
"Ahhhhh ..... apa ini?" teriak Elisa setelah ia membuka sebuah paket yang ditujukan kepadanya.
Gia yang mendengar suara kakak iparnya itu langsung bergegas menuju kamar Elisa. Di sana ia melihat kakak iparnya sedang terduduk di lantai, tepatnya di pinggir tempat tidur, sambil menangis.
"Ada apa, kak?" tanya Gia saat mendekati Elisa.
"i ... i .... itu .... jauhkan barang itu dariku," pinta Elisa sambil menunjuk sesuatu di atas tempat tidur.
Gia menghampiri kotak yang berada di atas tempat tidur. Ia melihat di dalamnya terdapat sebuah boneka wanita (boneka barbi) dengan pakaian minim dan beberapa boneka laki-laki di atasnya, seperti sedang melakukan adegan panas.
Dengan cepat tangan Gia mengambil ponselnya dan menghubungi kakaknya.
"Kak, segeralah pulang. Sepertinya Kak Lisa membutuhkanmu."
Gia menghampiri Elisa, "Tenanglah kak, aku sudah menghubungi Kak Gavin. Aku akan membawa kotak ini keluar ya."
Meskipun Gia tidak menyukai Elisa, tapi ia juga tidak ingin hal buruk menimpa keluarga kakaknya.
Gia keluar dari kamar tersebut sambil membawa kotak, kemudian pergi menuju ke ruang kerja kakaknya.
"Py, kalau Kak Gavin pulang, bilang aku menunggunya di ruang kerja," kata Gia pada Poppy yang sedang menemani Elle bermain di ruang keluarga.
"Baik, Nona.”
Tak lama kemudian, Gavin tiba di rumah. Poppy yang masih bermain dengan Elle di ruang keluarga pun memberitahukan pada Gavin bahwa Gia sudah menunggunya. Gavin pun bergegas menuju ruang kerja.
"Ada apa, Gi?" tanya Gavin.
"Ini ...,” Gia menyerahkan sebuah kotak kepada Gavin
Gavin memperhatikan kotak tersebut, ditujukan untuk istrinya, Elisa.
"Aku mendengar Kak Lisa berteriak, lalu saat aku ke sana, aku menemukan kotak ini."
Gavin membuka kotak tersebut. Saat ia melihat isinya, raut wajahnya berubah dan ia langsung tahu mengapa istrinya berteriak.
"Ada apa Kak? Siapa yang melakukan ini?" tanya Gia.
"Aku akan menyelidikinya," jawab Gavin.
Gavin sudah mengetahui ini perbuatan siapa, hanya saja ia tak ingin membawa adiknya ikut dalam permasalahan ini.
"Aku akan menemui Lisa dulu."
"Baik Kak."
Gavin langsung menuju ke kamar tidurnya. Ia mengetuk pintu perlahan agar tak mengganggu istrinya itu.
Elisa yang mendengar sedari tadi bahwa Gavin sudah pulang, meletakkan ponselnya kembali setelah menghubungi seseorang dan menggunakan obat tetes mata untuk membuat air mata palsu.
"Honey, aku masuk ya," kata Gavin.
Gavin melihat Elisa berada di samping tempat tidur dengan memegang kedua kakinya yang dilipat, wajahnya juga masih terdapat sisa-sisa air mata.
__ADS_1
"Honey, kamu tidak apa-apa?" tanya Gavin kuatir.
Sontak Elisa langsung memeluk Gavin dengan erat.
"Aku takut, honey. Apa mereka akan mencelakaiku? Sepertinya mereka sedang mengancamku ... aku takut ...."
"Tenanglah, tidak akan ada yang boleh menyentuh Nyonya Keluarga Neutron. Aku akan mencari pelakunya dan memberikannya pelajaran."
"Thank you, honey. I love u," kata Elisa.
"I love u too, honey," balas Gavin.
**
Sudah beberapa kali paket datang ke kediaman Gavin, dan isinya selalu berupa teror terhadap Elisa, istrinya. Hal ini membuat Gavin meminta Jack untuk melakukan pemeriksaan terhadap CCTV yang ia pasang di tempat tersembunyi di rumah.
