
"Kamu mau bermain-main denganku, An?"
"Menjauh dariku atau ..."
"Atau apa?"
"Atau aku akan menghabisimu!" geram Anna.
Anna terbaring di atas tempat tidur dengan tangan terikat. Ia mencoba memariknya agar terlepas, namun tempat tidur tersebut terbuat dari besi, bukan dari kayu, sehingga sedikit menyulitkan dirinya.
"Kamu tidak akan bisa melepaskan diri, aku sudah mempersiapkan semuanya," ujar Peter.
"Aku sudah menikah, kamu sebaiknya mencari wanita lain yang mencintaimu. Kamu pasti akan hidup bahagia."
"Aku tidak akan pernah bahagia jika tidak bersamamu. Aku mencintaimu, An."
"Kamu tidak mencintaiku, yang kamu rasakan hanyalah obsesi semata. Kalau kamu mencintaiku, kamu akan bahagia jika melihatku bahagia."
"Aku mencintaimu!!! Dengar, aku mencintaimu! Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tak ada laki laki lain yang bisa memilikimu juga," Peter kemudian menampar wajah Anna.
Saat melihat Anna meringis, hassrat dan gairrah Peter meningkat. Ia kembali menampar pipi Anna yang sebelah lagi, kemudian ia merobek gaun pengantin Anna, sehingga memperlihatkan tubuh Anna yang hanya menggunakan pakaian dalam.
"Hentikan! Kamu gila!!" teriak Anna yang terus berusaha melepaskan ikatan dan memberontak. Namun tangan dan kakinya terikat, ia tak bisa melepaskan diri meskipun ia memberontak.
"Sungguh indah sekali, An. Aku akan memenuhi apapun keinginanmu jika kamu menjadi milikku," Peter mendekati Anna dan membuka pakaiannya.
Kini Anna sudah mulai ketakutan. Kalau saja ia tidak terikat, ia masih bisa melawan bahkan mungkin ia bisa membuat Peter terkapar tak berdaya. Tapi saat ini, menyelamatkan dirinya saja ia tidak bisa.
Bayangan malam saat pertama kali kehormatannya direnggut kini kembali ke dalam pikirannya, seketika keringat dingin mulai muncul di dahinya.
"Gavin ... to ... long ... aku ...," gumamnya pelan.
Peter mulai mencium Anna dengan kasar, Anna pun berusaha untuk memalingkan wajahnya. Hal itu membuat Peter marah dan kembali menamparnya hingga kini sudut bibirnya berdarah.
Ciuman Peter mulai turun ke leher dan ia pun semakin berhasrrat saat melihat bukit kembar yang terpampang jelas di hadapannya.
Dengan kekuatannya, Anna meludahi Peter. Hal itu kembali membuat Peter marah dan meninju perut Anna. Anna langsung merasa kesakitan. Peter kembali melanjutkan ciumannya.
Pintu ruangan itu terbuka dan Gavin yang berdiri di sana langsung berlari mendekati Anna dan memberikan bogem mentah pada Peter. Ia juga langsung membuka jas yang ia kenakan untuk menutupi tubuh Anna.
__ADS_1
Jack meminta anak buahnya untuk langsung meringkus Peter. Mereka mengikat tangan dan kakinya agar ia tidak melarikan diri sampai polisi datang.
"Kita pergi, sayang," kata Gavin pada Anna.
"Tidak, putraku. Aku harus menemukan mereka. Aku ...," Anna merasakan sakit di pergelangan tangannya dan juga di perutnya.
"Sayang, aku akan mencari mereka, aku berjanji," kata Gavin.
"Mereka tidak jauh. Pergilah, cari mereka. Aku tidak akan pulang jika tidak bersama mereka," ungkap Anna.
Gavin memerintahkan anak buahnya untuk kembali memeriksa. Tak lama pihak kepolisian pun datang. Mereka turut memeriksa keseluruhan bangunan.
Mereka menemukan keberadaan Elisa, sang pengasuh dan juga kedua anak Gavin di sebuah rumah tak jauh dari bangunan itu.
Namun, Elisa tidak mau menyerahkan anak-anak Gavin meski ia diancam dengan senjata. Justru ia berbalik mengancam akan membunuh kedua anak Gavin jika mereka mendekat.
Akhirnya Gavin pergi ke rumah tersebut, bersama dengan Anna yang sudah diberi pakaian oleh pihak kepolisian.
"Lisa, hentikan semua ini. Jangan menambah daftar kejahatanmu," kata Gavin sambil berusaha menenangkan Elisa.
"Tidak, aku tidak akan pernah menghentikan apa yang telah aku mulai. Kamu yang membuat aku menjadi lebih kejam. Apa kamu tidak merasa bersalah atas apa yang telah kamu lakukan padaku, huh?!" ucap Elisa.
