TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#47


__ADS_3

"Errgghhh ...."


Bughh .... bughhh ....


Beberapa pukulan dilesatkan ke perut Joe, sementara tangannya masih terikat. Itu membuat Joe kehilangan keseimbangan sehingga ia terjatuh ke lantai.


"Anda?"


Seorang wanita menghampiri Joe, kemudian setengah berlutut di samping Joe, dan memegang dagu Joe dengan 1 jarinya.


"Apa kabar Joe? Apa kamu masih mengenaliku?"


"Kamu .... wanita iblis! Kembalikan istriku!!" teriak Joe.


"Istri? dia bukan istrimu, Joe. Kamu hanya memperkosanya saja kan."


"Itu semua rencanamu bukan? kamu yang membuatku melakukan itu kan!!!!" Joe kembali berteriak.


"Tenanglah Joe sayang. Itu hanya sedikit teguran karena kamu menolak pekerjaan dariku. Kamu jangan sok jagoan dan merasa pandai, yang nyatanya aku jauh di atasmu."


"Kurang ajarrr!!! katakan, dimana istriku?"


Wanita itu tertawa, "Ya ampun Joe, banyak stok wanita di muka bumi ini, kenapa kamu menginginkan wanita itu. Bukankah kamu sudah merasakan kenikmatan darinya, jadi buang saja dia," dan wanita itu kembali tertawa


Joe mengepalkan tangannya yang terikat. Ingin sekali ia memukul wanita di hadapannya, tapi nanti ia dianggap tidak gentleman karena memukul wanita.


"Anakmu itu membawa masalah bagi kami, jadi kami harus tetap menahanmu di sini."


"Anna, apa yang kamu lakukan padanya?"


"Tidak ada, kami belum melakukan apa-apa, malah dia kabur. Membuat rencana kami berantakan."


Sekarang giliran Joe yang tertawa, "Itulah hebatnya anakku. Dasar wanita tua iblis!!" teriak Joe.


Antonio dengan tubuh besarnya langsung menendang Joe dengan keras, membuat Joe kembali jatuh.


"Ayo, kita tinggalkan dia."


Mereka pun meninggalkan Joe yang tergeletak di lantai yang dingin.


"Tunggu saja pembalasanku wanita iblis. Aku sendiri yang akan membunuhmu!" pekik Joe.


**


Hampir setiap hari Gia bertemu dengan Lexy, namun ia belum juga mengutarakan permintaan maafnya.


Untuk sementara waktu, Lexy akan tinggal di kediaman Keluarga Neutron karena permasalahan yang berhubungan dengan dendam ini. Keahlian Lexy dalam mencari data sangatlah penting.


"Bingo!" kata Lexy di depan layar laptop-nya.


Gia yang sedari tadi memperhatikan dari balik dinding, merasa penasaran dengan apa yang ditemukan oleh Lexy.


Lexy pun melihat ke kanan dan ke kiri. Setelah meyakini bahwa tidak ada yang melihat dirinya, ia menutup komputernya dan melangkah keluar dari rumah.


Gia yang memperhatikan gerak-gerik Lexy pun penasaran, kemudian ia mengikuti langkah Lexy keluar, yang ternyata pergi meninggalkan kediaman Neutron.


Di dalam mobil, Gia terus memperhatikan arah ke mana mobil Lexy pergi. Gia menjadi curiga bahwa Lexy akan pergi ke tempat yang berbahaya karena kini ia sudah sedikit memasuki area dengan banyak pepohonan.


Gia langsung mengambil ponsel dengan sebelah tangan, sementara sebelah tangannya yang lain terus memegang kemudi.

__ADS_1


"Halo."


"Kak Jack, panggil polisi, dan ikuti lokasiku."


"Gi, jangan melakukan yang aneh-aneh."


"Cepatlah! Uncle Lexy yang berada dalam bahaya," ujar Gia.


Gia pun langsung mematikan sambungan ponselnya dan kembali mengikuti arah pergi mobil Lexy. Ia sudah kehilangan jejak, tapi ia terus mengendarai mobilnya karena di sana hanya ada 1 jalur saja, jadi dia tak mungkin salah.


Dari kejauhan Gia melihat mobil Lexy sudah berhenti di tepi jalan, ia pun langsung menghentikan juga mobilnya dengan jarak sedikit jauh, karena ia tak ingin Lexy melihat keberadaannya.


Tak lama, Lexy yang menggunakan kemeja berwarna abu gelap yang lengannya sudah digulung hingga siku dan bawahan jeans, turun perlahan dari mobilnya. Mata Lexy terus memperhatikan sesuatu.


Gia mengikuti arah pandang Lexy. Dari kejauhan ia hanya bisa melihat pepohonan.


"Sepertinya aku harus sedikit mendekat," kata Gia sambil perlahan keluar dari mobilnya.


Sebelum keluar, Gia mengambil sesuatu yang ia sembunyikan di dalam mobilnya, ya sebuah senjata yang ia pinjam dari Sena.


Dengan mengendap-endap, Gia mulai melihat ada sebuah pagar berwarna hitam yang tidak terlalu tinggi. Di antara sela-sela besi pagar terlilit oleh tanaman rambat. Tak ada siapa-siapa di luar. Ia juga sudah tidak melihat keberadaan Lexy di sana.


Setelah melihat sekeliling, ia memutuskan untuk memanjat pagar tersebut. Baru saja ia menyentuhkan kakinya di area dalam rumah, terdengar suara seperti letusan senjata. Ia segera mengambil senjata yang ia letakkan di pinggangnya dan memegangnya erat.


Gia mengintip ke dalam rumah melalui sebuah jendela kaca.


