
"Daddy, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Gavin pada Dad Chris melalui sambungan ponsel.
"Sepertinya ada yang ingin bermain-main dengan keluarga kita dan juga perusahaan."
"Maksud Daddy?"
"Resort kita yang berada di Amsterdam untuk sementara terancam ditutup. Itu semua karena ada salah satu bangunan yang retak dan juga hancur di sebagian titik. Membuat tingkat keamanannya menjadi nol."
"Ditutup?" tanya Gavin tak percaya.
"Ya, sampai kita memperbaikinya dan dewan pariwisata menyatakan bahwa resort kita sudah layak untuk dihuni kembali."
"Kekacauan apa lagi ini?” geram Gavin.
"Daddy juga sudah mendengar permasalahanmu di sana, dan semua kembali berhubungan dengan media."
"Maafkan Gavin, Dad. Di sana aku menyusahkan Daddy dan di sini aku menyusahkan Uncle."
"Tenanglah, Son. Kita adalah keluarga. Uncle Nicholas sudah mengatakan pada Daddy, bahwa ia tidak akan membiarkan masalah ini berlarut-larut. Dan ia pasti akan membantumu menyelesaikannya."
"Thank you, Dad. Aku tidak tahu mengapa semua masalah ini datang secara tiba-tiba dan seperti tidak ada hentinya. Aku akan menemui Uncle dulu."
"Baiklah, Son. Jaga dirimu. Oya, apa benar kamu mengalami couvade syndrome? Nisa yang menceritakannya pada Mommy-mu."
"Ya Dad, tapi belakangan ini hanya sakit kepala saja di pagi hari. Mual dan muntah sudah tidak."
"Baiklah, jaga kesehatanmu. Daddy akan menghubungimu lagi nanti."
"Mommy mana Dad?"
"Mommy sedang berbicara dengan Gia."
"Baiklah kalau begitu. Bye Dad."
"Bye Son. See you."
**
"Jack?"
"Yes, Bos."
"Mengapa penampilanmu berantakan seperti itu?"
"Sorry bos, aku baru tidur karena semalaman aku mencari informasi mengenai Dokter Peter Abraham."
__ADS_1
"Lalu, apa yang kamu dapatkan?"
"Dokter Peter adalah seorang ahli bedah di Belanda. Ia sekolah kedokteran di Paris dengan seorang dokter bedah senior bernama Dokter Harry Muse. Saat ini mereka sedang menangani seorang pasien bernama Joe Harland. Mereka melakukan operasi pada kaki Tuan Joe. Operasi ini sendiri adalah bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan."
"Bagaimana dengan wanita itu?"
"Wanita itu bernama Brianna Harland. Anak perempuan satu-satunya Joe Harland. Ia pergi ke Paris untuk menemani operasi dari Tuan Joe Harland."
Brianna ... Arianna .... nama mereka mirip, apa hubungan mereka berdua? - batin Gavin.
"Apakah saat ini mereka masih berada di sana?" tanya Gavin
"Ya, karena masih akan dilakukan proses pemulihan dan terapi pada kaki Mr. Joe."
"Perintahkan orang kita untuk terus mengawasi mereka, jangan sampai kehilangan lagi."
"Baik, bos."
"Dan kamu Jack, kembalilah ke Switzerland. Daddy akan membutuhkanmu di sana."
"Siap."
**
"Kak, sebaiknya aku kembali ke Switzerland saja," kata Gia.
"Mommy membutuhkan aku kak. Daddy sangat sibuk mengurus perusahaan dan Mommy selalu sendirian."
"Lalu bagaimana dengan Arianna? bukankah dia sahabatmu?" tanya Gavin. Ia belum memberitahu Gia bahwa ia menemukan Anna yang lain.
"Dia bukan sahabatku kak, aku yakin itu. Bahkan aku yakin 100%. Anna tidak akan bersikap seperti itu padaku, meskipun ia mengalami amnesia. Sifat seseorang tidak akan berubah meskipun dia mengalami amnesia."
"Apa kamu yakin dia bukan Anna yang kamu cari?" tanya Gavin.
"Aku yakin sekali kak. Aku akan mencarinya lagi nanti bersama Sena sekembalinya aku ke Switzerland. Aku yakin Anna tidak akan pergi jauh."
"Baiklah. Aku harus menyelesaikan semua masalah yang timbul dulu di sini. Setelah itu aku akan menyusulmu,” kata Gavin.
"Baik, Kak. Besok aku akan menemui Uncle Nic,” kata Gian
Gavin kembali berkutat dengan informasi yang didapatnya dari Jack. Ia membaca dan memeriksa satu persatu. Tentang Arianna, Brianna, Peter, dan juga permasalahan resort di Amsterdam.
"Dan sepertinya kamu harus menyelesaikan satu tugas lagi Jack," gumam Gavin.
**
__ADS_1
"Uncle, maaf .... aku ...."
"Ada apa? apa kamu mau menyerah menjadi asisten Lexy?"
"Ya kurang lebih seperti itu," kata Gia.
Nicholas tertawa, "Sudah bisa kutebak dari awal bahwa kamu tidak akan bertahan lama."
Sementara Lexy yang berada dalam ruangan tersebut pun turut ikut tersenyum.
"Uncle!!" Gia mencebik kesal karena Nicholas menggodanya.
"Apa kamu yakin akan kembali ke Switzerland?" tanya Nicholas.
"Iya Uncle, Mommy membutuhkanku."
"Uncle mengerti dan Uncle mengijinkanmu untuk pulang. Tapi apa kamu tidak ingin menikmati suasana Jakarta sebelum kamu pulang?" tanya Nicholas.
"Sebenarnya, sudah lama aku ingin berkeliling, tapi .... pekerjaan Uncle Lexy banyak sekali. Aku seperti tidak bisa bernafas. Bagaimana mungkin aku bisa menikmati suasana Jakarta," ujar Gia cemberut.
"Begini saja, besok aku akan meminta Lexy mengantarmu berkeliling Jakarta. Lusa baru kamu pulang, bagaimana?"
"Benarkah? Uncle mengijinkanku meminjam Uncle Lexy seharian?"
"Tentu saja! kamu boleh mengajaknya kemana pun besok, seharian!" Nicholas melirik Lexy yang hanya bisa mengangguk dan tersenyum.
Sepertinya anda sedang mengerjaiku, Tuan. - batin Lexy.
Gia berdiri menghampiri Lexy dan meraih lengannya, "Uncle, besok jemput aku jam 9 ya!"
"Baiklah Gift, besok aku milikmu seharian," Lexy tersenyum pada Gia.
**
"Uncle, aku sudah putuskan, aku akan bertanggung jawab atas semua permasalahan ini. Aku tak bisa membiarkan Uncle yang menyelesaikan semuanya."
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Nicholas.
"Kita buat Arianna yang mengakui sendiri bahwa dialah yang merencanakan semua hal itu."
"Bagaimana caranya?"
"Uncle tunggulah, aku akan mengatur semuanya."
"Baiklah, Uncle akan menunggu hasilnya saja kalau begitu. Tapi jika kamu membutuhkan bantuan Uncle, katakan saja. Uncle siap."
__ADS_1
"Baik, Uncle. Terima kasih."
🌹🌹🌹