TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#31


__ADS_3

"Uncle Han, bagaimana keadaan perusahaan?" tanya Gavin, sekembalinya ia dari rumah sakit.


"Perusahaan sendiri tidak bermasalah, hanya proyek kita yang mengalami sedikit masalah."


"Aku akan menangani proyek kita yang ada di Amsterdam, dan aku minta tolong pada Uncle untuk menangani proyek kita saat ini bersama Triumph."


"Baiklah kalau begitu."


Han keluar dari ruangan, sementara Gavin mulai memeriksa beberapa dokumen yang berkaitan dengan proyek di Amsterdam. Ia terus bekerja, hingga tak menyadari bahwa ia memeriksa semua dokumen itu semalaman.


"Bos, are you okay?" tanya Jack.


"I'm okay Jack. Siapkan kopi saja untukku."


"Baik bos."


"Oya, jam berapa penerbanganku ke Amsterdam?"


"Jam 5 sore nanti, bos."


"Baiklah, kamu siapkan semuanya. Aku akan beristirahat sebentar di sini,” kata Gavin.


Jack keluar dari ruangan, sementara Gavin berjalan menuju sofa panjang di ruangannya. Ia merebahkan diri dan tertidur.


**


Saat ini Gavin sedang memeriksa proyek resort yang menjadi masalah belakangan ini. Sebuah proyek resort di pinggiran Amsterdam. Resort tersebut sangat dekat dengan pantai, pemandangannya juga sangat indah.


Gavin terdiam cukup lama melihat pemandangan tersebut. Ini adalah proyek yang sangat penting bagi Dad Chris, karena ia tahu saat itu proses pembelian tanah ini pun memiliki masalah yang cukup rumit.


"Jack, bagaimana?"


"Manager Proyek sudah berada disini bos."


"Baiklah, kita cek sekarang."


"Siap bos."


Mereka berjalan mengelilingi proyek, memeriksa setiap detail, terutama di bagian yang retak dan hancur.


Manager proyek menjelaskan dengan rinci bahwa material yang mereka pesan sudah sesuai dengan spesifikasi yang tertulis. Namun, saat divisi pembangunan dan tenaga kerja dari pemerintah Belanda mengecek, ternyata bahan bangunan tersebut adalah kualitas rendah.


"Bagaimana hal itu bisa terjadi? Apa tidak ada quality control? dan siapa yang mengawasi setiap material yang masuk?" tanya Gavin.


"Namanya Boris, Tuan Gavin. Akan tetapi ia sudah berhenti sebelum permasalahan itu terjadi,” kata sang manager proyek.


"Boris? sepertinya aku tidak asing dengan nama itu. Jack .... "


"Benar, bos, Boris adalah asisten atau bisa kita sebut sebagai kaki tangan dari Antonio."


"Siallan!!! ternyata diam-diam dia sudah melakukan penyusupan ke proyek milik kita,” Gavin mengepalkan tangannya, "Apakah semua bangunan menggunakan kualitas rendah?" tanya Gavin pada sang manager.


"Tidak, sesuai pemeriksaan, hanya ada beberapa bangunan saja."


"Hancurkan semua bangunan itu dan lakukan pembangunan ulang. Aku tidak mau tahu, kamu yang harus mengawasi dari awal hingga akhir. Aku tak ingin hal seperti ini terjadi lagi. Jika tidak, aku akan memecatmu," ujar Gavin.


"Baik, Tuan Gavin."


Sang manager pun langsung memerintahkan para pekerja proyek untuk berkumpul. Sementara Gavin pergi ke kantor proyek.


Gavin duduk di atas sebuah kursi kantor yang terbuat dari besi, dengan sebuah meja kerja di hadapannya.

__ADS_1


"Ada dendam apa dia padaku hingga men-sabotase proyekku seperti itu?"


"Apa bos pernah berbuat salah padanya?" tanya Jack dengan sedikit takut. Ia tak ingin salah bicara.


"Salah? justru dia yang berbuat salah padaku. Dia yang mengambil istriku. Bukankah seharusnya aku yang marah di sini?" Gavin menatap Jack seakan menginginkan jawaban.


Jack hanya bisa menunduk.


"Oya bos, kebetulan kita ada di sini, bagaimana kalau kita mengunjungi Mr. Ken."


"Apa Mr. Ken ada di Amsterdam?" tanya Gavin.


"Tidak. Tapi dia ada di Kota Maastrich di Propinsi Limburg "


"Baiklah, kita ke sana. Dia pasti memiliki jawaban dari semua pertanyaan kita."


"Baik, Bos."


**


Tinggg .... Trinning .....


Suara bel di pintu masuk berbunyi.


"Selamat datang!"


