TRAP OF LOVE

TRAP OF LOVE
#16


__ADS_3

Gavin hampir tidak pernah kembali ke rumahnya. Ia meminta Lio dan Poppy untuk mengurusnya, karena Poppy sudah tidak mengurus Elle lagi karena Elle telah dibawa pergi oleh Elisa.


"Son, belakangan ini sepertinya kamu kurang konsentrasi dalam pekerjaanmu."


"Sorry Dad, mungkin aku hanya kelelahan."


"Apa kamu tidak ingin mengunjungi Grandpa dan Grandma? Anggap saja kamu sedang berlibur. Mereka juga sangat merindukanmu."


"Ntahlah Dad ... "


"Daddy!!!" teriak Gia yang berlari dari kamarnya menuju ruang duduk.


"Ada apa, sayang? Ada apa kamu berteriak seperti itu?" tanya Dad Chris.


Mom Clara yang mendengar teriakan Gia pun ikut melihat ke arah ruang duduk dan menghampiri. Ia jadi penasaran apa yang membuat putrinya itu berlari sambil berteriak.


"Bolehkah aku pergi ke Indonesia?" tanya Gia.


"Ada angin apa tiba-tiba kamu ingin ke sana? Biasa diajak saja susah" tanya Mom Clara.


"Lihat ini, Daddy," Gia memperlihatkan sebuah majalah.


"Kenapa dengan majalah ini?"


Gia membuka halaman demi halaman, dan memperlihatkan gambar seorang wanita.


"Bukankah ini Anna, sahabatmu?" tanya Mom Clara.


"Iya Mom, lihat ia begitu cantik, sekarang ia sudah menjadi seorang model."


"Arianna Howard," gumam Gavin, "bukankah ayahnya bernama Joe Harland."


"Aku akan menemani Gia ke Indonesia," kata Gavin tiba-tiba.


"Kalau kakakmu ikut, Daddy akan mengijinkanmu sayang," ujar Kris.


"Benarkah? Thank you Daddy, thank you Kak, baru kali ini aku senang kamu ikut bersamaku,” kata Gia sambil mengerlingkan sebelah matanya.


**


Mereka sudah sampai di bandara Soekarno Hatta, waktu pun sudah menunjukkan pukul 5 sore. Perjalanan mereka sangat melelahkan. Lexy, asisten pribadi Nicholas sudah menunggu mereka dan akan mengantar mereka ke kediaman Ginea.


"Uncle Lexy!" panggil Gia.


"Gift ... ," Lexy membalas panggilan Gia.


Lexy memang memanggil Givanie dengan Gift, panggilan kesayangannya pada gadis kecil yang menolongnya saat ia hampir terkena tembakan saat menolong Niel yang diculik.


"Uncle," Gavin pun menyapa Lexy.


"Gavin, kamu sudah dewasa sekali. Tampan dan gagah."


"Kakak mah sudah tua, bukan dewasa," ledek Gia.


Tanpa basa-basi, Gavin langsung mengacak-acak rambut Gia.


"Kakakkk .... "


"Ayo masuklah ke mobil. Tuan Brandon sudah menunggu kedatangan kalian,” kata Lexy.

__ADS_1


Mereka pun langsung memasuki mobil setelah meletakkan barang-barang bawaan mereka di dalam bagasi, menuju ke kediaman Ginea.


Gia duduk di kursi depan, bersebelahan dengan Lexy. Sedangkan Gavin berada di kursi belakang. Ia membuka ponselnya, membuka galeri fotonya dan memandang wajah Anna.


Apa kamu akan marah jika bertemu kembali denganku? - batin Gavin. Sejak Gavin mengetahui bahwa Anna adalah sahabat Gia, pikirannya selalu dipenuhi oleh Anna.


*****


"Grandpa!!!" Gia memeluk Grandpa Brandon dengan erat, sementara Gavin memberi salam pada Grandma Kezia.


"Wah, makin cantik saja ini cucu Grandpa," ujar Grandpa Brandon sambil mencubit pipi Gia.


"Grandpa, sakit .... "


"Kamu tidak kangen Grandma, sayang?" tanya Grandma Kezia pada Gia.


"Tentu saja Gia kangen, apalagi sama masakan Grandma," senyum Gia sambil memeluk GrandmaKezia.


"Lexy, Nic berpesan agar kamu segera kembali ke kantor, ada beberapa hal yang perlu diselesaikan. Selain itu, Niel juga memerlukanmu."


"Baik, Tuan. Saya permisi dulu kalau begitu."


"See you, Uncle!" ucap Gia, dibalas dengan senyum dan lambaian tangan oleh Lexy.


"Berapa lama kalian akan tinggal di sini?" tanya Grandpa Brandon.


"Grandpa maunya berapa lama?" tanya Gia.


