TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#20


__ADS_3

Nicholas sudah berada di dalam ruang meeting bersama Niel, Gavin, Lexy, Gia dan juga beberapa orang dari team marketing. Mereka sedang menunggu kedatangan Arianna Howard, seorang model yang saat ini tengah naik daun.


"Jam berapa kalian membuat janji?" tanya Nicholas yang mulai kesal karena meeting sudah tertunda cukup lama


"Jam 3, Tuan," jawab sang manager marketing.


"Ini sudah hampir jam 4!" kata Nicholas marah.


"Nona Arianna Howard memang dikenal sebagai pribadi yang tidak tepat waktu, Tuan. Tapi karena ia sedang naik daun, maka banyak yang menganggap hal itu biasa karena padatnya jadwal yang ia miliki," ujar Lexy.


"Dad, apa tidak sebaiknya kita ganti saja. Aku tidak suka waktu kita terbuang percuma seperti ini," ujar Niel.


Sementara Gavin dan Gia masing-masing hanya diam, menunggu kedatangan wanita itu. Gavin sebenarnya juga tidak suka dengan yang dinamakan keterlambatan, tapi ia merasa harus bertemu dengan Arianna Howard dan berbicara dengan wanita itu.


Tokk .... tokk .... tokkk ....


"Permisi Tuan, Nona Arianna Howard sudah tiba," kata sekretaris sang manager marketing yang sedari tadi menunggu di luar.


"Persilakan dia masuk," perintah sang manager marketing.


Tak lama seorang wanita dengan tampilan berkelas, busana bermerk dan make up yang cetar memasuki ruangan.


"Anna ... ," gumam Gia dan Gavin perlahan.


"Maaf Tuan kami terlambat, kami baru saja selesai pemotretan dan perjalanan ke sini cukup padat," ujar Kristin, manager Arianna.


"Silakan duduk," kata Lexy.


Wanita tersebut mengedarkan pandangannya ke sekeliling, pandangannya terhenti saat melihat Gavin, lalu ia tersenyum.


Gia yang berada di antara Lexy dan Gavin pun mendekatkan diri pada Gavin.


"Kak, apa Anna tidak mengenaliku? ia sama sekali tidak melihat ke arahku," bisik Gia.


"Mungkin dia sedang berusaha bersifat profesional."

__ADS_1


"Bisa jadi."


Pandangan mata Arianna tidak lepas dari Gavin dan Gavin menyadari itu, hanya saja Gavin merasa ada yang berbeda.


Mereka melakukan meeting dengan serius, sementara Arianna tidak terlalu peduli dengan isi meeting tersebut karena semua akan diatur oleh managernya. Matanya terus tertuju pada Gavin, yang semakin lama semakin risih dibuatnya.


"Nona Arianna ..... Nona Arianna!" Lexy memanggilnya berkali-kali, karena tidak didengar, hingga akhirnya Kristin yang menyenggol siku Arianna dan membisikkan sesuatu.


"Kalian bisa mengatur semuanya dengan managerku," ungkap Arianna dengan sombong.


"Dad, aku tidak ingin mengambil proyek ini, berikan saja pada Gavin. Aku tidak mau bekerja sama dengan seseorang yang tidak menghargai orang lain dan juga tidak menghargai waktu," kata Niel dengan perlahan.


"Baik Nona Arianna, kami akan menghubungi anda lagi untuk detail jadwal pemotretan dan hal lain yang berhubungan dengan produk kami."


"Okay," jawabnya sambil melihat ke arah kuku-kukunya.


"Kak, dia seperti bukan Anna," kata Gia pada Gavin, "tapi mengapa dia begitu mirip."


"Gavin, Tuan Nicholas mempercayakan proyek ini kepadamu," kata Lexy, "dan Gift, sementara kamu akan menggantikanku menemani Gavin, karena aku harus keluar kota."


"Siap, Uncle!" Kata Gia.


"Anna!" teriak Gia tiba-tiba, sedangkan Gavin memegangi bahu Arianna.


"Anda tidak apa-apa Nona?" tanya Gavin.


"Maaf, sepertinya aku sedikit pusing," kata Arianna.


"Lebih baik kita duduk dulu."


Gavin menuntun Arianna menuju sofa. Sementara itu, Nicholas dan karyawan yang lain telah kembali ke tempat bekerja mereka masing-masing.


Gia datang membawakan segelas teh hangat.


"Kamu tidak apa-apa Anna?" tanya Gia.

__ADS_1


"Nona Arianna tidak apa-apa, mungkin itu karena ia tidak makan tadi siang," kata Kristin, sang manager.


Arianna terus menggenggam tangan Gavin dan dengan sengaja ia bersandar di dada Gavin, sementara Gavin langsung sedikit mendorong tubuh Arianna agar bersandar di sofa.


"Anna .... ," panggil Gia lagi.


"Jangan panggil aku seperti itu, aku bukan temanmu. Panggil aku Nona Arianna," kata Arianna, hingga membuat Gia mengambil beberapa langkah mundur.


Benar, dia bukan Anna. Aku yakin 100% bahwa dia bukan Anna. Tapi, siapa dia? - batin Gia.


"Ayo Nona, kita harus segera melakukan syuting film malam ini. Kita sudah ditunggu di lokasi."


"Mam, aku mau duduk sebentar."


"Biarkan Nona Arianna beristirahat sebentar," kata Gavin.


"Ooo terima kasih! kamu sungguh perhatian padaku," Arianna memeluk Gavin secara tiba-tiba.


"Maaf Nona Arianna, sebaiknya jangan seperti ini," Gavin mencoba melepaskan pelukan Arianna.


"Kak Gavin, apa istrimu tidak marah kamu seperti ini?" Gia yang merasa risih dengan perlakuan Arianna pada Gavin langsung berkata-kata dan membuat Arianna melepaskan pelukannya.


Apa dia sudah memiliki istri? tidak, aku harus bisa mendapatkannya, meskipun hanya menjadi simpanannya. - batin Arianna.


"Mam, ayo kita berangkat," ujar Arianna.


"Baik, Nona."


"Sampai bertemu lagi, Tuan Gavin," kata Arianna sambil menyentuh dada Gavin dengan jarinya dan mengedipkan sebelah matanya.


Setelah mereka pergi,


"Dia bukan Anna!!! aku yakin dia bukan Anna!!" ntah mengapa Gia terus berteriak di dalam ruang meeting, sedangkan Gavin hanya duduk di sofa memperhatikan adiknya, "Annaaa, kamu di mana?"


Aku juga yakin dia bukan wanita yang kucari. Dia bukan wanita yang menghabiskan malam bersamaku. Harum tubuh mereka berbeda. - batin Gavin.

__ADS_1


Gavin duduk terdiam di sofa ruang meeting. Ia masih mencerna apa yang baru saja terjadi. Ia juga sangat yakin bahwa tak mungkin Anna akan bersikap agresif, bahkan mau bermanja-manja dengannya, setelah apa yang telah ia lakukan. Gavin mengusap wajahnya dan mendesaah kasar.


🌹🌹🌹


__ADS_2