"Selamat datang!"


Terdengar suara Hanna dan Craig, kebetulan hari ini Anna mendapatkan shift sore hari.


"Mau pesan apa, Tuan?” tanya Hanna.


"1 Americano, 1 latte."


Jack menghampiri Gavin yang sedang duduk di pojokan.


"Di mana, Mr. Ken? Apa kita berjanji bertemu dengannya di sini" tanya Gavin


"Tidak Bos, tapi Mr. Ken-lah pemilik coffee shop ini."


"Katamu dia sedang liburan, kenapa dia malah bekerja di sini?”


"Dia memang membuka coffee shop ini sekedar untuk hobi, mengisi waktu luang. Selain itu, kota ini sangat tenang sehingga ia tidak berharap ada yang menemukannya di sini."


"Lalu, kapan kita bisa menemuinya?"


Trinning ..... Trinning .....


Bel pintu kembali berbunyi,


"Briii! kamu sudah datang ... ," panggil Hanna.


Gavin melihat ke arah pengunjung yang baru saja masuk.


"Itu dia Jack, itu dia ....," kata Gavin terbata, "Apa yang ia lakukan di sini?"


Sementara itu,


"Bri, aku akan mengantarkan pesanan dulu, nanti kamu ceritakan bagaimana hubunganmu dengan Dokter Peter," kata Hanna sambil tersenyum.


"Tidak ada hubungan apa-apa antara diriku dengan Dokter Peter," ujar Anna, "Aku ke belakang dulu, mau ganti baju."

__ADS_1


Anna pergi ke belakang untuk mengganti pakaiannya menjadi kemeja berwarna coklat tua, seragam khusus pekerja coffee shop dan sebuah apron berwarna hitam.


Setelah selesai berganti pakaian, ia merapikan rambutnya, menguncir kuda seperti biasanya.


"Craig, apa kamu akan pulang?" tanya Anna.


"Iya, Bri. Grandma-ku sedang sakit dan aku harus membawanya ke dokter," jawab Craig.


"Baiklah, hati-hati. Salam untuk Grandma."


"Pasti. Grandma pasti senang mendapatkan salam darimu," kata Craig sambil tersenyum.


Craig pun masuk ke dalam ruang khusus karyawan untuk berganti pakaian.


Sedari tadi dari ujung coffee shop, Gavin memperhatikan Anna. Wanita yang berwajah sama dengan wanita yang selalu menggodanya di Indonesia.


"Nenek Craig sakit apa Han?" tanya Anna.


"Sepertinya penyakit karena usia. Craig tidak menceritakan secara lengkap. Besok saja kita tanya, sekalian kita bisa menjenguknya."


"Baiklah kalau begitu."


"Oya Bri, tolong antarkan kue ini ke meja 10 ya."


"Okay."


Dengan menggunakan nampan berwarna senada dengan pakaiannya, Anna membawa 2 potong kue coklat yang menjadi best seller di coffee shop tersebut.


Ia menghampiri kedua pria yang sedang duduk di meja 10, di ujung ruangan coffee shop tersebut.


Anna meletakkan piring berisi yang masing-masing berisi sepotong kue coklat ke atas meja.


"Silakan, Tuan," kata Anna.


Saat salah seorang lelaki itu mengarahkan pandangannya pada Anna, mata mereka saling beradu.


"Kamu !!" teriak Anna sambil mendekap nampan yang tadi ia bawa.


Anna berjalan mundur perlahan, mencoba menghindari Gavin. Ia menabrak meja, kemudian segera membalikkan tubuhnya. Yang Anna inginkan saat ini hanya menjauh dari laki-laki itu.


Tapi saat ia berbalik dan ingin pergi, Gavin justru menarik tangan Anna.


"Bisakah kita bicara?" tanya Gavin.


Anna menghempaskan tangannya, "Tidak ada yang perlu kita bicarakan."


"Tolong dengarkan aku," pinta Gavin sambil kembali meraih tangan Anna.


"Sudah kubilang, tak ada yang perlu kita bicarakan," Anna kembali menghempaskan tangannya yang dipegang oleh Gavin.


Anna berlari menuju ruang khusus karyawan. Ia tak ingin melihat Gavin.


Kilatan-kilatan kejadian malam itu kembali memenuhi pikiran Anna, buliran air mata membasahi pipinya, kemudian ia mengusap perutnya.


"Sayang .... Mommy harus apa?" gumam Anna.


Sementara di luar,


Jack yang melihat ke arah bos nya yang sedang melihat kepergian Anna, akhirnya berani mengeluarkan kata-kata, "Bos, sebaiknya kita menemui Tuan Ken saja sekarang."


"Huhh .... baiklah."

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2