.
"Sudah kak, tidak akan terjadi apa-apa pada Kak Lisa," kata Gia menenangkan Gavin yang memang terlihat sedikit cemas.
"Apa aku keterlaluan padanya tadi?" tanya Gavin.
"Tidak!" jawab Gia tegas. Ia sudah senang ketika Kakaknya itu ingin berpisah dengan wanita ular yang hanya memberikan kesakitan dengan sebuah pengkhianatan.
Gavin yang melihat perubahan raut wajah Gia saat mengucapkan kata tidak membuat tanda tanya di hati serta pikirannya.
"Ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan pada kakak?" tanya Gavin.
"Tapi ...."
"Sudah, katakan saja. Kakak sudah mengetahui semuanya."
"Benarkah? kakak tahu kalau Kak Lisa berselingkuh?" Kata Gia kembali bersemangat, diikuti dengan anggukan Gavin.
"Kakak baru mengetahuinya beberapa hari lalu, setelah kakak meminta Jack untuk mengawasinya."
"Kalau begitu tidak ada alasan lagi bagi kakak untuk tidak menceraikannya kan? kakak begitu mencintainya, tapi ia mengkhianati kakak."
"Mungkin karena kakak terlalu mencintainya hingga kakak tidak bisa melihat sisi lain dari dirinya, sehingga dengan begitu mudahnya ia membodohi kakak."
Gia bangun dari duduknya.
"Kak, aku cari minuman dulu. Kakak mau minum apa?" tanya Gia.
"Belikan kakak kopi saja."
"Baiklah."
Gia meninggalkan Gavin yang sedang terduduk menatap ruang tempat perawatan Elisa. Gia bisa melihat masih ada cinta di dalam sorot mata kakaknya itu.
"Dasar wanita ular kurang ajar. Belum pernah kupotong-potong dan kujadikan sate ular apa ya?" gumam Gia kesal.
Ia sedikit menghentakkan kakinya saat berjalan, kekesalannya sudah diubun-ubun. Ia tidak mau kalau kakaknya memaafkan wanita itu.
"Gia!"
Gia menoleh ke arah asal suara, senyumnya langsung merekah saat melihat siapa yang memanggilnya.
"Annaaaa!!!" mereka pun saling berpelukan.
"Kita seperti orang yang tidak bertemu bertahun-tahun saja," kata Gia sambil tertawa.
"Kamu itu yang selalu peluk-peluk kalau kita bertemu," ungkap Anna ikut tertawa.
"Kamu sedang apa di sini?" tanya Gia.
"Aku sedang menemani Daddy terapi. Malam ini sepertinya aku akan menginap di sini."
"Apa Uncle Joe sudah bisa terapi?"
__ADS_1
"Ya, aku senang sekali mendengar kabar saat dokter mengatakan itu," kata Anna.
Gia bisa melihat semburat kebahagiaan di wajah sahabatnya itu. Anna memang menantikan dengan sangat kesembuhan Dad Joe.
"Kamu sendiri ada apa di sini?" tanya Anna.
"Kakak iparku pingsan," jawab Gia ogah-ogahan.
"Tenanglah, aku yakin ia tidak akan apa-apa,” Anna menepuk bahu Gia untuk menenangkannya.
"Huh .... kamu tidak tahu bagaimana keadaan keluarga kakakku saat ini, An," gumam Gia.
"Sorry ya Gi, aku tidak bisa lama-lama, sebentar lagi dokter akan mulai me-review hasil terapi tadi sore."
"Iya, aku juga harus balik, dan sepertinya aku juga akan kembali ke rumah. Kabari aku jika kamu butuh sesuatu, An," Gia memeluk Anna sebelum mereka akhirnya berpisah.
"Terima kasih, Gi," Anna pergi meninggalkan Gia sambil melambaikan tangan.
Gia membawa segelas kopi di tangannya, dan kembali ke tempat Gavin.
**
Anna tertidur duduk di samping tempat tidur Dad Joe, ia terbangun saat merasa ada gerakan tangan Dad Joe
"Dad, Daddy terbangun?" tanya Anna.
"Kamu tidak pulang saja, An?" tanya Dad Joe.
"Tidak Dad, menginap semalam di sini tak masalah untuk Anna."
"Daddy tidur lagi saja, istirahat. Seperti yang dokter katakan tadi, jika Daddy bisa menyeimbangkan antara waktu terapi dengan waktu istirahat, maka pemulihan akan semakin cepat."
"Iya sayang, Daddy mengerti."
Joe kembali memejamkan matanya, sementara Anna bangkit dari duduknya.
