TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#75


__ADS_3

Tokk ... tokk ... tokk ....


Cornelia kembali membuka pintu rumah yang ia tinggali bersama Joe. Cornelia memang sudah menikah dengan Joe. Ia pun menyerahkan toko miliknya untuk dijaga oleh 1 orang anak buahnya. Cornelia kini pergi ke toko hanya 2 kali dalam seminggu. Bella sendiri tetap tinggal di bagian atas toko karena ia juga membuka ruang praktek di sebelah toko milik Cornelia.


"Selamat malam, Nyonya," sapa Gavin.


"Malam," balas Cornelia, kemudian mempersilakan Gavin untuk masuk ke dalam rumah.


"Silakan duduk dulu. Sebentar ya, Anna sedang menyusui Nathan dan Nixon," lanjut Cornelia.


"Ya, tidak apa, aku akan menunggunya."


Cornelia masuk ke dalam untuk memberitahu Joe bahwa Gavin sudah tiba, begitu juga dengan Anna.


Selang 15 menit kemudian, Anna keluar dari kamarnya sambil mendorong stroler. Anna menggunakan dress berwarna peach yang berada sedikit di atas lutut.


Gavin baru pertama kali melihat Anna menggunakan dress. Dengan rambut digerai dan sedikit ikalan di bagian bawah, membuat Anna terlihat anggun.


"Cantik ... ," gumam Gavin.


Ia pun menghampiri Anna, kemudian mengambil alih stroler dari tangan Anna. Dengan sebelah tangan ia mendorong stroler tersebut dan dengan tangan yang sebelah lagi, ia meraih tangan Anna dan menggandengnya menuju ruang tamu.


"Kamu cantik sekali," ujar Gavin.


Anna tersenyum.


"Apa kalian sudah siap?" tanya Dad Joe yang baru datang dari arah kamarnya.


Gavin dan Anna mengangguk. Anna membuka pintu dan Gavin pun mendorong stroler menuju ke arah mobilnya. Ia membuka pintu bagian belakang, kemudian Anna masuk, begitu juga dengan Mom Cornelia. Gavin memberikan Nathan dan Nixon pada mereka, kemudian meletakkan stroler di dalam bagasi. Sementara Dad Joe duduk di kursi penumpang sebelah kemudi.


Gavin mulai menjalankan mobilnya, membelah jalan di Kota Maastrich. Suasana kota ini sangat menyenangkan bagi Anna, penuh ketenangan. Ia memandang ke arah luar jendela sambil memeluk Nixon yang mulai tertidur.


Sesekali Gavin melihat ke arah spion di bagian tengah mobil, melihat ke arah Anna. Gavin tersenyum melihat Neil yang tertidur dalam pelukan wanita yang akan menjadi calon istrinya itu.


Setelah kurang lebih 20 menit, mereka sampai di sebuah restoran. Gavin menghentikan mobilnya di depan lobby restoran. Jack yang sedari tadi sudah sampai, sedang menunggu di lobby, langsung menghampiri mobil yang dikendarai oleh Gavin. Ia membukakan pintu bagian belakang, kemudian mempersilakan Cornelia dan Anna untuk turun. Setelah itu, ia membuka bagasi untuk mengambil stroler. Setelah itu ia mengambil alih mobil dari Gavin untuk memarkirkannya.


Gavin kembali meraih stroler dari tangan Anna dan dengan sebelah tangan ia meraih tangan Anna. Genggaman tangan Gavin menghangatkan hati Anna, ia tersenyum.


Kedatangan mereka disambut oleh Dad Chris dan Mom Clara di sebuah ruang VIP. Dad Chris langsung bersalaman dengan Dad Joe, sedangkan Mom Clara memeluk Mom Cornelia dan juga Anna. Mom Clara juga mengelus kedua pipi cucunya yang sedang tertidur di dalam stroler.


"Ishh, kalian sungguh menggemaskan sekali. Sedang terlelap pun membuatku ingin menciumi kalian," kata Mom Clara.


"Ayo, silakan duduk," ajak Dad Chris.

__ADS_1


Mereka duduk di sebuah meja bundar. Dad Chris memberi tanda kepada pelayan untuk mulai menghidangkan makanan yang sudah ia pesan. Mereka pun mulai makan saat semua makanan sudah mulai terhidang.


Mereka makan sambil kadang berbincang hal-hal yang bersifat santai. Selesai makan dan para pelayan sudah membawa piring-piring kotor keluar, beberapa piring berisi buah mulai diletakkan di atas meja sebagai pencuci mulut.


"Tuan Joe, seperti yang tadi pagi saya katakan. Kami bermaksud untuk melamar Anna untuk Gavin," kata Dad Chris.