"Apa kamu sudah menemukan siapa pelakunya Jack?"
"Seorang wanita."
"Wanita?" tanya Gavin.
"Ya, melalui CCTV terlihat bahwa pengantar paket adalah seorang wanita. Lio juga sudah membenarkan bahwa ia selalu menerima paket dari seorang wanita yang sama."
"Apakah wajahnya terlihat jelas di CCTV?"
"Hampir di semua pengiriman, ia memakai topi, tapi ada satu yang sepertinya ia lupa menggunakannya, dan di sana kita bisa melihat wajahnya dengan jelas."
"Perlihatkan padaku."
"Wanita ini ... "
"Apa bos mengenalinya?" tanya Jack.
"Ya, dia adalah wanita yang pernah kutemui di rumah sakit saat Elisa pingsan waktu itu. Mungkin ia sudah mengawasi lisa sejak lama, dan mengikuti kemana pun lisa pergi. Pasti ia disuruh oleh Antonio. Wanita ini juga pernah terlihat saat kamu memberikan foto orang kepercayaan kita, saat memata-matai mereka."
"Ohhh benar, wanita yang bersama Boris," kata Jack.
"Ya, bisa disimpulkan bahwa wanita ini adalah salah satu orang kepercayaan Antonio,” kata Gavin.
"Apa kita harus mengambil tindakan sekarang?" tanya Jack.
"Kita lihat beberapa hari lagi. Selain itu, kita harus tahu, siapa wanita itu sebenarnya," jawab Gavin.
"Baik bos."
**
"Kak, aku kembali ke rumah Daddy saja ya, membosankan sekali di sini," kata Gia.
"Tidak! kamu tidak akan ke mana-mana sampai daddy dan mommy kembali,” kata Gavin, membuat Gia mencebik kesal.
Suara ponsel berbunyi,
__ADS_1
"Halo."
" ..... "
"Senaaa, kamu menyelamatkanku!"
" ..... "
"Baiklah, aku akan segera ke sana. Membosankan sekali di sini, apalagi punya kakak yang terlalu overprotektif," Gia menatap Gavin dengan kesal.
" ..... "
"Bye."
Gia menutup sambungan ponselnya.
"Kak, aku mau pergi. Aku mau menginap di tempat Sena."
"Pergilah, tapi ingat! jangan membuat kekacauan."
"Hei, kakak kira aku pembuat onar apa," gerutu Gia kesal sambil melipat tangan di depan dada.
Gavin hanya tersenyum. Dari kejauhan, muncul Elisa.
"Honey," panggil Elisa.
"Honey, kenapa kamu turun, tidak memanggilku saja. Kamu harus banyak istirahat," kata Gavin yang menghampiri istrinya.
"Tidak apa. Aku hanya ingin memberikan ini. Tadi ada yang mengantarkan ini kemari," Elisa memberikan sebuah amplop kepada Gavin.
"Untukku?"
"Ya, disana tertulis namamu, honey."
Gavin membolak-balikkan amplop tersebut sebelum membukanya.
"Sebuah undangan, honey. Mengapa dikirimkan ke rumah? biasanya mereka akan mengirimkan undangan padaku ke kantor?" tanya Gavin sedikit curiga.
"Ntahlah honey, tapi undangan apakah itu?"
"Pertemuan para pengusaha Eropa, dan mengambil tempat di Paris."
"Apa kamu akan datang?" tanya Elisa.
"Tentu saja, honey. Di sini kita bisa menambah relasi, baik untuk perusahaan kita ke depannya. Apa kamu mau ikut?" tanya Gavin.
"Benarkah? aku boleh ikut …,” tanya Elisa antusias.
"Tentu saja honey, kamu kan istriku. Tentu saja kamu harus ikut menemaniku."
"Kapan kita akan ke sana?"
"Lusa kita berangkat. Aku akan meminta Jack untuk mempersiapkan tiketnya."
__ADS_1
"Thank you, honey."
🌹🌹🌹