
"Apa kamu yakin akan menggunakan model ini sebagai brand ambasador dari produk terbaru kita?" tanya Grandpa Brandon.
"Ya, Dad. Model ini sedang naik daun dan banyak yang selalu menunggu kemunculannya."
"Tapi harga yang mereka tawarkan sepertinya kurang masuk di akal. Kita bisa menggunakan 2 orang model lain."
"Tapi saat ini, model inilah yang sedang diincar oleh banyak perusahaan. Jika kita lebih dulu menandatangani kontrak dengannya, produk-produk kita akan lebih unggul," ujar Nicholas.
"Terserah padamu saja kalau begitu. Daddy hanya memberikan masukan."
"Apa ada hal lain yang ingin Daddy bicarakan? tak biasanya Daddy memintaku datang."
"Ya, kamu benar. Dad membutuhkan pertolonganmu. Gavin baru saja menghadapi masalah, Clara sudah menghubungi Dad dan menceritakan semuanya. Masalah itu sepertinya semakin berlarut-larut karena sejak ia sampai di sini, ia jarang sekali keluar dari kamar, bahkan ia seperti wanita hamil."
"Wanita hamil? apa maksud Dad?" Nicholas sedikit tersenyum mendengar perkataan Daddynya.
"Nisa memeriksanya kemarin, dan mengatakan kalau ia mengalami sindrom seperti wanita hamil. Dad lupa apa namanya "
"Couvade syndrome, Dad,” kata Nicholas.
"Ya seperti itulah."
"Jadi, apa yang bisa aku bantu?"
"Besok kamu ajak Gavin ke perusahaan, siapa tahu ia bisa melupakan segala masalah yang saat ini ia hadapi. Jika ia berdiam terus di dalam kamar, itu justru akan menambah bebannya."
"Baiklah, Dad. Besok aku akan meminta Lexy menjemputnya."
"Terima kasih ya, Nic," kata Dad Brandon.
**
"Uncle Lexy!" teriak Gia pagi-pagi.
"Gift, kenapa kamu selalu berteriak kalau bertemu denganku?"
"Karena aku senang bertemu dengan Uncle," ujarnya.
Lexy mengusap pucuk kepala Gia, membuat rambutnya sedikit berantakan, tapi Gia justru senang.
"Dimana Gavin? apa dia sudah siap?" tanya Lexy.
"Uncle akan mengajak Kak Gavin ke mana?” tanya Gia.
"Tuan Brandon meminta Tuan Nicholas untuk mengajak Gavin ke perusahaan, agar ia tidak terus menerus memikirkan masalah yang ia hadapi."
__ADS_1
"Apa aku boleh ikut?" tanya Gia penuh harap. Ia bahkan mengatupkan kedua tangannya dan menunjukkan ‘puppy eyes’ nya.
"Tentu saja Gift, asal Tuan Brandon dan Nyonya Kezia mengijinkan."
"Grandmaaaa !!!!" Gia langsung melepaskan diri dari lengan Lexy yang ia pegang sedari tadi dan berlari menuju ke dapur.
Tak lama, Gavin turun dari lantai atas, ia menggunakan setelan kemeja berwarna gelap, tanpa jas.
"Uncle, aku sudah siap," kata Gavin.
"Sebentar kita tunggu Gift. Sepertinya ia ingin ikut."
Dari arah dapur ia keluar sambil tersenyum,
"Aku berhasil Uncle!" senyumnya merekah di wajah cantiknya, membuat hati Lexy sesaat berhenti.
Mereka akhirnya berangkat menuju Ginea Coorp, dan seperti biasanya Gia duduk di kursi depan mendahului Gavin yang mengalah duduk di kursi belakang.
**
"Dimana Uncle Nic?" tanya Gavin pada Lexy.
"Sedang ada meeting dengan bagian marketing."
"Wah, apa Ginea akan meluncurkan produk baru?" tanya Gia yang melihat beberapa contoh brosur di atas meja.
"Siapa yang akan menjadi brand ambasador dari produk Ginea kali ini, Uncle?" tanya Gia.
"Tuan Nicholas berencana untuk memakai Arianna Howard sebagai brand ambasador," jawab Lexy.
"Anna .... ," gumam Gia, secercah senyuman tercipta di wajahnya.
Gavin mendengarkannya dengan seksama. Jika memang Ginea akan memanggil Arianna Howard sebagai brand ambasador, maka ia harus mencari cara untuk bertemu dengan wanita itu secara pribadi.
"Uncle, apa aku bisa membantu di sini untuk sementara waktu?" tanya Gavin
"Maksudmu, kamu mau bekerja di sini?" tanya Lexy
"Ya, daripada aku di rumah tidak ada kerjaan, biarkan aku menghabiskan waktuku di sini," ujar Gavin.
"Lalu aku harus apa donk?" tanya Gia cemberut, "aku jadi asistennya Uncle Lexy saja ya?" sambil ia kembali bergelayut manja di lengan Lexy.
Lexy tertawa, "Aku bisa dimarahi Tuan Brandon jika membuat cucunya menjadi asistennya asisten."
Mereka pun akhirnya tertawa bersama.
__ADS_1
Tak lama, Nicholas memasuki ruangan kerjanya. Ia melihat ada tiga orang sedang tertawa bersama.
"Gavin, Gia, kalian sudah ada di sini? Apa sudah lama? mengapa tidak memanggilku?" tanya Uncle Nicholas.
"Tidak Uncle, kami belum lama sampai," jawab Gia.
"Ya Uncle, kami sedang bertanya pada Uncle Lexy mengenai produk terbaru yang akan dipasarkan oleh Ginea."
"Ooo produk kosmetik terbaru, ya kita akan mempromosikannya dalam waktu dekat ini," kata Uncle Nicholas, "Oya Lexy, aku sudah berbicara dengan bagian marketing dan mereka akan segera menghubungi Arianna Howard. Kamu kosongkan jadwalku saat bagian marketing memintanya."
"Baik Tuan, saya permisi dulu," Lexy keluar dari ruangan meninggalkan mereka.
"Uncle, bolehkah aku bekerja di sini untuk sementara waktu?" tanya Gavin.
"Kamu mau bekerja di sini?" tanya Uncle Nicholas lagi.
"Ya Uncle, aku ingin jadi asistennya Uncle Lexy," jawab Gia tiba-tiba.
Nicholas yang mendengar penuturan Gia malah tertawa, "Kamu yakin mau menjadi asistennya Lexy?"
"Apa itu salah? kenapa semua orang tertawa?" ujar Gia.
"Aku akan mengabulkan permintaan kalian berdua, terutama untukmu Gia," kata Nicholas, yang kembali tertawa.
**
"Apa jadwalku hari ini, Mam?"
"Kita akan menemui Tuan Nicholas dari Ginea Coorp. Mereka mengundang kita secara pribadi untuk menjadi brand ambasador produk terbaru mereka."
"Jam berapa?"
"Jam 3."
"Berarti aku masih sempat untuk melakukan spa bukan?" tanyanya.
"Ya, tapi kamu belum makan siang kan?"
"Aku tidak ingin makan, bagaimana nanti pemotretanku jika baju yang akan kupakai tidak muat. Sudah, aku mau spa saja."
"Aku akan meminta Timo untuk mengantarmu," kata Kristin.
"Okay Mam."
"Anak itu tidak pernah berubah, selalu semaunya,” gerutu Kristin.
__ADS_1
🌹🌹🌹