TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#40


__ADS_3

"Anna, apa kamu sudah memiliki jawaban untuk pertanyaanku waktu itu?"


Sejak Dokter Peter melamarnya, Anna hanya diam. ia belum memberikan jawaban, bahkan ia tak memikirkannya sama sekali. Dokter Peter adalah orang yang baik, sudah sepatutnya ia mendapatkan orang yang baik pula, begitulah pemikiran Anna.


"Dok, terima kasih atas semua perhatian yang dokter berikan. Untuk saya, untuk Daddy. Tapi ... maaf, saya belum bisa menerimanya."


"Anna," Dokter Peter menggenggam tangan Anna, "Kamu mungkin belum mencintaiku, tapi perlahan, saat aku ada di sampingmu, cinta itu, pasti akan tumbuh."


"Dok, aku juga berharap aku bisa menyukai dan mencintai seseorang, tapi kurasa aku tidak bisa."


"An, aku .... "


"Aku percaya dokter akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari diriku. Saat ini, aku hanya ingin fokus menjaga Daddy dan anak-anakku nanti."


Dokter Peter hanya bisa menghela nafasnya pelan. Sepertinya harapan untuk memiliki Anna sudah hilang, tapi ia tidak akan menyerah. Ia yakin dengan ketulusan hatinya, Anna perlahan akan membuka hatinya.


**


Begitu dokumen hasil pemeriksaan DNA telah dibacanya, ia langsung membantingnya di atas meja. Sesuai dugaan, kali ini pun bukan anaknya. Sejak ia menikah dengan Elisa, ia benar-benar tidak memiliki seorang anak.


Kebahagiaan keluarganya selama ini hanyalah semu. Gavin berdecak kesal kemudian mengacak-acak rambutnya.


"Dasar wanita siallan! Apa sebenarnya yang kamu inginkan,” umpat Gavin.


Gavin membanting dokumen tersebut di hadapan Elisa saat ia tiba di rumah.


"Apa ini, honey?" tanya Elisa.


Ia membuka map tersebut dan matanya langsung membelalak. Ia kaget ternyata Gavin telah melakukan tes DNA pada anak yang sedang ia kandung.


"Bodoh! Bodoh! bodoh!" gumam Elisa .


"Apa? apa kamu kaget karena kebohonganmu terbongkar dengan begitu mudah?" Kata Gavin sambil mengejek Elisa.


Gavin mendekati Elisa kemudian dengan sebelah tangannya ia mencengkeram dagu Elisa.


"Sakit .... sakit .... lepaskan!" teriak Elisa.


"Apa yang kamu mau, huh!"


"Yang aku inginkan adalah kehancuran, yaaa .... kehancuran keluargamu."


Gavin semakin keras mencengkeram dagu Elisa dan Elisa semakin keras berteriak. Lio akhirnya menghampiri kamar tersebut karena mendengar teriakan Elisa.


"Tuan, hentikan, jika terjadi sesuatu padanya, itu akan tidak baik bagi anda," kata Lio.


Gavin melepaskan tangannya. Sementara Elisa memegang dagu dan pipinya yang terasa sakit.


"Pergi kamu dari sini dan jangan pernah kembali lagi!" kata Gavin tegas.

__ADS_1


Elisa tertawa dengan sangat keras, "Tentu saja aku tidak akan kembali ke tempat yang sangat membosankan ini. Tempat yang seharusnya dihancurkan, beserta orang-orang di dalamnya."


"Lio, cepat panggil polisi. Aku rasa wanita ini akan lebih nyaman berada disana."


"Penjara ya? mungkin masih lebih nyaman di sana dibanding dengan nasib anakmu saat ini."


"Apa maksudmu?" tanya Gavin.


"Aku akan membuat anakmu menderita, anakmu .... lucu sekali mengatakannya." Elisa kembali tertawa.


Ntah apa yang merasukinya, Gavin kembali mencengkeram, tapi kali ini tangannya berada di leher Elisa.


"Cepat katakan!"


"Tuan, lepaskan Nyonya Elisa," Lio berusaha melepaskan cengkeraman tangan Gavin pada leher Elisa.


"Aku akan membunuhmu!" ujar Gavin geram.


"Bunuh saja aku, maka kamu tidak akan dapat lagi melihat anakmu. Saat ini pasti ibu dari anakmu sudah berada dalam genggaman kami,” kata Elisa sambil tertawa.