"Aku tidak melakukan apapun padamu. Saat kita bercerai, itulah saat dimana kita tidak ada hubungan lagi. Jadi aku tidak akan bersusah payah untuk mencelakaimu."
"Apa?! Aku tidak pernah meminta siapapun. Aku tidak pernah berniat untuk mencelakaimu."
"Kalau bukan kamu, lalu siapa? Hanya kamu yang memiliki dendam padaku. Jadi saat ini, biarlah aku juga membuatmu menderita. Aku akan membunuh kedua anakmu, sehingga kamu akan menderita selamanya," ucap Elisa sambil tertawa.
"Jangan! jangan kamu lakukan apapun pada anakku. Aku akan melakukan apapun asal kamu membebaskan anak-anakku," pinta Anna.
"Benarkah? Kamu akan melakukan apapun untuk mereka?" Anna menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu kemarilah," perintah Elisa.
"Aku akan ke sana, tapi aku meminta kamu juga untuk membebaskan anak-anakku. Aku akan menggantikan posisi anak-anakku."
"An, kamu ...," bisik Gavin.
"Tenanglah, aku tahu apa yang aku lakukan," bisik Anna pada Gavin.
__ADS_1
Saat Anna berjalan menuju Elisa, Elisa pun memerintahkan pengasuh yang menjaga kedua anak kembar Gavin untuk ikut melangkah. Anna tahu Elisa memberi tanda pada pengasuhnya agar segera kembali ke titik awal sebelum sampai di seberang, agar ia memiliki Anna dan kedua anak kembar Gavin kembali sebagai sandera.
Namun, dengan cepat Anna langsung meraih stroler kedua anaknya dan memukul pengasuh itu dengan bogemnya. Stroler tersebut langsung ia dorong ke arah Gavin.
Elisa yang melihat itu langsung melesatkan sebuah peluru, tapi masih bisa dihindari oleh Anna. Anna yang melihat para penjaga di sebelah Elisa mulai bergerak dan mengarahkan senjata padanya dan pada Gavin, langsung menundukkan kepala dan juga menghindar.
Gavin sendiri berlindung dibalik para pengawalnya karena ia harus melindungi anak anaknya. Kini ia sedang memikirkan bagaimana ia harus menyelamatkan Anna.
Elisa bersembunyi di balik dinding saat baku tembak itu terjadi. Ia sendiri membidik dari balik dinding berwarna putih namun kotor itu, mengincar orang-orang yang memang harus ia habisi.
Dorr ....
Satu tembakan ia lepaskan dan benar saja itu mengenai lengan atas Gavin. Seulas senyum terbit di wajahnya.
"Sebentar lagi aku akan menembak jantungmu, sehingga kamu langsung mati," Elisa tersenyum smirk dari balik dinding.
Beberapa pengawal Elisa sudah banyak yang terjatuh karena tertembak. Elisa berniat untuk kabur, namun ia masih tidak rela jika ia belum menembak salah satu orang keluarga Gavin hingga mati.
Elisa mengarahkan tembakannya pada stroler. Anna yang sedari tadi juga menghajar beberapa pengawal Elisa pun melihat gelagat Elisa. Anna memang terus memperhatikan Elisa, tak ingin ia berbuat hal yang buruk pada kedua putranya.
Ketika ia melihat Elisa mulai mengarahkan senjatanya, Anna langsung melihat ke arah mana tembakan itu akan mengarah.
"Nathan, Nixon!" gumam Anna.
Suara sirene polisi sudah terdengar dari luar, tapi tak mungkin Anna menunggu pihak kepolisian untuk masuk. Ia langsung mengendap mendekati Elisa, tanpa diketahui.
Saat sudah dekat, Anna langsung berusaha memelintir tangan Elisa. Elisa yang kaget langsung berteriak. Semua pandangan kini mengarah pada mereka.
"Aku tidak akan membiarkanmu menembak anak-anakku, kamu mengerti?!" ujar Anna.
"Aku akan menghancurkan keluargamu, kalian akan hancur!" teriak Elisa.
Anna dan Elisa masih terus bergulat memperebutkan senjata. Mata Elisa kini sudah membulat dan penuh tatapan membunuh. Ia sudah tidak peduli akan apapun. Rasa dendamnya pada Gavin semakin meningkat, membuat tenaganya kian berlebih.
Anna dan Elisa berguling sambil Anna terus menahan tangan Elisa agar tidak bisa melakukan tembakan.
"Anna!" teriak Gavin pelan. Tangannya yang terkena tembakan masih terasa sakit sekali dan ia juga terus melindungi kedua anaknya. Jack kini membawa polisi masuk ke dalam.
Dorr ... dorr ... dor ....
__ADS_1
3 tembakan pun terlepas ...
🌹🌹🌹