TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#76


__ADS_3

"Gavin Adelio Neutron, Pengusaha sukses di bidang property akan segera menikah," baca Elisa dengan suara dan nada mengejek.


"Ternyata kamu sudah melupakan cinta kita ... cintamu padaku tepatnya. Tapi, aku akan membuat kamu membayar semua yang telah kamu lakukan padaku. Aku tidak akan mengijinkan kebahagiaan datang padamu ataupun keluargamu," kata Elisa dengan geram.


Elisa menutup halaman berita yang ada di ponselnya, kemudian mencari kontak Boris.


"Ishh, kemana sih dia?!" kata Elisa kesal.


Elisa mencoba berkali-kali menghubungi Boris, tapi susah sekali. Bahkan ia sudah mencoba sejak tragedi yang ia alami, namun Boris masih sulit untuk dihubungi.


Elisa terlihat sangat kesal sekali. Ia membanting ponselnya di atas tempat tidur, kemudian menghela nafasnya kasar. Ia pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.


Matanya menerawang ke langit-langit kamar. Pikirannya terbang, seakan mencari inspirasi. Ia sangat membutuhkan Boris saat ini, bukan hanya tubuhnya, tapi juga pemikiran Boris yang selalu memiliki rencana-rencana baru.


Pintu kamarnya terbuka, Mom Marcella masuk dan menghampiri Elisa.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Mom Marcella.


"Aku ingin menghubungi Boris. Aku sudah terbiasa dibantu olehnya dan saat ini aku sangat membutuhkannya," ujar Elisa.


"Kamu bisa meminta bantuan Peter."


"Peter? Ahhh, apa yang bisa aku harapkan darinya, Mom," ujar Elisa kesal.


"Sayang, apa kamu tidak mengenal adikmu itu? Kamu hanya perlu mengiming-imingi dia sesuatu, maka dia akan membantumu."


"Tapi Mom, apa yang bisa aku berikan padanya?"


Mom Marcella membisikkan sesuatu pada Elisa, seketika itu juga senyum mengembang di wajahnya.


**


Gavin sedang berada di ruang kerjanya. Pernikahannya yang akan diselenggarakan 1 bulan lagi, membuatnya harus ekstra dalam menyelesaikan semua pekerjaannya. Seperti saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, tapi ia masih saja berada di kantor.


Jack, sang asisten, turut menemani Gavin untuk menyelesaikan semua pemeriksaan berkas-berkas. Gavin akan mengambil cuti selama 2 minggu setelah acara pernikahannya. Rencananya ia akan langsung membawa Anna untuk berbulan madu.


Ia memang belum memberitahukan rencana ini pada Anna, karena ia ingin membuat kejutan. Gavin menyandarkan tubuhnya ke kursi, memejamkan matanya sesaat, tanpa sadar ia pun tertidur karena kelelahan.


Jack masuk perlahan ke dalam ruangan, ia melihat Gavin tengah tertidur. Ia mengambilkan sebuah selimut dari dalam lemari di ruangan tersebut kemudian menyelimuti atasannya itu. Setelah selesai, ia pun pergi ke ruangannya sendiri dan beristirahat disana, karena ia tahu malam ini ia tidak akan pulang.


Keesokan paginya,


Gavin mengerjapkan matanya, akibat sinar matahari yang masuk dari jendela ruang kerjanya. Ia merentangkan tangannya untuk melakukan peregangan.

__ADS_1


"Aku ketiduran," gumamnya.


Tak berselang lama, Jack pun datang membawakan segelas kopi untuk dirinya.


"Kamu tidak pulang Jack?" tanya Gavin.


"Aku tidak mungkin pulang bos. Kalau nanti ada yang menculik calon pengantin, bagaimana?" goda Jack.


Gavin memutar bola matanya malas.


"Dan ini pakaian gantimu bos, aku sudah mengambilkannya dari rumah."


"Terima kasih, Jack. Lalu, apa jadwalku hari ini?" tanya Gavin.


"Hari ini jam 10 ada meeting dengan Tuan Allan, kemudian setelah makan siang ada meeting dengan Nyonya Helen. Jam 3 anda harus pergi untuk menemani Anna untuk fitting gaun pengantin."


Gavin kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi. Pegal-pegal masih ia rasakan, karena posisi tidurnya semalam.


"Apakah kamu bisa mengajak Anna kemari untuk makan siang denganku, Jack? Aku membutuhkannya," pinta Gavin.