"Sepertinya aku perlu segelas kopi," gumam Anna. Ia pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar rawat tersebut.
Cringgg .....
Beberapa koin ia masukkan ke dalam mesin minuman yang tersedia di rumah sakit tersebut. Setelah memilih segelas kopi hangat, ia menekan beberapa tombol dan akhirnya kopi pun selesai.
Anna mengambil kopi tersebut dan berbalik badan.
PYURRRR ....
"Hei!!! kamu bisa lihat tidak? Apa kamu tidak punya mata?”
"Lha yang menabrak saya siapa? yang marah siapa ...,” ungkap Anna kesal.
"Lihat bajuku, basah karena kena kopi milikmu.”
"Sudah sini buka saja bajumu, saya akan membersihkannya. Hanya sedikit saja, seperti kebakaran jenggot,” gerutu Anna.
"Kamu sudah salah, bukannya minta maaf, malah nyolot."
__ADS_1
"Eh sorry, yang nyolot siapa ya? dan siapa yang salah? coba-coba saya ingin tahu. Apa perlu saya reka ulang kejadiannya."
Anna sudah mulai naik pitam. Ia merasa tidak bersalah, tapi dipojokkan terus.
"Maaf, Tuan, Nona, ini rumah sakit, tolong volume suaranya dikecilkan, karena banyak pasien yang akan terganggu," kata salah seorang perawat yang tengah kebagian shift jaga malam.
"Ohh, maafkan saya,” kata Anna, sementara matanya masih melihat laki-laki di hadapannya dengan tatapan kesal.
Anna yang ingin melangkah pergi, tangannya ditahan oleh laki-laki itu.
"Hei lepaskan!" teriak Anna sambil menghentakkan tangannya.
"Kamu mau kabur ya?"
"Kabur? nggak salah? hei, yang salah siapa? Anda kalau jalan tuh ya lihat ke depan, jangan ke handphone saja."
"Kamu harus ganti baju ini, kamu tahu nggak harganya berapa?"
"Ya ampun, jadi dari tadi nahan cuma mau supaya diganti bajunya. Apa nggak mampu beli baju jadi sengaja nabrak supaya punya baju baru ... cihh."
"3 juta."
"Whattt!!!! Anda mau merampok atau mau minta ganti rugi?" tanya Anna.
Anna hendak pergi dari situasi yang tidak mengenakkan tersebut, ia mengambil beberapa langkah untuk menjauhi laki-laki itu.
Namun, laki-laki itu kembali meraih pergelangan tangan Anna.
"Hei sakittt!!!" ungkap Anna dan secara tidak sadar Anna langsung memuntir tangan laki-laki itu dan menariknya ke arah belakang, sehingga membuat laki-laki itu setengah berlutut.
"Aku bukan wanita yang bisa kamu siksa dan sakiti seenaknya. Laki-laki seperti kamu ini mesti diberi pelajaran," lanjut Anna.
Sedari tadi Anna tidak mengeluarkan kemampuan bela dirinya karena ia menganggap tidak perlu, tapi ia sudah merasa laki-laki itu mulai bersikapkurang ajar padanya.
"Baiklah … baiklah ..." kata laki-laki itu.
Ini mah sebelas dua belas sama Gia. - batin Gavin.
"Sudah bagus aku mau mencucikan bajumu, masih minta ganti rugi yang nggak masuk di akal," Anna melipat kedua tangannya depan dada dan menatap kesal ke arah Gavin.
"Aku tidak mau tahu, kamu tetap harus ganti rugi bajuku yang basah. Aku harus membeli baju lagi," kata Gavin.
"Segini cukup kan?" Anna mengeluarkan dompetnya dari dalam saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang hingga mencapai nilai 200 ribu.
"Hei mana mungkin aku memakai baju 200 ribu."
"Lebih baik pakai baju 200 ribu atau tidak pakai baju? huh...."
"Dasar wanita menyebalkan! Kalau tidak punya uang buat ganti bilang saja."
"Dari tadi kayaknya yang dipermasalahin di sini hanya uang melulu. Anda itu pria atau bukan sih?" Anna sudah tidak dapat menahan amarahnya. Ia mengeluarkan dompetnya lagi, mengeluarkan kembali beberapa lembar uang, kemudian melemparkannya ke arah laki-laki itu, kemudian pergi meninggalkannya.
"Dasar, baru kali ini ada wanita yang berani melempar uang kepadaku. Menarik ...." Ia mengambil uang yang dilemparkan Anna tadi, dan memasukkannya ke dalam saku.
🌹🌹🌹
__ADS_1