Kosong. - batin Gia.


Ia kembali berjalan perlahan, dan melihat pintu samping yang terbuka, ia segera masuk.


Bughh .... bughh .... bugh ...


Ia mendengar suara baku hantam. Ia melihat ke dalam secara sembunyi-sembunyi. Ia melihat beberapa orang sedang melakukan baku hantam.


"Kak Lisa?" gumam Gia.


Gia melihat Elisa sedang berdiri memandang acara baku hantam itu dengan diapit oleh 2 orang pengawal.


"Perutnya sudah sangat besar seperti itu, masih saja keluyuran dan mengganggu hidup orang lain. Apa dia tidak takut perutnya meletus," gumam Gia.


Gia ingin ke sana, untuk membantu, tapi ia juga tak ingin merepotkan. Sepertinya ia harus melihat situasi dulu. Kemudian ia meraih ponsel yang ia masukkan ke dalam saku celananya, ada sebuah pesan dari Jack, bahwa ia sedang dalam perjalanan bersama dengan pihak kepolisian.


Bughh .... bughh ... bughh ....


Kembali baku hantam terjadi. 2 orang dari pengawal sudah terjatuh.


"Wow, ternyata Uncle Joe mahir berkelahi, pantas saja Anna memiliki bakat itu juga. Uncle Lexy juga diam-diam bisa berkelahi dengan tangan kosong."


Tiba tiba seorang pengawal dengan tubuh yang agak besar menyerang Joe, membuatnya terjatuh.


"Mereka jahat sekali. Apa mereka tidak tahu kalau Uncle Joe baru selesai operasi .... huh, sepertinya aku harus ke sana," gumam Gia.


Gia berjalan masuk kemudian melepaskan tembakan ke atas.


"Berhenti!" teriak Gia.


"Gift!" gumam Lexy.


"Ouuu, ada pahlawan kesiangan di sini," kata Elisa yang melihat kedatangan Gia.

__ADS_1


"Lepaskan Uncle Joe dan Uncle Lexy," kata Gia dengan nada tinggi.


"Memangnya apa yang membuatku harus melepaskan mereka?" tanya Elisa.


"Aku akan menembakmu jika kamu tidak melepaskan mereka."


Elisa tertawa sambil bertepuk tangan menyindir.


"Hebat sekali dirimu. Apa kamu sudah belajar menggunakan senjata itu?" tanya Elisa mengejek.


"Untuk menembakmu, aku tidak perlu belajar," jawab Gia.


"Gift, pergilah. Sebaiknya kamu tidak berada di sini," pinta Lexy.


"Kamu sebaiknya mendengarkan Uncle-mu itu, atau kamu mau ikut dalam arena pertarungan ini?" tanya Lisa.


"Aku tidak akan meninggalkan Uncle di sini."


"Gift, awas!" teriak Lexy.


Dari belakang, tangan Gia ditangkap dan dikunci, senjata miliknya juga diambil dan malah ditodongkan ke arahnya.


Elisa tertawa dengan keras, "Dasar anak bau kencur! mau bermain-main denganku."


Gia berusaha melepaskan diri, tapi ia tidak bisa. Lexy yang melihat Gia, berusaha tenang agar tidak terjadi apa-apa.


"Kita lihat saja apa kamu masih bisa tertawa kalau polisi sudah datang kemari," kata Gia sambil tersenyum sinis.


Seorang pengawal membisikkan sesuatu ke arah Elisa, kemudian Elisa mengangguk dan pergi dari sana melalui pintu belakang. Tapi sebelumnya, ia memerintahkan para pengawalnya untuk membawa Joe.


"Dasar wanita iblis!!" teriak Gia.


Sementara tangannya masih ditahan oleh seorang penjaga.


Lexy ingin menahan Joe yang dibawa oleh pengawal Elisa, tapi ia juga tidak bisa meninggalkan Gia sendirian.


Tak lama terdengar suara sirene polisi, semakin lama semakin besar, yang menandakan mereka semakin dekat.


Penjaga yang sedang menahan Gia menoleh ke belakang mengecek asal suara. Melihat kesempatan, Gia langsung mengangkat tangannya dan dengan kekuatannya ia menyikut perut penjaga, kemudian berbalik badan dan langsung menendang ************ penjaga tersebut hingga mengenai juniornya.


Penjaga itu kesakitan. Penjaga lain yang melihat keadaan itu dan mendengar suara sirene, perlahan kabur dari pintu belakang.


Gia yang sudah bebas, berlari menghampiri Lexy. Namun, Lexy melihat sang penjaga yang tadi terjatuh, kembali memegang senjata milik Gia dan mengarahkannya ke arah Gia.


"Gift!!" teriak Lexy sambil berlari menghampiri Gia.


"Uncle ... ," Gia langsung memeluk Lexy saat sudah dekat dan Lexy langsung membalikkan tubuhnya membelakangi si penjaga.


Dooorrr .... dorrrr ....


Lexy melihat ke arah Gia, ia tersenyum. Lexy yang terkena tembakan di tubuh bagian belakang, terjatuh sambil masih dipeluk oleh Gia.


"Uncle!!!" teriak Gia.


Gia memapah Lexy yang lemah namun masih tersadar. Ia harus segera membawanya ke rumah sakit.


Sampai di depan, mereka bertemu dengan Jack yang sedang berlari masuk.


"Kak Jack, tolong Uncle," pinta Gia.

__ADS_1


Jack memerintahkan pihak kepolisian untuk memeriksa ke dalam rumah tersebut, sedangkan ia akan membawa Lexy ke rumah sakit.


🌹🌹🌹


__ADS_2