Jack tersenyum, "Aku akan menjemputnya."


"Terima kasih, Jack," balas Gavin.


**


"Aku hanya ingin menyelesaikan semuanya sebelum pernikahan kita."


"Tapi kamu bisa menyelesaikannya setelah kita menikah."


"Setelah menikah, aku ingin bersamamu. Bersantai dan selalu berada di dekatmu."


Anna tertawa kecil. Ia tak pernah melihat Gavin yang begitu manja seperti anak kecil.


"Kamu menertawaiku? Apa ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Gavin.


"Tidak ... tidak ada, hanya saja kamu bertingkah seperti anak kecil yang meminta permen," Anna tertawa kecil lagi.


Gavin menyukai saat Anna tersenyum, bahkan lebih lagi saat ia tertawa. Kadang ia tak percaya bahwa ia bisa kembali jatuh cinta pada seorang wanita. Namun itulah yang terjadi saat ini. Setiap hari, ia semakin jatuh cinta dengan wanita yang ada di hadapannya.


"Kamu tahu ... aku sangat mencintaimu," ungkap Gavin sambil menangkup pipi Anna dengan kedua tangannya.


Anna kembali tersenyum. Ia juga tak pernah mengira bahwa ia akan segera menikah dengan laki-laki yang pada awalnya sangat membenci dirinya, bahkan sudah membuatnya merasa hancur.

__ADS_1


Gavin mencium kening Anna dalam, menghirup harum wanita itu, kemudian menyatukan kening mereka.


"Maukah kamu memelukku? Pelukanmu pasti akan menghilangkan semua rasa lelahku," pinta Gavin.


Anna melingkarkan tangannya di pinggang Gavin dan meletakkan kepalanya di dada Gavin. Anna merasa detak jantungnya berdegup kencang ketika mencium aroma tubuh Gavin.


Gavin kembali mencium kening Anna dan memeluknya dengan erat. Beban dan kelelahan yang ia rasakan seakan lenyap.


Gavin memegang dagu Anna dan mengarahkan pandangan Anna padanya. Dengan lembut ia mencium bibir Anna perlahan, menyesap manisnya bibir pink milik wanita itu.


Gavin memegang tengkuk Anna untuk memperdalam ciumannya. Dengan perlahan Anna mulai membalas ciuman Gavin. Semakin lama ciuman mereka yang lembut kini semakin menuntut. Gavin ******* bibir Anna dan mengabsen setiap rongga mulutnya.


Tokk ... tokkk ... tokkk ....


Anna melepaskan ciuman Gavin yang sedang panas-panasnya. Ia tak ingin ada yang melihat mereka.


Siapa ini, aku akan membuat perhitungan jika tidak ada yang penting. - batin Gavin.


"Masuklah," ucap Gavin.


Jack mengintip dengan sebelah matanya sebelum pintu benar-benar membuka penuh. Ia tak ingin kesucian matanya ternoda oleh pemandangan yang belum seharusnya ia lihat.


"Ada apa, Jack?" tanya Gavin dengan sedikit menaikkan nada bicaranya.


Jack menelan salivanya, sepertinya ia telah mengganggu acara si bos dengan Anna. Ia menghela nafasnya pelan.


"Maaf bos, meeting dengan Nyonya Helen sudah mau dimulai. Apa perlu ditunda?" tanya Jack.


Gavin melihat jam di pergelangan tangan kirinya. Ia memang sudah harus ke ruang meeting sedari tadi, hanya saja ia tak bisa menolak saat hasrratnya bersama dengan Anna. Ia seperti tak ingin terpisah.


"Apa kamu mau menungguku?"


Anna menganggukkan kepalanya.


"Tunggu aku di sini. Aku akan segera kembali setelah meeting dan kita akan bersama-sama pergi untuk fitting gaun pengantinmu," kata Gavin sambil tersenyum.


Ia mencium kening Anna kembali, "Aku meeting dulu ya."


"Jack, ayo. Aku ingin meeting ini cepat selesai," lanjut Gavin.


"Baik, bos."


Mereka pun bergegas ke ruang meeting, meninggalkan Anna di dalam ruang kerja Gavin. Setelah kepergian Gavin, Anna bangun dari duduknya dan mengelilingi ruangan Gavin. Ia tersenyum setelah melihat fotonya bersama anak-anak ada di atas meja Gavin.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2