TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#50


__ADS_3

Sudah 1 minggu ini Anna berada di rumah Gavin. Anna lebih banyak berada di kamar bersama bayi kembarnya. Memang Gavin-lah yang memintanya agar tidak terlalu lelah.


Menjaga 1 bayi saja pasti sudah lelah dan ini Anna harus menjaga 2 bayi sekaligus. Gavin pernah menawarkan tambahan babysitter selain Poppy, tapi Anna dengan halus menolaknya, ia ingin menjaga bayinya sendiri.


Setiap hari Gavin pergi ke kantor untuk memeriksa berkas-berkas yang berkaitan dengan proyek yang sedang ia tangani. Selain itu ia juga terus melakukan penyelidikan untuk mencari keberadaan Uncle Joe melalui Mr. Ken.


Gavin baru mengetahui bahwa Uncle Joe, Mr. Ken dan Lexy adalah sahabat. Usia mereka yang berbeda tidak membuat mereka menjadi canggung, malah semakin akrab. Joe adalah yang tertua, sedangkan Lexy adalah yang termuda, sehingga sudah dianggap adik kecil mereka.


Sepulang dari kantor, Gavin akan melihat Anna sedang berinteraksi dengan anak mereka. Jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Elisa, yang hanya meninggalkan Elle dengan Poppy. Saat ini Poppy malah lebih banyak berada di dapur daripada menjadi babysitter.


Dari balik pintu, Gavin selalu tersenyum melihat interaksi itu. Ingin rasanya ia berada di sana, menjadi keluarga yang bahagia.


Gavin mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar Anna.


"Apakah aku boleh bermain sebentar bersama mereka?" tanya Gavin.


"Tentu saja," Anna mempersilakan Gavin mendekat. Namun, justru ia yang kini menjauh. Ia melihat dari sofa interaksi yang dilakukan Gavin. Poppy selalu bercerita padanya bagaimana Gavin sangat menyayangi Elle dan selalu menyempatkan diri untuk bermain dengan anaknya, meski sesibuk apapun dirinya.


Apa aku terlalu jahat? - batin Anna.


"Tidak ... tidak, aku tidak mencintainya, begitu juga dengan dirinya dan aku tidak ingin kami terjebak dalam sebuah pernikahan hanya karena anak. Lebih baik kami berada dalam status kami masing-masing, sehingga tak saling menyakiti."


Sesekali Gavin melihat ke arah Anna yang tertangkap sedang melihatnya. Tapi Anna tidak memalingkan pandangannya. Dengan berani ia selalu menatap mata Gavin, dan justru malah membuat Gavin menjadi salah tingkah.


"Yang mana Nathan dan yang mana Nixon? aku belum bisa membedakannya," tanya Gavin.


Anna bangkit dari duduknya dan menghampirinya, kemudian ia menunjukkan pada Gavin perbedaan yang dimiliki bayi kembar tersebut. Nathan selalu tenang, sementara Nixon lebih ceria. Nixon juga memiliki sebuah tahi lalat kecil di pangkal lengan sebelah kanan. Tak akan ada yang menyadari jika tidak diperhatikan dengan seksama.


Gavin pun mengerti. Kini Anna tepat berada di sampingnya. Ia bisa melihat Anna dari jarak yang sangat dekat. Ia kembali melihat senyum Anna saat berinteraksi dengan bayi kembar mereka, dan Gavin sangat menyukai senyum itu.


**


Setelah Gia dan Lexy berhadapan dengan Mom Clara kini giliran Dad Chris yang ada di hadapan mereka, menatap mereka berdua dengan tajam, tanpa sedikit pun ingin berpaling.


"Cepat katakan! Apa maksud dari ucapan Mommy tadi Gi?" tanya Dad Chris.


"Aku .... "


"Aku mencintai Gia," kata Lexy.


"Apa maksudnya? sejak kapan?" tanya Dad Chris penuh curiga.

__ADS_1


"Aku sendiri tidak tahu, tapi ... "


"Tapi dia putriku," kata Dad Chris lagi, "Apa kamu tidak melihat perbedaan usia antara kalian berdua?"


"Aku masih muda Tuan," kata Lexy lagi.


"Muda? Kamu itu seumuran dengan saya."


"Tidak!! Aku lebih muda 12 tahun dari Tuan, dan masih single," Lexy tidak terima jika ia dikatakan seumuran dengan Dad Chris.