"Saya menyerahkan semua keputusan pada Anna, karena dialah yang akan menjalaninya. Bagaimana Anna, apakah kamu menerimanya?" tanya Dad Joe.


Semua mata tertuju pada Anna, sementara Anna menjadi sedikit salah tingkah karena tatapan yang mengarah kepadanya.


"Aku ... ,"


Gavin meraih tangan Anna kemudian dengan bantuan Jack, ia menggeser kursi untuk memberikan ruang baginya. Ia berlutut di hadapan Anna.


"Brianna Harland, Will you marry me?" Gavin membuka sebuah kotak dengan sebuah cincin di dalamnya.


Setelah terdiam menatap Gavin, kemudian menatap ke sekeliling, akhirnya Anna menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Gavin langsung memakaikan cincin tersebut ke jari Anna. Senyum mengembang di wajah keduanya. Gavin pun mencium kening Anna.


"Terima kasih, sayang," kata Gavin.


Wajah Anna langsung memerah karena Gavin memanggilnya dengan sayang. Gavin yang melihatnya pun menjadi gemas dan mencubit pipi Anna.


"Selamat ya, sayang," kata Mom Clara, kemudian memeluk calon menantunya itu.


Dad Joe menghampiri Anna dan memeluknya dengan erat.


"Dad ...," bisik Anna.


"Berbahagialah, sayang. Daddy senang kamu menemukan seseorang yang kamu cintai dan mencintaimu. Daddy tidak perlu kuatir akan apapun, karena Daddy yakin Gavin bisa menjagamu dengan baik."


"Terima kasih, Dad. Aku sayang Daddy," kata Anna sambil mengeratkan pelukannya.


**


"Annaaaa!!!" teriak Gia yang kini melakukan panggilan video.


"Ya ampun Gi, untung saja aku menggunakan earphone, kalau tidak suaramu bisa membangunkan Nathan Dan Neil."


"Ya ampun, maafkan aku. Aku senang sekali, rasanya aku ingin mengajak para tetangga untuk ikut bersorak."


Anna tertawa mendengar ocehan Gia. Ia juga tidak pernah menyangka bahwa ia akan menjadi kakak ipar dari sahabatnya ini. Hubungan mereka akan semakin dekat, lebih dari sekedar sahabat.


"Aku merindukanmu, An. Bahkan aku ingin memelukmu saat ini."

__ADS_1


"Benarkah? kurasa kamu hanya ingin memeluk suamimu," goda Anna.


"Itu juga," ujar Gia tertawa kemudian wajahnya memerah.


"Ada apa? Kenapa wajahmu tiba tiba memerah? Apa kamu sedang mengingat sesuatu?" goda Anna.


"Anna!! Kenapa kamu menggodaku? Aku akan mengadukanmu pada Sena," kata Gia.


"Coba kamu adukan. Aku jamin Sena akan berpihak padaku," Anna kembali tertawa, kemudian dengan cepat ia menutup mulutnya karena takut membangunkan kedua anaknya.


"Kapan acara pernikahannya, An?" tanya Gia.


"Aku menyerahkan semuanya pada kakakmu. Kurasa ia harus mencocokkannya dengan jadwal kerja miliknya, bukan begitu?"


"Ya, si manusia gila kerja satu itu. Aku saja tidak kuat berlama-lama di kantor, bisa kering aku."


Anna tersenyum. Ia tahu Gia memang tidak pernah suka berada di kantor dan duduk terlalu lama di balik meja. Bahkan ia sampai rela untuk kembali mengambil sabuk hitamnya agar ia tidak dipaksa membantu kakaknya di kantor.


"Sayang, aku pulang!!" terdengar suara Lexy membuka pintu kamar.


"Iya, aku sedang berbincang dengan Anna," balas Gia.


"Anna?" tanya Lexy menghampiri.


"Iya, sayang. Kemarilah," kata Gia.


"Anna, selamat atas rencana pernikahanmu. Aku sudah mendengarnya dari Gia," ujar Lexy.


"Cepat sekali ia menceritakan padamu, Uncle," kata Anna.


"Kalau kamu sudah menjadi istri Gavin, maka kamu harus berhenti memanggilku Uncle."


"Untuk itu ... sepertinya aku tidak bisa," kata Anna.


"Iya An, kamu harus berhenti memanggil Lexy dengan sebutan Uncle, karena aku tidak mau menjadi Auntymu," bibir Gia pun mengerucut, menampakkan wajah yang sangat menggemaskan.


"An, nanti Gia akan menghubungimu lagi. Saat ini, aku pinjam Gia sebentar darimu," kata Lexy sambil tersenyum. Anna pun ikut tersenyum.


"Baiklah, sampai jumpa Gi."


"Sampai jumpa, kakak ipar!" teriak Gia kemudian sambungan video tersebut mati.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2