"Kalau bisa, selamanya," Grandpa Brandon pun tertawa.


"Ah Grandpa ..."


"Belum 100%, Grandpa. Daddy sedang membantu untuk mengembalikan reputasi perusahaan karena secara tidak langsung masalah yang kuhadapi selalu dikait-kaitkan dengan perusahaan."


"Sebaiknya kamu beristirahat dulu, biar pikiranmu kembali jernih. Chris pasti bisa mengembalikan perusahaan seperti dulu."


Pikiranku tidak akan bisa jernih sebelum aku menemuinya. Rasa bersalah ini semakin membunuhku. - batin Gavin.


**


Gavin yang semalaman susah untuk terlelap, dan baru tertidur menjelang pagi hari, harus terbangun dengan sakit di kepalanya dan perut yang terasa penuh sehingga ia merasa mual.


Ia berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Tubuhnya terasa lemas, karena sudah beberapa kali ia merasa mual dan harus bolak-balik ke kamar mandi.


"Kak, Grandma memanggil kakak ke bawah untuk sarapan," Gia masuk ke dalam kamar tidur Gavin tanpa mengetuk pintu, "Kak, kakak sakit?"


"Ntahlah, kepala kakak sakit dan rasanya mual sekali. Sepertinya kakak masuk angin. Mungkin karena perjalanan jauh kemarin dan kakak lupa mengisi perut."


"Ahhh kakak biasa deh. Nasihatin aku tapi kakak sendiri begitu. Ya sudah, aku ke bawah dulu. Nanti aku bawakan sarapan kakak ke kamar saja ya," kata Gia.


"Ya, thank you," Gavin kembali memejamkan matanya, ia butuh istirahat.


Setelah beberapa lama, terdengar suara ketukan di pintu.


"Vin, Grandma masuk ya," tapi tidak terdengar jawaban dari dalam.


Grandma Kezia pun masuk, sambil membawakan semangkuk bubur ayam buatannya dan segelas teh hangat.


"Vin .... ," Grandma Kezia menggerak-gerakkan sedikit bahu cucunya itu.

__ADS_1


"Grandma," Mata Gavin mengerjap sedikit demi sedikit, matanya terasa sangat berat.


"Ada apa denganmu?" tanya Grandma Kezia.


"Tak apa Grandma, sepertinya hanya masuk angin biasa."


"Makanlah dulu. Grandma sudah membuatkan kamu bubur ayam."


"Iya Grandma, nanti aku makan. Sekarang Aku ingin tidur sebentar karena semalam aku tidak bisa tidur."


"Baiklah, Grandma keluar dulu ya."


**


"Kak Nisa," panggil Gia.


"Gia, kamu datang kemari?" Nisa yang melihat bahwa Gia ada di sana sangat senang karena sudah lama mereka tidak bertemu.


Nisa kini sudah menjadi seorang dokter dan sudah menikah setahun yang lalu. Ia sering mampir ke tempat orang tuanya jika suaminya sedang pergi ke luar kota untuk keperluan pekerjaan.


“Kak, maafkan aku karena tidak datang ke pernikahan kakak. Maklum waktu itu aku sedang sibuk-sibuknya.”


“Kak Nisa mengerti, tidak mengapa. Tapi sebagai gantinya, nanti traktir Kak Nisa makan ya,” goda Nisa.


"Siap!! Kalau perlu kita keluar shopping. Aku sedang ingin sekali jalan-jalan," kata Gia sambil tersenyum.


"Kamu sendirian?"


"Tentu saja tidak. Aku datang bersama Kak Gavin, hanya saja ia sedang terkapar karena sakit."


"Sakit?" tanya Nisa.


"Ya, ia mengeluh sakit kepala dan mual, katanya masuk angin karena ia lupa makan saat perjalanan kami kemarin."


"Nanti aku akan memeriksanya."


"Oiya, Kak Nisa kan seorang dokter ya," kata Gia sembari tertawa, "Kak, bolehkah aku bertanya sesuatu"


"Ya, ada apa?"


"Apa kakak mengenal Arianna Howard?"


"Aku tidak kenal, hanya tahu saja."


"Apa dia cukup terkenal?"


"Belakangan ini sepertinya memang namanya sedang naik daun, tapi aku jarang melihatnya karena memang aku jarang menonton televisi atau membaca majalah."


"Ouuuu .... "


"Ada apa memangnya?” tanya Nisa.


"Aku ingin bertemu dengannya."


"Kamu ingin bertemu artis serasa bertemu teman. Tidak mudah sepertinya bertemu dengannya, apalagi dia artis terkenal."


"Dia memang temanku, temanku yang hilang." Gia mengerucutkan bibirnya sambil melipat tangannya di depan dada.


Nisa yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala. Ia seperti melihat seorang anak kecil yang sedang ngambek.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2