
Anna duduk di hadapan Gavin saat ini. Anna menatap mata Gavin tanpa ada rasa takut, ia akan terus berusaha untuk tetap berani.
"Katakanlah, aku harus segera bekerja lagi," kata Anna.
"Aku benar-benar minta maaf atas kejadian malam itu. Maaf jika aku menyangka bahwa kamu adalah kaki tangan dari Antonio dan menimpakan semua kesalahan padamu ..."
Anna mendengarkan semua perkataan Gavin. Ia juga tahu bahwa ia dan Gavin adalah korban, karena itu juga saat ini ia tak ingin memperpanjang masalah itu.
"Sudah kukatakan kemarin, tidak ada yang perlu dimaafkan. Ini juga bagian dari kesalahanku."
"Tapi aku sudah membuatmu .... ," Gavin menghentikan kata-katanya.
"Aku mengerti, kamu pasti merasa bersalah, tapi aku sudah mengatakan bahwa tak ada yang perlu dimaafkan. Kembalilah pada keluargamu, jangan menyusahkan dirimu dengan masalah ini lagi," kata Anna lagi sambil mengelus perutnya tanpa diketahui oleh Gavin.
"Miss, aku mau pesan," kata salah seorang pembeli yang baru datang.
"Baiklah, aku harus bekerja lagi," kata Anna yang sudah akan bangkit dari duduknya.
"Tapi, kamu mendiamkan Gia karena perbuatanku kan?" Anna berhenti sesaat saat mendengar perkataan Gavin.
"Aku tidak pernah bermaksud untuk itu. Aku hanya butuh waktu untuk berpikir. Aku akan menghubunginya nanti. Kamu tidak perlu khawatir tentang hal itu juga. Permisi, aku harus bekerja lagi."
Anna kembali melayani para customer, sementara Gavin masih terduduk diam. Tak lama, ia beranjak dari tempat duduknya dan kembali menghampiri Anna.
"Terima kasih atas pengertianmu. Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, hubungi aku," kata Gavin sambil memberikan kartu namanya.
Anna mengambil kartu nama itu, dan mengangguk sambil tersenyum. Kemudian ia menyimpan kartu nama tersebut di salah satu saku apron miliknya.
"Selamat malam," pamit Gavin sambil meninggalkan tempat itu.
"Malam ... ," gumam Anna.
Anna kembali mengelus perutnya, "Itu Daddy-mu sayang. Kamu sudah melihatnya bukan. Tenanglah, Mommy akan selalu menjagamu."
**
Hari ini Anna pergi menemui Dokter Bella, dokter kandungan tempai ia memeriksakan diri. Hari ini adalah jadwal Anna untuk melakukan Ultrasonografi atau lebih dikenal dengan sebutan USG.
Setelah mengantri, kini giliran Anna yang akan masuk untuk diperiksa.
"Brianna Harland."
"Aku Dok."
"Bagaimana? Apa yang kamu rasakan belakangan ini?" tanya Dokter Bella.
"Tak ada Dok, masih seperti biasanya."
"Sebentar lagi kamu akan bisa merasakan pergerakan mereka. Ayo berbaringlah, aku akan memeriksamu."
Anna mengikuti seorang perawat untuk berbaring di atas sebuat tempat tidur.
Dengan menggunakan alat USG, Dokter Bella memeriksa keadaan janin yang berada di dalam perut Anna. Alat tersebut sudah diolesi gel terlebih dahulu.
Deg ... Deg .... Deg ....
Terdengar bunyi detak jantung yang saling bersahut-sahutan, Dokter Bella pun tersenyum.
__ADS_1
"Nona Brianna, kamu bisa melihat apa yang saya lihat di televisi besar di depan kamu itu," kata Dokter Bella sambil menunjuk ke arah sebuah televisi yang kini menampilkan sebuah gambar yang bergerak-gerak.
"Kamu lihat, di sana ada 2 janin."
"Maksud Dokter ... "
"Ya, kamu sedang mengandung bayi kembar. Saat awal pemeriksaan memang saya sudah menduga ini, hanya saja saya harus memastikannya terlebih dahulu sebelum mengatakannya padamu."
"Kamu harus lebih menjaga kesehatanmu. Mereka membutuhkan banyak asupan makanan, dan mungkin kamu akan lebih lapar dibanding ibu hamil lain yang hanya mengandung 1 janin," pesan Dokter Bella, dan membuat mereka tertawa bersama.
Setelah selesai, Anna duduk di hadapan Dokter Bella yang sedang menuliskan beberapa resep vitamin.
"Ini saya resepkan beberapa vitamin untukmu dan kamu bisa kembali ke sini sekitar 2 bulan lagi. Saat itu, kita sudah bisa melihat apa jenis kelamin bayimu."