"Tapi Gia itu putriku."


"Tapi aku benar-benar mencintainya."


"Uncle ... ," kata Gia pelan, tapi masih bisa didengar oleh Dad Chris.


"Lihat, putriku saja memanggilmu Uncle, sudah terlihat bahwa kamu termasuk seumuran denganku."


"Daddy, sudah," Gia menatap Dad Chris, "Aku juga mencintai Uncle, Dad."


Dad Chris menghela nafasnya kasar. Ia semakin pusing dengan pernyataan masing-masing dari mereka. Tidak pernah terpikir olehnya kalau ia harus menikahkan anaknya dengan laki-laki yang seumuran dengannya.


"Lex, kembalilah ke Indonesia. Nicholas membutuhkanmu," ujar Dad Chris tiba-tiba.


"Dengarkan aku, kembalilah ke Indonesia!" Kata Dad Chris tegas.


"Baik, Tuan."


Lexy pun pamit, kemudian meninggalkan Gia dan Dad Chris di ruang duduk. Gia bangkit dari duduknya dan ingin mengejar Lexy.


"Mau ke mana kamu?" tanya Dad Chris.


"Aku ... "


"Duduk!!"


Gia kembali duduk, ia tak ingin membantah Dad Chris. Dengan wajah yang menunduk, kini buliran air mata mulai turun, membasahi pipinya.


Dad Chris sebenarnya tidak tega melihat keadaan putrinya. Hanya saja ia juga tak ingin putrinya salah dalam melangkah.


Dad Chris menjauhkan Gia dengan Lexy hanya bermaksud untuk melihat keseriusan mereka. Ia tak ingin mereka menganggap suatu hubungan sebagai permainan, apalagi melihat usia mereka yang terpaut cukup jauh.

__ADS_1


Lexy memang sudah dewasa, tapi ia belum pernah memiliki hubungan dengan wanita manapun. Yaa, Dad Chris memang tidak pernah melihat Lexy dengan wanita manapun.


Begitu juga dengan Gia. Ia masih terlalu muda, menurut Dad Chris. Apakah benar yang ia rasakan adalah cinta, atau hanya sekedar melihat Lexy sebagai seseorang yang ia kagumi.


Dad Chris mendadak merasa gusar.


"Apa kamu mencintainya?" kali ini Dad Chris bertanya dengan lebih lembut.


"Aku .... "


"Kamu sendiri tidak bisa menjawabnya, itu yang membuat keraguan di hati Daddy."


"Tapi aku ... "


"Daddy ingin kamu mengerti dulu bagaimana perasaanmu yang sebenarnya, karena pernikahan bukanlah sebuah permainan. Pergilah," kata Dad Chris pada Gia.


Gia langsung beranjak pergi meninggalkan Kris. Ia tak kembali ke kamarnya, tetapi justru menuju kamar Lexy.


"Uncle!" panggil Gia sambil mengetuk pintu kamar Lexy.


Lexy membukakan pintu dan menarik Gia masuk. Ia mengungkung Gia di belakang pintu dan menatap lembut ke arah Gia.


"Gift, dengarkan aku. Aku mungkin bukan pria yang cocok bagimu. Tapi semua yang kukatakan adalah benar."


Gia menangkup wajah Lexy dengan kedua tangannya, ia tak sanggup jika harus kehilangan laki-laki di hadapannya ini.


"Apa Uncle benar-benar akan pergi?"


"Untuk sementara aku akan pergi. Tapi aku pergi bukan karena aku menyerah. Aku berjanji akan mencari cara agar kedua orang tuamu setuju, juga dengan keluarga besar Ginea."


Gia memeluk tubuh Lexy, "Aku juga akan meyakinkan Daddy."


Lexy membalas pelukan Gia sekaligus mengusap rambut Gia yang sangat ia sukai aromanya.


"I love you, Gift," kata Lexy sambil mengecup kening Gia.


"I love you too, Lexy."


Mendengar namanya disebut oleh Gia, membuat senyuman merekah di wajah Lexy, Ia kembali mencium kening Gia, yang kemudian turun ke pipi, lalu ke bibir Gia, yang sangat ia sukai.


"Jaga hatimu untukku, gadis kecilku," bisik Lexy.

__ADS_1


Gia membalas ciuman Lexy dengan kelembutan. Mereka berdua hanyut dalam hubungan cinta yang berbeda usia.


🌹🌹🌹


__ADS_2