Ia kemudian mengambil ponselnya dan memperlihatkan wajah Anna dengan perutnya yang sudah membesar.


"Kamu pasti mengenal wanita ini bukan?"


"Anna?"


"Anakku? wanita ini mengandung anakku?"


"Dasar laki-laki bodoh. Dari dulu hingga sekarang memang kamu itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Antonio."


Gavin yang kalap seketika menampar pipi Elisa.


"Diam kamu! Jangan kamu sakiti wanita itu dan jangan kamu sakiti anakku."


Elisa menekan beberapa tombol di ponselnya,


"Tampar wanita itu! Jika laki-laki bodoh ini menyakitiku, aku akan membuat wanita itu dan anaknya turut merasakannya juga," ujar Elisa kesal sambil memegang pipinya.


"Siallan!!!" teriak Gavin.


**


Anna mendapatkan tamparan yang cukup keras. Sakit, itu yang ia rasakan. Ia ingin membalas tapi tak mungkin, karena saat ini tangannya sedang diikat.


Siapa mereka dan apa yang mereka inginkan, itulah yang ada dalam pikiran Anna.


Baru saja ia sadar dari pingsannya, tiba-tiba langsung mendapat tamparan. Kesalahan apa yang diperbuatnya, ia juga tidak tahu. Yang saat ini ia inginkan hanya membalas orang-orang ini.


Tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka.

__ADS_1


"Dokter?!"


Orang itu berjalan mendekati Anna. Mengambil sebuah kursi kemudian duduk di depan Anna. Ia menepuk pipi Anna, kemudian mengelusnya.


"Sakit Anna?"


Anna mengesampingkan wajahnya, tak ingin disentuh.


"Seharusnya kamu menerima tawaranku. Jika kamu melakukan itu, makan kamu tidak akan menjadi seperti ini. Kamu akan hidup enak, nyaman, dan tentu saja bahagia."


"Dokter Peter … Saya tahu anda sudah banyak membantu Daddy dan juga diri saya. Tapi Dokter tidak bisa memaksakan kehendak begitu saja."


Peter tertawa hingga suaranya memenuhi ruangan. Anna tidak pernah melihat Peter yang seperti ini, sangat berbeda 180 derajat.


"Lepaskan saya. Saya yakin Dokter akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari saya,"


kata Anna.


"Tapi sayang sekali. Saat ini kamu berada di sini karena permintaan kakak saya yang paling cantik."


"Kakak?"


"Ya, kakakku. Nanti kamu juga akan bertemu dengannya."


"Tapi apa salahku padamu dan pada kakakmu?" tanya Anna


"Salahmu adalah karena kamu mengandung anak dari seorang Gavin Adelio Neutron dan tentu saja karena kamu menolak untuk menikah denganku," Dokter Peter tertawa sinis.


Anna baru teringat bahwa terakhir kali ia baru saja selesai menjalani terapi untuk ayahnya.


"Daddy .... mana Daddy?" tanya Anna.


"Oooo Uncle Joe, tenang saja. Ia juga berada di tempat yang aman. Bukankah aku sudah cukup baik merekomendasikan seniorku untuk mengoperasinya? Mengapa kamu tidak berterima kasih sekali, Anna."


"Cihhh ... kamu yang tidak tahu malu! Aku tidak menyangka bahwa segala tindakan baikmu selama ini mengharapkan imbalan. Memang zaman sekarang susah sekali mencari orang yang benar benar ikhlas membantu orang lain."


Peter mencengkeram pipi Anna, sehingga Anna menahan sakit.


"Sekali lagi kamu banyak bicara, makan jangan salahkan aku kalau aku akan membunuh anakmu," ancam Dokter Peter.


"Tidak! Jangan sekali-kali kamu berani menyentuh anakku. Aku akan membunuhmu untuk itu ..."


"Uhhhh, aku takut sekali .... ha ha ha ha ha,” Dokter Peter tertawa dengan nada mengejek, "Sebaiknya kamu menyimpan tenagamu, jangan sampai kamu mati sebelum sasaran utama kami lumpuhkan."


Anna berdecak kesal, "Siallan!! kalau saja tangan dan kakiku ini tidak terikat, akan kuhabisi laki-laki ini," gumam Anna.


"Hei, beri dia minum, jangan sampai sandera kita kehausan," Dokter Peter berbicara dengan salah satu penjaga disitu, kemudian tertawa dan meninggalkan ruangan itu.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2