"Baik Dok, terima kasih banyak."
“Sama-sama.”
**
Gavin terus berkutat dengan beberapa dokumen yang memenuhi meja kerjanya. Sudah 1 bulan sejak ia kembali dari Amsterdam, ia terus bekerja dan bekerja.
"Jack, belikan aku apel, harus yang berwarna hijau," pinta Gavin.
"Apel hijau?"
"Ya! Sudah cepat belikan."
"Ya ampun, si bos kok belakangan jadi minta yang aneh-aneh melulu sih tiap hari. Aku jadi berasa lagi memenuhi permintaan istri yang sedang hamil, padahal punya pacar aja belum," gumam Jack.
"Jackkk!!"
Sudah 1 bulan tapi Mr. Ken belum memberikan kabar kepada Gavin mengenai lokasi tempat Elisa berada.
Flashback On
"Selamat siang, Mr. Ken," sapa Gavin sambil memberi jabat tangan.
"Duduklah."
"Terima kasih."
"Informasi apa yang kamu perlukan?" tanya Ken.
"Antonio Verero dan Elisa Ivano. Keberadaan mereka berdua."
"Baiklah, aku akan melakukannya. Tapi jangan pernah memaksaku karena aku sedang dalam masa liburan."
"Baiklah."
"Satu hal lagi, jangan pernah sekali sekali kamu mengganggu para karyawanku."
"Maksudmu?"
"Brianna Harland. Aku melihat semuanya dari sini," kata Ken sambil melihat ke arah komputernya yang sedang menampilkan CCTV di ruang coffee shop.
"Maafkan aku, Mr. Ken. Aku memiliki masalah pribadi yang harus kuselesaikan dengannya."
__ADS_1
"Selesaikan secara baik-baik dan jangan membuat ia merasa terganggu. Aku tidak ingin hal buruk terjadi padanya, karena ia adalah putri dari sahabatku."
"Aku mengerti, Mr. Ken,” ujar Gavin.
"Baiklah, kita makan di luar. Aku ingin mendengar bagaimana kabar keluargamu. Sudah lama aku tidak mengunjungi mereka."
Flashback Off
"Sepertinya semua orang sangat menyayangimu. Apa keistimewaan seorang Brianna Harland?" gumam Gavin.
**
"Mommy!!!"
Mom Clara yang sedang menemani Dad Chris dan Gavin di ruang duduk kaget dengan teriakan Gia.
"Ada apa, sayang? Mengapa kamu berteriak seperti itu." ujar Mom Clara.
"Lihat Mommy, Anna mengirimkan pesan singkat padaku,” Gia memperlihatkan ponselnya pada Mom Clara.
Senyum terus mengembang di wajah Gia, sambil terus menatap ke arah ponselnya.
"Baru dapat pesan singkat begitu aja udah happy banget keliatannya,” kata Gavin
"Ya iyalah Kak, Anna itu sahabatku sejak sekolah. Aku senang karena ternyata ia tidak melupakanku."
"Memang apa yang ia katakan, Gi?" tanya Dad Chris.
"Anna bilang kalau saat ini ia sedang berada di luar negeri untuk menemani Uncle Joe yang sedang terapi. Kalau semuanya sudah lebih baik dan terapi Uncle Joe berhasil, ia akan kembali ke sini. Ia juga titip salam untuk Mommy dan Daddy."
"Untukku?" tanya Gavin
"Ihhh kakak Ge-eR, kenal juga nggak, ngapain titip salam,” ledek Gia
Terima kasih, An. Kamu sudah membawa keceriaan Gia kembali. - batin Gavin
"Lalu, di negara mana dia sekarang?" tanya Mom Clara.
"Anna tidak memberitahuku, Mom. Tapi dengan dia memberikan kabar saja, aku sudah senang. Kalau aku sampai tahu dia ada di mana, maka aku akan langsung pergi menemuinya."
"Dia ada di Belanda,” kata Gavin tiba-tiba.
"Kakak, dari mana kakak tahu?" tanya Gia.
Gavin yang awalnya hanya sekedar nyeletuk jadi kelabakan karena ia tak sadar dengan apa yang ia bicarakan.
"Apa? memang aku bicara apa?"
"Tadi kakak bilang kalau Anna ada di Belanda. Darimana kakak tahu?" tanya Gia lagi
"Hmm ... hmmm ...."
"Apa kakak menyembunyikan sesuatu dariku?"
"Tidak, kakak hanya meminta bantuan seseorang untuk mencarinya karena kakak kuatir saat melihat kamu yang selalu bersedih saja."
"Lalu, di mana Anna? maksudku dia ada di mana? aku mau menemuinya."
__ADS_1
"Kota Maastrich."
🌹🌹🌹